Chapter 38: 37. Tubuh Lama Aliesha

Aliesha The ProtagonistWords: 8497

Abel menepis tangan David yang menggenggam tangannya. Mereka kini berada di dekat tangga. Abel memelototi beberapa orang yang melihat ke arah mereka. Orang-orang itu bergegas pergi karena takut pada Abel.

"Vid, kenapa lo selalu belain cewek itu? Lo mau gue batalin pertunangan kita?" pekik Abel dengan suara keras.

"Lo yakin mau batalin pertunangan?" tanya David dengan wajah tanpa ekspresi.

Abel terdiam. Gadis itu menatap David kesal. "Gue ... bukan itu maksud gue. Lo sadar gak sih kalau gue lagi cemburu? Harusnya lo bujuk gue, hibur gue. Gimana sih," gerutu Abel.

David menghela napas panjang saat pria itu menyandarkan tubuhnya ke dinding. "Bel, kita ini bukan anak kecil lagi. Kita udah mau beranjak dewasa. Kenapa sikap lo masih kekanakan kayak gini?"

"Siapa yang kekanakan coba?" Abel memalingkan wajahnya ke samping, tidak mau mengakui fakta bahwa dia memang seperti itu.

"Bel," panggil David pelan. Abel menoleh, gadis itu mengangkat alisnya dengan tatapan bertanya.

"Gue gak suka lo bully orang lain. Entah itu murid baru, murid cupu, atau siapapun itu, gue gak mau. Gue udah pernah bilang kan?" David menatap lurus ke arah mata gadis itu.

Abel membalas tatapan David dengan wajah menyesal. "Tapi kan, Vid. Gue mau nunjukin ke mereka kalau gue yang berkuasa di sekolah ini. Biar mereka gak berani macam-macam sama gue."

David menggeleng. "Bukan begitu caranya, Bel. Gue gak suka sama cara lo. Apalagi tuh, baju lo ketat banget. Lo mau nunjukin tubuh lo ke siapa sih?" Pria itu melirik tubuh Abel dengan tatapan tajam.

Abel gelagapan. "Ya ... buat siapa lagi kalau bukan buat lo? Kan selama ini lo gak pernah natap gue kayak hari ini," ucap gadis itu dengan tangan terlipat.

David terkekeh. "Lo mau berubah kan, Bel. Jadi cewek penurut, karena gue suka tipe kek gitu," katanya seraya tangannya mengusap rambut Abel lembut.

Abel tersenyum senang. Tanpa pikir panjang, gadis itu langsung mengangguk.

"Lo bakal terus natap gue kek gini kalau gue jadi penurut kan, Vid?" tanya Abel penuh harap.

"Sure, Baby. Lo tunangan gue. Gak lama lagi lo bakal jadi istri gue, right?" David mencium kening Abel, membuat jantung gadis itu berdegup kencang.

Abel mengangguk senang. Gadis itu sampai tidak menyadari kepergian David saking senangnya.

***

Seperti kemarin, hari itu Aliesha pergi ke rumah kakeknya lagi ketika pulang sekolah. Gadis itu belum mau menyerah. Kali ini ia menghentikan mobilnya tepat di depan pagar rumah kakeknya.

Satpam yang berjaga di pos bergegas membuka sedikit celah pada pagar agar ia bisa keluar, kemudian pria paruh baya itu mendekati mobil Aliesha.

Aliesha segera menurunkan kaca jendela mobil saat satpam itu mengetuk jendela mobilnya. "Nyari siapa ya, Dek?" tanya satpam itu begitu melihat Aliesha masih mengenakan seragam.

"Gak, Pak. Saya cuma mau nanya. Rumah ini sekarang ditinggali siapa ya, Pak?" tanya Aliesha.

Satpam itu menatap Aliesha curiga. Gadis itu dengan cepat melambaikan kedua tangannya.

"Saya gak ada maksud jahat, Pak. Rumah ini sebelumnya kan ditinggali Pak Wijaya. Nah, Pak Wijaya itu teman kakek saya," jelas Aliesha secara alami.

Pak satpam mengangguk paham. "Oalah, gitu toh. Sekarang rumah ini sudah ditinggali Bu Kirana, Dek. Cucu satu-satunya Pak Wijaya. Emang ada apa ya, Dek?"

Aliesha tercengang, tubuhnya membeku selama beberapa detik. Dengan tangan gemetar, gadis itu memegang tangan pria paruh baya itu.

"Kirana ... maksud Bapak, Kirana Wijaya?" tanya Aliesha memastikan. Ia masih belum bisa percaya bahwa ternyata tubuh lamanya belum mati.

Satpam itu mengangguk. "Benar, Dek. Sekarang Bu Kirana ada di dalam. Adek mau bertemu dengan beliau?" tanya satpam itu menawarkan.

Mata Aliesha berbinar. "Emang boleh, Pak?"

"Saya belum tahu, Dek. Tapi kalau Adek mau, nanti saya tanyain," kata satpam itu.

Aliesha mengangguk. "Saya mau, Pak. Tolong ya, Pak."

Aliesha dengan cepat melepaskan tangan satpam itu. Menunggu selama beberapa menit, akhirnya satpam itu keluar lagi.

"Gimana, Pak?" tanya Aliesha penuh harap.

Satpam itu mengangguk. "Bisa, Dek. Bentar ya, saya buka dulu gerbangnya."

"Iya, Pak." Aliesha menjawab dengan senyum lebar.

