Chapter 39: 38. Bertemu Bagas dan Naomi

Aliesha The ProtagonistWords: 9592

Aliesha duduk bertopang dagu sembari mengetukkan jari-jari lentiknya di atas meja belajar di kamarnya. Gadis itu tengah merenungkan pertemuannya dengan Kirana Wijaya yang merupakan tubuh lamanya.

Jika dipikirkan kembali, sepertinya ia berada di masa depan sekarang. Ia tidak terlalu memedulikan tanggal sebelumnya, karena ia pikir ia berada di dunia novel. Namun setelah bertemu dengan penulis novel itu, ia yakin bahwa sekarang ia berada di dunia nyata.

Hanya saja, penulis novel yang ia temui sudah berumur empat puluhan, begitu juga dengan tubuh lamanya.

Lantas, sudah berapa lama kakeknya meninggal? Lalu, apakah David adalah anak dari tubuh lamanya? Apa alasan Raven memintanya membuat David jatuh cinta padanya?

Semua pertanyaan-pertanyaan itu membuatnya semakin pusing. Ia bingung dengan pertanyaan yang masih belum bisa ia ketahui jawabannya. Aliesha menarik napas panjang dan mengeluarkannya perlahan.

Ada satu hal yang mengganjal di hatinya. Ia masih penasaran dengan orang yang mendorongnya dari rooftop waktu itu.

Siapa dia? Kenapa dia mendorongnya?

Apalagi ketinggian dari rooftop ke bawah itu bisa berjarak setidaknya tiga puluh meter. Kalau tidak mati, setidaknya tubuhnya akan mengalami cedera yang sangat parah. Terutama bagian kepala dan organ dalamnya.

Akan tetapi, Kirana Wijaya terlihat baik-baik saja tadi. Ia tidak tahu pasti, tapi sepertinya wanita itu memiliki kondisi tubuh yang sangat sehat. Beliau tidak terlihat sakit sedikitpun.

Aliesha mendesah. Dengan perlahan ia beranjak menuju tempat tidur. Baru saja ia merebahkan tubuhnya, pintu kamarnya sudah diketuk oleh seseorang.

"Non, waktunya makan malam," ucap Mbok Asih dari luar kamarnya.

"Iya, Mbok. Nanti aku ke bawah," sahut Aliesha cepat.

Gadis itu dengan malas merubah posisinya menjadi duduk. Jujur saja, ia tidak memiliki napsu makan sekarang. Tapi, ia tidak mau membuat orang tuanya khawatir padanya.

Dengan amat sangat terpaksa, Aliesha akhirnya keluar dari kamarnya. Gadis itu menuruni tangga seperti orang yang tidak memiliki semangat hidup.

Begitu ia sampai di ruang makan, ekspresi malasnya telah berganti menjadi ekspresi terkejut. Bagaimana tidak? Ia melihat Naomi dan Bagas juga ada di sana. Aliesha menatap mereka dengan mata membulat.

"Hai, Aliesha. Udah lama ya kita gak ketemu!" seru Naomi senang. Gadis itu bergegas memeluk Aliesha dengan erat.

Mama Yanti dan Papa Bimo terkekeh geli melihat tingkah Naomi yang sangat bersemangat saat bertemu dengan Aliesha. Arisha memutar matanya malas melihat adegan itu.

"Naomi, ngapain ke sini?" tanya Aliesha dengan senyum kaku.

Naomi melepaskan pelukannya. "Kenapa? Lo gak suka ya gue mampir ke rumah lo? Gue kan kangen sama lo, Lis." Naomi menatap Aliesha dengan wajah cemberut.

Aliesha melebarkan senyumnya. "Gue juga kangen sama lo kok," ucapnya sembari membalas pelukan gadis itu.

Naomi kembali sumringah. Ia lantas menarik tangan Aliesha dan menuntun gadis itu untuk duduk di sebelahnya.

"Gue datang ke sini bareng Bagas lohh," katanya dengan nada menggoda.

Aliesha terkekeh. "Wahh ... Kalian udah jadian ya? Cieee," balasnya.

Naomi memberengut kesal. "Ihhh, Aliesha! Maksud gue kan-"

"Gak usah malu-malu, Nao. PJ, PJ, PJ," potong Aliesha yang semakin meledek Naomi.

Naomi menatap Bagas. "Gas, ngomong sesuatu!"

