Chapter 49: 48. Hormat Tiang Bendera

Aliesha The ProtagonistWords: 8820

Mata Farrel, Keenan, dan Kenzie membulat tak percaya. Kenzie adalah orang yang paling kaget. Ia tidak menyangka Aliesha akan pindah ke sekolah milik keluarganya.

"Serius, Zan?" tanya Kenzie memastikan.

Farzan mengangguk. Pria itu dengan cepat melambaikan tangannya pada ketiga temannya.

"Sekarang kalian pergi. Gue mau tidur dulu," usir Farzan.

Ketiga pria itu saling memandang. "Bentar lagi bel, Nyet." Farrel menggeplak kepala Farzan yang sudah dibaringkan di atas meja.

Farzan mengusap kepalanya dengan tatapan tajam yang ia arahkan pada Farrel.

"Bangs*t!" kesalnya.

Farrel dan dua lainnya terkekeh. Ketiga pria itu lalu pergi ke kantin sebelum pelajaran pertama dimulai.

***

Aliesha tiba di sekolah lima menit sebelum bel masuk berbunyi. Dalam perjalanannya menuju kelas, gadis itu melihat Abel dan David sedang berpegangan tangan di ujung tangga.

Sepertinya apa yang dikatakan Raven benar, mereka tidak jadi membatalkan pertunangan mereka. Aliesha tidak peduli, hanya saja ia harus membuat keduanya kembali membatalkan pertunangan bagaimanapun caranya.

Aliesha berjalan melewati keduanya dengan wajah datar. Abel menunjukkan ekspresi mengejek, sedangkan David menunduk dengan wajah menyesal.

Pria itu refleks melepaskan tangannya yang sedang Abel genggam. Abel menatap David tak suka.

"Kenapa dilepas?" tanya Abel.

David tersenyum tipis. "Bentar lagi bel masuk. Gue duluan ke kelas ya," jawab David sembari tangannya mengelus kepala Abel untuk menenangkan gadis itu.

Setelah itu, pria itu berlari ke kelas. Ia duduk di bangkunya dengan mata yang menatap lurus ke wajah Aliesha. Gadis itu terlihat seperti biasa, menatap ke luar jendela sembari tangan menopang dagu.

"Aliesha," panggil David pelan.

Aliesha melirik pria itu melalui ekor matanya. Ia bisa melihat ada luka kecil di sudut bibir pria itu. Aliesha duduk tegak menghadap David.

"Bibir lo kenapa?" tanya gadis itu.

Tangan David refleks menyentuh sudut bibirnya yang luka. Pria itu menggeleng. "Gue gak apa-apa kok," jawabnya.

Aliesha memicingkan matanya curiga, namun gadis itu tidak bertanya lebih lanjut.

"Mau ikut gue ke UKS gak?" ajak gadis itu.

Tanpa pikir panjang, David mengangguk. Keduanya lalu pergi ke UKS bersama-sama. Bel masuk berbunyi saat mereka sampai di UKS, tapi tidak ada seorangpun diantara mereka yang mau bergegas ke kelas.

Aliesha dengan santai menarik tangan David dan mendudukkan pria itu ke brankar. Setelah itu, ia mengambil kotak P3K di dalam lemari. Aliesha kemudian duduk di depan David sembari tangannya membuka kotak P3K.

"Jujur deh. Lo habis berantem sama ortu lo kan?" tebak Aliesha.

David diam, pria itu tidak mau mengatakan apapun. Aliesha tersenyum tipis, ia bisa menebak kejadian apa yang terjadi pada pria itu kemarin. Terlahir sebagai anak orang kaya tidak lantas membuat mereka selalu hidup bahagia.

Gadis itu pernah merasakannya saat ia berada di kehidupan sebelumnya. Ia mungkin tidak dijodohkan, namun ia dituntut untuk menjadi sempurna, terutama di depan kolega kakeknya.

Ia harus belajar mati-matian sejak kecil agar lebih baik dari murid sebayanya. Itulah mengapa ia tetap pintar meski tidak belajar, karena pelajaran SMA sudah ia pelajari semuanya.

Selesai mengobati luka di sudut bibir David yang mulai mengering, Aliesha mengembalikan kotak P3K ke lemari. Gadis itu lalu membaringkan tubuhnya di brankar yang lain.

Guru yang berjaga di UKS sedang tidak ada, sepertinya memiliki kesibukan yang lain. Anak PMR yang biasa berjaga juga tidak ada. Aliesha melebarkan tirai untuk memisahkan dirinya dengan David.

Gadis itu berencana untuk tidur. Ia merasa mengantuk entah bagaimana. David menatap tirai dengan pandangan sendu. Ia ingin menceritakan banyak hal pada Aliesha, namun ia tidak ingin membuat gadis itu merasa terbebani.

Setelah menghembuskan napas panjang, David juga merebahkan tubuhnya dengan pandangan yang mengarah ke langit-langit UKS.

Pria itu memikirkan banyak hal di kepalanya. Dimulai dari pertunangannya dengan Abel, rasa sukanya pada Aliesha, hingga hubungan orangtuanya yang tidak harmonis.

David kembali melirik tirai. Ia penasaran apa yang sedang Aliesha lakukan dibalik tirai itu. Tangan David bersiap membuka tirai, namun terhenti saat pintu UKS tiba-tiba terbuka.

Pria itu mengalihkan perhatiannya pada pintu. Di sana, Liam dan dua orang temannya berjalan masuk. David memandang Liam dengan wajah tanpa ekspresi.

