Chapter 37: 36. Merasa Dibohongi

Aliesha The ProtagonistWords: 7336

Aliesha membaca buku di tangannya saat gadis itu telah duduk di sofa. Ia tidak tahu sudah menjadi milik siapa ruangan itu, namun ia akan meminjamnya untuk sementara waktu.

Buku yang ada di tangan Aliesha tidak terlihat spesial. Terutama covernya yang polos tanpa gambar ataupun tulisan.

Saat ia membuka buku itu, hal pertama yang ia lihat adalah tulisan tangan seseorang yang sangat berantakan. Itu ditulis menggunakan tinta berwarna merah terang.

Ketika Aliesha membaca tulisan itu, ia merasa seperti dirinya telah dibohongi. Buku itu memang bersifat rahasia karena itu adalah diary milik seseorang yang tidak ia ketahui pemiliknya.

Akan tetapi, ia tidak merasa dirinya akan beruntung jika ia membaca buku itu. Apalagi buku itu berisi curhatan seseorang yang sering dibully. Aliesha membuang napas kasar ketika gadis itu membuang buku itu ke atas meja.

"Ahh ... Bodoh banget gue! Bisa-bisanya gue percaya isi kertas itu kemarin," gerutunya kesal.

Aliesha lalu meraih buku itu dan membuangnya ke tempat sampah. Setelah itu, ia keluar dari ruangan itu.

Gadis itu tidak langsung kembali ke gedung kelas. Ia malah memasuki pintu menuju kolam renang. Aliesha duduk di pinggir kolam dengan kaki yang ia masukkan ke dalam air. Sepatu dan kaos kakinya ia letakkan di pinggir kursi.

Ia melihat sekeliling cukup lama, seolah sedang mengenang masa lalu. Dulu, ia tidak memiliki teman di sekolah. Setiap kali jam istirahat, ia akan pergi ke situ untuk menghibur dirinya sendiri.

Ia selalu merasa kesepian, itulah sebabnya ia memutuskan untuk membully beberapa orang yang tidak ia sukai. Ia melakukan itu terutama untuk menarik perhatian kakeknya.

Aliesha tersenyum kecut. Betapa bodohnya ia dulu. Gara-gara dia, murid-murid itu sampai memutuskan untuk bunuh diri karena tidak sanggup dibully olehnya.

Merasakan hp yang ada di sakunya bergetar, Aliesha dengan cepat mengeluarkannya. Ternyata, itu adalah panggilan telepon dari Liam.

"Halo," ucap Liam begitu Aliesha menerima panggilannya.

"Kenapa?" tanya Aliesha langsung.

"Lo di mana? Gue sama yang lain ke kelas lo tapi lo gak ada."

"Lo di kantin kan? Gue bakal ke situ."

"Okay. Gue tunggu ya."

Tanpa menjawab, Aliesha segera mengakhiri panggilan. Gadis itu dengan terburu-buru mengeluarkan kakinya dari dalam air, kemudian duduk di kursi untuk memakai sepatunya.

Begitu selesai, ia dengan cepat berlari menuju lift. Di dalam lift, Aliesha terus-terusan melihat ke arah jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Saat pintu lift terbuka, ia bergegas lari menuju kantin.

Aliesha nampak ngos-ngosan ketika ia sampai di meja Liam dan kawan-kawan. Liam bersama dua orang temannya menatap Aliesha aneh.

"Lo dari mana Lis, sampai ngos-ngosan gitu?" tanya Liam khawatir.

"Nih, Lis, minum dulu. Lo kelihatan capek banget," ujar Dhafin seraya memberikan minuman pada Aliesha.

Aliesha menerima minuman itu, ia lalu menenggak setengah isinya. Setelah itu, ia duduk di sebelah Liam karena Dhafin dan Xander duduk bersebelahan. Sembari mengatur napasnya, Aliesha melihat ke sekeliling kantin.

"Lo nyari apa?" tanya Liam saat melihat gelagat Aliesha yang semakin aneh.

Aliesha menggeleng. "Gak apa-apa. Gue ambil makanan gue dulu deh," katanya yang langsung pergi.

Seperti biasa, Aliesha harus mengantre terlebih dahulu untuk bisa mendapatkan makan siang. Syukurlah gilirannya tiba dengan cepat. Setelah nampannya terisi, gadis itu kembali ke meja Liam.

Baru saja Aliesha duduk, tiba-tiba saja hpnya kembali bergetar. Aliesha mengeluarkan hp dari sakunya dan melihat adanya panggilan masuk dari David. Ia dengan cepat menerima panggilan itu.

"Lo di mana?" tanya David cepat. Kecemasan terdengar jelas dari suaranya.