Bagas mengangkat kedua bahunya dengan acuh tak acuh. Interaksi mereka membuat tawa Papa Bimo dan Mama Yanti meledak.

"Udah, udah. Kita mulai makan aja yuk! Jangan sampai makanannya dingin," ucap Mama Yanti meredakan suasana.

Semuanya mengangguk. Selesai makan, Aliesha bersama Naomi dan Bagas duduk di ruang tamu. Awalnya mereka akan berkumpul di kamar Aliesha, namun tidak jadi karena Bagas merupakan laki-laki.

Orang tua Aliesha dan Arisha sudah masuk ke kamar mereka masing-masing. Itulah sebabnya Aliesha dan dua temannya bebas ngapain aja di ruang tamu.

"Lis, lo ganti nomor hp ya? Kok gue hubungi gak bisa?" tanya Naomi dengan wajah murung.

Aliesha menggaruk pelipisnya. "Hehe, iya. Maaf ya, Nao. Gue gak bilang-bilang kalau ganti nomor," ucapnya dengan raut menyesal.

Naomi mengangguk. "Mana hp lo?"

Aliesha memperlihatkan hpnya. "Nih!"

Naomi mengambil hp Aliesha dari tangan gadis itu. Dengan cepat ia menghubungi nomornya sendiri. Setelah itu, ia mengembalikan hp Aliesha lagi saat ia menyimpan nomor gadis itu.

"Btw, Lis. Kayaknya cara ngomong lo udah beda deh. Gak pake aku-kamu lagi, udah pake lo-gue sekarang," ujar Bagas dengan alis yang dinaik-turunkan.

Naomi mengangguk setuju. "Iya. Sepertinya pergaulan di sana bikin lo berubah deh, Lis. Lo bahkan sampai ganti nomor hp lo biar kita gak bisa kontakan lagi," kesalnya.

Aliesha melambaikan kedua tangannya. "Gak gitu, woi! Gak gitu!" bantahnya cepat.

"Gak gitu gimana? Emang itu kenyataannya kok," balas Naomi dengan tangan terlipat.

Aliesha dengan pasrah mengangguk. "Okay. Gue emang salah, dan gue minta maaf. Jangan marah sama gue ya," pintanya dengan wajah memelas.

Naomi terlihat berpikir keras. Beberapa detik kemudian, gadis itu akhirnya mengangguk dengan senyum mengembang.

"Yeyyy!!" Aliesha bersorak.

Bagas dan Naomi menatap Aliesha aneh. Aliesha dengan malu menyembunyikan wajahnya menggunakan bantal sofa. Ketiga orang itu lalu tertawa bersamaan.

"Oh iya, Lis. Lo pindah ke sekolah mana sih sebenarnya? Kok lo gak mau bilang ke kita?" tanya Naomi setelah menghentikan tawanya.

Aliesha menatap Naomi dengan wajah datar. Gadis itu lalu menarik napas panjang.

"SMA Kivandra," jawabnya.

Bagas melotot. "Njir! Lo pindah ke sekolah elit, Lis? Pantesan aja lo jadi sombong gitu," celetuknya.

"Dih, siapa yang sombong?" Aliesha mulai berkacak pinggang.

"Siapa lagi kalau bukan lo? Kan lo sampai ganti nomor biar kita gak bisa hubungin lo lagi. Iya kan?" Naomi menatap Aliesha sinis.

Aliesha mendengus. "Pulang lo berdua! Husss husss," usirnya.

Naomi nyengir. "Canda, Lis. Bercanda aja kok. Aliesha mah gak sombong. Iya kan, Gas?" Gadis itu menyenggol lengan Bagas.

Bagas mengangguk. "Iya dong. Aliesha kan orang paling baik di dunia ini," katanya hiperbola.

Aliesha memutar matanya malas. "Jujur deh. Kenapa kalian datang ke rumah gue malam-malam kayak gini?"

Naomi dan Bagas saling bertukar pandang. Keduanya mengangguk bersamaan, setelah itu mereka menatap Aliesha dengan wajah serius.

"Gue punya kabar buruk, Lis." Naomi memegang tangan Aliesha erat, berupaya menenangkan gadis itu agar tidak terlalu kaget saat mendengar berita yang akan ia sampaikan.

Aliesha mengangkat kedua alisnya heran. "Kabar buruk apa?"

