Chapter 29: 28. Hari Buruk Untuk Arisha

Aliesha The ProtagonistWords: 9272

Raut wajah Aliesha berubah datar ketika mendengar pertanyaan yang Liam ajukan. Kalau ia mengalihkan pembicaraan sekarang, pria itu pasti akan memiliki kecurigaan padanya walau hanya sedikit.

Namun, ada banyak alasan yang membuatnya pindah, sehingga ia tidak perlu kebingungan mencari alasan baru untuk dikatakan. Dengan senyum palsu Aliesha berkata, "Nyokap gue yang nyuruh gue pindah."

Liam menyatukan kedua alisnya heran. "Kok gitu?"

"Simple. Karena gue punya saudara tiri yang gak suka kalau kita berada di sekolah yang sama," jawab Aliesha sambil melipat tangannya di atas meja.

Liam, Xander, dan Dhafin saling melirik satu sama lain. Ketiganya menggeleng dengan tatapan prihatin.

Liam menunduk. "Sorry, Lis. Gue gak tahu kalau ternyata lo punya-"

"It's okay." Aliesha tersenyum manis.

"Kalian gak makan?" tanya Aliesha saat melihat ketiganya hanya duduk tanpa menyantap apa-apa. Ia sendiri sudah tidak selera makan sejak perkelahiannya dengan Abel tadi.

"Iya, anjir! Mana bentar lagi bel masuk." Dhafin menepuk jidatnya saat pria itu melotot kaget. Dengan langkah cepat, ia menarik dua sahabatnya untuk ikut dengannya. Aliesha hanya bisa tertawa melihat kelakuan mereka.

***

Farzan dan kawan-kawan kini tengah duduk di kantin karena sudah waktunya istirahat. Keempat pria itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling kantin.

"Aliesha di mana ya guys? Ini kan hari pertama semester baru dimulai, kok dia gak masuk sekolah ya?" ucap Farrel memulai pembicaraan.

"Kagak tahu nih. Apa dia lagi sakit ya?" sahut Keenan sembari memasukkan gorengan ke mulutnya.

Keempat pria itu memang belum tahu perihal kepindahan Aliesha ke SMA Kivandra. Demi keberhasilan rencananya, gadis itu bahkan rela mengganti nomor hpnya.

Itulah sebabnya Farzan dan kawan-kawan tidak mengetahui kabar gadis itu selama ini. Mereka juga tidak bisa pergi ke rumah gadis itu tanpa izin darinya.

Pada saat itu, teman-teman Aliesha berjalan melewati meja mereka.

"Naomi!" seru Farzan saat melihat gadis itu berada di dalam rombongan.

Naomi bersama yang lainnya menoleh ke belakang. Gadis itu memberi isyarat pada teman-temannya untuk mencari meja terlebih dahulu, sedangkan dia berjalan menuju meja keempat pria itu.

"Kenapa?" tanya Naomi ketus.

"Lo tahu gak kenapa Aliesha gak masuk sekolah? Apa dia lagi sakit? Lo tahu sesuatu gak?" tanya Farrel beruntun.

Keenan menggeplak kepala Farrel cukup keras. "Lo nanya satu satu kek! Kasian tuh anak orang jadi bingung," katanya seraya menatap Naomi iba. Pasalnya, mata gadis itu tiba-tiba saja berkaca-kaca setelah ditanyai oleh Farrel.

Farrel menatap Keenan tajam. "Ya gak usah pake geplak pala gue juga, anj*ng! Lo ngajak berantem hah?!" serunya nyolot.

"Ya lo liat tuh! Dia sampe mau nangis gitu ditanyain sama lo!" balas Keenan seraya menunjuk Naomi menggunakan dagunya.

Seketika semua pandangan tertuju pada Naomi.

"Lo apain anak orang, Rel?" tanya Farzan dengan tatapan menuduh.

"Farrel, kok lo jahat banget bikin anak gadis orang nangis?" sahut Kenzie ikut-ikutan.

Farrel mulai gugup. Pria itu memegang tengkuknya kikuk, menatap bersalah pada Naomi.

