Chapter 43: 42. Kolam Renang

Aliesha The ProtagonistWords: 9361

Kirana menarik napas panjang untuk menenangkan dirinya. Ia tidak boleh terpancing emosi saat berbicara dengan gadis di depannya, atau semua perbuatannya akan terekspos dengan cepat.

Wanita itu melipat tangannya saat menjawab pertanyaan Aliesha. "Saya tidak ada di sana saat kejadian itu terjadi. Lagipula, itu adalah kejadian lama, untuk apa kamu mencari tahu tentang kejadian itu sekarang?"

"Oh ya?" Aliesha mengangkat sudut bibirnya ke atas. Ternyata benar, wanita di depannya bukanlah tubuh lamanya, melainkan orang yang berpura-pura menjadi dia.

"Lantas, Tante tahu gak siapa orang yang meninggal dari kejadian pembunuhan itu?" lanjutnya.

Kirana mengangkat bahu dengan wajah tak peduli. "Untuk apa saya memberitahukan hal itu ke anak kecil seperti kamu?" balasnya.

Aliesha menyeringai. "Kalau gitu, Tante tahu gak siapa pembunuhnya?"

Sekali lagi, tangan Kirana terlihat tremor mendengar pertanyaan dari Aliesha. Wanita itu mengalihkan pandangannya ke samping dengan wajah gelisah.

"Kok gak dijawab, Tante?" Aliesha terus menuntut jawaban dari wanita itu, namun Kirana tetap diam.

"David!" teriak wanita itu tiba-tiba. Ia terlihat memeluk dirinya sendiri dengan tatapan kosong. Aliesha tertegun, ia tidak tahu apa yang sedang terjadi pada wanita yang duduk di depannya.

"Tan ... Tante kenapa?" tanya Aliesha panik.

Tidak menggubris Aliesha, Kirana berteriak sekali lagi. "Daviiddddd!!"

David yang mendengar suara teriakan mamanya bergegas turun dari lantai dua menuju ruang tamu. Melihat mamanya dalam keadaan seperti itu, David bergegas menggendong mamanya dan membawanya ke kamar.

Pria itu memerintahkan seorang pelayan untuk menelepon dokter pribadi keluarga Kivandra. Setelah itu, pria itu kembali ke ruang tamu.

"Lis, kalian ngomongin apa sampai Nyokap gue jadi kek gitu?" tanya David datar. Raut khawatir terlihat jelas dari sorot mata pria itu.

Aliesha menunduk. "Sorry, Vid. Gue gak bermaksud bikin Nyokap lo jadi kek gitu. Gue-"

"Lis!" David memegang kedua bahu Aliesha, memaksa gadis itu untuk menatap matanya.

"Apa yang kalian bicarakan, Aliesha?" tanya David lagi.

Aliesha menatap ke dalam mata David yang menatap lurus ke matanya. Gadis itu dengan cepat menguasai emosinya agar tidak mudah dibaca oleh pria itu.

"Gue cuma nanya siapa korban dari pembunuhan itu, Vid. Dan Nyokap lo gak ngejawab pertanyaan gue, tapi tiba-tiba aja dia jadi kek gitu," jelas Aliesha dengan wajah tanpa ekspresi.

"Lo yakin itu aja?" David mengernyit saat pria itu bertanya.

Aliesha mengangguk. "Iya, emang itu aja yang gue bicarain sama Nyokap lo."

"Btw, Vid. Nyokap lo punya trauma terhadap sesuatu ya?"

David menggeleng. "Gue gak tahu. Baru kali ini Nyokap gue bereaksi kek gini, Lis."

Disaat keduanya sedang berbicara, dokter pribadi keluarga Kivandra memasuki pintu utama. David bergegas mendekati sang dokter.

"Cepat, Dok! Mama saya ada di lantai tiga," suruh David sembari menarik tangan Dokter menuju lift yang ada di rumahnya.

Aliesha mengikuti dari belakang karena ia ingin mengetahui kondisi Kirana. Ia penasaran apakah wanita itu benar-benar sakit atau hanya berpura-pura.