Naomi melirik Bagas. "Lo aja deh yang ngomong, Gas. Gue gak sanggup."

"Ayo, Naomi! Lo pasti bisa!" Bagas mengangkat tinjunya ke atas untuk menyemangati Naomi.

Naomi menarik napas panjang, kemudian mengeluarkannya perlahan. "Jangan kaget ya, Lis."

Aliesha mengangguk. "Gak akan," balasnya.

Naomi menghela napas panjang sekali lagi. "Farzan sama Arisha pacaran!" pekiknya dengan mata terpejam, ia takut melihat wajah shock Aliesha.

Tidak seperti yang diharapkan, Aliesha tidak shock sama sekali. Gadis itu malah mengangkat kedua alisnya dengan tatapan bingung.

Naomi membuka matanya perlahan. Melihat reaksi Aliesha yang di luar ekspektasi, gadis itu mendekatkan wajahnya ke wajah Aliesha.

"Lo gak kaget?" tanyanya.

Aliesha menggeleng. "Emang gue harus kaget ya?"

Naomi menepuk dahinya dengan ekspresi yang sulit dijelaskan. Bagas malah tertawa melihat reaksi Aliesha yang terkesan polos.

"Bukannya lo suka sama Farzan ya?" tanya Naomi ragu.

Aliesha menutup mulutnya menggunakan satu tangan. "Kata siapa?"

"Kata gue." Naomi menunjuk dirinya sendiri.

"Kenapa lo mikir gitu?"

Naomi mengusap dagunya dalam pose berpikir. "Seingat gue ya, Lis. Lo pernah bilang kalau Farzan itu ganteng. Trus juga dia baik banget. Trus-"

Aliesha meletakkan telunjuknya di bibir Naomi. "Stop, stop. Bukan berarti gue muji-muji dia itu tandanya gue suka, Naomi! Gue bilang gitu karena emang itu kenyataannya," jelas Aliesha.

Naomi menggaruk pipinya disertai cengiran lebar. "Gitu ya?"

"Ck. Informasi lo kurang akurat nih," decak Bagas.

Naomi melirik Bagas sinis. "Dih. Kayak informasi lo akurat aja," cibirnya.

"Oh, iya, jelas. Lo lihat nih. Perhatiin gue baik-baik." Bagas menyugar rambutnya ke belakang saat pria itu mendekati Aliesha.

"Lis," panggilnya.

Aliesha mengangkat sebelah alisnya. "Hm?"

"Jujur deh. Lo suka sama gue kan?" tanya Bagas pede.

Naomi menatap Bagas malas, sedangkan Aliesha tertawa kecil ditanyai seperti itu.

"Kenapa gak dijawab?" tanya Bagas setelah beberapa menit terlewat.

"Bentar, Gas. Gue pengen ngakak, tapi takut lo tersinggung."

Ucapannya sukses membuat Naomi tertawa keras. Gadis itu sampai memukul-mukul punggung Bagas yang tertunduk lesu.

"Hahaha ... Makanya, Gas. Gak usah sok ganteng lo jadi orang! Kena batunya kan lo sekarang," ucap Naomi diiringi tawa yang sangat sulit dihentikan.

Aliesha terkekeh. "Sorry ya, Gas. Gue mungkin bakal suka sama lo kalau di kehidupan selanjutnya. Untuk kehidupan sekarang kayaknya ... gak dulu deh."

"Kenapa enggak?" Bagas memasang wajah sedih.

Aliesha menatap Bagas dan Naomi bergantian. "Karena gue rasa ... kalian berdua lebih cocok kalau pacaran. Gue sama lo gak cocok, Gas."

Naomi mendelik tak suka. "Dih, siapa juga yang mau sama Bagas?"

Bagas memutar matanya malas. "Emang lo pikir gue mau sama lo?"

Naomi mengibaskan rambutnya ke belakang. "Ya pasti maulah. Orang gue cantik gini," katanya pede.

Bagas membuat ekspresi seperti akan muntah, hal itu membuat Naomi memberengut kesal. Aliesha menggeleng dengan senyum kecil. Sejujurnya, ia merasa terhibur dengan kehadiran kedua orang itu malam ini.

Kehadiran mereka mampu membuatnya melupakan pertanyaan-pertanyaan yang terus berputar di kepalanya.