Chapter 40: 39. Jawaban Dari David

Aliesha The ProtagonistWords: 9248

Pagi itu, Aliesha berpapasan dengan Arisha di depan pintu kamarnya. Keduanya bersitatap selama beberapa detik dengan tatapan sinis di mata mereka.

"Gue denger-denger katanya lo sama Farzan udah pacaran. Congrats, ya. Akhirnya lo bisa buat dia jatuh cinta sama lo setelah sekian lama," ucap Aliesha saat Arisha berjalan melewatinya.

Arisha berbalik. Gadis itu menunjukkan senyum miring. "Bagus deh kalau lo udah tahu." Ia lalu pergi setelah mengatakan itu.

Aliesha terkekeh. Bisa dibilang, ia turut merasa senang dengan kebahagiaan yang akhirnya Arisha dapatkan. Mungkin karena ia mengetahui betapa menderitanya gadis itu sehingga ia bisa bersimpati padanya.

Aliesha melangkahkan kakinya menuju ruang makan. "Ma, Pa, Aliesha ke sekolah dulu ya," pamitnya pada orangtuanya.

Mama Yanti menahan tangan Aliesha selesai gadis itu menyalim tangannya. "Kamu gak sarapan dulu?"

Aliesha menggeleng. "Gak, Ma. Aku pergi ya."

"Have a nice day, Honey." Mama Yanti melambaikan tangannya pada Aliesha.

Aliesha membalasnya dengan senyum lebar. Tiba di depan pintu, gadis itu mendapati Farzan sedang duduk di motornya. Ia dengan cuek berjalan menuju mobilnya.

Menyadari kehadiran Aliesha, Farzan dengan cepat mengangkat kepalanya untuk menatap gadis itu.

"Lis," panggilnya.

Aliesha menoleh. "Hai, Zan. Selamat ya, udah jadian sama Arisha," ucapnya disertai senyum manis.

Farzan terkesiap. Pria itu ingin segera menjelaskan perihal hubungannya dengan Arisha, namun ia urung mengatakannya. Ia ingin tahu apakah Aliesha akan cemburu jika mengetahui ia dan Arisha memang sedang menjalin hubungan.

Maka dari itu, pria itu berkata, "Makasih ya, Lis. Arisha ada di dalam kan?"

Aliesha mengangguk. "Iya. Lo masuk aja kalau emang lagi nungguin dia."

Farzan tertegun mendengar gaya bicara Aliesha mulai berubah. Sikap gadis itupun menjadi lebih cuek dan santai dari sebelumnya.

"Kamu gak masalah kan Lis kalau aku jadian sama Arisha?" Farzan menatap Aliesha lekat.

Aliesha tersenyum lebar. "Gak masalah kok. Emang kenapa?"

"Kamu benar-benar gak-"

"Cemburu?" Aliesha tertawa. "Zan, harusnya gue lurusin masalah ini sejak lama, biar lo gak berharap sama gue. Gue cuma anggap lo teman, Zan. Gak lebih," jelasnya.

Farzan menggeleng tak percaya. "Kamu bohong kan? Aku bisa ngerasain perasaan suka kamu ke aku, Lis. Karena aku juga ngerasain perasaan yang sama sama kamu," ucapnya ngotot.

Aliesha menghela napas panjang. "Zan. Lo harus bisa nerima kenyataan. Semua yang lo rasain ke gue itu cuma ilusi, Zan. Lo harus sadar bahwa gue bener-bener gak ada perasaan lain selain pertemanan sama lo."

Farzan mengacak rambutnya gusar. "Oke! Tapi ingat! Jangan sampai kamu nyesel dengan keputusan kamu sekarang!" tegasnya.

Aliesha mengangguk. "Tenang aja. Gue gak bakal nyesel kok."

Setelah memberikan senyuman paling menawan untuk Farzan, Aliesha masuk ke mobil. Gadis itu mengendarai mobilnya menuju sekolah. Setelah memarkirkan mobilnya, Aliesha berjalan ke kelasnya.

Sampai di tangga menuju lantai dua, gadis itu membelalak kaget melihat gadis di depannya. Aliesha mengucek matanya beberapa kali untuk menjernihkan penglihatannya.

