Chapter 48: 47. Curhatan Arisha

Aliesha The ProtagonistWords: 8988

Selesai makan malam, Aliesha kembali ke kamarnya. Gadis itu sedang memikirkan apakah ia harus menghubungi Raven atau tidak. Ia telah berhasil membuat David jatuh cinta padanya, jadi ia harus meminta pria itu menghapus rekaman cctv beserta fotonya.

Baru saja ia akan menghubungi pria itu, terdengar suara ketukan di pintu kamarnya. Aliesha dengan malas beranjak dari kasur menuju pintu. Ketika ia membuka pintu, wajah Arisha yang muncul di depan pintu kamarnya.

Aliesha menautkan kedua alisnya dengan pandangan bingung.

"Gue boleh masuk?" tanya Arisha.

Aliesha mengangguk singkat. Gadis itu memiringkan tubuhnya dan membiarkan Arisha masuk ke kamarnya, setelah itu ia menutup pintu.

"Ngapain lo datangin gue?" tanya Aliesha saat gadis itu kembali merebahkan tubuhnya di kasur.

Arisha ikut rebahan, hal itu tidak membuat Aliesha marah. Gadis itu malah membiarkan Arisha melakukan apapun yang ia mau.

"Gue udah kalah," ucap Arisha sambil menyembunyikan wajahnya pada bantal.

Aliesha melirik gadis itu dengan alis terangkat. "Maksudnya?" tanyanya tak mengerti.

"Gue udah kalah," ulang Arisha dengan suara bergetar.

Aliesha bangun dan mendekati gadis itu. Saat melihat bahu Arisha juga ikut bergetar, ia tahu bahwa gadis itu sedang menangis.

"Kalah apa sih, Ris?" tanya Aliesha lagi.

Arisha terus mengulangi kalimat itu sampai Aliesha lelah bertanya. Gadis itu hanya diam menyaksikan Arisha menangis sesenggukan.

Setelah cukup lama, tangisan Arisha akhirnya terhenti. Gadis itu menurunkan bantal dari wajahnya dan menghapus sisa air mata di wajahnya yang sembab.

Aliesha menatap gadis itu dengan tangan menopang dagu.

"Udah tenang sekarang?" tanya Aliesha.

Saat Arisha mengangguk, gadis itu kembali bertanya, "Udah bisa cerita?"

Arisha mengangguk lagi. Setelah menarik napas panjang, gadis itu memulai ceritanya.

"Gue sama Farzan taruhan beberapa hari yang lalu. Kalau gue gak bisa bikin dia jatuh cinta sama gue dalam waktu empat hari, gue bakal kasih tahu dia lo pindah ke sekolah mana," ucap Arisha sambil menatap ke langit-langit kamar.

Aliesha mengernyit. "Terus?"

"Sejak Farzan nembak gue tadi pagi, gue tahu kalau gue udah kalah," jawab Arisha dengan tatapan nanar.

"Kok gitu?" tanya Aliesha yang semakin tidak mengerti.

"Gue pikir lo sama Farzan emang udah jadian," lanjutnya.

Arisha menutup wajahnya dengan bantal lagi. "Dia nembak gue dengan maksud tertentu," jawabnya dengan suara teredam.

Aliesha menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Ia mengambil bantal yang menutupi wajah Arisha, kemudian menarik gadis itu sampai posisi berbaringnya berubah menjadi duduk.

"Jelasin yang benar. Gue bingung sama cerita lo," kesal Aliesha.

Arisha menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya. "Gue bingung gimana bilang ke Farzan, sedangkan untuk ketemu dia aja tuh gue gak kuat," katanya.

"Ya udah. Gue aja yang bilang ke dia," putus Aliesha.

Arisha melotot. "Gak usah!" tegasnya.

Aliesha memutar matanya malas. "Ya ... trus gimana?"

"Biar gue aja yang bilang," lirih Arisha.

Aliesha menggeleng-gelengkan kepalanya diiringi helaan napas pasrah.

"Kalau gitu, sekarang lo pergi. Gue mau tidur," katanya mengusir Arisha.

Arisha cemberut. "Gak mau. Gue mau tidur di sini."

Aliesha memijat pelipisnya dengan wajah pasrah. "Terserah lo deh. Gue mau tidur," ucapnya yang langsung menyelimuti tubuhnya.

Arisha melakukan hal yang sama seperti Aliesha. Keesokan harinya, Aliesha bangun lebih dulu. Gadis itu melihat wajah Arisha yang masih tertidur.

Ia bingung mengapa gadis itu mendatanginya tadi malam. Meski begitu, ia tidak menolak. Bisa dibilang, ia sudah menganggap gadis itu seperti saudaranya sendiri.

Di kehidupan sebelumnya, ia tidak memiliki siapa-siapa. Entah itu saudara ataupun teman. Di kehidupan ini, ia merasa sangat bahagia karena banyak orang yang mencintainya.

Aliesha mengambil hpnya yang terletak di atas nakas. Gadis itu lalu pergi ke luar untuk menelepon Raven. Di dering ketiga, pria itu menerima panggilannya.

"Halo," suara Raven yang serak terdengar, sepertinya pria itu baru saja terbangun dari tidurnya.

"Saya sudah berhasil membuat David jatuh cinta sama saya. Sekarang Anda harus menghapus rekaman cctv beserta foto saya yang ada di tangan Anda," ucap Aliesha to the point.

"Jangan bercanda. Pertunangan David dengan putri dari keluarga Maheswari masih belum dibatalkan."

Aliesha melotot. "Tapi kan, David udah jatuh cinta sama saya. Intinya adalah itu kan?"

