Chapter 47: 46. Pertemuan Dua Keluarga

Aliesha The ProtagonistWords: 9552

Sepulang sekolah, David langsung pergi ke perpustakaan untuk menerima hukuman dari pengawas perpustakaan.

Pria itu disuruh merapikan buku-buku yang diletakkan tidak sesuai pada tempatnya. Di tengah aktivitasnya, David mendapati Abel sedang berjalan ke arahnya. Gadis itu datang sendirian, entah pergi ke mana dua anteknya yang selalu mengikutinya.

“David, mau aku bantuin gak?” tawar gadis itu.

Abel adalah orang yang berkuasa di sekolah itu. Hal itu membuatnya mudah mengetahui apa saja aktivitas David selama pria itu berada di sekolah. Ia bahkan tahu kalau pria itu sedang dihukum karena kejadian tadi.

“Gak perlu,” tolak David.

Abel memberengut kesal. Gadis itu melipat tangannya dengan wajah cemberut. “David, kok gitu sih?” katanya manja.

Gadis itu bersikap seolah masalah diantara mereka bukanlah apa-apa. Ia tidak mau memutuskan pertunangannya dengan David, itulah mengapa ia mendatangi pria itu di perpustakaan.

Rencananya, ia akan membujuk David agar pria itu mau menarik ucapannya kembali terkait pembatalan pertunangan. Walau David bersikap dingin dan cuek, Abel tidak akan menyerah.

Gadis itu mengambil inisiatif untuk membantu David bahkan setelah pria itu menolak tawarannya mentah-mentah. David tidak menghiraukan kehadiran Abel, ia bersikap seolah gadis itu tidak ada di sana.

“Aw!” ringis Abel saat gadis itu tersandung.

Ia terjerembab jatuh ke depan, membuat semua buku yang ia pegang jatuh berserakan di lantai. David meletakkan buku di tangannya ke meja terdekat, kemudian menghampiri

Abel.

“Kan udah gue bilang, gak usah!” keluh pria itu seraya membantu Abel berdiri. David lalu memungut buku-buku itu dan menaruhnya di atas meja.

“Mending lo pergi dari sini. Pekerjaan gue jadi bertambah gara-gara lo,” usirnya.

Abel menggigit kecil jari jempolnya. “Gue gak sengaja, Vid. Ya ... namanya juga musibah, kan gak ada yang tahu,” ucapnya dengan wajah menyesal.

David membuang napas secara kasar. Pria itu lanjut mengatur buku, kali ini benar-benar mengabaikan Abel sepenuhnya. Abel sendiri tidak berani melakukan apa-apa lagi. Gadis itu hanya duduk tenang di kursi sembari matanya melihat pergerakan David.

"Vid," panggil Abel.

David tidak menyahut. Pria itu mengabaikan Abel dan terus melakukan aktivitasnya.

"Soal pembatalan pertunangan tadi, kamu cuma bercanda kan?" Abel lanjut bertanya meskipun gadis itu tahu bahwa David mengabaikannya.

David tidak menjawab. Mengetahui David tidak mau berbicara dengannya, Abel berhenti bersuara. Gadis itu dengan malas memainkan jarinya dengan kepala yang ia letakkan di atas meja.

Satu setengah jam kemudian, David menyelesaikan hukumannya. Saat pria itu mendekati meja dimana tasnya berada, ia melihat Abel tengah tertidur dengan sangat pulas. Wajah gadis itu terlihat sangat polos saat tidur.

Merasa tidak tega membangunkan gadis itu, David mengambil salah satu buku untuk ia baca sembari menunggu Abel bangun. Abel tidur cukup lama. Gadis itu bangun saat David sudah membaca seratus lebih halaman buku.

“Eh, lo udah selesai?” tanya Abel dengan suara serak.

David melirik Abel sekilas. Tanpa mengucapkan sepatah katapun, pria itu mengembalikan buku yang ia baca ke tempatnya, setelah itu memakai tasnya dan pergi dari sana. Ia harus melapor ke pengawas bahwa tugasnya sudah selesai.