"Ngapain lo ada di sini?" tanya Liam.

David menurunkan tangannya yang masih terangkat di udara. Pria itu memandang Liam malas, kemudian menutup matanya untuk tidur.

Liam mendengus. Saat ia akan berjalan ke brankar di sebelah David, pria itu langsung bangun dan menghentikannya.

"Jangan!" seru David cepat.

Liam mengernyit. "Lo kenapa sih?"

David menggeleng. "Jangan ke situ," larangnya.

Larangan David membuat Liam semakin penasaran. Pria itu melepaskan tangan David dari tangannya secara paksa. Melalui tatapannya, ia menyuruh dua temannya memegang tangan David.

Dhafin dan Xander bergegas mengikuti instruksi Liam. Setelah itu, Liam dengan cepat mengintip ke brankar sebelah.

Saat melihat Aliesha sedang tidur, Liam mundur dengan pandangan kaget. Pria itu menatap David tajam.

"Lo habis ngapain Aliesha, hah?!" tanyanya seraya menarik kerah seragam David.

Dhafin dan Xander segera melepaskan tangan mereka yang memegang tangan David. Keduanya saling bertukar pandang, merasa bingung dengan ucapan Liam.

David tersenyum miring. Pria itu ingin mengerjai Liam, tapi ia tidak ingin melecehkan Aliesha melalui ucapannya. Pria itu akhirnya hanya tersenyum tanpa mengatakan apa-apa.

Liam semakin marah melihat senyum David yang penuh arti. Pria itu akan melayangkan tinjunya, namun terhenti saat tirai terbuka.

Aliesha mengucek matanya dan memandang keempat pria itu bingung.

"Kalian lagi ngapain?" tanyanya heran.

Liam melepaskan cengkeramannya dari kerah David. Pria itu lalu menghampiri Aliesha dan memeriksa tubuh gadis itu.

"Lo gak apa-apa kan?" tanya Liam cemas.

Aliesha mengernyit. "Emang gue kenapa?" tanyanya tak mengerti.

Melihat Aliesha baik-baik saja, Liam akhirnya bisa bernapas lega. Pria itu menatap David tajam.

"Lo sengaja kan?" tuduhnya.

David angkat bahu tak peduli. Aliesha semakin mengernyit.

"Lo kenapa sih, Liam?" Aliesha menarik tangan Liam untuk menghentikan pria itu.

Liam membuang napas kasar, kemudian duduk di sebelah Aliesha.

"Gue boleh peluk lo gak?" tanya Liam dengan wajah memelas.

Aliesha mengangkat kedua alisnya ke atas. "Buat?"

"Gue lagi sedih, Lis." Liam menunduk dengan wajah yang dibuat sesedih mungkin.

Aliesha menghela napas panjang. Gadis itu lalu merentangkan tangannya. Liam langsung memeluk gadis itu dengan erat, setelah itu memberikan senyum mengejek pada David.

David mengepalkan tangannya kuat. Pria itu menggertakkan giginya melihat Liam yang tersenyum lebar.

"Lis, dia-"

Dhafin dan Xander bergegas membungkam mulut David yang ingin melaporkan Liam pada Aliesha. Dhafin menutup wajah David, sedangkan Xander memegang kedua tangannya.

Aliesha melepaskan pelukan Liam, kemudian memandang tiga orang lainnya dengan tatapan bingung.

"Kalian kenapa?" tanya gadis itu.

Dhafin dan Xander menggeleng disertai senyum lebar. "Gak apa-apa, Lis. Kita lagi main," alibi Dhafin.

Liam memberikan jempol di punggungnya untuk kedua temannya.

Aliesha terkekeh. "Aneh," ucapnya disertai gelengan kepala.

Dhafin dan Xander cengengesan tidak jelas, sedangkan David terus memberontak minta dilepaskan.

Ketika mereka sedang bercanda ria di dalam UKS, guru yang menjaga UKS akhirnya datang. Pintu UKS yang terbuka membuatnya bisa melihat kelima orang itu sedang nongkrong di UKS.

"Kalian berlima, apa yang kalian lakukan di sini?" tanya guru itu dari luar.

Kelima orang itu terkesiap dengan mata membelalak. Mereka secara serempak menoleh ke arah pintu yang terbuka. Melihat guru penjaga UKS, Liam langsung memegang perutnya dan berpura-pura sakit.

"Bu, perut saya sakit banget. Saya datang ke sini buat istirahat, Bu."

Xander dan Dhafin mengangguk, keduanya dengan perlahan melepaskan tangan mereka yang memegang David.

Guru itu melirik Aliesha yang merupakan perempuan satu-satunya di ruangan itu. Guru itu menggeleng-gelengkan kepalanya saat pikiran buruk memasuki pikirannya.

"Kalian datang ke sini disaat pelajaran tengah berlangsung. Saya akan melaporkan kalian ke guru BK. Tapi sebelum itu, saya mau kalian berdiri di depan tiang bendera dengan posisi hormat," ujar guru itu marah.

"Jangan gitu dong, Bu. Di luar panas banget, Bu." Liam memasang wajah memelasnya.

Guru itu tidak menggubris keluhan pria itu. Dengan tegas beliau mengarahkan telunjuknya ke lapangan.

"Saya hitung sampai tiga. Kalau kalian gak mau pergi, saya akan minta guru BK panggil orang tua kalian ke sekolah," ancam guru itu.

Kelima orang itu dengan terpaksa berjalan ke arah tiang bendera di tengah lapangan. Mereka berlima berdiri dengan posisi hormat ke tiang bendera.