Chapter 33: 32. Pacar Abel

Aliesha The ProtagonistWords: 9554

Sejak kemarin sampai hari ini, Arisha mendapatkan perlakuan tidak mengenakkan di sekolah. Pagi hari saat ia masuk ke dalam kelas, gadis itu dilempari kertas oleh teman sekelasnya.

Gadis itu cukup terkejut, namun ia terlalu malas meladeni mereka semua. Ketika masuk waktu istirahat, Arisha pergi ke kantin seorang diri. Dalam perjalanan ke sana, ia bisa merasakan tatapan semua orang yang melihat ke arahnya.

Ia bahkan bisa mendengar beberapa siswa-siswi yang berbicara buruk tentangnya. Arisha mengedarkan pandangannya ke sekeliling begitu ia tiba di kantin.

Ternyata Farzan dan kawan-kawan tidak ada di sana. Arisha memesan makanan untuknya, kemudian membawanya ke meja kosong yang berada di tengah-tengah kantin.

Baru saja Arisha akan memasukkan makanan ke mulutnya, ia merasakan belakang seragamnya basah saat ia dilempari sesuatu. Arisha meraba bagian belakangnya menggunakan tangan kanannya.

Saat ia melihat tangannya lagi, ia menyadari bahwa ia baru saja dilempari telur busuk. Arisha berbalik, ia ingin tahu siapa yang baru saja melemparinya.

"Siapa yang barusan lemparin telur busuk ke gue?!" tanya Arisha pada orang-orang yang ada di sana.

Ia tidak bisa menentukan pelakunya karena tatapan yang orang-orang itu berikan padanya pada dasarnya sama. Dengan napas memburu, gadis itu kembali memakan makanannya.

Kali ini bukan satu lemparan yang ia terima, melainkan lemparan beruntun yang bahkan mengenai kepalanya. Tangan Arisha bergetar hebat dengan emosi yang meluap-luap.

Gadis itu bangkit berdiri. Ia melihat orang-orang yang melemparinya dengan tatapan tajam.

"Yang berani sama gue sini maju! Jangan jadi pengecut kalian!" tantangnya.

Ia pikir tidak ada seorangpun yang berani padanya. Karena pada saat ia membully Aliesha dulu, orang-orang itu hanya mampu melihat tanpa bisa ikut campur. Hanya Farzan dan kawan-kawan yang berani membela Aliesha.

Arisha tersenyum sinis. Gadis itu mengambil gelas minumannya, kemudian menyiramkannya pada orang-orang yang melemparkan telur busuk padanya.

Orang-orang itu terkejut bukan main, tapi tidak ada yang berani protes.

"Kenapa kalian diam aja, hah? Siapa yang punya ide buat lemparin telur busuk ke gue? Jawab!!" Arisha menatap nyalang seluruh penghuni kantin.

Tanpa menggubris perkataan Arisha, gadis itu lagi-lagi dihujani telur busuk dari semua orang yang ada di sana. Entah darimana mereka mendapatkan telur-telur itu.

Arisha marah, tentu saja. Gadis itu mengepalkan tangannya erat dengan air mata yang siap jatuh kapan saja.

Arisha menarik napas panjang untuk menenangkan dirinya. Ia berusaha keras menahan air matanya agar tidak tumpah keluar.

"Siapa yang nyuruh kalian?!" tanyanya dengan suara bergetar.

Tidak ada yang menjawab.

"Apa alasan kalian ngelakuin hal ini ke gue?!"

Lagi-lagi tidak ada jawaban.

Arisha kesal, tapi ia tidak tahu harus berbuat apa. Ia tidak bisa membalas perlakuan mereka padanya. Itu hanya akan membuang-buang energi dan waktunya.

Arisha memutuskan untuk pergi dari sana. Sampai di pintu kantin, gadis itu berpapasan dengan Farzan dan kawan-kawan. Farzan menatap Arisha dengan tatapan terkejut.

Di sekolah itu, Arisha adalah orang pertama yang menjadi tukang bully. Korban bully-nya adalah Aliesha, saudara tirinya sendiri. Selama ini, tidak ada yang berani mengganggunya karena Aliesha sering membelanya secara diam-diam.

