David menggelengkan kepalanya. "Nyokap gak mau cerita."
Aliesha manggut-manggut. Wajah gadis itu langsung memerah ketika David menjauhkan sedikit tubuhnya, ia jadi bisa melihat tubuh pria itu dengan jelas. Apalagi wajah tampannya sedang tidak tertutupi kacamata, membuat jantung Aliesha mulai berdebar.
Aliesha segera mengalihkan perhatiannya ke tempat lain, namun David sudah menyadari tatapan gadis itu padanya sebelumnya. Pria itu menyeringai sembari mendekati Aliesha lagi.
"Lo sakit ya? Wajah lo merah banget," kata David berpura-pura.
Aliesha menepis tangan David yang hendak menyentuh dahinya.
"Gue baik-baik aja kok. Gue ... gue mau ganti baju dulu." Gadis itu langsung lari menuju ruang ganti perempuan.
Aliesha menyentuh dadanya yang berdetak sangat cepat. Ia lalu menggeleng-gelengkan kepalanya kuat, mencoba mengusir pikiran-pikiran aneh dari kepalanya. Setelah itu, ia dengan cepat mengganti baju renangnya menjadi seragam.
Saat Aliesha keluar dari ruang ganti, gadis itu melihat David sudah lengkap dengan seragamnya juga. Kacamata yang sempat dilepas sudah terpasang kembali.
Aliesha memalingkan wajah ke samping, menolak melihat wajah David yang rupawan. Karena jika ia melihat wajah pria itu, ingatan tentang wajah David yang tidak mengenakan kacamata kembali muncul.
David meraih tangan Aliesha yang berjalan melewatinya. Pria itu lalu menggenggam tangan gadis itu, mengajaknya kembali ke gedung kelas.
Tujuan mereka bukanlah ke kelas, melainkan ke kantin. Sepertinya David telah memperhitungkan waktunya. Karena saat mereka sampai di kantin, bel istirahat langsung berbunyi.
Kali ini Aliesha tidak perlu mengantre seperti sebelumnya. Setelah ia dan David mengambil makanan, keduanya duduk di meja yang tidak terlalu mencolok.
Murid-murid yang lain mulai berdatangan ke kantin. Tempat yang sebelumnya sunyi kini mulai ramai. Aliesha tidak begitu peduli dengan keadaan sekitar, gadis itu hanya tetap fokus pada makanannya.
David yang duduk di depan Aliesha terus menatap wajah gadis itu seraya tangannya memasukkan sendok ke dalam mulut.
Liam, Xander, dan Dhafin sedang mencari Aliesha ke kelas. Saat mereka tahu ternyata gadis itu tidak ada di sana, ketiganya bergegas ke kantin. Mereka mengedarkan pandangan mereka ke sekeliling kantin.
Begitu melihat Aliesha, ketiganya segera menghampiri meja gadis itu. Liam langsung duduk di samping Aliesha, sedangkan dua temannya duduk di sisi kiri dan kanan David, membiarkan pria itu duduk di tengah.
"Woi, lo bertiga!" seru Liam melambaikan tangannya pada tiga adik kelas yang sedang lewat.
Ketiga orang itu saling berpandangan dengan telunjuk yang menunjuk ke wajah mereka.
"Kita Kak?" tanya salah satu dari mereka.
Liam mengangguk. "Iya, lo bertiga. Sini!" suruhnya.
Ketiga adik kelas itu berjalan mendekat. Liam mulai berkacak pinggang. "Lo bertiga, ambil makanan buat kita. Gak boleh lama," titah pria itu.
Ketiganya mengangguk patuh. "Baik, Kak!" ucap mereka serempak.
Liam mengangguk puas. Aliesha memutar matanya malas saat gadis itu melirik Liam sekilas.
"Lis, Lis," panggil Liam meminta perhatian.
Aliesha tidak menggubris pria itu, ia hanya terus fokus ke makanannya. Liam lalu menggenggam tangan Aliesha yang bebas, gadis itu refleks menarik tangannya.
"Kenapa sih?" kesal Aliesha.
Liam cemberut. "Lo nyuekin gue," katanya.
Dhafin dan Xander hanya bisa menyaksikan kelakuan Liam yang semakin menjadi tiap harinya. David menatap Liam datar, namun pria itu tidak mengeluarkan komentar apapun.
Abel dan dua anteknya yang baru saja tiba di sana langsung menghampiri David yang duduk semeja dengan Aliesha.
Abel menatap Aliesha tajam, tapi dengan cepat tersenyum saat melihat David. "Vid," panggilnya.
David menoleh. "Bel, nampan lo mana?" tanya pria itu.
Abel menjawab, "Belum aku ambil. Aku ngambil makanan dulu ya, Vid."
David mengangguk. Abel memberi isyarat pada dua anteknya untuk mengikutinya mengambil makanan. Setelah kepergian mereka, Liam bersama dua temannya saling bertukar pandang.
"Penglihatan gue sedang gak bermasalah kan?" tanya Liam dengan wajah ragu.
"Kalau apa yang kita lihat sama, berarti penglihatan lo gak salah," sahut Xander tenang.
Dhafin mengusap dagunya dengan pose berpikir. "Abel lagi kerasukan ya?" tebaknya asal.
David menatap ketiga pria itu tajam. Liam segera memberi kode pada teman-temannya untuk berhenti.
Pada saat itu, tiga adik kelas yang Liam suruh sudah kembali bersama tiga nampan di tangan mereka. Setelah meletakkan nampan di atas meja, ketiganya langsung pergi dari sana.
Pada saat yang sama, Abel bersama dua anteknya juga datang. Mereka bertiga melihat bahwa meja Aliesha sudah penuh, dengan terpaksa mereka pergi ke meja di sebelahnya.
