Chapter 34: 33. Rumah Kaca

Aliesha The ProtagonistWords: 8641

Aliesha melihat pemandangan di depannya dengan tangan terlipat. Sepertinya Abel memiliki sikap posesif. Rasanya ia ingin tertawa dengan keras.

David yang pada dasarnya cuek tidak mau memikirkan perkataan Abel tentang rasa cemburunya. Pria itu dengan tenang berdiri, ia membawa nampan di tangannya.

"Ikut gue," ucap David yang berjalan lebih dulu.

Aliesha pergi ke mejanya untuk mengambil nampannya. Keduanya lalu berjalan beriringan untuk menaruh nampan itu ke tempat seharusnya.

Abel yang takut David akan berpaling bergegas mengejar mereka berdua. Gadis itu menitipkan nampannya pada Ara saat ia pergi.

Liam dan kawan-kawan merasa penasaran dengan rencana Aliesha. Ketiga orang itu juga mengikuti mereka dari belakang.

"Selain kelas, kantin, sama perpustakaan, tempat apalagi yang udah lo tahu?" tanya David, karena pria itu tidak tahu harus memulai darimana.

"Gue belum tahu semuanya," jawab Aliesha cepat.

"Oke, gue jelasin dulu. Sekolah ini punya tiga gedung utama. Kita sekarang berada di gedung kelas yang terdiri dari tiga lantai. Lantai satu untuk murid kelas satu, lantai dua untuk murid kelas dua, dan lantai tiga untuk murid kelas tiga. Gedung kita terletak di bagian tengah."

Aliesha mengangguk. David melanjutkan, "Di gedung timur, berisi lapangan indoor. Lantai satu untuk basket sama voli. Lantai dua untuk bulu tangkis sama tenis meja. Lantai tiga khusus renang. Untuk sepak bola, kita olahraga di luar ruangan. Sampai sini paham?"

Aliesha mengangguk lagi. David kembali melanjutkan," Gedung bagian barat khusus ruang guru dan kepala sekolah. Masing-masing guru punya ruangannya sendiri. Kita juga punya laboratorium yang lengkap, itu terletak di samping rumah kaca yang jaraknya cukup jauh dari tiga gedung utama. Lo mau gue ajak ke mana dulu?" tanya David setelah menyelesaikan penjelasannya.

Aliesha mengusap dagunya sembari berpikir. Gadis itu lalu menjentikkan jarinya. "Lo bilang jarak dari rumah kaca ke sini cukup jauh kan?"

David mengangguk. Aliesha tersenyum licik. "Gue mau lihat-lihat rumah kaca dulu," pintanya.

Tanpa pikir panjang, David langsung setuju. Ia menuntun Aliesha ke rumah kaca. Untuk sampai ke sana, mereka harus melewati gedung lapangan indoor terlebih dahulu. Setelah berjalan selama lima belas menit, akhirnya mereka sampai.

Aliesha menatap rumah kaca itu dengan pandangan takjub. Saat ia masih sekolah disitu sebelum kematiannya, ia ingat dengan jelas bahwa rumah kaca itu tidak ada di sana.

Ketika mereka masuk ke dalam, penjaga rumah kaca sedang menyiram tanaman yang ada di sana. Aliesha bisa melihat berbagai macam bunga yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Semua bunga-bunga itu kelihatan sangat cantik.

"Kok di sini ada banyak bunga?" tanya Aliesha penasaran.

"Namanya juga rumah kaca. Ya kali gak ada bunga. Kampungan banget sih lo," cibir Abel saat gadis itu memasuki rumah kaca.

Aliesha memutar matanya malas ke arah Abel. Gadis itu lalu menatap David dengan tatapan polos miliknya.

David berdehem. "Bunga yang ada di sini semuanya berasal dari luar negeri. Rencananya akan dibudidayakan supaya bisa ditanam di negara ini," jelas David.

Aliesha mengangguk mengerti. Gadis itu menatap David lekat. Ia ingin menanyakan sesuatu, tapi ada Abel juga disitu. Tatapan Aliesha mengundang kemarahan dalam diri Abel.

Gadis itu dengan posesif merangkul tangan David dengan kedua tangannya. "Ngapain lo liat cowok gue kayak gitu? Lo suka sama dia?"

Aliesha mengangkat bahu tak peduli. "Gue mau ngomong berdua sama David."

"Gak boleh!" tolak Abel cepat. "Lo bisa ngomong di sini sekarang," katanya.

Aliesha tidak memedulikan Abel. Gadis itu dengan tenang menatap David yang sejak tadi berwajah datar.

"Bel, lo bisa keluar bentar gak?"

Abel menoleh dengan tatapan tak percaya. "Kenapa? Kenapa lo nyuruh gue keluar?"

"Ini tugas gue, Bel. Lo juga tahu kalau kita udah terikat. Gak mungkin gue bisa lari dari lo," jawab David tenang.

Abel mengangguk. "Fine! Gue harap lo nepatin kata-kata lo."

Aliesha menautkan alisnya mendengar percakapan Abel dan David. Sepertinya hubungan mereka tidak seperti pasangan pada umumnya.

Setelah Abel pergi, David menatap Aliesha lurus. "Lo mau ngomong apa sama gue?"

Aliesha melirik penjaga rumah kaca yang baru saja keluar bersama Abel. Ia berjalan menuju tanaman yang terletak di paling ujung, David mengikuti langkah gadis itu.

"Lo tahu gak kenapa tangga menuju rooftop dikunci?" tanya Aliesha sambil berbisik. Gadis itu berpura-pura mengamati bunga di depannya, namun telinganya siap mendengar jawaban dari David.