"Gue gak maksud, sumpah!" Farrel mengangkat dua jarinya membentuk huruf V.

Pria itu berdiri mendekati Naomi. "Duh, lo jangan nangis dong! Gue minta maaf deh, gue gak maksud apa-apa tadi. Nih, gue nanya satu aja. Lo tahu gak kenapa Aliesha gak masuk sekolah?"

Naomi mengedipkan matanya untuk menghilangkan air mata yang menumpuk di matanya. Mengingat Aliesha sudah tidak lagi bersekolah di sekolah yang sama dengannya, hal itu membuatnya merasa sedih.

Apalagi, mereka sudah putus kontak sejak pulang dari tempat karaoke dua minggu lalu. Setiap kali ia menghubungi Aliesha, nomor gadis itu selalu tidak aktif.

Sampai sekarang, Naomi masih belum tahu ke sekolah mana Aliesha pindah. Jika saja ia tahu, dia akan meminta orang tuanya untuk memindahkannya ke sekolah yang sama dengan Aliesha.

Naomi menatap Farrel dengan senyum getir. Senyum yang tidak sampai ke matanya. Gadis itu menarik napas panjang untuk menenangkan dirinya.

"Aliesha udah gak sekolah lagi di sini. Dia udah pindah ke sekolah lain," ucapnya lirih.

"APA??"

Semuanya berteriak serempak, mengundang rasa penasaran dari seluruh penghuni kantin. Kini mereka sudah menjadi pusat perhatian. Namun, tentu saja mereka tidak peduli.

"Kata siapa dia pindah? Jangan main-main lo! Candaan lo sama sekali gak lucu!" Farrel berkata tegas.

"Ini bukan candaan. Kalau kalian gak percaya, tanya aja sana ke guru atau kepala sekolah," kata Naomi malas.

Farzan menghela napas panjang. "Lo tahu dia pindah ke sekolah mana?"

Naomi menggeleng. "Gue gak tahu."

"Makasih infonya. Lo bisa balik ke teman-teman lo. Bentar lagi jam istirahat selesai," kata Kenzie melirik jam tangannya sekilas.

Naomi mengangguk. Usai Naomi pergi, tidak ada lagi yang bersuara. Mereka nampak sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Masih dalam keheningan, tiba-tiba saja Arisha datang ke meja mereka.

"Farzan," panggilnya dengan senyum cerah.

Keempat pria itu menoleh. Farzan menatap Arisha lekat, membuat gadis itu menjadi salah tingkah. Arisha tersenyum malu saat matanya dan mata Farzan bertemu.

"Kamu kenapa natap aku kayak gitu, Zan? Aku kan malu," katanya sembari menutup sebagian wajahnya.

"Lo tahu kalau Aliesha pindah sekolah?" tanya Farzan datar.

Arisha tersentak. Wajahnya yang semula bersemu merah kini menjadi pucat.

"Yah, pastinya lo tahu sih. Kan kalian tinggal serumah," lanjut Farzan dengan ekspresi muram.

Arisha menyambar tangan Farzan ketika gadis itu duduk di sebelahnya.

"Zan, kamu gak usah mikirin Aliesha lagi ya. Kan udah ada aku." Arisha menunjukkan senyum paling menawan yang ia punya.

Namun, itu saja tidak cukup untuk meluluhkan hati Farzan. Pria itu menepis tangan Arisha kasar. Terlihat jelas bahwa ia tidak suka dengan gadis itu.

"Gue gak butuh lo! Yang gue butuhkan itu Aliesha," tegas Farzan.

Arisha memberengut kesal. "Farzan, ihh. Jangan kasar gitu dong," ucapnya manja.

Keempat orang itu menatap Arisha jijik. Farrel menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan gadis di depannya.

"Lo ini emang pada dasarnya gak punya malu atau gak tahu malu, Ris?" tanya Farrel prihatin.

"Bedanya apa Rel?" tanya Keenan saat pria itu tersenyum penuh arti.