Ketika David sampai di rumah, pria itu terkejut mendapati orang tuanya tengah duduk di ruang tamu, seolah sedang menunggu kehadirannya.

“David!” panggil ayahnya dengan suara baritonnya.

David dengan cepat mendekat. Baru saja ia akan bertanya ada apa, tamparan keras sudah menyambutnya duluan.

“Kamu tahu apa kesalahan kamu hari ini?” tanya pria paruh baya itu tegas.

David menyentuh pipinya yang terasa perih. “Tahu, Pa.”

Ayah David yang bernama Andre Kivandra menganggukkan kepalanya beberapa kali. Dalam waktu singkat, tamparan kedua mengenai pipi David.

“Kalau kamu sudah tahu, kenapa masih kamu lakukan kesalahan itu?!” geram Andre.

Kirana menutup mulutnya saat melihat David ditampar. Wanita itu tidak bisa berbuat apa-apa menghadapi kemarahan suaminya yang temperamental. David menyentuh sudut bibirnya yang sobek.

“Pa, aku punya hak buat batalin pertunangan itu. Aku gak suka sama Abel, Pa.” David berusaha menjelaskan, namun Andre terlihat tidak peduli.

Pria paruh baya itu menatap David tajam. "Di pertemuan nanti, kamu harus minta maaf sama Abel. Bilang kalau ucapan kamu itu hanya bercanda, paham kamu?”

“Aku gak mau, Pa!” tegas David.

Andre menatap David nyalang. "Mulai membangkang kamu?" tanya pria paruh baya itu semakin marah.

David dengan keras kepala membalas tatapan ayahnya. "Papa gak bisa paksa aku untuk lanjutin pertunangan ini!"

"David!" bentak Andre.

Kirana maju. Wanita itu menahan tangan Andre yang berniat memukul putranya.

"Cukup! Aku gak ijinin kamu mukul anak aku!" seru Kirana lantang.

Andre refleks menampar Kirana. "Kamu terlalu manjain dia, makanya dia membangkang kayak gini!" ucapnya menyalahkan wanita itu.

David segera memeluk ibunya yang baru saja ditampar ayahnya.

"Kenapa Papa nampar Mama? Tampar David aja, Pa! Jangan Mama!" pekik David.

"Mama kamu adalah istri Papa. Papa berhak ngelakuin apa aja sama Mama kamu. Semakin kamu membangkang dan gak mau turuti kemauan Papa, Mama kamu akan Papa buat menderita!" tutur Andre untuk terakhir kalinya.

Pria paruh baya itu langsung pergi ke kamarnya di lantai tiga. David dibuat bungkam oleh kata-kata ayahnya barusan. Pria itu menatap Kirana sendu.

"Maafin aku, Ma." David mengeratkan pelukannya.

Kirana mengelus rambut David pelan. "Gak, Sayang. Kamu gak salah," ucap wanita itu lembut.

Kirana melepas pelukan keduanya. "Boleh Mama tahu, alasan kamu batalin pertunangan?" tanyanya.

David menatap ke lantai. "Aku gak suka sama Abel, Ma."

"Kalau kamu memang gak suka, kenapa kamu nerima perjodohan itu sebelumnya, Sayang?" tanya wanita itu lagi.

David semakin menunduk. "Karena Mama sama Papa yang minta David buat nerima perjodohan itu, Ma. Sekarang David udah gak bisa karena ada seseorang yang David suka," jelas David.

Kirana mendesah. "Kamu suka sama Aliesha?" tebaknya.

David mengangkat kepalanya dengan mata membulat. "Kok Mama tahu?"

"Tentu saja Mama tahu. Kamu kan anak Mama, gak mungkin Mama gak tahu apa-apa tentang kamu," balas Kirana sembari tersenyum kecil.

"Kamu berhak bahagia, David. Kita akan tetap batalin pertunangan ini meski Papa kamu gak setuju," lanjutnya.