Raven terkekeh di seberang sana. "Selain buat dia jatuh cinta, kamu juga harus bikin pertunangan itu batal."

Aliesha mengepalkan tangannya. "Anda tidak bilang seperti itu sebelumnya," kesalnya.

"Benarkah? Maaf kalau begitu. Saya akan mengulangi instruksi dari saya. Tolong buat pertunangan itu batal ya, Aliesha!"

Setelah mengucapkan itu, Raven langsung memutuskan panggilan secara sepihak. Aliesha refleks mengutuk perbuatan pria itu dengan segala macam nama binatang.

Saat gadis itu kembali ke kamar, ternyata Arisha sudah tidak ada. Begitu matanya melirik jam yang tergantung di dinding kamarnya, gadis itu bergegas masuk ke kamar mandi.

Tiga puluh menit kemudian, Aliesha keluar dari kamar mandi. Lima belas menit selanjutnya, gadis itu turun ke bawah untuk sarapan bersama orangtuanya dan juga Arisha.

"Morning, Ma, Pa," sapa Aliesha dengan senyum mengembang.

"Morning, Princess," balas orangtuanya secara bersamaan.

Aliesha melirik Arisha yang sangat diam pagi itu. "Morning, Ris."

Arisha hanya bergumam sambil memasukkan roti ke mulutnya. Aliesha mengangkat bahu cuek sebelum duduk di samping gadis itu. Ia mengambil roti dan mengoleskannya dengan selai.

Selesai sarapan, Aliesha memakai tasnya dan berpamitan pada orangtuanya sebelum pergi. Seperti biasa, gadis itu mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang.

Ketika mobilnya keluar dari pekarangan rumahnya, mobilnya malah berpapasan dengan motor Farzan yang akan memasuki pekarangan rumahnya.

Aliesha tersenyum tipis, sepertinya akan ada adegan menarik. Sayangnya, ia tidak bisa menontonnya karena gerbang sekolahnya akan segera tutup.

Farzan menghentikan laju motornya untuk melihat mobil yang baru saja melintas melewatinya. Pria itu memandang kepergian mobil itu sampai mobil itu tidak lagi terlihat.

Arisha melihat semuanya dari teras. Gadis itu tersenyum kecut. Benar, Farzan masih menyukai Aliesha.

Arisha dengan cepat masuk ke mobilnya saat Farzan turun dari motor. Ia tidak peduli bahkan ketika pria itu terus mengetuk jendela mobilnya. Gadis itu segera melajukan mobilnya dengan sangat cepat.

Farzan kembali menaiki motornya dan mengejar mobil Arisha. Pria itu menghadang mobil gadis itu di tengah jalan.

"Buka, Ris. Gue mau ngomong," ucap Farzan saat pria itu mengetuk jendela mobil gadis itu.

Arisha tetap diam di dalam mobil. Gadis itu menatap ke depan dengan mata berkaca-kaca. Ia berusaha keras menahan air matanya agar tidak jatuh.

"Ris, buka pintunya. Gue mau ngomong." Farzan kembali mengetuk jendela mobil gadis itu.

Arisha melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Sebentar lagi pagar sekolahnya akan tutup. Jika ia tidak melakukan sesuatu, ia mungkin akan terus terjebak dalam keadaan seperti itu.

Arisha akhirnya menurunkan kaca jendela mobilnya. "Mau ngomong apa?" tanyanya dengan pandangan ke depan.

"Bisa keluar dulu gak?" tanya Farzan.

Arisha mendengus. "Kalau gak ada yang mau diomongin, mending minggirin motor lo. Gue mau lewat."

"Oke, oke. Gue ngomong," ucap Farzan cepat.

"Gue mengaku kalah, Ris. Gue suka sama lo," lanjut pria itu dengan tatapan tegas. Setelah memikirkannya, Farzan memutuskan bahwa ia memang menyukai Arisha.

Pria itu tidak mau menyesal, itulah mengapa ia mengucapkan kalimat itu meski di tempat yang tidak tepat.

Arisha bisa merasakan hatinya berdenyut sakit, rasanya seperti tertusuk jarum.

"Minggirin motor lo, Zan. Gue mau lewat," ucapnya tanpa ekspresi.

Farzan menatap tak percaya pada gadis itu. "Lo gak mau bilang sesuatu, Ris?"

"Minggirin dulu motor lo," jawab gadis itu datar.

Farzan mengangguk. Pria itu bergegas meminggirkan motornya ke samping, setelah itu menghampiri jendela mobil gadis itu lagi.

"Aliesha sekolah di SMA Kivandra. Gue tahu jawaban itu yang lo tunggu," tutur Arisha sebelum gadis itu melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata.

Farzan menatap kepergian Arisha dengan tubuh membeku. Padahal ia serius menyatakan perasaannya pada gadis itu, tapi mengapa dia tidak percaya?

Farzan menghela napas panjang. Pria itu menaiki motornya, lalu melajukannya menuju sekolah. Pria itu terlihat tidak bersemangat saat ia sampai di kelas. Tiga temannya melihat pria itu dengan tatapan bingung.

"Lo kenapa, Zan?" tanya Farrel heran.

"Lo lagi sakit ya?" timpal Keenan.

Farzan tidak menggubris pertanyaan keduanya. Pria itu duduk di bangkunya dengan wajah suram. Ketiga temannya duduk di bangku mereka masing-masing.

"Lo kenapa sih?" tanya Farrel lagi.

Farzan mendengus malas. "Lo semua mau tahu Aliesha pindah ke sekolah mana kan?"

Ketiga temannya mengangguk serempak. Farzan tersenyum miring saat pria itu menatap Kenzie.

"Di SMA Kivandra," lanjutnya.