Setelah meletakkan nampannya di atas meja, Abel menghampiri David lagi.
"Vid, pindah ke meja aku aja yuk," ajak gadis itu.
Belum sempat David menjawab, Dhafin sudah berbicara lebih dulu.
"Bel, lo lagi kerasukan ya?" tanya pria itu dengan tatapan menyelidik.
Abel menautkan kedua alisnya. "Maksud lo?"
Dhafin angkat bahu. "Lo lihat aja penampilan lo sekarang."
Abel dengan cepat melihat pakaiannya. Gadis itu tersenyum paksa. "Kenapa? Lo gak suka gue pake baju ini karena gak bisa lihat keseksian tubuh gue lagi?" tanyanya mencibir.
Dhafin terkekeh. "Lo pikir tubuh lo sebagus Mbak Kim apa?" ledeknya.
Abel melipat tangannya dengan tatapan malas. "Tubuh gue emang sebagus Kim Kardashian, mau apa lo?" tantangnya.
Liam mendengus. "Gak usah sok kecakepan lo, Bel. Yang mau sama lo tuh cuma si David!"
David yang terbawa-bawa akhirnya mengangkat kepalanya. Tanpa basa-basi lagi, pria itu mengambil nampannya dan membawanya ke meja Abel.
Abel menunjukkan senyum lebar. Setelah memberikan tatapan provokasi pada Aliesha, ia kembali ke mejanya. Aliesha hanya bisa memutar matanya malas.
"Dih, sepupu lo tuh!" Dhafin memukul tangan Liam, membuat pria itu menatap sinis padanya.
"Dah tahu, gak usah diingetin," balasnya.
"Kalian berisik, tahu gak?" ucap Aliesha tiba-tiba.
"Kok lo nyolot?" Liam menatap Aliesha aneh.
Aliesha mendengus. Gadis itu mengambil nampannya dan membawanya ke tempat cuci piring. Ia sudah menyelesaikan makan siangnya, sekarang ia jadi pengen tidur.
Aliesha memutuskan untuk kembali ke kelas. Gadis itu meletakkan kepalanya di atas meja dengan mata tertutup.
***
Arisha dan Farzan terlihat bersama lagi di kantin. Naomi yang sedang duduk bersama Bagas melihat keduanya dengan tatapan sinis.
"Sebenarnya lo kenapa deh, Naomi? Lo gak suka mereka sama-sama karena Aliesha atau karena diri lo sendiri?" tanya Bagas.
Naomi mendelik. "Ya karena Aliesha lah! Menurut lo sendiri gimana?"
Bagas menggeleng. "Menurut lo, tiga orang kemarin bakal ngikutin perintah lo gak?" tanya Bagas mengalihkan pembicaraan.
Naomi terlihat terdiam. "Sepertinya gak akan semudah itu deh," ucapnya setelah berpikir.
"Apa yang bakal lo lakuin kalau Farzan dan Arisha tetap pacaran?" tanya Bagas lagi.
Naomi menggigit bibirnya kuat. "Gue bakal bikin mereka putus!" ucapnya dengan tangan terkepal.
Di meja lain, Arisha menatap Farzan dengan senyum mengembang. Pria itu baru saja menceritakan kejadian lucu yang membuatnya tertawa.
"Trus orang itu keadaannya gimana, Zan?" tanya Arisha.
Farzan menggeleng. "Entah. Kabarnya sih dia masih berdiri di batu itu sampai sekarang," jawabnya.
Arisha kembali tertawa. Karena makanan mereka sudah habis, keduanya memutuskan untuk pergi ke rooftop. Tempat itu kini sudah menjadi tempat favorit mereka berdua.
Keduanya berdiri di pembatas sembari menatap pemandangan kota yang padat. Angin yang menerpa tubuhnya membuat Arisha menutup matanya.
"Ris," panggil Farzan pelan.
Arisha menoleh. "Kenapa, Zan?" tanya gadis itu.
"Kenapa lo bisa suka sama gue?" tanya Farzan balik.
Arisha memalingkan wajahnya ke depan. "Ada banyak hal yang bikin gue suka sama lo, Zan. Gue gak bisa bilang satu per satu saking banyaknya hal yang gue suka dari lo."
Farzan menatap wajah gadis itu dari samping. "Kalau hal yang buat lo suka sama gue udah gak ada, apa lo masih bisa suka sama gue?" tanya pria itu lagi.
Arisha tersenyum. "Gue gak tahu, Zan. Tapi, gue bisa pastikan kalau hanya lo yang ada di hati gue untuk saat ini."
Farzan terdiam. Pria itu mencerna kata-kata Arisha dalam hati. Dalam keheningan yang tercipta di antara mereka, keduanya sibuk dengan pikiran Masing-masing.
Arisha menyatukan kedua tangannya dan merematnya pelan. Ia merasa gugup saat Farzan menanyakan hal tadi padanya. Farzan sendiri sedang mempertanyakan perasaannya pada Arisha.
Pria itu merasa bahwa ia peduli dengan gadis itu. Perasaan yang sama seperti yang ia rasakan pada Aliesha.
Farzan menatap langit yang cerah di atas sana. Cahayanya membuat matanya silau. Pria itu menutup matanya perlahan, kemudian membukanya lagi. Kali ini ia mengalihkan perhatiannya pada gadis yang duduk di sampingnya.
"Ris," panggilnya.
"Hm," gumam Arisha.
"Lo mau jadi pacar gue gak?" tanya Farzan.
Pertanyaannya membuat tubuh Arisha tersentak. Gadis itu menoleh dengan tatapan kaget.
"Apa, Zan?" Arisha tidak bisa mempercayai pendengarannya barusan. Ia takut itu hanya delusinya.
"Lo mau gak jadi pacar gue?" ulang Farzan.