"Tapi ... Papa-"

"Gak usah mikirin apa kata Papa kamu. Mama gak apa-apa kok," hibur Kirana. David menatap sendu mamanya.

***

Jam telah menunjukkan pukul tujuh malam. Saat Keluarga David tiba di restoran, ternyata Keluarga Abel sudah datang lebih dulu. Setelah saling menyapa dan bersalaman, dua keluarga itu duduk dengan tenang.

Para pelayan mulai menyajikan makanan yang mereka pesan di atas meja. Setelah itu, semua pelayan keluar dari ruangan. Mereka sengaja memesan ruang VIP untuk membicarakan masalah pertunangan David dan Abel.

"Tuan Kivandra, saya mengundang Anda sekeluarga datang ke sini untuk membicarakan tentang pembatalan pertunangan Abel dan David," tutur Pak Galih memulai pembicaraan.

"Pak Maheswari, tolong ... jangan dimasukkan ke dalam hati kata-kata David tadi siang. Anak saya memang suka bercanda," balas Andre disertai senyum tipis.

Pak Galih mengangkat alisnya saat pria paruh baya itu melirik David melalui ekor matanya.

"Tapi ... David bilang ke saya kalau dia yakin dengan keputusannya untuk membatalkan pertunangan itu," ujar Pak Galih.

Andre tertawa kecil. "Pak Maheswari. Anda harus tahu bahwa perjodohan yang terjalin antara Abel dan David telah diputuskan oleh kakek mereka yang sudah meninggal. Tentu saja, kita sebagai anak harus mewujudkan keinginan orang tua. Kita tidak bisa membiarkan anak-anak menentukan pilihan mereka sendiri, apalagi di usia mereka yang masih sangat muda," jelasnya panjang lebar.

Pak Galih terlihat mengusap dagunya sembari berpikir. "Tapi ... saya tidak bisa membiarkan putri saya menjalin hubungan dengan laki-laki yang tidak menyukainya, Tuan Kivandra."

Andre tetap tersenyum tipis meski tangannya yang berada di bawah meja terkepal erat.

"David, katakan! Apakah kamu benar-benar ingin membatalkan pertunangan kamu dengan Abel? Katakan juga, apakah kamu menyukainya atau tidak," perintah Andre.

David yang sejak tadi diam mulai angkat suara. "Saya mohon maaf. Tidak seharusnya saya mengatakan hal konyol seperti tadi siang. Seperti yang sudah ayah saya katakan, saya hanya bercanda. Saya tidak ingin membatalkan pertunangan ini," katanya datar.

Andre terlihat tersenyum puas, begitu juga dengan Abel beserta keluarganya. Kirana yang duduk di sebelah David memegang tangan pria itu yang gemetar.

"Aku gak apa-apa, Ma." David berkata lirih. Pria itu menunjukkan senyum menenangkan pada Kirana.

Karena permasalahan diantara mereka telah terselesaikan, makan malam akhirnya dimulai. Abel sangat senang dengan keputusan David yang tidak jadi membatalkan pertunangan.

Gadis itu menyodorkan sendoknya ke depan mulut pria itu. "Cobain deh. Kamu pasti suka," katanya.

David melirik ayahnya sekilas. Melihat tatapan mengancam di mata ayahnya, pria itu terpaksa membuka mulutnya.

"Gimana? Suka gak?" tanya Abel setelah David menelan makanannya.

"Hm, enak," jawabnya tanpa ekspresi.

Dibandingkan kebahagiaannya, kebahagiaan ibunyalah yang paling penting. David tidak bisa membiarkan ibunya menderita demi kebahagiaannya sendiri, itulah sebabnya ia tidak jadi membatalkan pertunangannya dengan Abel.

Apalagi, ia tahu jelas bagaimana perangai ayahnya. Beliau pasti tidak akan segan menyakiti ibunya demi mencapai apapun yang dia mau.