Aliesha membuka matanya perlahan. Gadis itu melihat sekeliling dengan tatapan bingung. Saat matanya menangkap sosok David, ia langsung membuang muka ke samping.
"Akhirnya lo sadar. Ini obat dari pengawas UKS buat lo minum," ucap David sembari membantu Aliesha duduk.
Aliesha dengan patuh menelan obatnya. Setelah itu, ia kembali ke posisi sebelumnya, yaitu berbaring.
"Thanks," ucapnya tanpa menatap David.
David menghela napas panjang. "Kenapa lo bisa sakit?" tanyanya. Sedetik kemudian, pria itu mengutuk dirinya sendiri karena telah bertanya seperti itu.
Aliesha memutar matanya malas, enggan menjawab pertanyaan David yang terkesan bodoh. Keheningan yang terjadi diantara mereka cukup lama. Aliesha melirik David yang belum juga pergi meski sudah lewat beberapa menit.
"Mending lo balik ke kelas. Gue udah baik-baik aja sekarang," ujar Aliesha pelan.
David menggeleng. "Gak. Gue bakal jagain lo di sini," tegasnya.
Aliesha mendesah. "Terserah!"
Keheningan menyapa mereka lagi. Aliesha lalu meraba-raba sakunya untuk mencari hpnya. David merapatkan bibirnya ketika pria itu menyerahkan hp gadis itu ke pemiliknya.
"Nih. Tadi hp lo hampir jatuh dari saku, makanya gue pegangin biar gak hilang," katanya.
Aliesha mengambil hpnya dari tangan David. "Makasih," ucapnya cepat.
David mengangguk. Aliesha membuka novel online di hpnya dan tidak menghiraukan kehadiran David. Gadis itu dengan tenang membaca novel dalam diam.
"Pertanyaan lo kemarin ... Kenapa lo nanya soal itu?" tanya David tiba-tiba.
Aliesha menoleh. "Pertanyaan yang mana?"
"Itu ... Soal kenapa akses rooftop ditutup dan ... kenapa nama sekolah ini diganti," jawab David.
Aliesha terkekeh. "Kenapa? Lo mau jawab pertanyaan gue sekarang?" tanyanya dengan alis terangkat.
David menggeleng. "Bukan. Gue cuma mau tahu alasan lo nanyain itu ke gue."
Aliesha mendengus. "Lo gak berhak tahu alasannya. Apalagi lo gak berniat jawab pertanyaan dari gue."
"Hm. Kalau udah agak baikan, mending kita ke kelas sekarang. Bentar lagi pergantian jam," ucap David sembari melirik jam yang terpajang di dinding UKS.
"Gak. Gue mau di sini aja," tolak Aliesha saat gadis itu kembali membaca novel di hpnya.
"Lis," panggil David.
Aliesha mendelik. "Dih, sok akrab."
"Aliesha," ulang David.
Aliesha memutar matanya malas. "Kalau lo mau balik, ya balik aja sendiri. Ngapain ngajakin gue sih?"
David menghela napas panjang. "Gue ketua kelas. Gue wajib kontrol anak di kelas gue biar gak bolos mata pelajaran apapun," tegasnya.
Aliesha berdecak. "Gue tuh masih sakit. Nih, pegang aja nih dahi gue kalau gak percaya," katanya dengan wajah cemberut.
Bibir David memalingkan wajah saat bibirnya tertarik ke atas. Setelah menguasai ekspresinya, David menatap Aliesha lagi.
"Oke. Kalau gitu gue balik dulu ke kelas. Nanti istirahat, gue balik lagi ke sini," ucap pria itu untuk terakhir kalinya.
Aliesha melihat punggung David yang mulai menjauh. Gadis itu menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Ia tidak mengerti mengapa ia bisa sakit.