"Gue di kantin."

Panggilan itu langsung diputuskan sepihak oleh David. Tidak sampai semenit, pria itu sudah sampai di kantin. Ia mengedarkan pandangannya ke sekitar untuk mencari keberadaan Aliesha.

Setelah matanya menangkap sosok gadis itu, David bergegas menghampiri mejanya.

"Lo dari mana aja? Gue ke UKS bawain lo makan siang tapi lo udah gak ada. Gue pikir lo hilang, Aliesha." David berkata gemas.

Aliesha menatap David kalem saat gadis itu dengan tenang mengunyah makanannya.

"Mending lo ambil makanan lo biar kita bisa makan sama-sama," ucap Aliesha tanpa perasaan bersalah.

David tak menggubris. Pria itu lantas duduk di samping Aliesha dengan wajah kesal yang sangat kentara. Liam melihat keduanya dengan alis terangkat.

"Ngapain lo nyariin Aliesha ke UKS?" tanya Liam pada David.

David menghela napas panjang. "Dia demam tadi pagi, dan gue yang bawa dia ke UKS. Gue gak nyangka waktu gue pergi, dia juga ikut pergi entah ke mana," jelasnya dengan wajah lelah.

"Trus, kenapa wajah lo jadi gitu dah?" Dhafin menatap David aneh.

"Emang wajah gue kenapa?" tanya David tak mengerti.

"Lo kelihatan capek," jawab Xander.

David menatap mereka malas. "Gimana gak capek? Gue nyariin nih anak bolak-balik dari UKS ke kelas, tapi dia-nya gak ada. Mana dia masih demam," oceh David semakin kesal.

"Kalem, Bro. Gak usah ngegas, santai aja," ucap Liam. Suasana hatinya menjadi lebih baik mengetahui David kesusahan saat mencari Aliesha.

David membuang napas pasrah. Pria itu lalu bertopang dagu sembari melihat ke arah Aliesha, memperhatikan gadis itu dalam diam.

Dari pintu kantin, Abel masuk bersama antek-anteknya. Gadis itu terlihat marah karena sejak tadi ia mencari David, namun sampai sekarang ia masih belum bertemu dengan pria itu.

Saat matanya melihat David tengah duduk bersebelahan dengan Aliesha, amarahnya semakin memuncak. Gadis itu bergegas menghampiri meja mereka.

"Heh, l*nte! Lo semakin berani ya dekat-dekat pacar gue." Abel membanting tangannya ke meja dengan keras.

David yang sedang bertopang dagu menjadi kaget. Pria itu dengan cepat duduk tegak tanpa ekspresi. Liam, Dhafin, dan Xander menatap Abel tajam. Aliesha sendiri masih menikmati makan siangnya tanpa terganggu dengan tindakan gadis itu.

"Lo denger gue gak sih?!" Abel akan menjambak rambut Aliesha, namun Liam dengan cepat menahan tangannya.

"Lo bisa gak sih, gak usah nyari ribut?" Liam menatap Abel tak suka.

Abel memberontak. "Gak bisa! Nih cewek udah kurang ajar dekat-dekat pacar gue," katanya yang semakin menggila.

Suara Abel yang keras serta keributan yang ia ciptakan mengundang tatapan penasaran dari semua orang.

"Vid, lo urusin nih pacar lo. Dah gila nih anak," ucap Liam malas. Pria itu dengan kasar melepas tangan Abel yang ia pegang.

Tanpa basa-basi, David meraih tangan Abel dan membawanya pergi dari sana. Ara menatap Liam sendu.

"Liam, kamu masih marah sama aku?" tanya gadis itu dengan suara manja yang dibuat-buat.

Liam mengapa Ara jijik. "Dih, jangan ngomong kek gitu anj*ng. Geli gue."

Ara mendengus. Gadis itu menarik tangan temannya dan pergi ke meja lain.

"Hari ini hari apa ya?" tanya Aliesha tiba-tiba.

Xander dengan cepat menjawab, "Rabu, Lis."

"Emang kenapa, Lis?" tanya Dhafin.

Aliesha menggeleng. "Gue rasa ini hari tersial gue sih. Hahh ... Gue sial banget hari ini," ucapnya disertai desahan pasrah.

Ketiga pria yang duduk di meja yang sama dengannya menatap gadis itu bingung. Liam spontan meletakkan tangannya di dahi Aliesha.

"Ternyata benar. Lo masih demam, Lis." Liam menatap Aliesha iba.

Dhafin dan Xander refleks menutup mulut saat tawa kecil terdengar dari mulut mereka. Aliesha mengernyit, bingung dengan selera humor yang mereka punya.

'Apanya yang lucu sih?' batinnya.