David tertegun. "Itu rahasia sekolah," balasnya ikut berbisik.

"Gue udah jadi salah satu murid di sekolah ini. Apa salahnya gue tahu alasannya?"

David menggeleng. "Emang buat apa lo tahu alasannya?"

Aliesha terdiam. Setelah menarik napas panjang, gadis itu kembali bertanya.

"Lo dari keluarga Kivandra kan? Gue denger nama lo dipanggil saat absen."

David mengangguk. "Iya," jawabnya.

"Berarti lo harusnya tahu dong kalau nama sekolah ini sebelumnya bukan SMA Kivandra. Lo tahu alasan kenapa nama sekolah ini diganti?"

David memicingkan matanya curiga. "Kenapa lo nanya soal itu?"

Aliesha tersenyum. "Gue cuma pengen tahu aja."

"Lo tahu? Rasa penasaran seseorang bisa membunuh orang itu. Mending lo gak usah nyari tahu alasannya, daripada hidup lo dalam bahaya," peringat David saat pria itu memperbaiki letak kacamatanya.

Aliesha mengangkat kepalanya, kemudian menatap David tepat di matanya. Karena terhalang kacamata, Aliesha refleks melepaskan kacamata itu dari David.

David terkejut. Ekspresi terkejutnya membuat bibir Aliesha tertarik ke atas.

"Ternyata lo ganteng juga ya," puji Aliesha.

Tindakan Aliesha barusan membuat tubuh David membeku. Ia sampai lupa harus berkata apa.

Di luar sana, Abel mengepalkan tangannya melihat Aliesha tengah merayu pacarnya. Ia ingin segera masuk ke dalam, namun langkahnya terhenti karena Liam meraih tangannya.

"Mau ke mana lo?"

Abel menepis tangan Liam kasar. "Lo gak lihat tuh cewek lagi ngerayu cowok gue?"

Liam terkekeh. "Gue juga punya mata kali. Tapi di mata gue, Aliesha gak lagi ngerayu cowok lo tuh," ucap Liam dengan tatapan mengejek.

Abel menggigit bibirnya kesal. "Awas ya lo. Gue bakal aduin lo ke Bunda!"

"Ck. Dari kemarin lo bilang gitu mulu. Ujung-ujungnya? Lo gak berani lapor kan?" Liam menatap Abel sinis.

Abel terdiam. Ia memang tidak berani melaporkan Liam ke ibunya, karena ibu Liam sangat menyayangi pria itu.

***

Arisha keluar dari kamar mandi lengkap dengan seragam yang baru dibeli oleh Farzan. Seragamnya yang kotor tadi sudah ia buang ke tempat sampah.

Gadis itu dengan cepat menghampiri Farzan yang menunggu di luar. "Aku gak lama kan?" tanyanya saat membuka pintu.

Farzan menoleh. "Cuma tiga puluh menit kok," jawabnya.

Arisha menggaruk pelipisnya yang tak gatal. Ia bisa menebak kalau bel masuk sudah berbunyi sejak tadi.

"Sorry," ucap Arisha dengan wajah menyesal.

Farzan menggeleng. "Gak apa-apa. Lo mau ke rooftop bareng gue gak?" tawarnya.

Hanya dalam satu detik, Arisha langsung mengangguk. Keduanya berjalan menuju rooftop dengan langkah pelan.

Tiap kelas yang mereka lewati terdengar bising oleh suara murid yang berdiskusi atau guru yang sedang mengajar.

Sampai di rooftop, Arisha membiarkan angin menerpa rambutnya yang masih setengah basah. Rasanya segar dan menenangkan.

"Makasih ya, Zan. Udah dua kali kamu nolongin aku," ujar Arisha tanpa menatap pria itu.

"Gak perlu. Gue emang gak bisa biarin orang lain dibully di depan wajah gue," jawab Farzan seadanya.

Arisha menelengkan kepalanya. "Kamu suka sama aku gak, Zan?" tanyanya tiba-tiba.

Farzan memandang langit dengan senyum samar. "Harusnya lo tahu tanpa harus gue jawab," ucap pria itu.

Arisha tersenyum miris. "Aku paham. Kamu pasti masih mengharapkan Aliesha. Iya kan?"

Arisha menatap lurus ke arah Farzan. "Tapi, Zan. Aku masih bisa berharap kan? Berharap suatu saat nanti kamu bakal buka hati kamu buat aku."

"Susah, Ris. Lo gak perlu buang-buang waktu lo buat gue. Mending lo cari cowok lain aja."

Arisha menggeleng. "Gak bisa, Zan. Itu terlalu sulit buat aku."

"Kalau kamu mau, aku bisa kasih tahu sekolah baru Aliesha di mana," sambungnya.

"Di mana?" tanya Farzan to the point.

"Sebelum aku kasih tahu, aku mau kamu biarin aku deketin kamu selama empat hari. Kalau selama itu kamu emang gak bisa buka hati kamu buat aku, aku bakal mundur dan gak bakal deketin kamu lagi. Gimana?"

Farzan tersenyum. "Oke. Deal ya?"

Arisha mengangguk. "Deal."

Senyuman Farzan harusnya membuat Arisha ikut bahagia, namun hatinya merasa teriris mengetahui senyum itu bukan untuknya. Arisha melihat ke atas, mencegah agar air matanya tidak jatuh.

'Aku akan berusaha bikin kamu jatuh cinta sama aku, Zan.' janjinya dalam hati.