Gadis itu lalu melajukan mobilnya memasuki pekarangan rumah itu. Ia menghentikan mobilnya tepat di depan pintu utama. Aliesha turun dari mobil, satpam yang tadi mengantarnya sampai ke ruang tamu.

Setelah mengantarnya, satpam itu berbalik pergi. Kini tinggallah Aliesha dan tubuh lamanya sendirian. Posisi Aliesha kini masih berdiri. Gadis itu menatap wanita paruh baya di depannya dengan tatapan bingung.

'Kok tubuh lama gue udah jadi emak-emak ya?' batinnya heran.

Kirana Wijaya, sang pemilik rumah menatap Aliesha dari atas sampai bawah. Wanita itu menatap Aliesha selama beberapa menit.

"Silahkan duduk," ucapnya penuh wibawa.

Aliesha duduk dengan patuh. Gadis itu meremat pelan jari-jarinya karena gugup. Beberapa kali juga ia menelan ludahnya sendiri. Entah bagaimana tenggorokannya terasa kering.

"Siapa nama kamu?" tanya wanita itu.

Aliesha mengangkat kepalanya yang semula menunduk. "Saya Aliesha, Tante," jawabnya.

"Sepertinya saya pernah dengar nama kamu. Nama kakek kamu siapa?" tanya wanita itu lagi.

Aliesha gelagapan. Seingatnya kakek Aliesha yang asli tidak berhubungan dekat dengan kakeknya dari kehidupan sebelumnya. Sekarang ia ditanyai seperti itu, ia tidak tahu harus menjawab apa.

Aliesha mengingat-ingat kembali nama-nama teman kakeknya yang pernah makan malam bersamanya sebelumnya.

Setelah mengingat satu nama, gadis itu segera menjawab, "Samuel Bramantyo, Tante."

Kirana mengangkat sebelah alisnya. "Bukankah umurmu terlalu muda kalau mempunyai kakek yang seumuran dengan kakek saya?" tanya wanita itu dengan tatapan tak percaya.

"Em ... Nenek saya adalah istri paling muda dari kakek saya, Tante. Makanya saya juga cucu paling muda yang dimiliki kakek," jelas Aliesha dengan senyum palsu.

Entah sampai kapan ia harus terus berbohong. Hanya saja, ia menjadi semakin bingung. Itu adalah tubuh lamanya, namun jiwa siapa di dalamnya? Jika itu adalah jiwa Aliesha yang asli, kenapa dia tidak mengenalinya?

Aliesha melihat wanita itu mengangguk. Baru saja Aliesha akan pamit, gadis itu melihat sosok pria yang ia kenal melintas melewatinya.

"David pulang, Ma." Pria itu menyalim tangan Kirana.

Wanita yang dipanggil Mama itu bangkit dari duduknya. Dengan senang ia memeluk David yang merupakan anaknya. Aliesha shock. Matanya melotot dengan mulut yang sedikit terbuka.

"David?!" Aliesha tercengang.

David menoleh. Pria itu menautkan kedua alisnya saat melihat Aliesha.

"Aliesha? Kok lo bisa ada di sini?" tanya David.

Kirana melihat kedua orang itu dengan alis terangkat. "Kamu kenal sama dia, David?" tanya Kirana lembut.

David mengangguk. "Iya, Ma. Dia murid baru di sekolah," jawabnya.

Kirana menjentikkan jarinya seolah mengingat sesuatu. "Ah ... saya ingat sekarang. Kamu Aliesha Azkadina ya? Perempuan yang ngejar-ngejar anak saya di sekolah," ucap wanita itu dengan tatapan sinis.

"Ma!" tegur David. Pria itu merasa tidak enak pada Aliesha yang dituduh seperti itu.

Kirana menatap David tajam. "Kenapa? Emang Mama salah?"

Aliesha tersenyum kaku. "Kata siapa ya Tante kalau saya ngejar-ngejar David di sekolah?"

"Abel, calon menantu saya. Saya peringatkan ya. David itu sudah punya tunangan. Kamu jangan kegatelan deketin anak saya. Paham kamu?!"

Aliesha terkekeh. "Denger ya, Tante. David dikasih gratis ke saya juga saya gak mau," ucapnya dengan nada mengejek.

"Kamu!" Kirana merasa kesal dengan jawaban Aliesha barusan.

"Stop, Ma. Mama nih kebanyakan bergaul sama Abel, makanya sikap Mama sama dia tuh udah sebelas dua belas." David menatap ibunya datar.

Kirana menatap David tajam. "Udah berani kamu sama Mama?"

"Bukan gitu, Ma." David memegang kedua bahu Kirana lembut. "Aku gak mau Mama marahin orang tanpa sebab kayak gini," lanjutnya.

Kirana menghembuskan napas panjang. "Ya udah. Mama mau balik ke kamar aja."

Wanita itu lantas pergi dengan wajah cemberut, berharap David akan mengejarnya. Sayangnya, pria itu tetap berdiri di tempat. Kirana melirik Aliesha melalui ekor matanya sebelum menaiki tangga menuju lantai dua.

"Maafin Nyokap gue ya. Please, jangan masukin kata-katanya ke dalam hati," ucap David dengan perasaan bersalah.

Aliesha mengangguk. "Sans. Gue gak masalah kok," jawabnya cuek.

"Kalau gitu gue pulang dulu ya. See you," pamit Aliesha dengan wajah datar.

Gadis itu keluar dari rumah David dengan mata memerah serta tangan terkepal. Ia tidak percaya dengan apa yang terjadi barusan. Sepertinya ada sesuatu yang salah, tapi ia tidak tahu salahnya dimana.