Chapter 41: 40. Ruang Rahasia

Aliesha The ProtagonistWords: 9159

Aliesha dengan cepat melepaskan pelukan David dari tubuhnya ketika ia mendengar suara bel berbunyi. Gadis itu dengan perlahan menghapus bekas air mata di pipinya, kemudian menatap David dengan matanya yang merah.

"Sorry, gue udah bikin seragam lo jadi basah. Dan, makasih buat jawabannya. Gue rasa kita harus ke kelas sekarang," ucap Aliesha cepat.

Saat Aliesha akan berbalik pergi, David dengan cepat meraih tangannya.

"Tunggu, Lis! Lo belum bilang alasan lo nangis barusan." David menatap Aliesha tepat di manik matanya.

Mata Aliesha yang masih merah kembali mengeluarkan air mata. Gadis itu lantas memutar matanya ke atas, berharap dengan begitu air matanya bisa berhenti mengalir.

"Gue gak bisa jelasin sekarang, Vid. Please! Gue lagi gak mau bahas ini sekarang," lirihnya.

David membuang napas pasrah. "Oke. Tapi ... kita jangan ke kelas dulu. Gue mau lo tenangin diri lo, karena gue gak mau dituduh sebagai penjahat yang udah bikin lo nangis."

Aliesha mengangguk. Gadis itu akan kembali duduk, namun David segera menghentikannya.

"Kita jangan duduk di sini. Bentar lagi ada guru yang datang buat periksa anak-anak yang sering bolos," tutur David menjelaskan.

"Trus, kita mau ke mana?" tanya Aliesha bingung.

David tersenyum misterius. "Lo bakal tahu sebentar lagi."

Pria itu menggenggam tangan Aliesha lembut, lalu menuntun gadis itu untuk mengikuti langkahnya. Aliesha mengikuti tanpa banyak protes. Saat keduanya mendekati gedung lapangan indoor, David bergegas mengajak Aliesha melewati pintu samping.

Jantung Aliesha berdentum kuat. Firasatnya memburuk saat keduanya memasuki lift. Pikiran tentang David yang mengetahui tentang tempat rahasianya membuat jantung Aliesha semakin berdebar.

David yang masih menggenggam tangan Aliesha bisa merasakan keringat dingin berkumpul di tangannya. Pria itu menatap Aliesha dengan tatapan khawatir.

"Kenapa, Lis? Lo takut ya?"

Aliesha tersenyum palsu. "Gue gak apa-apa kok. Ini ... kita mau ke mana?"

"Lo gak usah takut. Gue gak bakal ngapa-ngapain lo kok," hibur pria itu dengan senyum menenangkan.

Aliesha hanya bisa mengangguk dengan perasaan was-was. Ketika pintu lift terbuka, David membawa Aliesha ke ruang rahasia yang awalnya milik gadis itu.

Mata Aliesha menatap tajam tangan David yang sedang memasukkan password.

"Silahkan masuk! Ini adalah ruang rahasia khusus anggota keluarga Kivandra yang bersekolah di sini. And then, lo adalah satu-satunya orang yang gue bawa ke sini," ujar David begitu pintu ruang rahasia itu terbuka.

Aliesha melihat ke dalam ruangan dengan perasaan campur aduk. Ia tahu bahwa ruangan itu bukan lagi miliknya. Tetapi mengetahui bahwa ruangan itu menjadi milik keluarga Kivandra, hatinya menjadi sangat miris.

Hatinya sakit setiap kali mengingat sekolah yang dibangun kakeknya kini telah berpindah ke tangan orang lain. Bukannya ia tergila-gila dengan harta, hanya saja ia merasa dunia ini tidak adil.

Nyawanya sudah direnggut secara paksa, jiwanya telah berpindah ke tubuh orang lain, juga ada orang asing yang berpura-pura menjadi dia.

Rooftop tempat ia menenangkan diri sudah ditutup, sekarang ruang rahasia tempat ia bersembunyi juga tidak bisa ia pakai dengan bebas. Rasanya ia ingin marah, namun ia tidak bisa.