Farzan dan kawan-kawan bahkan tidak pernah berlaku kasar kepadanya karena mereka sudah janji pada Aliesha tidak akan membalas perlakuan gadis itu padanya.

Selama Arisha membully Aliesha, gadis itu paling hanya menamparnya dan mengucapkan kata-kata kasar. Ini adalah pertama kalinya Farzan melihat pembullyan yang begitu sadis.

Bukan hanya pakaian, wajah dan rambut gadis itupun sudah kotor dipenuhi telur busuk. Bau yang menyengat menguar dari tubuhnya. Farzan tahu semua orang di sekolah tidak menyukai Arisha karena sikap gadis itu. Hanya saja, perlakuan seperti ini sudah kelewat batas.

"Siapa yang ngelakuin hal ini ke lo, Ris?" tanya Farzan cepat.

Arisha menatap Farzan sendu. Air mata yang sedari tadi ia tahan mulai berjatuhan.

"Kamu bisa antarin aku pulang gak? Aku mau pulang, Zan." Arisha memegang ujung seragam Farzan yang sengaja pria itu keluarkan.

Farzan mengangguk. Farrel yang berdiri di sebelahnya menyikut lengan pria itu.

"Gak usah bantuin dia, Zan. Ingat! Nih cewek yang bikin Aliesha pindah sekolah," kata Farrel seraya memberikan tatapan sinis pada Arisha.

Keenan mengangguk setuju. "Gue tahu lo punya jiwa pahlawan dalam diri lo, Zan. Tapi, lo harus mikir-mikir dulu kalau mau nolongin orang," katanya.

"Orang jahat kayak Arisha gak pantas lo tolongin," lanjutnya.

Farzan seketika dilema. Ia merasa kasihan pada Arisha, namun semua yang dikatakan Farrel dan Keenan benar adanya. Hanya saja, ia tidak bisa membiarkan gadis itu berjalan seorang diri dalam keadaan mengenaskan seperti itu.

Farzan menarik napas panjang. Keputusannya sudah bulat. Ia akan membantu Arisha sekali ini saja. Ia tidak akan ikut campur lagi di lain waktu.

"Ikut gue, Ris." Farzan meraih tangan Arisha dan membawanya menuju gedung lapangan indoor.

"Ngapain kamu bawa aku ke sini?" tanya Arisha saat melihat lapangan itu begitu sunyi.

Farzan menuntun Arisha ke arah kamar mandi di ruang ganti cewek. "Lo tunggu gue di sini. Gue bakal balik lagi. Inget, jangan kemana-mana sebelum gue datang. Ngerti kan?"

Arisha mengangguk. Setelah itu, Farzan pergi ke koperasi sekolah untuk membeli perlengkapan mandi seperti sabun, shampo, sisir, dan handuk. Tidak lupa seragam baru untuk Arisha.

Farzan tidak bisa membawa pulang gadis itu karena mereka membutuhkan izin dari guru piket. Belajar dari pengalaman, Farzan tahu bahwa guru-guru itu hanya peduli dengan nilai mereka.

Mereka tidak akan ikut campur pada hal-hal seperti bullying di sekolah. Setelah membayar semuanya, Farzan bergegas ke lapangan indoor. Pria itu segera menyerahkan tas belanja pada Arisha dan berjaga di luar pintu.

Arisha menggigit bibir bawahnya menahan senyum. Perasaan campur aduk yang ia rasakan sebelumnya sirna saat memikirkan sikap Farzan yang begitu baik hari ini.

Karena Farzan berjaga di luar pintu ruang ganti, Arisha tidak merasa takut ketika ia membersihkan tubuhnya di bawah pancuran shower kamar mandi. Arisha tidak bisa berhenti tersenyum kala mengingat sikap Farzan yang begitu manis.

***

Aliesha pergi ke kantin bersama Liam dan kawan-kawan. Setelah mendapatkan makanan, mereka berempat duduk di meja paling pojok di kantin itu.

"Lis," panggil Liam.

"Hm," jawab Aliesha tanpa menoleh.