Sepertinya itu karena semalam ia terlalu banyak berpikir. Ditambah lagi, ia tidak tidur nyenyak karena mimpi buruk. Aliesha menyesal tidak mengingat mimpinya ketika ia bangun.
Saat Aliesha lanjut membaca novel, tiba-tiba ia teringat dengan buku yang ia curi dari perpustakaan. Buku itu masih tersimpan di lokernya. Ia lupa membawa pulang buku itu kemarin, betapa bodohnya.
Aliesha merubah posisinya menjadi duduk, kemudian memakai sepatunya yang terlepas. Gadis itu bergegas menuju loker dengan langkah mengendap-endap seperti pencuri.
Begitu sampai di depan loker miliknya, Aliesha meraih kunci loker yang selalu berada di saku roknya. Ia membuka loker itu perlahan, sesekali melihat sekeliling, takut ada orang yang melihatnya.
Setelah mengambil buku itu, Aliesha cepat-cepat mengunci lokernya sebelum pergi dari sana. Dengan langkah lebar, Aliesha pergi ke gedung lapangan indoor.
Tujuannya adalah tempat paling sepi di gedung itu. Ia tidak tahu apakah sudah ada orang yang mengetahui tempat itu atau tidak, karena itu adalah tempat favoritnya selain rooftop.
Menghindari pintu depan, Aliesha masuk melalui pintu samping yang hanya diketahui beberapa orang. Untuk sampai ke lantai tiga, ia menaiki lift yang tersembunyi di balik pintu.
Aliesha melihat ke sekitar ketika ia keluar dari lift. Gadis itu bernapas lega mengetahui tidak ada seorangpun di sana. Ia lalu melangkahkan kaki menuju ruang rahasia miliknya.
Itulah tempat paling sepi di gedung itu. Ruangan yang hanya diketahui dirinya dan kakeknya. Ruangan yang diberikan kakeknya khusus untuknya.
Setelah berganti tubuh, Aliesha tidak yakin apakah ruangan itu sudah menjadi milik orang lain atau belum. Berdiri di depan pintu, Aliesha memasukkan password yang masih ia ingat sampai sekarang.
Password-nya adalah tanggal lahirnya dari tubuh lamanya. Mendengar suara klik yang menandakan pintu terbuka, mata Aliesha membulat tak percaya.
Ia bertanya-tanya mengapa password-nya belum diganti. Walau begitu, ia merasa bersyukur karena ruang rahasianya masih menjadi miliknya.
Aliesha masuk ke ruangan itu. Gadis itu mengernyit melihat isi di dalam ruangan itu telah berubah. Ruangan itu awalnya berisi ranjang, sofa, dan kulkas, namun ranjang miliknya kini sudah tidak ada lagi di sana.
Itu sudah digantikan dengan meja biliar dan beberapa kursi yang tersusun di belakang meja. Selain itu, ada juga bar kecil di sana. Yang masih sama hanyalah posisi sofa yang tidak berubah.
"Kok jadi gini?" gumamnya tak percaya.
Aliesha berjalan mengitari sofa, kemudian ke arah bar, lalu berakhir di meja biliar. Tempat ini sudah seperti tempat perkumpulan cowok-cowok.
Rasanya Aliesha muu menangis. Sepertinya ruang rahasia miliknya sudah menjadi milik orang lain. Tapi, kenapa password-nya masih belum diganti? Itu sangat aneh.
***
Hari itu kelas Farzan memiliki pelajaran olahraga di lapangan outdoor. Ketika bel istirahat berbunyi, Arisha dengan cepat berlari ke kantin untuk membeli minuman buat Farzan.
Gadis itu lalu pergi ke lapangan dengan handuk kecil dan minuman di tangannya. Ia menghampiri Farzan yang sedang duduk di bawah pohon.
"Farzan, ini buat kamu." Arisha menyerahkan minuman pada Farzan.
Karena pria itu sudah berjanji akan membiarkan Arisha mendekatinya selama empat hari, Farzan pun menerima pemberian gadis itu.