"Kenapa, Lis?" tanya David saat melihat Aliesha hanya bergeming di tempat.

Aliesha tersentak. Gadis itu dengan cepat tersenyum, "Gak. Ruang rahasianya bagus," pujinya.

David tersenyum lebar. "Iya kan? Gue juga kaget waktu Nyokap gue bawa gue ke sini. Katanya sih, ini dulu tempat persembunyian Nyokap gue tiap kali bolos."

"Kapan Nyokap lo bawa lo ke sini?" tanya Aliesha dengan tangan terlipat.

David terlihat berpikir. "Awal semester dua, sekitar setengah tahun yang lalu," jawabnya.

Aliesha manggut-manggut. Setelah mengenyahkan perasaan campur aduk yang ia rasakan, gadis itu dengan tenang duduk di sofa.

"Lo yang dekor ruangan ini?" tanya Aliesha lagi.

David menggeleng. "Gak. Sejak pertama kali gue datang ke sini, emang gini bentukannya. Nyokap gue ngelarang gue ngerubah dekorasi tempat ini," ucapnya setelah duduk di samping Aliesha.

Aliesha menautkan kedua alisnya. Ternyata Kirana yang merubah dekorasinya. Lancang!

"Lo pernah nanya ke Nyokap lo gak, kenapa ruangan ini didesain seperti ini?" tanya Aliesha saat ia berdiri.

David menggeleng lagi. Aliesha menghembuskan napas berat. Gadis itu lalu mengambil buku yang ia buang di tempat sampah kemarin.

Ini mungkin gila. Tapi, ia merasa akan ada sebuah petunjuk di buku itu. Setidaknya, ia harus mencoba bukan?

Dengan tangan gemetar, Aliesha membuka buku itu lagi. Kali ini ia membaca buku itu dengan lebih teliti. Setelah membaca cukup lama, ia tidak menemukan apapun selain curhatan sang penulis tentang bullyan yang dia terima.

"Lo lagi ngapain?" tanya David yang sudah berdiri di belakang Aliesha.

Kaget, Aliesha menjatuhkan buku yang sedang dia baca. David dengan cepat mengarahkan tatapannya pada buku yang gadis itu jatuhkan.

"Ini kan buku yang ada di perpustakaan," ujarnya setelah mengambil buku itu.

Pria itu menatap Aliesha lama. "Ini buku apa?" lanjutnya bertanya.

"Lo lihat aja sendiri," jawab gadis itu.

David membuka buku itu. Setelah membaca satu halaman, pria itu menyerahkan buku itu ke Aliesha lagi.

"Gue gak tertarik baca diary orang lain," katanya.

Aliesha tersenyum simpul saat menerima buku itu. "Oh, iya. Di bar kecil itu tersedia minuman apa aja?" tanya Aliesha sembari menunjuk bar kecil yang ada di ruangan itu menggunakan dagunya.

David mengikuti arahan Aliesha. Pria itu angkat bahu disertai gelengan kepala.

"Entah. Gue jarang banget datang ke sini, jadinya gue gak tahu apa-apa tentang ruangan ini," jawabnya.

"Gue boleh lihat sendiri gak?"

David mengangguk. Aliesha dengan senang hati berjalan ke arah meja bar. Saat melihat minuman yang tersimpan di dalam lemari, gadis itu menutup mulutnya menggunakan kedua tangannya.

"Alkohol? Vid, Nyokap lo nyimpen alkohol di sini." Aliesha melambaikan tangannya, meminta David untuk mendekat.

David bergegas menghampiri gadis itu saat mendengar ucapannya.

"Kok bisa?" David menatap tak percaya pada botol yang tersimpan di dalam lemari.

"Jangan-jangan ... Nyokap lo sering mabok lagi waktu muda," kata Aliesha berspekulasi.

