"Kenapa lo minta kita pisahin Farzan dari Arisha?" tanya Kenzie curiga.
Naomi menatap Kenzie malas. "Lo gak perlu tahu alasannya. Lo hanya perlu lakuin apa yang gue minta."
Kenzie menatap Farrel dan Keenan bergantian, meminta pendapat mereka melalui tatapannya.
Ketika kedua orang itu mengangguk, Kenzie berkata, "Okay, kita bakal penuhi persyaratan dari lo."
Naomi mengangguk puas. "Bagus. Gue tunggu hasilnya."
Setelah Naomi dan Bagas pergi, ketiga orang itu saling bertukar pandang.
"Kalian yakin sama pilihan ini?" tanya Keenan ragu.
Farrel menatap Keenan jengah. "Kita udah setuju kan tadi? Kita gak bisa mundur lagi."
"Benar, Nan. Kita gak bisa mundur lagi. Lo juga mau tahu kan Aliesha pindah ke sekolah mana?" kata Kenzie.
Keenan mengangguk. "Ya ... gue emang pengen tahu sih. Tapi-"
Farrel melotot. "Tapi apa lagi sih? Udahlah ... gak usah pake tapi-tapian."
"Trus, apa langkah selanjutnya?" tanya Keenan.
Kenzie menjentikkan ibu jari dan jari tengahnya. "Gue punya ide. Lo berdua tunggu gue di rooftop, nanti gue ke sana bareng Farzan," jelas pria itu.
Keenan menggeleng. "Lo gak bisa."
Kenzie mengernyit. "Kenapa?"
"Lo itu suka mancing emosi orang, tahu gak? Bukannya lo ngajak dia ke rooftop, yang ada malah lo ngajakin dia berantem," ucap Keenan malas.
"Kalau gitu, biar gue yang ngajak Farzan," sahut Farrel.
Keenan menggeleng lagi. "Lo juga gak bisa."
Farrel mengangkat sebelah alisnya. Sebelum pria itu bertanya, Keenan berkata, "Lo itu suka kepancing emosi, Rel. Pada akhirnya lo juga bakal berantem sama Farzan alih-alih ajak dia ke rooftop."
Farrel dan Kenzie menarik napas panjang secara bersamaan. "Lalu siapa yang ngajakin Farzan ke rooftop?" tanya Kenzie datar.
Keenan menunjuk dirinya sendiri. "Biar gue aja. Gue bisa jaga emosi dan gak suka mancing emosi orang lain," ucapnya disertai senyum tipis.
Farrel dan Kenzie mengangguk. "Oke. Kita serahin pekerjaan ini ke lo," ucap Farrel.
"Semangat! Kita nunggu kalian di rooftop," tambah Kenzie sembari menepuk bahu Keenan pelan.
Keenan membalas dengan anggukan. Pria itu lalu menghampiri meja Farzan dan Arisha. Kedua orang itu langsung menoleh saat Keenan sudah berdiri di samping Farzan.
"Zan," panggil Keenan.
Farzan mengangkat sebelah alisnya. "Apa?" tanyanya.
"Gue mau ngomong sama lo. Tapi gak di sini," jawab Keenan seraya melirik Arisha melalui ekor matanya.
Farzan mengangguk. Pria itu lantas memegang bahu Arisha yang memeluk erat lengannya.
"Ris, nanti kita ngobrol lagi ya. Gue pergi dulu sebentar, gak apa-apa kan?" tanya pria itu.
Arisha mengangguk dengan senyum terpaksa. "Iya, Zan. Gak apa-apa kok."
Setelah itu, Farzan mengikuti langkah Keenan yang membawanya menuju rooftop. Pria itu tidak terkejut melihat Farrel dan Kenzie juga ada di sana, karena ia bisa menebak apa yang ingin mereka sampaikan.
"Ada apa manggil gue ke sini?" tanya Farzan to the point.
"Duduk dulu, Zan." Keenan memberikan bangku yang tidak terpakai pada pria itu.
Farzan menerimanya dengan senang hati. Setelah mereka semua duduk, keempatnya terlihat diam untuk beberapa saat.