Begitu mereka bertiga sampai di kamar Kirana, wanita itu masih sama seperti sebelumnya. Dokter dengan cepat mendekati wanita itu dan memeriksa kondisinya.

Setelah pemeriksaan, dokter mendekati David dan menjelaskan kondisi mamanya. Aliesha hanya mendengarkan sekilas dengan tatapan lurus yang mengarah pada wanita yang sedang duduk di tempat tidur.

Setelah memberikan suntikan pada Kirana, dokter itu segera pamit pergi. David duduk di samping ranjang sambil menggenggam tangan ibunya. Aliesha melihat adegan itu dengan perasaan bersalah, sepertinya ia sudah terlalu keras pada wanita itu.

"Vid, gue pulang ya. Kalau Nyokap lo udah sadar, tolong bilang ke dia kalau gue minta maaf," ucap Aliesha sembari menatap lantai. Entah kenapa gadis itu tidak berani menatap David seperti biasanya.

David menoleh. Pria itu hanya mengangguk kaku tanpa mengucapkan sepatah katapun. Aliesha lantas pergi dari sana. Sesampainya ia di rumah, Aliesha langsung berlari memasuki kamar.

Gadis itu merebahkan tubuhnya ke kasur sembari matanya menatap ke langit-langit kamarnya. Helaan napas berat terdengar dari gadis itu. Perasaan bersalah itu masih ada.

Gadis itu memegang jantungnya yang berdetak cepat. Sepertinya Kirana mengetahui siapa pelaku pembunuhan itu. Aliesha mengacak-acak rambutnya frustasi.

Kondisi Kirana membuatnya sulit menemui wanita itu lagi. David pasti akan melarangnya menemui ibunya. Bahkan mungkin, pria itu tidak akan mau berbicara dengannya besok.

***

Aliesha masuk ke dalam kelas dengan tatapan yang mengarah ke meja David. Tas pria itu sudah ada di atas meja, namun tidak ada orangnya disitu. Aliesha mendesah pasrah sebelum meletakkan tasnya di atas mejanya sendiri.

Ketika gadis itu duduk di bangkunya, Liam dan kawan-kawan terlihat memasuki kelasnya. Ketiga orang itu duduk di bangku yang berdekatan dengan meja Aliesha.

"Lis, kemarin lo ke mana aja? Dari kemarin kita tuh gak ketemu di sekolah. Gue kangen banget," rengek Liam manja.

Saat pria itu merentangkan kedua tangannya untuk memeluk gadis itu, Aliesha dengan cepat mendorong wajahnya ke belakang.

"Jijik, Liam. Anj*ng lo ya!" gerutu gadis itu kesal.

Liam mempoutkan bibirnya, membuat Xander dan Dhafin spontan memukul belakang kepalanya.

"Njir. Dikira lo lucu apa bikin muka kek gitu." Xander memasang mimik jijik di wajahnya.

"Bukannya lucu, lo kelihatan kek psikopat anjir," ejek Dhafin diiringi tawa dari pria itu dan Xander.

Liam menatap dua temannya tajam. "Lo berdua berani ngejek gue?"

Xander dan Dhafin serempak menggeleng. Keduanya menggaruk kepala secara bersamaan. Aliesha melihat ketiga orang itu dengan tatapan malas.

"Kalian ngapain sih ke sini? Ganggu banget, tau nggak?" Gadis itu mulai bertopang dagu sembari menatap ke luar jendela.

Liam bersama dua temannya saling bertukar pandang. Ketiga pria itu menatap Aliesha cemas.

"Lo sakit ya, Lis?" tanya Liam khawatir.

"Nggak," jawab Aliesha datar.

"Lo lapar ya?" tebak Dhafin.

Aliesha menjawab lagi, "Nggak!"

Xander akan ikut bertanya, namun terhenti saat Aliesha menoleh ke arahnya dengan tatapan membunuh.

"Gak usah ikutan nanya ya!" ancam gadis itu.