"Lo bilang ada yang mau lo tanyain ke gue," ucap Liam mengingatkan Aliesha pada chatnya semalam.

Aliesha memang sengaja menghubungi Liam semalam. Ia ingin bertanya tentang kakeknya, juga siapa cucu yang dimaksud oleh pria itu. Tapi, ia berubah pikiran. Ia ingin menanyakan hal yang jauh lebih penting.

"Oh iya. Gue hampir lupa. Lo tahu gak kenapa tangga menuju rooftop dikunci?"

Pertanyaan Aliesha membuat ketiga orang itu tersentak. Mereka saling bertukar pandang.

"Ada pertanyaan yang lain gak?" Liam menatap Aliesha dengan senyum kaku.

Aliesha mengernyit. "Kenapa? Kok gue gak boleh nanya soal itu?" tanyanya heran.

"Itu adalah pantangan di sekolah ini. Kita dilarang mencaritahu soal rooftop, atau membicarakannya di sekolah," jelas Dhafin dengan suara kecil.

"Tapi, kenapa?" Aliesha semakin bingung.

"Gue bakal cerita, tapi gak di sini." Liam mulai memasang wajah serius.

"Okay." Aliesha membuang napas pasrah.

Keempatnya lanjut menyantap makan siang mereka sampai habis. Secara tidak sengaja, tatapan Aliesha dan David bertemu.

Pria itu tengah duduk di samping Abel. Keduanya terlihat sangat dekat. Apalagi Abel terus menempelkan tubuhnya ke tubuh pria itu.

"Gue boleh nanya lagi gak?" tanya Aliesha tiba-tiba.

Liam mengangguk. "Nanya aja. Gue siap jawab semua pertanyaan lo," katanya.

"Abel sama cowok itu pacaran?" Aliesha bertanya dengan tatapan yang mengarah ke meja Abel.

Liam dan lainnya ikutan melihat ke arah sana. Liam lalu menatap Aliesha curiga.

"Lo suka sama tuh cowok?" tanyanya dengan alis terangkat sebelah.

Aliesha tersenyum. "Tergantung apa jawaban lo."

"Kalau gue bilang mereka emang pacaran, apa yang bakal lo lakuin?"

Senyum Aliesha semakin lebar. "Menarik! Lo bakal tahu secepatnya."

Aliesha lantas berdiri. Dengan senyum lebar, gadis itu berjalan menghampiri meja Abel.

"Hai, David. Gue boleh minta waktu lo sebentar gak?"

David dengan cepat menoleh saat mendengar namanya disebut. Pria itu menatap Aliesha dengan alis terangkat.

"Buat apa?" tanya pria itu datar.

Aliesha tersenyum miring. "Lo bilang lo ketua kelas kan? Seingat gue, kepala sekolah minta lo buat memperkenalkan sekolah ini ke gue. Apa gue salah?"

Abel membanting tangannya ke meja. "Heh, murid baru. Ngapain lo minta diperkenalkan sekolah ini ke cowok gue? Emang lo gak bisa lihat-lihat nih sekolah sendirian? Kenapa lo gak minta aja sama Liam?"

"Kan kepala sekolah mintanya ke David. Lagipula, ini kan tugasnya dia sebagai ketua kelas di kelas gue," balas Aliesha tidak mau kalah.

"Kurang aja ya lo. Nyebelin banget lo jadi orang! Lo mau gue bikin masuk ruang BK lagi hah?!" Abel mulai berkacak pinggang.

Malas meladeni Abel, Aliesha beralih kepada David. "Lo mau jalanin tugas lo gak nih? Kalau lo gak mau ya ... gue bisa minta orang lain buat-"

"Sure. Kebetulan gue udah selesai makan," potong David cepat.

Aliesha menyeringai senang. Abel yang duduk di sebelah David mulai kepanasan. "David, apa-apaan sih lo!"

"Bel, ayah lo yang minta gue perkenalkan sekolah ini ke Aliesha." David berkata tanpa ekspresi.

Abel melotot. "Lo bahkan nyebut nama dia. Lo sadar gak sih kalau gue cemburu?"