Chapter 32: 31. Buku Rahasia

Aliesha The ProtagonistWords: 9356

Aliesha sedang membaca novel online di kamarnya ketika tiba-tiba saja pintu kamarnya diketuk oleh seseorang.

"Siapa?" tanyanya.

"Ini Mbok, Non. Nyonya manggil buat makan malam," jawab Mbok Asih dari luar.

Aliesha menghentikan bacaannya. Dengan tenang ia melangkahkan kakinya menuju ruang makan. Sesampainya ia di sana, mata gadis itu membulat saat melihat Raven tengah duduk berbincang bersama orang tuanya.

Menyadari kehadiran Aliesha, Mama Yanti menyambutnya dengan senyum hangat.

"Aliesha, mari sini. Jangan bengong aja disitu," katanya.

Aliesha tersenyum kaku. Gadis itu mengambil tempat duduk di sebelah Arisha, yang membuatnya berhadapan langsung dengan Raven.

Setelah Aliesha duduk, makan malam pun dimulai. Aliesha memakan makan malamnya dengan pikiran kacau. Ia bertanya-tanya untuk apa Raven datang ke rumahnya.

"Aliesha, bagaimana hari pertama kamu di sekolah baru?" tanya Papa Bimo yang sudah menghabiskan makanannya.

Aliesha mengangkat kepalanya menatap Papa Bimo. Gadis itu tersenyum kecil. "Baik, Pa."

"Gimana sama murid-murid yang ada di sana? Apa kamu sudah punya teman?" tanya Mama Yanti penasaran.

Aliesha mengangguk. "Aku udah punya tiga teman di hari pertama sekolah, Ma."

'Tapi disaat yang sama juga punya musuh,' lanjutnya dalam hati.

Mama Yanti dan Papa Bimo merasa senang dan lega mendengar jawaban Aliesha. Padahal mereka sempat khawatir Aliesha akan dibully ketika ia pindah ke sekolah baru. Syukurlah kekhawatiran mereka tidak terjadi.

"Arisha, gimana sekolah kamu hari ini?" Papa Bimo mengalihkan pandangannya pada Arisha.

Tangan Arisha yang memegang sendok gemetar. Ia dengan cepat meletakkan sendok itu di piring saat ia tersenyum palsu.

"Baik juga, Pa. Jauh lebih baik dibanding waktu Aliesha masih sekolah di sana," jawabnya.

Papa Bimo memukul meja hingga mengeluarkan suara keras. Baru saja beliau akan marah, Mama Yanti dengan cepat memegang tangannya.

"Pa, ada tamu. Tahan emosi kamu," bisik Mama Yanti.

Papa Bimo menarik napas panjang dan mengeluarkannya perlahan.

"Oh iya, Nak Raven. Bukankah kamu bilang ingin berbicara dengan Aliesha?"

Raven mengangguk. "Benar. Bolehkah saya berbicara berdua dengan Aliesha?"

Papa Bimo dan Mama Yanti mengangguk. Setelah mendapatkan izin, Raven meminta Aliesha untuk ikut dengannya.

Kedua orang itu berjalan menuju halaman belakang yang cukup sunyi.

"Kenapa Anda datang ke sini malam-malam begini?" tanya Aliesha saat gadis itu menghentikan langkahnya.

Raven memasukkan satu tangannya ke dalam saku celana. "Saya ingin memberitahukan sesuatu kepada kamu," jawab Raven acuh tak acuh.

"Anda bisa mengatakannya melalui chat. Atau, kita bisa bertemu di rumah Anda. Kenapa Anda harus datang ke sini secara pribadi?" Aliesha menatap Raven tajam.

"Kamu benar. Hanya saja, saya tidak terpikirkan cara-cara itu. Makanya saya ada di sini sekarang," jelasnya.

Aliesha memutar matanya malas. "Jadi, apa yang ingin Anda katakan kepada saya?"

"Kamu tahu David? Teman sekelasmu."

Aliesha mengangguk. "Kenal. Ada apa dengan dia?"

