Chapter 46: 45. Bertemu Kepala Sekolah

Aliesha The ProtagonistWords: 7696

Lo serius sama ucapan lo barusan?" lirih Abel.

David mengangguk. Padahal ia ingin mengakhiri hubungan mereka dengan cara yang lebih baik, tapi Abel tidak membiarkannya melakukan hal itu.

"Kenapa? Apa alasan lo mau batalin pertunangan kita?" tanya Abel dengan suara bergetar.

David menghela napas panjang. "Gue udah gak tahan sama semua kelakuan lo, Bel."

"Kelakuan yang mana, Vid? Gue udah gak bully orang lagi. Gue juga udah ganti gaya berpakaian gue sesuai keinginan lo. Kenapa lo masih mau batalin pertunangan kita?!" tanya Abel sendu.

David menjawab, "Sikap lo sekarang yang bikin gue gak nyaman!"

Abel terkekeh. "Bohong! Lo mau batalin pertunangan kita karena cewek ini kan?!" katanya miris. Telunjuknya yang gemetar ia arahkan ke Aliesha yang masih berdiri dengan tenang.

David dengan cuek mengangkat bahunya ke atas. "Terserah, lo mau percaya atau nggak," balasnya.

Napas Abel memburu dengan mata merah menahan tangis. Gadis itu menggigit bibirnya kuat.

Tidak ingin orang lain melihat sisi lemahnya, Abel bergegas pergi dari sana. Gadis itu berlari dengan air mata yang mulai bercucuran. Tujuannya sekarang adalah ruang kepala sekolah, ruangan milik ayahnya.

Setelah kepergian Abel, tatapan yang orang-orang berikan pada Aliesha dan David adalah permusuhan. Guru pengawas segera menghampiri David.

"David, kamu sudah menyebabkan keributan di perpustakaan yang seharusnya hening. Pulang sekolah nanti, datang ke sini untuk menerima hukuman," ucap guru pengawas itu.

David mengangguk pasrah. "Baik, Bu," jawabnya.

Perpustakaan kembali hening. Aliesha juga sudah duduk di tempatnya seperti semula. David melihat Aliesha lama, berharap gadis itu akan membalas tatapannya. Sayangnya, Aliesha tidak menggubrisnya.

David mengambil bukunya yang jatuh di lantai, kemudian duduk di sebelah Aliesha lagi. Kali ini ia membuat jarak dengan gadis itu.

Aliesha menarik napas panjang, ia tidak bisa fokus membaca karena pertengkaran yang terjadi diantara Abel dan David tadi. Gadis itu mengeluarkan hpnya dan mengirimkan pesan pada David.

Aliesha

Lo beneran mau batalin pertunangan kalian?

David mengeluarkan hp dari saku celananya saat benda pipih itu bergetar. Sembari membaca pesan, pria itu melirik ke arah Aliesha yang terlihat masih sibuk membaca.

David

Iya

Aliesha

Kenapa?

David

Karena sikap Abel

Aliesha memutar matanya saat gadis itu memandang David malas.

Aliesha

Gue tahu bukan itu alasannya

David menatap Aliesha lekat, pria itu lalu tersenyum pasrah.

David

Bisa kita bicara di luar? Gue mau ngomong sesuatu

Aliesha

Gak bisa. Gue tahu apa yang mau lo omongin ke gue

David

Serius?

David mengangkat kepalanya untuk melihat Aliesha yang menganggukkan kepalanya. Saat pria itu akan kembali mengetik, seseorang datang dan berbisik di telinganya.

"Lo dipanggil ke ruang kepala sekolah," katanya.

David mengangguk. Pria itu tahu bahwa ia akan segera dipanggil oleh kepala sekolah cepat atau lambat. Setelah memberikan senyum tipis pada Aliesha, pria itu langsung pergi dari sana.

Setibanya ia di ruang kepala sekolah, ia bisa melihat pria paruh baya itu tengah menghibur Abel yang sedang menangis sesenggukan.

"Selamat siang, Pak." David mengetuk pintu sebelum membukanya.

"Silahkan masuk!" perintah Pak Galih.

David masuk ke dalam dengan wajah tanpa ekspresi. Pria itu tetap berdiri sampai kepala sekolah memintanya untuk duduk.

"Abel sudah cerita semuanya. Kamu yakin mau batalin pertunangan kalian?" tanya Pak Galih dengan wajah serius.

David mengangguk. "Saya yakin, Pak."

"Apa alasan kamu membatalkan pertunangan itu?" tanya Pak Galih lagi.

David terdiam sejenak. Setelah lewat beberapa menit pria itu menjawab, "Sejujurnya, saya tidak pernah menyukai Abel, Pak."

Pak Galih terlihat memperbaiki letak kacamatanya, setelah itu menatap David tajam. "Lantas, mengapa kamu menerima perjodohan di antara kalian waktu itu?"

