Beberapa menit telah terlewat. Aliesha yang berdiri di tengah-tengah keempat pria itu mulai berkeringat dengan wajah yang merah terkena cahaya matahari.
Keempat pria itu melirik Aliesha khawatir. Liam berkata, "Lis, lo istirahat aja. Biar kita yang lanjutin hukumannya."
"Iya, Lis. Mumpung gak ada guru yang lihat," timpal Dhafin.
Aliesha menggeleng. "Kita gak ada yang tahu. Mungkin aja ada guru yang memperhatikan kita secara diam-diam," sahut gadis itu.
Liam dan Dhafin terdiam. Perkataan Aliesha benar, mereka harus berhati-hati. Jika mereka kedapatan istirahat ditengah-tengah hukuman, tidak menutup kemungkinan kalau hukuman mereka akan ditambah.
Kelima orang itu bernapas lega ketika bel istirahat berbunyi. Kelimanya pergi ke kantin bersama-sama. David yang awalnya ingin berada di meja yang sama dengan Aliesha harus menelan pil pahit saat Abel menghampiri pria itu dan mengajaknya duduk di meja yang sama.
"Vid, kamu duduk bareng aku kan?" tanya Abel.
Dengan senyum paksa, David mengangguk. Pria itu melirik Aliesha sekilas saat pria itu dengan enggan pergi ke meja Abel. Melihat tatapan yang David berikan pada Aliesha membuat Abel cemburu.
Gadis itu menatap Aliesha tajam, kemudian tersenyum mengejek. Aliesha memutar matanya malas melihat senyuman yang Abel berikan padanya.
Aliesha bersama tiga orang lainnya memilih meja yang ada di sudut kantin, meja yang jaraknya sangat jauh dari meja Abel dan David.
"Lis," panggil Liam.
Aliesha yang sedang menikmati makan siangnya mengangkat kepalanya dan menatap Liam dengan alis terangkat.
"Hm," gumamnya menanggapi.
Liam menatap Aliesha lekat. "Lo punya perasaan khusus buat David ya?" tanyanya.
Aliesha mengernyit. "Kenapa lo nanya gitu?" Gadis itu balas bertanya.
"Gue lihat-lihat, tatapan yang lo kasih ke dia tuh beda," jelas Liam.
Aliesha menautkan alisnya semakin dalam. "Maksudnya?" tanyanya tak mengerti.
Liam membuang napas panjang. "Gue harap perkiraan gue salah, Lis. Gue gak mau lo dekat-dekat lagi sama dia," ucap Liam pada akhirnya.
Aliesha mengangkat sebelah alisnya. "Emang kenapa?"
Liam mengepalkan tinjunya dengan rahang mengeras. Dhafin yang duduk di sebelahnya menepuk bahu pria itu untuk menyadarkannya.
Liam dengan cepat menguasai emosinya. Pria itu menatap Aliesha serius.
"Gue mau ngomong sesuatu, tapi sekarang bukan waktu yang tepat," ujar Liam.
Aliesha mendesah pasrah. Pesonanya sungguh-sungguh menakutkan. Sepertinya semua pria yang dekat dengannya akan jatuh hati padanya cepat atau lambat.
"Liam, gue tahu apa yang lo maksud. Tapi ... gue harap, lo cepat-cepat mengenyahkan gagasan itu dari pikiran lo. Gue gak mau lo sakit hati," nasehat gadis itu dengan wajah tanpa ekspresi.
Liam menyentuh bagian dadanya yang berdenyut sakit saat Aliesha mengatakan itu. Ditolak sebelum menyatakan perasaan adalah hal yang paling menyakitkan.
Liam terkekeh. "Jadi, lo beneran suka sama David ya?"
"Gak!" jawab Aliesha tegas.
"Gue gak lagi suka sama siapa-siapa. Hati gue udah mati, Liam. Karena itu, gue gak mau lo sakit hati gara-gara suka sama gue," lanjut gadis itu.
Liam tertegun. "Kenapa lo ngomong gitu?"
Aliesha angkat bahu. "Karena emang itu kenyataannya. Gue gak bisa ngasih harapan palsu ke lo, yang udah gue anggap sebagai teman sendiri," jawabnya sembari tersenyum tulus.
"Lo beneran gak suka sama siapapun?" tanya Liam memastikan.
Aliesha mengangguk. Liam bertanya lagi, "Itu berarti, gue masih punya harapan kan?"
Aliesha menggeleng. "Gak tahu. Ini demi kebaikan lo sendiri. Jadi mending lo hapus perasaan lo buat gue," katanya.
Liam tertunduk lesu. Pria itu kembali memakan makanannya dengan wajah suram.
Dhafin dan Xander saling bertukar pandang dengan tatapan iba yang mereka berikan pada Liam. Mereka akui, Aliesha memang sangat cantik. Untung saja mereka sadar diri dan tidak menyukai gadis itu.
Liam yang paling tampan dan paling kaya diantara mereka saja sudah ditolak sebelum menyatakan perasaan, bagaimana nasib mereka jika mereka benar-benar menyukai gadis itu nanti?
Keduanya bergidik, dengan cepat mengenyahkan pikiran itu dari kepala mereka.
Aliesha kembali ke kelas selesai makan siang. Gadis itu mengeluarkan hp dari sakunya saat benda pipih itu bergetar terus-menerus.