"Saya ingin kamu mendekatinya. Buat dia jatuh cinta sama kamu."

Aliesha membelalakkan matanya kaget. "Kenapa saya harus berbuat seperti itu?"

"Lakukan saja. Setelah kamu berhasil membuatnya jatuh cinta padamu, saya akan menghapus rekaman cctv dan foto yang ada di tangan saya."

Aliesha menatap Raven ragu. Beberapa detik kemudian, gadis itu akhirnya mengangguk.

"Baiklah. Hanya buat dia jatuh cinta kan?" tanya Aliesha memastikan.

"Ya. Tetapi kamu tidak boleh jatuh cinta padanya."

Aliesha mengangguk lagi. "Oke. Kalau begitu, saya akan pergi ke kamar sekarang. Anda juga sebaiknya pulang ke rumah."

Setelah mengatakan itu, Aliesha benar-benar pergi ke kamarnya. Gadis itu duduk di kursi meja rias dan menatap pantulan dirinya di cermin.

Ia bisa melihat dengan jelas rona merah yang ada di pipinya. Tanpa alasan yang jelas, ia merasakan wajahnya memanas. Tubuhnya juga gemetar tanpa sebab. "Ini gue kenapa?" gumamnya gusar.

***

Aliesha duduk diam di bangkunya sambil bertopang dagu. Itu adalah hari keduanya di sekolah baru, namun sudah ada jam kosong di kelasnya. Ia ingin mencari udara segar, ada satu tempat yang ingin ia kunjungi di sekolah itu.

Aliesha melirik David yang duduk di seberang mejanya sekilas. Ia lalu mengalihkan pandangannya ke depan. Ia mulai bosan berada di dalam kelas.

Dengan penuh tekad, Aliesha bangkit berdiri. Ia berniat pergi ke luar. Langkah gadis itu terhenti saat suara David terdengar menegurnya.

"Yang mau ke luar harus ijin dulu sama ketua kelas. Bagi yang tidak punya kepentingan di luar, tetap di dalam kelas sampai bel istirahat," ucap David dengan suara keras.

Aliesha menoleh, membalas tatapan David yang tengah menatapnya tajam. Gadis itu tersenyum miring. Tanpa memedulikan perkataan David, gadis itu tetap melanjutkan langkahnya.

Aliesha menaiki tangga menuju lantai tiga, ia lalu mencari-cari tangga menuju rooftop. Begitu ia menemukan tangga itu, Aliesha mengernyit melihat tangga itu diberi pagar dan gembok.

'Sejak kapan tangga ini dikasih pagar?' batinnya.

Tidak punya pilihan, Aliesha akhirnya melangkahkan kakinya menuju perpustakaan yang nampak sepi. Hanya ada guru pengawas tanpa satupun murid di dalamnya.

Aliesha mengisi absen dan masuk ke dalam. Gadis itu melihat-lihat buku yang berjejeran di rak buku. Buku-buku yang ada disitu terlihat membosankan. Ia terus menelusuri buku yang ada di sana dengan wajah tertekuk.

Sampai pada rak paling ujung di bagian belakang, Aliesha melihat buku yang sangat menarik. Gadis itu membaca buku itu sambil berdiri. Di lembar ke sepuluh, gadis itu mengernyit melihat ada secarik kertas yang terselip di dalamnya.

"Jika kamu menemukan kertas ini, lihatlah buku yang ada di rak paling atas. Ada sebuah buku tebal yang di dalamnya berisi buku rahasia. Kamu yang mendapatkannya akan beruntung." Isi di dalam kertas itu.

Kerutan di keningnya semakin dalam setelah Aliesha membaca kalimat itu. Gadis itu mengangkat kepalanya untuk melihat buku yang dimaksud.

Karena penasaran, ia ingin mengambil buku itu, namun tidak sampai karena tubuhnya yang tidak terlalu tinggi.

"Ada yang bisa gue bantu?"

Aliesha tersentak mendengar suara di belakangnya. Gadis itu menoleh, melihat orang yang baru saja berbicara kepadanya.