Ia bahkan tidak protes saat Arisha mengusap keringat di dahinya menggunakan handuk. Farrel, Keenan, dan Kenzie nampak tercengang melihat pemandangan itu.
Bukan mereka saja, hampir semua orang yang ada di sana membelalak kaget melihat Farzan dan Arisha begitu dekat.
"Zan, seriously?" Farrel menatap aneh pada Farzan.
Farzan tidak menjawab. Pria itu hanya mengangkat bahu tak acuh ketika ia menenggak minuman yang Arisha berikan.
"Kalian pacaran?" tanya Keenan dengan alis terangkat.
Arisha tersenyum malu. Reaksinya membuat semua orang berpikir bahwa mereka memang sedang pacaran.
Farrel menggeleng. "Lo aneh, Zan. Lo bilang lo suka sama Aliesha. Tapi saat dia gak ada, lo deketin kakaknya. Mau lo apa sih?"
"Iya, Zan. Harusnya lo komitmen dong. Kalau emang lo udah gak suka sama Aliesha, biarin kita yang deketin dia. Selama ini kita ngalah karena kita pikir lo serius sama Aliesha," timpal Keenan geram.
"Ck. Seandainya gue tahu lo bakal kayak gini, harusnya gue udah jadiin Aliesha sebagai pacar gue sejak lama," kesal Kenzie.
"Maksud lo apa, Ken?" Farzan menatap Kenzie tajam.
"Kenapa? Lo gak ingat kalau gue sempet deketin Aliesha? Lo takut Aliesha suka sama gue, makanya lo jauhin gue dari dia. Iya kan?" Kenzie menatap Farzan malas.
Farzan mengepalkan tinjunya erat. "Feeling gue selama ini ternyata benar ya. Lo ada rencana nikung gue dari belakang, hah?!"
"Kenapa nggak? Keluarga gue lebih kaya, gue lebih tampan, kurangnya gue dimana coba?" kata Kenzie sombong.
Farzan terkekeh. "Lo emang lebih segala-galanya dari gue, Ken. Tapi, hati Aliesha cuma milik gue," balasnya bangga.
"Oh ya?" Kenzie mengangkat sudut bibirnya ke atas. "Kalau emang kayak gitu kenyataannya, kenapa lo gak pernah ungkapin perasaan lo ke dia? Harusnya lo yakin dong Aliesha bakal langsung terima lo saat lo nembak dia."
Farzan membuang pandangannya ke samping. "Ini semua gak ada hubungannya sama lo!"
Kenzie mendengus. Pria itu lantas pergi dari sana, ia merasa muak dengan sikap Farzan yang berubah-ubah. Farrel dan Keenan mengikuti jejak Kenzie.
Setelah kepergian ketiga orang itu, Arisha duduk di samping Farzan.
Arisha menunduk. "Sorry, Zan. Gara-gara gue lo jadi-"
"Stop, Ris. Masalah mereka sama gue gak ada hubungannya sama lo. Ini bukan salah lo," potong Farzan cepat.
"Makasih karena lo udah mau ngasih gue kesempatan buat deketin lo," ucap Arisha dengan senyum tulus.
Ini adalah pertama kalinya Farzan melihat gadis itu tersenyum tulus seperti itu. Ia merasa cukup senang entah mengapa.
"Tumben gak pake aku-kamu lagi?" Farzan mengangkat sebelah alisnya.
Arisha semakin menundukkan wajahnya yang memerah. "Gu-gue ... Emang gak boleh?"
Farzan tertawa. Tanpa sadar ia mengangkat tangannya dan mengusap kepala Arisha lembut. Keduanya lalu bertatapan cukup lama. Karena malu, Arisha langsung berlari pergi. Farzan melihat kepergian gadis itu dengan tatapan kosong.
'Ada apa dengan dirinya barusan?' batinnya tak percaya.