Chapter 30: 29. Jebakan Abel

Aliesha The ProtagonistWords: 9388

Farzan menatap lekat wajah Arisha yang masih tidak sadarkan diri di atas brankar. Keduanya kini sudah berada di UKS. Saat Arisha pingsan, pria itu tanpa sadar menangkap tubuhnya, sehingga tubuh gadis itu tidak jatuh ke lantai.

Di bawah tatapan semua orang, Farzan menggendong Arisha dan membawanya ke UKS. Ia sendiri tidak mengerti mengapa ia melakukan hal itu. Padahal ia seharusnya membenci gadis itu karena telah membuat Aliesha pindah ke sekolah lain.

Namun, ia juga merasa bersalah karena telah membuat Arisha menjadi seperti ini. Awalnya, hubungan Aliesha dan Arisha baik-baik saja sebelum keduanya mengenal Farzan.

Pembullyan yang Arisha lakukan baru terjadi setelah Aliesha berteman dekat dengan Farzan dan kawan-kawan. Arisha adalah anak yang manis dan polos satu tahun yang lalu.

Berbanding terbalik dengan Aliesha, Arisha tidak memiliki teman di sekolah. Walau begitu, tidak ada seorangpun yang membenci gadis itu seperti sekarang.

Arisha membuka matanya perlahan. Saat penglihatannya mulai jernih, gadis itu mengerjapkan matanya beberapa kali saat melihat Farzan. Ia tidak yakin apakah itu hanya sebuah ilusi atau kenyataan.

"Farzan?" panggil Arisha dengan perasaan ragu.

Farzan duduk tanpa ekspresi. Ketika Arisha memanggil namanya, pria itu hanya mengangguk singkat sebagai balasan.

"Ini beneran kamu, Zan?" tanya Arisha, masih meragukan penglihatannya.

Farzan memutar matanya malas. "Hm, ini gue."

Arisha menutup mulutnya tak percaya, namun ada rasa senang yang membuncah di hatinya. Senyum gadis itu perlahan terbit.

"Kamu yang ngantarin aku ke UKS ya?"

Farzan tidak menjawab. Diamnya pria itu mengisyaratkan bahwa ia memang melakukannya. Senyum Arisha semakin lebar. Gadis itu lantas merubah posisinya menjadi duduk.

"Em, Farzan. Aku haus deh." Arisha memegang lehernya sambil sesekali ia berdehem.

Tanpa berkata apa-apa, Farzan mengambilkan air hangat dan memberikannya pada gadis itu. Arisha menerimanya dengan senang hati.

"Ini masih jam istirahat ya, Zan?" tanya Arisha setelah selesai meminum airnya.

Farzan menggeleng. "Udah bel masuk dari tadi."

"Terus, kok kamu masih ada di sini?" tanya Arisha lagi.

Farzan menatap Arisha cukup lama sebelum pria itu berkata, "Gue duluan."

Arisha dengan cepat meraih tangan Farzan sebelum pria itu pergi. "Mau ke mana?"

"Rooftop."

"Aku boleh ikut gak?" Arisha menatap Farzan dengan tatapan memohon.

Farzan mengangguk. Tanpa menunggu gadis itu, pria itu sudah berjalan lebih dulu. Arisha bergegas memakai sepatunya, kemudian berlari mengejar Farzan.

"Makasih karena kamu udah antarin aku ke UKS," ujar Arisha saat keduanya berdiri bersisian di pembatas rooftop.

"Hm," gumam Farzan sembari menatap pemandangan di bawah sana.

Arisha memilin jari-jari tangannya ketika sesekali gadis itu melirik pria di sampingnya.

"Kalau mau ngomong sesuatu, bilang aja," kata Farzan tiba-tiba.

"Em, Aliesha emang pindah sekolah gara-gara aku," ucap Arisha jujur.

Farzan mengangguk. "Udah tahu," jawabnya cuek.

"Kamu gak mau nanya Aliesha pindah ke sekolah mana?" Arisha menggigit bibir bawahnya saat menantikan jawaban dari pria yang berdiri di sampingnya.