Melihat adanya panggilan dari Raven, gadis itu dengan cepat mengangkatnya.
"Halo," sapa Aliesha.
"Saya tunggu di depan gerbang pulang sekolah nanti."
Aliesha mengernyit. "Saya bawa mobil sendiri ke sekolah."
"Tidak masalah. Supir saya yang akan mengantar mobil kamu kembali ke rumah," balas Raven.
Aliesha mendengus. "Oke."
Gadis itu memutuskan panggilan secara sepihak. Ia lalu duduk di bangkunya. Aliesha melirik bangku David sekilas, rupanya pria itu belum ada di kelas.
Aliesha membuang pandangannya ke luar jendela, menatap langit yang mulai mendung. Sepertinya, sebentar lagi akan turun hujan.
***
Farzan pergi ke kelas Arisha saat jam istirahat. Pria itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling kelas, namun tidak ada gadis itu di sana. Ia lalu berlari dan mencari gadis itu di kantin, namun nihil. Gadis itu juga tidak ada di sana.
Pria itu bergegas ke rooftop mengingat Arisha sering ke sana akhir-akhir ini. Setelah mencari cukup lama, Farzan akhirnya menemukan gadis itu tengah tidur di bangku panjang yang ada disitu.
Melihat alis gadis itu mengernyit karena cahaya matahari yang menyinari wajahnya, pria itu segera berdiri membelakangi matahari. Alis Arisha yang tadi berkerut kini mulai rileks.
Farzan berdiri seperti itu cukup lama. Ketika bel masuk berbunyi, Arisha dengan cepat membuka matanya. Gadis itu terkejut melihat sosok Farzan yang berdiri di depannya.
Mengingat ia tidak mau bertemu dengan pria itu, Arisha langsung berdiri dan berniat pergi dari sana. Namun, Farzan dengan cepat meraih tangannya dan menghentikan langkahnya.
"Ris, gue mau ngomong," pinta pria itu dengan suara pelan.
Arisha menepis tangan Farzan kasar. "Gak ada yang perlu gue omongin sama lo," balas gadis itu.
Farzan berlutut dengan suara keras. Arisha tertegun, gadis itu dengan cepat berbalik. Melihat Farzan berlutut dengan tangan yang disatukan, membuat mata gadis itu membulat tak percaya.
"Apa yang lo lakuin, Zan? Kenapa lo berlutut kek gitu?" marah gadis itu.
Farzan menundukkan kepalanya dengan wajah menyesal. "Gue benar-benar minta maaf, Ris. Gue sadar gue salah karena udah nyakitin lo selama ini. Tapi, percaya sama gue. Gue bakal berubah," tutur pria itu.
"Maksud lo apa sih? Gue udah ngasih tahu sekolah baru Aliesha ada di mana, kenapa lo masih bersikap kek gini, hah?!" Arisha membentak.
Walau begitu, tangan gadis itu mulai gemetar dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Arisha mencubit tangannya sendiri untuk mengurangi getaran itu.
Farzan masih menunduk. "Apa yang gue bilang sebelumnya itu beneran, Ris. Gue suka sama lo. Gue serius," ucap pria itu.
Arisha terkekeh miris. "Gue gak butuh pengakuan lo, Zan. Lo udah dapat apa yang lo mau, harusnya lo gak ganggu gue lagi."
Farzan berdiri. Pria itu memegang kedua bahu gadis itu dengan tatapan lurus ke matanya.
"Tatap mata gue, Ris. Lo bakal tahu gue serius atau enggak," pinta pria itu.
Meski ragu, Arisha mengikuti instruksi pria itu. Gadis itu menatap ke dalam mata Farzan yang hanya ada pantulan dirinya di sana.
"Kenapa lo yakin banget tatapan lo bisa membuktikan perasaan lo sama gue?" tanya Arisha yang merasa tidak yakin.
"Rasakan baik-baik, Ris. Lo adalah cewek pertama yang gue perlakukan kek gini." Setelah mengatakan itu, Farzan langsung menempelkan bibirnya ke kening gadis itu.
Pria itu mencium kening Arisha cukup lama untuk menunjukkan ketulusannya. Ia masih belum berani mengambil first kiss gadis itu, karena ia takut bukan dia yang gadis itu pilih.
Sampai sekarang, ia juga masih menjaga first kiss-nya untuk orang yang akan menjadi tambatan hatinya. Awalnya, ia pikir orang itu adalah Aliesha, namun sepertinya tidak begitu.
Farzan juga tidak menyangka ternyata ia bisa memiliki perasaan sedalam itu pada Arisha. Gadis itu berhasil membuatnya uring-uringan ketika memikirkan gadis itu.
Arisha tercengang, tubuh gadis itu membeku. Ia sangat terkejut saat Farzan mencium keningnya. Gadis itu menyentuh keningnya saat pria itu melepaskan ciumannya.
"Apa yang lo-" Arisha tidak bisa melanjutkan ucapannya.
Farzan tersenyum. "Sorry, gue nyium lo tanpa izin. Tapi, gue harap lo bisa ngerasain perasaan gue melalui ciuman itu, Ris."
Arisha dengan kaku memundurkan langkahnya ke belakang. Gadis itu menggeleng kuat, ia lalu berlari dan pergi dari sana. Farzan menatap kepergian Arisha dengan wajah pasrah. Sepertinya ia ditolak lagi.