"K-kok lo ada di sini?" tanya Aliesha gugup.

David tidak menjawab. Pria itu segera mengambil buku yang diinginkan Aliesha.

"Lo mau baca buku setebal ini?" tanya David dengan senyum tertahan.

Aliesha mengangguk kaku. "I-iya. E-emang gak boleh?" Aliesha menggaruk keningnya yang tiba-tiba terasa gatal.

"Ehh, apa nih di dalam buku? Lahh, ada buku lagi?" David mengeluarkan buku yang ada di dalam buku besar itu.

Aliesha menelan ludahnya susah payah. Gadis itu menggigit bibirnya guna menghilangkan rasa gugup yang ia rasakan. Ia lantas merebut buku itu dari David.

"Bukan urusan lo!" ketusnya.

David mengangkat bahu tak peduli. Pria itu lalu melihat-lihat buku, kemudian mengambil buku yang akan ia baca. Aliesha melihat jaket yang David kenakan, gadis itu tersenyum cerah

"Em, David. Gue boleh pinjam jaket lo gak?" tanya Aliesha tersenyum semanis mungkin.

"Buat?" David bertanya dengan alis terangkat sebelah.

Aliesha memegang tengkuknya seraya memasang wajah memelas. "Gue gak enak badan. Boleh ya, please?"

David memicingkan matanya curiga. Ia tidak mempercayai ucapan Aliesha sedikitpun. Selang beberapa detik kemudian, pria itu menghembuskan napas panjang sebelum melepaskan jaketnya.

"Nih! Jangan lupa dibalikin," ucap David seraya menyerahkan jaketnya pada Aliesha.

Aliesha menerima jaket itu dengan wajah sumringah. "Makasih. Lo baik banget," pujinya.

David hanya tersenyum kecil. Pria itu lalu pergi membaca buku di kursi yang sudah disediakan. Aliesha bersembunyi di ujung rak saat memakai jaket David.

Gadis itu memasukkan buku rahasia itu ke dalam seragamnya, setelah itu menarik resleting sampai seragamnya tertutup sempurna. Beruntungnya ia karena jaket David sangat besar di tubuhnya, roknya bahkan hampir ikut tertutup.

Aliesha mengembalikan buku tebal itu ke rak yang masih bisa ia jangkau. Ia lalu mengambil buku cetak matematika untuk ia pinjam.

"Bu, saya mau pinjam buku ini." Aliesha meletakkan buku cetak matematika itu ke atas meja guru pengawas.

"Kamu sudah buat kartu anggota perpustakaan? Kalau belum, buat dulu."

"Cara buatnya gimana ya, Bu?" tanya Aliesha bingung.

"Kamu serahkan kartu pelajar kamu beserta foto dan uang lima ribuan, besok balik lagi buat ambil kartunya. Karena kamu belum punya kartu anggota, kamu belum boleh pinjam buku," jelas guru itu.

"Kalau gitu gak jadi deh, Bu. Saya taruh bukunya dulu," ucap Aliesha sembari mengembalikan buku itu ke rak buku. Sebelum keluar dari perpustakaan, Aliesha mencatat tanggal ia berkunjung beserta tanda tangannya.

Aliesha memegang dadanya yang berdetak kencang. Ia melihat sekitar sekilas sebelum pergi dari sana. Kali ini Aliesha pergi ke bagian loker siswa.

Begitu menemukan lokernya, ia mengeluarkan kunci loker dari saku roknya. Ia membuka loker sembari matanya sesekali melihat sekitar, memastikan tidak ada orang yang melihatnya.

Ia membuka lokernya dan melihat tidak ada apapun di sana. Gadis itu menurunkan resleting jaket sampai jaket itu terbuka sepenuhnya. Ia lalu mengeluarkan buku yang ia sembunyikan di dalam seragamnya.

Aliesha meletakkan buku itu ke dalam loker, setelah itu mengunci lokernya. Ia lalu kembali ke kelas, bersikap seperti biasa seolah tidak terjadi apa-apa.