"Emang kalau gue nanya lo bakal jawab?" Farzan menatap Arisha datar.

Arisha menggeleng. Keduanya lalu terdiam. Arisha tidak yakin, tapi ia merasa sepertinya sikap Farzan padanya menjadi lebih baik. Atau, mungkinkah itu hanya perasaannya saja?

***

Aliesha tengah berada di toilet sekarang. Di tengah-tengah pelajaran, gadis itu merasakan panggilan alam yang mengharuskannya segera pergi ke sana.

Gadis itu sedang mencuci tangan di wastafel ketika Abel dan antek-anteknya masuk ke dalam. Aliesha melihat ketiga gadis itu melalui cermin.

"Lo cepetan pergi panggil guru BK," suruh Abel pada salah satu anteknya dengan cara berbisik.

Setelah orang yang disuruhnya pergi, Abel bersama Ara menghampiri Aliesha.

"Lo beruntung karena tadi Liam belain lo. Tapi selama dia gak ada, lo gak bakal bisa kabur dari gue," ujar Abel disertai seringai lebar.

Aliesha tidak menghiraukannya. Gadis itu lanjut mencuci tangannya, setelah itu mengeringkan tangannya menggunakan hand dryer yang terpasang di dinding toilet.

Saat Aliesha akan pergi melewati kedua gadis itu, Abel segera memegang tangannya untuk menghentikannya.

"Mau ke mana, murid baru?" Abel mengangkat sebelah alisnya saat ia tersenyum.

Aliesha melihat tangan Abel sekilas, kemudian pada pintu toilet. Ia tadi melihat salah satu teman Abel pergi entah ke mana. Sepertinya ada sesuatu yang direncanakan gadis itu.

Aliesha menatap Abel datar. "Lepasin tangan lo, sebelum gue berbuat kasar," peringatnya.

Abel tertawa. "Lo? Emang bisa apa lo? Badan lo aja kecil gini. Gue sentil dikit, terbang kali lo," ejeknya.

Aliesha terkekeh. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya sedang direncanakan oleh Abel, namun ia tidak takut. Karena gadis itu berani mengabaikan peringatan darinya, Aliesha tidak akan segan menyakiti gadis itu.

Aliesha meraih tangan Abel, lalu memutarnya ke belakang. Gadis itu kemudian menendang kaki Abel sampai gadis itu jatuh berlutut. Abel menjerit merasakan sakit di tangan dan kakinya. Ara menatap Aliesha kaget.

"Apa yang lo lakuin?!" Ara berusaha melepaskan tangan Aliesha dari Abel, namun Aliesha dengan cepat mendorong Ara ke pintu toilet. Bunyi gedebuk terdengar cukup keras karena hanya ada mereka bertiga di sana.

Ara bangkit lagi. Gadis itu akan mendekati Abel, namun Abel memberi isyarat dengan menggelengkan kepalanya. Paham maksud Abel, Ara kembali menyandarkan tubuhnya di pintu toilet.

Tepat pada saat itu, salah satu antek Abel datang bersama guru BK.

Bersikap seolah dia tidak melihat kedatangan kedua orang itu, Ara memulai aktingnya. "Lepasin Abel! Lo masih murid baru di sini, tapi lo udah berani bully kita."

Abel yang tangannya dilipat ke belakang oleh Aliesha mulai meringis. "Lepasin!"

"ADA APA INI?!" teriak guru itu saat melihat kekacauan di dalam toilet.

Aliesha tersentak. Gadis itu mengangkat kepalanya, menatap wanita berseragam guru itu yang tengah berjalan ke arahnya. Tatapan Aliesha berubah dingin, ia dengan enggan melepaskan tangan Abel.

Melihat adanya kesempatan, Abel dengan cepat berdiri. Dia lalu bersembunyi di belakang guru itu. "Bu, tangan dan kaki saya sakit! Dia jahat banget, Bu. Masa dia bully saya di toilet," adunya dengan mata berkaca-kaca.