Xander menggeleng dengan senyum kaku di bibirnya. "Gak kok, Lis. Gue gak ikutan kok," ucap pria itu takut.

Aliesha kembali menatap ke luar jendela. Ketiga orang itu terdiam dengan tindakan gadis itu. Begitu bel masuk terdengar, ketiga pria itu bergegas ke kelas mereka.

Aliesha melirik melalui ekor matanya saat David melintas di dekatnya. Saat pelajaran tengah berlangsung, Aliesha berusaha keras supaya bisa fokus.

Di tengah pelajaran, gadis itu mengangkat tangannya untuk meminta izin pergi ke toilet. Setelah mendapat izin guru, gadis itu segera keluar dari kelas.

Ia tidak benar-benar pergi ke toilet. Langkah kakinya membawanya ke ruang rahasianya di lantai tiga gedung lapangan indoor. Aliesha duduk di sofa dengan tatapan malas.

Ia membutuhkan hiburan. Pikirannya terasa penuh dengan berbagai hal yang mengganggunya. Dengan langkah gontai, gadis itu beranjak ke luar. Tujuannya adalah kolam renang.

Ia mengambil baju renang yang disediakan di dalam lemari. Setelah merubah seragamnya dengan baju renang, gadis itu mulai menceburkan dirinya ke dalam kolam.

Orang yang mengenal Aliesha akan terkejut melihat gadis itu bisa berenang. Pasalnya, Aliesha yang asli tidak tahu bagaimana caranya berenang.

Setelah beberapa menit, gadis itu berhenti sejenak untuk istirahat. Ia dengan cepat menoleh ke belakang saat mendengar suara langkah kaki seseorang.

Pada saat itu, tatapannya dengan David bertemu. Aliesha tetap diam di posisinya di dalam air, sedangkan David berjalan mendekati gadis itu .

"Lo bolos kelas," tutur David saat pria itu duduk di kursi.

"Ngapain lo ke sini?" tanya Aliesha tanpa menatap pria itu.

"Bukan urusan lo!" jawabnya.

David melepaskan sepatu dan kaos kakinya. Pria itu berjalan ke lemari untuk mengambil celana renang. Setelah mengganti pakaiannya, pria itu berjalan menuju kolam.

Pria itu berenang mendekati Aliesha yang menjauhi dirinya. Dengan cepat menangkap kaki Aliesha, membuat gadis itu memberontak.

David meraih bahu Aliesha dan memeluk gadis itu erat. Karena berada di dalam air, Aliesha tidak bisa bergerak dengan bebas. Napas gadis itu memburu saat berada di pelukan David.

"Apa yang lo lakuin, Vid? Lepasin!" titah Aliesha melalui gigi terkatup.

David menggeleng. "Gak bisa, Lis. Kenapa lo jauhin gue?"

Aliesha memutar matanya malas. "Bukan gue. Tapi lo yang jauhin gue!" tegasnya.

Aliesha mendorong bahu David, kemudian berenang ke pinggir kolam. Gadis itu dengan cepat naik ke atas. David mengikuti. Pria itu meraih tangan Aliesha saat sudah berada di dekat gadis itu.

"Lis!" David kembali memeluk Aliesha erat.

Pria itu mengistirahatkan kepalanya di bahu gadis itu. Setelah cukup lama keduanya terdiam dalam posisi itu, David mengangkat kepalanya. Pria itu menatap Aliesha tepat di manik matanya.

"Gue minta maaf, Lis. Kemarin gue terlalu panik, gue gak bermaksud nyuekin lo," ucap pria itu.

"Harusnya gue yang minta maaf, oke? Gue yang salah di sini," balas Aliesha datar.

"Gimana kondisi Nyokap lo?" lanjut gadis itu.

David tersenyum kecil. "Nyokap gue baik-baik aja kok. Dan, kemarin itu bukan salah lo. Nyokap gue emang punya trauma, keknya pertanyaan lo memicu timbulnya trauma Nyokap gue."

"Emang Nyokap lo punya trauma apa, Vid?" tanya Aliesha.