Farrel mendengus. "Gak mau bahas gue. Ntar nih anak nangis lagi."

Arisha memukul meja dengan keras, hal itu membuat telapak tangannya merah. Walau begitu, ia tidak peduli. Gadis itu menatap Farrel tajam.

"Apa maksud lo bilang kayak gitu, Rel? Lo mau bilang kalau gue gak tahu malu?"

Farrel mengangkat bahunya dengan tatapan acuh tak acuh. "Pikir aja sendiri," balasnya.

Arisha menatap Farrel nyalang. Matanya mulai berkaca-kaca, namun ia berusaha sekuat tenaga agar air matanya tidak tumpah. Gadis itu kembali menatap Farzan.

"Zan," panggilnya. Ia berharap Farzan akan membelanya, tapi ternyata tidak. Pria itu malah mengabaikannya seolah ia tidak terlihat.

Air mata Arisha mencuat keluar. Gadis itu menggigit bibirnya kuat untuk menahan suara isakannya.

"Kenapa kalian masih jahat sama gue bahkan setelah Aliesha udah gak ada?!" tanya Arisha dengan suara bergetar.

Farzan menautkan alisnya, begitu juga dengan teman-temannya.

Farzan menatap Arisha tajam. "Lo yang bikin Aliesha pindah sekolah?"

Arisha diam. Ia tidak mau menjawab pertanyaan Farzan. Naomi yang duduk tidak jauh dari mereka menghampiri gadis itu.

"Masih berani ya lo datang ke sekolah setelah apa yang lo lakuin ke Aliesha." Naomi menatap Arisha sinis.

Arisha tetap diam. Gadis itu berdiri tegak layaknya pohon yang kokoh. Walau angin di sekitarnya berhembus, ia tidak mudah goyah.

Farrel menarik tangan Arisha, membuat gadis itu menatap ke arahnya. "Lo apain Aliesha, hah?!"

Arisha terkejut. Bibir gadis itu bergetar dengan air mata bercucuran.

"G-gue gak ngelakuin apa-apa," jawab Arisha pelan.

"Lo kira gue gak tahu kalau Aliesha pindah gara-gara lo? Lo yang nyuruh Nyokap lo buat pindahin Aliesha ke sekolah lain kan? Lo gak mau satu sekolah sama Aliesha karena Farzan suka sama dia!" Naomi menunjuk Arisha tepat di hidungnya.

Farrel melotot. "Benar kata Naomi?" tanyanya.

Arisha menggeleng. Gadis itu menutup matanya saat Farrel mengangkat tangannya. Ia pasrah jika ia ditampar oleh pria itu.

Menunggu selama sepuluh detik, rasa sakit yang ia harapkan tak kunjung datang. Arisha membuka matanya perlahan. Ternyata, Bagas adalah orang yang menahan tangan Farrel agar pria itu tidak menamparnya.

"Gue tahu lo emosi. Tapi, lo harus sadar diri kalau lo tuh cowok. Gak boleh cowok mukul cewek," ujar Bagas.

Farrel melepaskan tangannya dari Arisha dan Bagas. "Kenapa lo belain nih cewek? Lo suka sama dia?"

Bagas memutar matanya malas. "Gue nahan tangan lo bukan berarti gue belain dia, apalagi suka sama dia. Gue cuma mau kasih kesempatan ke orang lain yang lebih berhak ngasih dia pelajaran daripada lo," jelas Bagas saat pria itu melihat ke arah Naomi.

Naomi maju selangkah agar posisinya lebih dekat dengan Arisha. Saat keduanya berdiri berhadapan, Naomi mengangkat tangannya untuk menampar wajah Arisha keras.

"Lo harus rasain gimana rasanya jadi Aliesha selama ini! Tapi, lo harus lebih menyedihkan daripada dia." Naomi menatap Arisha tanpa ekspresi.

Arisha memegang pipinya yang terasa panas. Tatapannya menjadi kosong. Kenangan saat ia membully Aliesha berputar di kepalanya. Sedetik kemudian, Arisha pingsan di pelukan Farzan.