"Kalau kalian manggil gue cuma buat diam-diaman kek gini, mending gue pergi." Farzan berdiri dari duduknya, namun Keenan dengan cepat menahan tangannya.
"Bentar, Zan. Gue minta sama lo buat nahan emosi lo. Ada hal penting yang harus kita bahas sekarang," ucap Keenan cepat.
Farzan membuang napas pasrah, ia lalu duduk lagi di bangkunya.
"Cepat, gue gak punya waktu!" suruhnya.
Keenan menatap Kenzie. "Lo yang ngomong, Ken."
Kenzie mengangguk. Pria itu menatap Farzan lama. "Zan, lo beneran udah pacaran sama Arisha?"
Farzan mengernyit. "Gue dipanggil ke sini cuma buat ditanyain kayak gitu?"
Kenzie menggeleng. "Bukan gitu. Kita perlu tahu hubungan lo sama Arisha sebelum kita ngomongin masalah Aliesha."
Farzan menatap Kenzie tajam. "Kenapa sama Aliesha?"
"Jawab dulu pertanyaan Kenzie, g*blok!" Farrel mulai kepancing emosi.
Farzan mendengus. "Gue gak pacaran sama Arisha," jawabnya.
Keenan menepuk tangannya sekali. "Guys, gue harap kalian bisa tenang. Gue gak mau pembicaraan kita berakhir baku hantam di sini," ujar pria itu sembari tersenyum dingin.
Ketiga orang itu bergidik. Mereka segera menenangkan diri sebelum melanjutkan pembicaraan.
"Tadi Naomi bilang ke kita kalau dia udah tahu Aliesha pindah ke sekolah mana," lanjut Keenan.
"Beneran?" tanya Farzan antusias.
Kenzie menyandarkan punggungnya ke kursi. "Dia bilang dia akan memberitahu kita kalau kita berhasil bikin lo sama Arisha pisah."
"Sekarang keputusannya ada di tangan lo, Zan." Farrel memasang wajah serius.
Farzan menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan.
"Arisha juga janjiin gue hal yang sama. Taruhan gue sama dia hanya tinggal dua hari lagi," ujar pria itu.
Farrel, Keenan, dan Kenzie nampak terkejut. Ketiganya dengan cepat mengerumuni Farzan.
"Maksudnya gimana, Zan?" tanya Keenan.
"Taruhan apa?" tanya Farrel.
"Lo harus jelasin ke kita-kita sekarang," pinta Kenzie.
Farzan mendorong wajah mereka bertiga yang terlalu dekat dengannya. Begitu ketiganya kembali duduk di bangku mereka masing-masing, Farzan akhirnya bisa bernapas lega.
"Intinya, gue bisa tahu dimana sekolah baru Aliesha dalam waktu dua hari. Jadi lo bertiga gak usah repot-repot ngurusin gue sama Arisha," ucap Farzan acuh tak acuh.
Ucapan Farzan barusan membuat ketiga orang temannya terdiam. Mereka berpikir, sepertinya mereka sudah tidak membutuhkan informasi lagi dari Naomi.
***
Aliesha bersama David pergi ke rumah pria itu saat pulang sekolah. Keduanya pergi menggunakan mobil mereka masing-masing.
David langsung berlari ke kamar ibunya di lantai tiga, meninggalkan Aliesha menunggu sendirian di ruang tamu. Setelah menyalim tangan ibunya, pria itu berkata, "Mama masih ingat Aliesha kan?"
Kirana mengangguk. "Kenapa sama dia?"
David tersenyum lebar. "Dia ada di bawah sekarang, Ma. Katanya mau ketemu sama Mama."
Kirana mengernyit. "Ngapain lagi dia mau ketemu sama Mama?" tanya wanita itu heran.
"David juga gak tahu, Ma. Tapi, Mama mau ya nemuin dia," bujuk David.
"Kenapa Mama harus mau nemuin dia?" Kirana mengangkat sebelah alisnya.
David memasang wajah memelas. "Ayolah, Ma. Kasihan loh dia, bela-belain datang ke sini pas pulang sekolah."
