Chapter 45: 44. Keputusan David

Aliesha The ProtagonistWords: 8182

Arisha menutup mulutnya dengan tatapan tak percaya. Sedetik kemudian, gadis itu terlihat tersenyum senang. Namun di detik berikutnya, ia menatap Farzan ragu.

"Lo lagi bercandain gue ya?" tebaknya.

Farzan mengernyit. "Gue serius."

Arisha memalingkan wajah, menatap ke manapun asal tidak menatap wajah pria itu. Ia bingung mengapa Farzan mengutarakan perasaannya padanya. Seharusnya tidak seperti itu.

Arisha mengepalkan tangannya. Gadis itu segera beranjak dari sana. Farzan meraih tangan gadis itu sebelum ia melangkah jauh.

"Lo mau ke mana? Kenapa gak jawab pertanyaan gue?" tanyanya beruntun.

Arisha berbalik. Gadis itu menunjukkan senyum simpul. "Ini masih tiga hari, Zan. Kenapa lo gak nunggu besok? Kenapa harus sekarang?" tanya gadis itu dengan mata berkaca-kaca.

Farzan menggenggam tangan Arisha kuat. "Bedanya hari ini sama besok itu apa, Ris? Gak ada kan?"

"Beda!" tegas gadis itu. "Dengan lo nembak gue sekarang, gue yakin ada sebuah tujuan yang ingin lo capai, Zan."

Tubuh Farzan membeku. Pria itu menatap Arisha sendu. "Gue emang punya satu tujuan, Ris. Gue pengen lo jadi pacar gue," ucapnya setelah hening beberapa detik.

Arisha terkekeh. "Zan," panggilnya.

"Gue emang suka sama lo, tapi gue gak bodoh. Bukan itu tujuan lo nembak gue," lanjut gadis itu.

"Gak, Ris. Emang tujuan apa lagi yang gue punya selain jadiin lo pacar gue?" tanya Farzan.

Arisha melepaskan genggaman Farzan perlahan. Ia menatap Farzan tepat di iris mata pria itu. "Kalau gue kasih tahu Aliesha pindah ke sekolah mana, apa lo masih mau jadiin gue pacar lo?"

Farzan terdiam. Lidah pria itu terasa kelu, ia tidak tahu harus menjawab apa. Jujur, ia masih menyukai Aliesha, namun perasaan untuk Arisha juga ada.

Melihat reaksi Farzan, Arisha hanya bisa tertawa nanar. Tawa yang dipenuhi air mata. Gadis itu meremat bajunya, dengan cepat berbalik dan pergi dari sana.

Farzan menatap punggung Arisha dengan perasaan bersalah. Pria itu mengacak rambutnya frustasi. Amarahnya ia lampiaskan pada dinding di dekatnya.

"Bodoh! Bodoh!" teriaknya mengutuk diri sendiri.

Tiga teman Farzan yang baru saja tiba melihat pria itu dengan tatapan bingung. Mereka bergegas mendekati pria itu yang terlihat berantakan.

"Lo kenapa, Zan?" tanya Farrel.

Farzan terlalu sibuk mengutuk diri sendiri, sampai-sampai pria itu tidak menyadari kehadiran teman-temannya.

"Lo kelihatan berantakan banget, Zan." Keenan yang posisinya paling dekat dengan pria itu memegang bahunya.

Farzan tersentak. Pria itu mengangkat kepalanya, melihat teman-temannya dengan mata memerah.

"Njir! Lo nangis?!" seru Farrel tak percaya.

Kenzie dengan cepat menutup mulut pria itu. "Lo jangan begitu, bego!" tegurnya.

Keenan menepuk bahu Farzan beberapa kali. "Gak apa-apa, Zan. Hidup itu memang berat, apalagi masalah perasaan," hibur pria itu.

Farzan membuang napas berat. "Gue gak ngerti sama perasaan gue sendiri. Gue masih suka sama Aliesha, tapi gue juga suka sama Arisha," curhatnya.

"Lo brengs*k berarti," timpal Kenzie spontan.

Farzan ingin marah, tapi apa yang dikatakan Kenzie benar. Farzan menunduk, ia tidak tahu harus berbuat apa.

Farrel duduk di sebelah Farzan. "Udah, Zan. Lo tenangin diri lo. Tanya ke hati lo, siapa yang paling lo suka dari keduanya. Kalau udah dapat jawaban, baru deh lo mutusin siapa yang bakal lo kejar," ucapnya memberi nasehat.

Farzan hanya mengangguk singkat sebagai tanggapan. Entah apakah pria itu mendengarkan perkataan Farrel atau tidak.

***

Aliesha membuka matanya saat terdengar bunyi bising di sekitarnya. Ternyata sudah bel masuk, dan guru yang mengajar juga sudah datang.

Gadis itu segera memperbaiki gaya duduknya. Ia memperhatikan guru yang mengajar dengan seksama. Sesekali ia akan mencoret-coret isi bukunya dengan tulisan acak.

Begitu bel pergantian jam, Aliesha langsung pergi ke perpustakaan. Ia lebih menyukai tempat yang hening, itulah sebabnya ia selalu mencari rooftop ke manapun ia pergi.