"Orang tua saya yang meminta saya untuk menerimanya," jawab David datar.

Pak Galih berdehem. "Kamu yakin dengan keputusan kamu ini?"

David mengangguk. "Yakin, Pak."

"Baiklah." Pak Galih manggut-manggut dengan ekspresi muram.

"Karena ini keputusan kamu, kita akan mengadakan pertemuan nanti malam. Saya akan undang orang tua kamu untuk membicarakan masalah ini," lanjutnya.

"Yah," panggil Abel. Gadis itu mencengkeram kuat kemeja yang dipakai ayahnya.

"Gak apa-apa, Bel. Anak Ayah gak boleh sedih," hibur pria paruh baya itu sembari tangannya mengusap kepala Abel lembut.

Abel kembali menangis. Gadis itu menyembunyikan wajahnya ke dada ayahnya. Melihat putrinya menangis seperti itu, Pak Galih ikut merasakan kesedihan yang dialami putrinya.

"Kamu bisa pergi," ucap pria paruh baya itu mengusir David.

David mengangguk sekali untuk memberi hormat sebelum keluar dari ruangan. Pria itu menarik napas panjang setelah menutup pintu. Pria itu terkejut mendapati Aliesha tengah menunggunya di kursi tunggu.

Karena pintu kaca yang transparan, kepala sekolah beserta Abel bisa melihat David yang berjalan menghampiri Aliesha.

"Apa perempuan itu yang kamu maksud?" tanya Pak Galih pada Abel.

"Um." Abel mengangguk dan menjawab dengan gumaman.

Di luar, David sudah berdiri berhadapan dengan Aliesha. Gadis itu terlihat bersandar pada tembok dengan tangan terlipat.

"Lo nungguin gue?" tanya David dengan senyum tertahan.

Aliesha mengangguk. Gadis itu dengan tenang berdiri tegak sebelum berjalan lebih dulu. David mengikuti di belakangnya.

"Kenapa lo nungguin gue?" tanya David lagi. Pria itu menyamakan langkah kakinya dengan langkah Aliesha.

"Gak ada alasan," jawab Aliesha cuek.

"Masa?" goda David.

Aliesha memutar matanya malas. Pria itu terlihat tidak punya beban sama sekali, padahal ia baru saja melakukan kesalahan yang sangat fatal.

Aliesha tiba-tiba berkata, "Lo jangan berharap sama gue, Vid."

David menoleh dengan tatapan bingung. "Kenapa?"

Aliesha tidak menjawab, gadis itu terus melangkah dengan wajah tenang. Entah bagaimana ucapan gadis itu memberikan firasat buruk pada David, membuat tubuh pria itu merinding tanpa sebab.

Sesampainya mereka di kelas, guru yang mengajar sudah tidak ada. Aliesha duduk di bangkunya dengan tatapan yang mengarah ke luar jendela. David juga duduk di bangkunya.

Setelah memperhatikan Aliesha selama ini, ia menyadari bahwa gadis itu ternyata suka dengan pemandangan langit dan suasana yang tenang. Pria itu menatap Aliesha dengan tangan bertopang dagu.

"Lis," panggilnya.

Aliesha tidak menghiraukan panggilan pria itu. Ia tetap menatap langit dengan perasaan campur aduk. Ia hanya boleh membuat David jatuh cinta padanya, tapi ia tidak boleh jatuh cinta pada pria itu.

Pesonanya benar-benar berbahaya. Ia tidak melakukan banyak hal, namun pria itu sudah jatuh cinta padanya.

"Aliesha!" seru David.

Aliesha mendengus. "Kenapa?" tanyanya dengan mata melotot.

David cengengesan. "Gak apa-apa. Manggil aja," jawabnya dengan wajah tanpa dosa.

Aliesha mendengus. "Gak usah manggil kalau gak penting."

David memasang wajah memelas, membuat Aliesha luluh. Jujur saja, gadis itu memang lemah terhadap wajah good looking. Entah itu perempuan atau laki-laki, selama mereka good looking, ia tidak bisa menyakiti mereka.

"Gak usah kek gitu. Muka lo jelek," ucap Aliesha ketus.

David tersenyum lebar. "Kalau kayak gini, gimana? Gue ganteng ya?" tanyanya.

Aliesha merapatkan bibir, berusaha keras menahan senyum yang hampir merekah.

"Sama aja," balasnya cuek. Gadis itu dengan cepat memalingkan wajahnya dengan senyum gemas. Rasanya ia ingin mencubit wajah pria itu.

David menyentuh dadanya dengan pandangan terluka. "Padahal Nyokap gue selalu bilang kalau gue ganteng," katanya sedih.

Aliesha tidak berani melihat David lagi. Gadis itu menarik napas panjang untuk menenangkan dirinya. Ia harus mengingatkan dirinya untuk tidak jatuh pada pesona pria itu.