Melihat anaknya sampai memohon-mohon seperti itu demi seorang gadis, membuat hati Kirana luluh. Wanita itu dengan terpaksa menganggukkan kepalanya.
Di ruang tamu, Aliesha langsung berdiri melihat David dan Kirana berjalan ke arahnya.
"Selamat siang, Tante." Aliesha menunjukkan senyum tipis, senyum yang tidak sampai ke matanya.
Kirana mengangguk singkat. "Siang," balasnya ketus.
"Ma!" rengek David dengan suara kecil.
Kirana memutar matanya malas. "Kamu ke atas gih. Mama mau bicara berdua sama teman kamu," ucap wanita itu mengusir David.
David melihat ke arah Aliesha. Ketika gadis itu mengangguk, barulah pria itu pergi ke kamarnya di lantai dua.
Kirana menatap Aliesha tajam. "Cih. Anak saya lebih nurut sama kamu dibanding saya, ibunya," dengus wanita itu.
Aliesha tersenyum simpul. "Tante gak usah cemburu. David tetap anak Tante kok meskipun dia lebih nurut sama saya," balasnya cuek.
"Kamu!" Kirana menunjuk Aliesha menggunakan jari telunjuknya.
Aliesha mendekat, kemudian menggenggam telunjuk wanita itu.
"Tante, ada beberapa hal yang mau saya tanyakan. Saya harap Anda mau bekerjasama dan menjawab pertanyaan saya dengan jujur," ucapnya dengan sikap tenang.
Kirana nampak terkejut dengan sikap Aliesha yang terlihat berbeda dari sebelumnya. Wanita itu melepaskan jarinya dari genggaman Aliesha, kemudian menautkan alisnya dengan tatapan sinis.
"Mau nanya apa kamu ke saya?" tanya wanita itu.
"Sepertinya ... akan lebih baik jika kita berbicara sambil duduk." Aliesha lagi-lagi tersenyum tipis.
Kirana langsung duduk tanpa membalas ucapan gadis itu. Setelah Kirana duduk, Aliesha juga duduk di tempatnya sebelumnya.
Aliesha duduk menyilangkan kakinya dengan tangan kanan menopang dagu.
"Tante, kenapa Anda mengganti nama sekolah kakek Anda menjadi SMA Kivandra? Padahal nama sekolah sebelumnya sudah sangat bagus," tanya Aliesha.
Kirana tertegun mendengar pertanyaan itu. "Kenapa kamu tanya soal itu? Seharusnya itu tidak ada hubungannya dengan kamu," marah wanita itu.
Aliesha terkekeh. "Tante, bisa dijawab aja nggak?"
"Kamu pikir kamu siapa? Ngapain kamu ikut campur dalam bisnis orang lain?" Kirana melipat tangannya dengan tatapan curiga di matanya.
"Jadi, Tante gak mau jawab pertanyaan saya?" tanya Aliesha datar.
Kirana mengangguk. "Ya, saya tidak akan menjawab pertanyaan yang menurut saya tidak penting."
Aliesha menganggukkan kepalanya berulang kali. Mata gadis itu berkilat dingin saat menatap wanita di depannya.
"Okay. Kalau gitu, Tante ada di mana waktu pembunuhan terjadi di rooftop sekolah lebih dari dua puluh tahun yang lalu?"
Kirana tersentak mendengar pertanyaan yang Aliesha ajukan. Tangan wanita itu gemetar tak terkendali, namun ia berusaha menutupinya.
"Da-dari mana kamu tahu tentang kejadian itu?" tanya wanita itu gugup.
Aliesha menyeringai. "Harusnya Anda bisa menebak siapa orang yang memberitahu saya tentang kejadian itu."
Kirana mengepalkan tangannya kuat dengan tatapan nyalang. "Kurang ajar! Kamu apain anak saya sampai dia bisa cerita tentang kejadian itu ke kamu?"
Aliesha mengangkat bahunya acuh tak acuh. "Saya gak ngapa-ngapain dia. Anak Tante aja yang terlalu jujur."
"Btw, bisa dijawab gak Tan, pertanyaan dari saya?" lanjutnya.