Sayangnya, rooftop di sekolah itu sudah ditutup aksesnya sehingga ia tidak bisa pergi ke sana. Jadinya ia hanya bisa pergi ke perpustakaan, tempat tersunyi kedua setelah rooftop.

Setelah menulis absen, gadis itu pergi ke deretan buku novel yang disediakan sekolah untuk pelajaran bahasa Indonesia.

Gadis itu memilih novel ber-genre fiksi remaja yang paling ia minati. Setelah mengambil buku yang akan ia baca, gadis itu duduk di samping jendela. Aliesha membaca dengan sangat serius.

David yang sejak tadi mengikuti gadis itu mengamati Aliesha dari jauh. Baru beberapa hari ia mengenal gadis itu, ada sebuah rasa yang tidak bisa ia jelaskan memasuki hatinya.

David penasaran dengan perasaan yang ia rasakan pada Aliesha. Namun, ia takut mencaritahu lebih dalam soal itu.

Setelah beberapa menit, pria itu memutuskan untuk mendekati Aliesha. Ia duduk bersebelahan dengan gadis itu. Memperhatikan Aliesha dari samping disaat gadis itu sedang membaca, membuat jantung David berdebar.

Gadis itu terlihat sangat cantik. Aliesha bisa merasakan ada seseorang yang sejak tadi memperhatikannya. Melirik melalui ekor matanya, ia melihat David sedang melihatnya dengan tatapan kagum.

Aliesha menyeringai. Wajahnya memang secantik itu. Ia sendiri merasa jatuh cinta dengan wajahnya saat pertama kali jiwanya berpindah ke tubuh itu.

"Ada yang salah sama wajah gue?" bisik Aliesha dengan tangan bertopang dagu.

David mengerjapkan matanya beberapa kali. Pria itu tersenyum dengan telinga yang memerah. "Lo cantik," pujinya dengan suara pelan.

Aliesha balas tersenyum. Setelah itu, ia melanjutkan bacaannya dan mengabaikan David. Merasa dikacangi, David mendekatkan kursinya dengan milik Aliesha, mempersempit jarak diantara mereka.

Aliesha melirik pria itu melalui ekor matanya. Ia memutar matanya malas, membiarkan pria itu melakukan apapun yang ia mau.

David tersenyum senang menyadari Aliesha tidak menolak kedekatan mereka berdua. Pria itu dengan berani menyandarkan kepalanya di bahu Aliesha. Gadis itu hanya bisa pasrah.

Tanpa mereka berdua sadari, salah seorang antek Abel ada juga di sana. Gadis itu mengeluarkan hpnya dan memotret kebersamaan keduanya. Setelah berhasil mengambil beberapa gambar, gadis itu mengirimkannya ke Abel.

Abel yang tengah belajar di kelasnya memandang pesan yang masuk dengan mata melotot. Tanpa minta izin ke guru, gadis itu langsung keluar dari kelas.

Di sepanjang jalannya menuju perpustakaan, gadis itu terus menggertakkan giginya dengan tangan terkepal erat.

Tanpa mengisi absen, gadis itu bergegas mendekati Aliesha dan David. Tanpa aba-aba, ia menarik David agar pria itu menjauh dari Aliesha, kemudian menarik tangan Aliesha untuk membuatnya berdiri.

Tangannya sudah bersiap menampar Aliesha, namun David dengan cepat menangkap tangannya.

"Lo kenapa sih, Bel? Ngapain lo di sini?" tanya David dengan suara pelan.

Mereka sudah menjadi pusat perhatian karena kedatangan Abel yang terlalu tiba-tiba. Guru pengawas melihat mereka dengan tatapan tajam, tapi tidak berani menegur Abel karena gadis itu adalah anak kepala sekolah.

"Lo yang apa-apaan, David?! Lo lagi selingkuh dari gue!" teriak Abel dengan suara keras.

Perpustakaan yang sunyi membuat suara Abel bergema. Semua orang yang ada di sana melihat David dengan tatapan menghakimi, namun tidak ada seorangpun yang berani berbicara.

David mengernyit. "Maksud lo apa, Bel?" tanyanya tak mengerti.

Abel dengan cepat menunjukkan hpnya yang masih terpampang foto David dan Aliesha di sana.

"Harusnya gue yang tanya, apa maksud lo, Vid?" marah Abel.

David menatap foto di hp Abel dengan mata membelalak.

"Gue bisa jelasin," ujar David tenang.

Abel menggeleng. "Jelasin apa lagi? Ini udah jelas banget, Vid!"

"Lo tenang dulu, oke? Kita bicara di tempat lain," kata David lembut.

Pria itu meraih tangan Abel, berniat membawanya di tempat yang lebih sepi. Namun, Abel dengan kasar menepis tangannya.

"Gak! Gue mau lo jelasin di sini!" tegasnya.

David menghela napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan.

"Lo yakin mau kita bicara di sini?" tanya pria itu memastikan.

Abel mengangguk singkat. David memperbaiki letak kacamatanya sebelum berkata, "Gue mau pertunangan kita batal," katanya mantap.

Perkataannya sukses membuat semua orang yang ada di sana kaget, terutama Abel. Gadis itu menatap David dengan tatapan tak percaya.