"David?" panggil Aliesha karena pria itu tidak menggubrisnya sejak tadi.
David mengerjapkan matanya beberapa kali. Pria itu segera berdehem setelah menguasai dirinya sendiri.
"Apa tadi?" tanyanya.
Aliesha terkekeh. "Sepertinya udah bel masuk. Kita harus segera balik ke kelas."
David mengangguk. Keduanya bergegas keluar dari rumah kaca. Liam, Abel, Xander, dan Dhafin menghampiri mereka saat pintu rumah kaca terbuka.
"Lama banget kalian di dalam," sinis Abel saat gadis itu menatap tidak suka pada Aliesha.
David menghampiri Abel dan menyeret tangan gadis itu. "Gak usah nyari gara-gara. Ayo pergi!" ajaknya.
Abel menatap Aliesha tajam, kemudian tersenyum manis ketika ia berjalan berdua bersama David.
"Kalian ngomongin apa tadi?" tanya Liam saat posisi Abel dan David sudah cukup jauh dari mereka.
"Gue nanyain pertanyaan yang sama seperti yang gue tanyain ke lo," jawab Aliesha tanpa ekspresi.
Aliesha berjalan lebih dulu, Liam dan kawan-kawan bergegas mengikuti. Seperti sebelumnya, mereka sampai di gedung kelas dalam waktu lima belas menit.
Mereka pergi ke kelas mereka masing-masing. David berjalan berdampingan bersama Aliesha. Sampai di depan pintu kelas, mereka melihat guru tengah mengajar di depan kelas.
David mengetuk pintu, menarik perhatian seluruh siswa dan guru ke arahnya.
"David? Sedang apa kamu berdiri disitu?" tanya sang guru yang menghentikan penjelasannya untuk sementara waktu.
"Saya-"
"Kamu tahu sudah berapa lama pelajaran saya berlangsung?" tanya guru itu lagi.
"Maaf, Pak." David menundukkan kepala dengan wajah menyesal.
Guru itu menghela napas disertai gelengan kepala. "Semester baru baru saja dimulai, namun kamu sudah berani terlambat di pelajaran pertama saya. Dari mana saja kamu? Dan, siapa itu yang ada di samping kamu?" Guru itu melirik Aliesha tajam.
"Dia murid baru, Pak. Kepala sekolah meminta saya memperkenalkan sekolah padanya, jadi kami terlambat karena saya mengajaknya melihat-lihat laboratorium," jelas David dengan sedikit kebohongan.
Guru itu tentu saja tahu jarak dari laboratorium ke gedung kelas cukup jauh. Dengan tenang beliau berkata, "Begitu ternyata. Kali ini saya akan memaafkan kalian. Cepat duduk!"
David dan Aliesha segera mengucapkan terima kasih, setelah itu duduk di bangku mereka masing-masing. Aliesha mengeluarkan buku dari dalam tasnya, ia lalu memperhatikan pelajaran yang guru itu ajarkan.
David yang duduk di seberang Aliesha melirik ke arah gadis itu sesekali. Tindakan Aliesha saat di rumah kaca tadi sudah mengganggunya.
Ia bertanya-tanya mengapa gadis itu melakukan hal itu padanya. Pikiran David terlalu kacau. Ia sampai tidak sadar ketika guru terus meneriakkan namanya.
"David!"
David tersentak saat mejanya diketuk menggunakan spidol. Pria itu menatap guru yang mengajar dengan tatapan bingung.
"Iya, Pak?"
Guru itu menggeleng prihatin. "Ini kedua kalinya kamu berbuat salah. Jika ada ketiga kalinya, terpaksa saya akan meminta kamu keluar dari kelas saya," ucap guru itu tegas.
David menunduk. "Maaf, Pak."
Guru kembali mengajar di depan kelas. Ketika waktu pergantian jam, guru itu keluar dengan tatapan tidak puas yang mengarah pada David. Pria itu hanya bisa membuang napas pasrah pada saat itu.
***
Bel pulang sudah berbunyi sejak beberapa menit yang lalu. Kelas telah sunyi, hanya ada Aliesha bersama David disitu.
Aliesha berjalan menghampiri meja David. "Sorry, gara-gara gue lo jadi dimarahin sama guru," ucap gadis itu saat berdiri di sisi meja pria itu.
David mendongak, pria itu dengan wajah datarnya hanya mengangguk singkat. Pria itu lalu pergi tanpa sepatah katapun. Aliesha menautkan alisnya tidak mengerti.
Gadis itu mengangkat bahu tak peduli, setelah itu keluar dari kelas dengan langkah lebar. Sampai di tempat parkir, ternyata Liam dan kawan-kawan sudah menunggunya di sana.
Aliesha tersenyum kecil. Gadis itu bergegas masuk ke mobil. Ia melambaikan tangannya pada mereka sebelum melajukan mobilnya.
Aliesha mengemudikan mobilnya menuju rumah kakeknya. Ia penasaran rumah itu sekarang ditinggali oleh siapa. Ia harus mencari tahu sesegera mungkin keadaan tubuhnya.
Masih belum jelas apakah tubuhnya masih hidup atau sudah mati. Seingatnya, ia adalah cucu satu-satunya yang dimiliki kakeknya.
Aliesha menghentikan mobilnya di sebelah rumah kakeknya. Gadis itu menunggu di dalam mobil, berharap akan ada orang yang keluar atau baru ingin masuk ke rumah itu.
Pandangannya tidak lepas dari rumah itu sampai berjam-jam terlewat. Ketika langit mulai senja, Aliesha memutuskan untuk pulang. Ia sudah menunggu selama itu namun tidak ada seorangpun yang keluar.
Sampai di rumah, Aliesha langsung berlari ke kamarnya. Gadis itu merebahkan tubuhnya ke kasur sembari matanya menatap ke langit-langit kamar.