Menyadari bahwa itu bukan hanya ilusi, Aliesha mendekati gadis itu dengan tangan di mulutnya.

"Abel ya?" tanyanya ragu.

Abel mengangkat sebelah alisnya. "Kenapa lo?" ketusnya.

Aliesha tertawa. "Ckck. Pagi-pagi gue udah disuguhi pemandangan yang begitu ... indah," decaknya dengan tatapan mengejek.

Bagaimana tidak? Abel yang kemarin masih memakai pakaian seragam super ketat kini telah mengganti seragamnya menjadi ukuran over size. Apalagi gadis itu terlihat risih dengan pakaian yang dipakainya.

"Lo!" Abel mengepalkan tangannya kuat. Namun gadis itu dengan cepat menenangkan dirinya.

"Kenapa? Lo iri kan karena gue lebih cantik dari lo?" balas Abel dengan tatapan sinis.

Aliesha merapatkan bibirnya menahan senyum. "Gini ya, Bel. Cara berpakaian lo sekarang tuh udah mirip banget sama orang-orang yang lo bully. Lo gak ngerasa aneh apa?"

Mendengar perkataan Aliesha barusan membuat Abel menjadi tidak percaya diri. Gadis itu melirik pakaiannya yang memang terlihat seperti anak culun dan kutu buku.

Tapi, apa boleh buat? David yang memberikan pakaian itu padanya. Pria itu bilang, dia sendiri yang memilihkan pakaian itu khusus untuk Abel.

"Ya ... trus kenapa? Gak ngerugiin lo juga kan?" katanya sewot.

Aliesha mengangkat bahunya acuh tak acuh. "Terserah lo sih."

Gadis itu berlalu pergi. Tiba di kelasnya, Aliesha langsung duduk di bangkunya. Gadis itu memandang langit dari jendela kelasnya.

"Pagi, Aliesha."

Aliesha menoleh saat mendengar suara David menyapanya. Ia hanya mengangguk singkat sebagai balasan. David mendekati meja Aliesha, pria itu lalu duduk di kursi di depan gadis itu.

"Mau nemenin gue jalan-jalan pagi gak?" tawar David.

Aliesha menelengkan kepalanya ke samping. "Lo gak takut pacar lo cemburu?"

David menyeringai. "Lo takut sama Abel?" tanyanya balik.

Aliesha tertawa kecil. "Abel sih bukan apa-apa menurut gue. Tapi, Nyokap lo."

"Gue ngerti." David mengangguk. "Tapi kan ... Nyokap gue gak ada di sini sekarang," lanjutnya.

Aliesha mendengus. "Ngapain lo ngajakin gue jalan pagi?"

"Kenapa? Emang gak boleh?" David menatap Aliesha bingung.

Aliesha menarik napas panjang. "Ya gak boleh dong! Lo kan punya pacar."

"Ya ... trus?" David mengernyit.

Aliesha menatap David malas. "Gue bakal pergi kalau lo mau jawab pertanyaan gue."

"Soal rooftop dan-"

Sebelum David menyelesaikan ucapannya, Aliesha dengan cepat memotongnya. "Iya!"

David mengangguk. "Oke. Gue bakal jawab pertanyaan itu kalau lo mau jalan pagi bareng gue," katanya.

Aliesha menatap David tajam. Selang beberapa detik kemudian, gadis itu lalu berdiri.

"Ya udah, yuk! Gak lama lagi bel masuk," ucap Aliesha yang berjalan lebih dulu.

David mengikuti langkah gadis itu. Keduanya pun berjalan dengan langkah pelan. Mereka tidak memiliki tujuan yang pasti, hanya berjalan sesuai langkah kaki mereka.

Begitu mereka melalui area yang sepi, David mulai bersuara. "Lo mau gue jawab pertanyaan yang mana duluan?"

"Keduanya sama-sama penting. Lo bebas mau jawab yang mana lebih dulu," jawab Aliesha dengan tatapan lurus ke depan.