David menggeleng. "Gak mungkin! Gue gak percaya Nyokap gue kek gitu," tolak David cepat.

"Ya ... kan, bisa jadi, Vid."

David tetap menggeleng. "Gak! Udah, Lis. Gak usah dibahas," ucap pria itu dengan wajah suram.

Aliesha mengangguk. Keduanya lalu kembali duduk di sofa.

"Vid," panggil Aliesha pelan.

David diam. Pria itu terlihat sedang tenggelam dalam pikirannya.

"David!" Aliesha menyentuh bahu pria itu.

David tersentak. Pria itu menatap Aliesha bingung. "Kenapa, Lis?"

"Gue boleh ketemu sama Nyokap lo gak lain kali?"

David mengangkat sebelah alisnya. "Mau ngapain?"

"Ada sesuatu yang mau gue tanyain ke Nyokap lo," jawab gadis itu gugup.

David tersenyum. "Boleh. Kapan lo mau ketemu sama Nyokap gue?"

"Hari ini setelah pulang sekolah bisa gak?" tanya Aliesha seraya memainkan rambutnya.

David mengangguk. "Oke. Nanti gue temenin lo ketemu Nyokap gue ya," janji pria itu.

Aliesha tersenyum. "Makasih, Vid."

***

Hubungan Farzan dengan tiga temannya sedang tidak baik-baik saja. Namun, hubungannya dengan Arisha semakin dekat. Orang-orang yang sebelumnya membully gadis itu di kantin kini tidak berani lagi melakukannya.

Semua orang menyayangkan sikap Farzan yang membela Arisha. Untungnya, gadis itu tidak melakukan hal-hal konyol yang membuat orang lain semakin membencinya.

Arisha yang mendapat perlindungan dari Farzan kini sedang duduk bersama pria itu di kantin. Keduanya terlihat sangat akrab.

Di meja yang lain, tiga teman Farzan tengah menatap tajam dua orang itu. Naomi dan Bagas menghampiri ketiga orang itu.

"Hai, kalian bertiga," sapa Bagas sok akrab.

Ketiga orang itu tidak menggubris sapaan Bagas. Naomi hanya tersenyum elegan saat gadis itu duduk di sebelah Farrel.

"Mata kalian bisa copot tahu nggak kalau ngeliatin mereka terus," komentar gadis itu dengan tangan terlipat.

Fokus ketiga orang itu berpindah ke Naomi. Mereka mengangkat alis secara bersamaan.

"Siapa yang nyuruh lo duduk di sebelah gue?" tanya Farrel tak suka.

Naomi tersenyum. "Gas, kita tukaran tempat."

Tanpa bertanya lebih lanjut, Bagas segera mengiyakan. Kini Bagas yang duduk di samping Farrel, sedangkan Naomi duduk di sebelah Bagas.

"Ngapain kalian datang ke meja kita?" tanya Keenan malas.

Naomi lagi-lagi tersenyum, namun gadis itu langsung berdiri. "Tadinya gue mau ngajakin kalian ke sekolah baru Aliesha. Tapi, kayaknya kalian gak tertarik deh," ucapnya seraya berpura-pura ingin pergi.

"Tunggu!" Kenzie berkata cepat.

Naomi menoleh, senyum gadis itu semakin lebar. "Kenapa?"

"Lo udah tahu Aliesha pindah ke sekolah mana?" tanya Kenzie datar. Farrel dan Keenan menatap Naomi kaget.

Naomi menatap Bagas, pria itu dengan cepat mengangguk.

"Kalau kalian mau tahu Aliesha pindah ke sekolah mana, kita bisa kasih tahu kalian. Tapi, ada syaratnya," ucap Bagas.

"Apa syaratnya?" tanya Farrel tak sabar.

"Syaratnya gampang kok." Naomi melihat ke arah kukunya dengan tatapan cuek.

"Kalian hanya harus pisahin Farzan dari Arisha." Naomi menyeringai kejam. Perkataannya mengundang tatapan aneh dari ketiga orang itu.