Aliesha menyeringai. Jadi inilah rencana Abel. Gadis itu akan berpura-pura seolah dia dibully, kemudian semua kesalahannya akan dilimpahkan kepadanya. Rencana yang bagus.

Tidak mau kalah, Aliesha menatap guru itu dengan ekspresi sedih. "Dia bohong, Bu! Jelas-jelas saya yang ada di sini lebih dulu. Dia yang mau bully saya, tapi Ibu keburu datang."

Guru itu menatap Aliesha tajam, lalu melirik Ara yang masih duduk bersandar di pintu. "Ara, kenapa kamu duduk disitu? Cepat sini!"

Ara mendekati guru itu dengan air mata yang sudah bercucuran. Aliesha terkejut melihat ekspresi gadis itu yang sangat cepat berubah.

"Bisa kamu ceritakan apa yang baru saja terjadi, Ara?" tanya guru itu pada Ara.

Ara melirik Aliesha sekilas. "Murid baru itu yang memulai pertengkaran duluan, Bu. Saat kami masuk ke toilet, dia tiba-tiba aja dorong saya, trus jahatin Abel," jelas Ara sedih. Tanpa sepengetahuan guru itu, ada senyum di mata Ara.

"Apa yang dikatakan Ara itu benar, Abel?" Kali ini guru itu bertanya pada Abel.

Abel mengangguk. "Benar, Bu!"

Guru itu menghela napas panjang. "Begitu ternyata. Ara, kamu sama Abel segera ke UKS!"

Ara dan Abel mengangguk patuh. Mereka pergi bersama satu temannya yang lain. Di luar, ketiga orang itu bertos ria sebelum akhirnya pergi ke UKS. Setelah kepergian mereka, guru itu beralih pada Aliesha yang membeku di tempatnya.

"Kamu, ikut saya ke ruang BK!" kata guru itu tegas.

"Tapi, Bu-"

"Gak ada tapi-tapian! Cepat!"

Guru itu berjalan terlebih dahulu, Aliesha mengikuti di belakangnya. Gadis itu mendesah pasrah. Padahal ia belum mau membuat keributan di hari pertamanya di sekolah baru, tapi Abel sudah mencari gara-gara duluan dengannya.

Setibanya di ruang BK, Aliesha disuruh duduk. "Kamu tahu Abel itu siapa?" tanya guru itu dengan wajah garang.

Aliesha menggeleng. Gadis itu memperlihatkan wajah memelasnya, mencoba menarik simpati guru BK di depannya.

Sekali lagi, guru itu menarik napas panjang. "Abel itu anak satu-satunya Pak Galih, kepala sekolah di sekolah ini. Kalau kamu mau tetap bersekolah disini, jaga sikap kamu! Jangan ulangi kesalahan seperti tadi," tutur guru itu memberikan nasehat.

"Tapi, Bu. Kalau Abel yang duluan cari gara-gara sama saya, gimana Bu?" tanya Aliesha polos.

"Ya kamu sabar aja sama kelakuan Abel. Pokoknya jangan sampai kamu balas perbuatan dia. Mengerti?"

Aliesha mendengus. "Gak adil dong, Bu! Masa saya dibully tapi saya gak balas?!"

"Sudah! Pokoknya Ibu gak mau kejadian seperti ini terjadi lagi! Karena kamu murid baru di sekolah ini, Ibu akan beri kamu keringanan. Sepulang sekolah nanti, kamu bersihkan semua toilet yang ada di lantai satu sampai lantai tiga. Paham kamu?" Guru itu menghunus tatapan tajam pada Aliesha.

Aliesha mengangguk singkat. "Paham, Bu."

"Kamu boleh kembali ke kelas," ucap guru itu untuk terakhir kalinya.

Aliesha menunduk sopan sebelum keluar dari ruang BK. Di depan pintu, gadis itu melihat kukunya yang panjang dengan seringai tajam.

"Abel, lo gak bakal hidup tenang karena lo udah berani gangguin gue!"

Aliesha berjalan di koridor yang sepi sambil bersenandung riang. Ia tidak merasa terbebani sedikitpun walau baru saja keluar dari ruang BK.