David mengangguk. "Oke. Gue jawab soal rooftop dulu. Setahu gue, akses rooftop udah ditutup sejak lama. Kalau gak salah, udah lebih dari dua puluh tahun yang lalu. Alasan lebih jelasnya gue gak tahu. Tapi, kata Nyokap gue, rooftop ditutup karena telah terjadi pembunuhan di sana," tuturnya panjang lebar.

Aliesha mengehentikan langkahnya. Gadis itu menatap David kaget. "Pembunuhan? Siapa yang mati?" tanya gadis itu dengan tubuh bergetar.

David ikut menghentikan langkah kakinya. "Gue gak tahu. Nyokap gue gak bilang siapa yang mati," jawabnya.

"Nyokap lo ... apa Nyokap lo baik-baik aja?" tanya Aliesha lagi.

David mengangguk. "Yap, Nyokap gue baik-baik aja. Kenapa?" Pria itu menatap Aliesha aneh.

Aliesha menggeleng. "Gak apa-apa. Hanya saja ... Nyokap lo di mana waktu pembunuhan itu terjadi?"

David angkat bahu. "Gue gak tahu," balasnya cuek.

"Kalau lo mau tahu, mending lo nanya ke Nyokap gue aja," lanjutnya mengusulkan.

Aliesha menatap David malas. "Lo tahu kan kalau Nyokap lo gak suka sama gue?"

"Hm. Mau lanjut gak nih?" tanya David mengalihkan pembicaraan.

Aliesha mengangguk. "Lanjut lanjut," ucapnya dengan perasaan campur aduk.

"Jawaban dari pertanyaan lo soal nama sekolah yang diganti ... agak panjang sih ceritanya."

Aliesha menyatukan kedua telapak tangannya dengan ekspresi memohon. "Lanjut, Vid. Gue bakal dengerin sampai selesai."

David memegang tangan Aliesha lembut. "Gak usah memohon, Aliesha. Gue tetap bakal cerita, tenang aja," hibur pria itu.

David menuntun Aliesha menuju kursi yang ada di sana. Keduanya kini berada di taman sekolah, dengan keadaan sekitar yang cukup sepi.

"Sekolah ini milik kakek Nyokap gue, yang berarti milik kakek buyut gue. Nama sekolah ini diganti setelah meninggalnya kakek buyut gue sepuluh tahun yang lalu, saat gue berumur tujuh tahun. Alasan nama sekolah ini diganti menjadi nama Kivandra adalah karena Nyokap gue menyarankan biar nama sekolahnya diganti," jelas David.

"Kenapa? Kenapa Nyokap lo nyuruh nama sekolahnya diganti?" tanya Aliesha tak mengerti.

"Gue juga gak tahu, Lis. Mungkin karena Nyokap gue sedih ditinggal kakek buyut?"

Aliesha menggeleng. "Kalau Nyokap lo beneran sayang sama kakeknya, harusnya dia gak ngerubah apapun sejak awal. Apalagi nama sekolah yang dibangun kakeknya dengan sepenuh hati!" marahnya.

David tercengang dengan kemarahan Aliesha yang terlalu tiba-tiba. Pria itu semakin kaget melihat air mata yang jatuh menuruni pipi gadis itu.

"Lo kenapa? Kok lo nangis?" tanya David cemas. Pria itu meraih Aliesha ke dalam pelukannya.

Aliesha memukul-mukul dada David dengan tangannya yang tidak bertenaga. Ia merasa sedih mengetahui kenyataan bahwa kakeknya sudah meninggal sejak lama.

Ia juga membenci Kirana Wijaya yang dengan sengaja mengganti nama sekolah menjadi nama Kivandra.

Siapa sebenarnya Kirana Wijaya itu? Ia tidak yakin bahwa itu adalah tubuh lamanya. Apalagi David mengatakan bahwa telah terjadi pembunuhan di rooftop, namun bukan ibunya sebagai korban.

Jika Kirana Wijaya bukanlah tubuh lamanya dan orang itu baik-baik saja sekarang, maka itu berarti, tubuh lamanya memang sudah mati.

Lantas, mengapa? Kenapa semua ini bisa menjadi seperti ini?