Seandainya saja ia punya keberanian untuk bertanya pada satpam yang berjaga disitu, ia pasti sudah mengetahui penghuni baru rumah itu sekarang.
Aliesha menarik napas panjang, lalu membuangnya perlahan. Gadis itu melakukan hal itu sampai tiba waktu makan malam.
"Non Lisa, Nyonya suruh turun buat makan malam." Suara Mbok Asih terdengar dari luar pintu kamarnya.
"Iya, Mbok."
Aliesha dengan cepat mengganti seragamnya dengan baju rumahan sebelum turun ke bawah. Gadis itu duduk di depan Arisha. Tanpa sepatah katapun, ia menyendokkan makanan untuknya ke atas piring.
Aliesha makan dalam diam. Mama Yanti dan Papa Bimo menatap Aliesha khawatir.
"Lis, kamu gak apa-apa?" tanya Mama Yanti lembut.
Aliesha tidak menjawab. Gadis itu masih terpaku pada pikirannya tentang penghuni baru di rumah kakeknya.
"Aliesha, kamu kenapa sayang?" Mama Yanti menggenggam tangan Aliesha, membuat gadis itu tersentak.
"Ma!" Aliesha menatap Mama Yanti kaget. Ia lalu menunduk.
"Aku gak apa-apa kok, Ma." Aliesha menunjukkan senyum yang tidak sampai ke matanya.
Mama Yanti semakin cemas mengetahui Aliesha berbohong padanya. Namun, beliau tidak bertanya lebih lanjut.
Selesai makan malam, Aliesha kembali ke kamarnya. Baru saja ia merebahkan tubuhnya di atas kasur, pintu kamarnya sudah diketuk.
"Masuk aja. Pintunya gak dikunci," sahut Aliesha dengan malas.
Mama Yanti membuka pintu kamar Aliesha perlahan. Ketika masuk, beliau membiarkan pintu kamarnya terbuka saat beliau menghampiri Aliesha yang lagi-lagi menatap ke langit-langit kamarnya.
"Aliesha, kamu punya masalah apa sayang? Bilang sama Mama ya. Biar Mama bisa bantuin kamu," ujar Mama Yanti lembut.
Aliesha menarik napas panjang. "Aku benar-benar gak apa-apa, Ma. Ini cuma masalah tugas sekolah aja kok. Tugasnya emang susah banget," jawabnya ngeles.
"Serius?" Mama Yanti tidak bisa percaya sepenuhnya pada jawaban Aliesha. Beliau bisa merasakan kegundahan gadis itu sejak di meja makan tadi.
Aliesha menoleh. "Iya, Ma. Tugasnya emang susah banget," ucapnya dengan wajah cemberut.
Melihat ekspresi Aliesha yang sudah seperti biasanya, barulah Mama Yanti percaya. Setelah menghiburnya, Mama Yanti langsung pergi dari sana. Tidak lupa menutup pintu kamar Aliesha seperti semula.
Setelah kepergian Mama Yanti, wajah Aliesha menjadi tanpa ekspresi lagi. Ia masih menatap langit-langit kamarnya dengan pikiran yang mengembara kemana-mana Gadis itu terus seperti itu sampai ia tertidur.
Keesokan harinya, Aliesha pergi ke sekolah dengan wajah lesu. Gadis itu menatap ke luar jendela saat ia sudah duduk di bangkunya.
Ia lalu menelungkupkan kepalanya di antara lipatan tangannya di atas meja. Teman sekelasnya mengira Aliesha sakit karena wajahnya benar-benar tanpa emosi.
Saat bel masuk berbunyi dan guru masuk ke kelas, guru mengerutkan alis melihat Aliesha tidur di kelasnya.
"Itu siapa yang berani tidur di kelas saya?" tanya sang guru marah.
David selaku ketua kelas mengangkat tangannya. "Maaf, Bu. Dia sedang sakit, makanya dia seperti ini."
"Kalau memang dia sakit kan harusnya gak usah ke sekolah. Kenapa gak minta izin sakit saja?" tanya guru itu tidak suka.
Aliesha mengangkat kepalanya. Dengan lemah gadis itu berkata, "Saya gak sakit, Bu."
"Kamu dengar, David? Dia tidak sakit. Untuk kamu murid baru, saya tidak mengizinkan kamu tidur di kelas saya lagi. Mengerti?"
Aliesha mengangguk. "Mengerti, Bu."
Selama pelajaran berlangsung, David melirik Aliesha beberapa kali. Pasalnya, gadis itu terlalu memaksakan diri untuk tetap sadar.
Selang beberapa menit kemudian, suara benda jatuh terdengar keras. Suara guru yang sedang mengajar terhenti. Seluruh pandangan kini mengarah pada meja Aliesha yang barusan mengeluarkan bunyi.
Semuanya terkejut melihat Aliesha sudah tidak sadarkan diri. Guru bergegas ke meja Aliesha untuk memeriksa kondisi gadis itu.
Guru itu bergidik merasakan suhu tubuh Aliesha yang sangat panas,
"David, bawa dia UKS sekarang. Cepat! Sepertinya dia demam," kata guru itu panik.
David dengan cepat menggendong Aliesha dan membawanya ke UKS. Murid-murid dari kelas lain mengintip melalui jendela dengan perasaan ingin tahu.
Begitu tiba di UKS, David membaringkan tubuh Aliesha ke brankar. Pengawas UKS bergegas memeriksa kondisi Aliesha. Beliau bernapas lega mengetahui Aliesha hanya demam.
Karena ada urusan, beliau menitipkan obat yang harus diminum Aliesha pada David. Beliau lalu pergi, meninggalkan kedua orang itu sendirian di UKS.