Aliesha bergegas menemui Raven yang sudah menunggunya di depan gerbang saat bel pulang berbunyi. Ia buru-buru masuk ke dalam mobil sebelum ada orang yang melihatnya.
Gadis itu mengernyit saat Raven menengadahkan tangannya padanya. Setelah mengingat sesuatu, ia mengambil kunci mobilnya dan menyerahkannya pada pria itu.
Raven mengambil kunci mobil Aliesha, kemudian menurunkan jendela mobilnya untuk memberikan kunci mobil gadis itu pada supir yang sudah menunggu di luar.
Setelah itu, Raven mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Aliesha membuang pandangannya ke luar jendela karena tidak ada percakapan yang terjadi di antara mereka.
Beberapa menit kemudian, Raven menghentikan laju mobilnya di sebuah tempat yang sepi.
Aliesha menoleh. "Kok berhenti?" tanyanya.
"Ada sesuatu yang perlu saya bicarakan sama kamu," jawab Raven.
Aliesha mengernyit bingung. "Emang gak ada tempat lain apa selain di sini?"
Raven menggeleng. "Saya tidak tahu. Kamu pasti penasaran mengapa saya menyuruh kamu membuat David jatuh cinta padamu."
"Gak, biasa aja," balas Aliesha cuek.
Raven terkekeh. "Udah gak formal lagi nih ceritanya?"
Aliesha memutar matanya malas. "Kalau gak penting, mending antarin gue pulang," suruhnya.
"Kamu benar-benar gak mau tahu alasan saya menyuruh kamu mendekati David?" tanya Raven memastikan.
Aliesha angkat bahu tak acuh. "Paling juga gara-gara harta warisan. Gue gak peduli sama urusan kalian," jawabnya.
Raven tertawa kecil. "Kamu tahu Kirana, ibunya David?" tanya pria itu yang mendapatkan anggukan kepala dari Aliesha.
"Kamu tahu kalau dia bukan Kirana yang asli?" lanjut pria itu.
Aliesha tercengang. "Dari mana lo tahu?" tanyanya.
Raven menatap lurus ke depan. "Tentu saja saya tahu. Kejadian lebih dari dua puluh tahun yang lalu juga melibatkan ibu saya."
"Maksudnya?" Aliesha menatap Raven bingung.
"Kirana yang asli sudah meninggal. Ibu saya dituduh sebagai pembunuh pada saat itu. Ibu David adalah pembunuh yang sebenarnya," jelas Raven dengan wajah suram.
Aliesha menutup mulutnya dengan tatapan tak percaya. Raven lalu melanjutkan ceritanya yang membuat Aliesha mengepalkan tangannya geram.
Gadis itu akhirnya tahu kejadian lebih dari dua puluh tahun yang lalu. Kejadian yang membuatnya bertransmigrasi ke tubuh Aliesha.
***
Dua hari telah berlalu. Itu adalah hari Senin ketika Aliesha pergi ke sekolah dengan wajah pucat dan mata panda. Sejak Raven menceritakan tentang kejadian yang terjadi pada tubuh lamanya, gadis itu tidak bisa tidur dengan nyenyak.
Ia selalu memimpikan hal buruk tiap malam. Aliesha langsung merebahkan kepalanya di atas meja ketika ia sampai di kelas. David yang melihat Aliesha begitu pucat mulai mendekati gadis itu.
"Lo kenapa, Lis?" tanya David.
Aliesha menggeleng dengan mata tertutup. Ia kelihatan sangat lelah. David mengelus rambut gadis itu lembut. Entah karena nyaman atau apa, Aliesha segera tertidur.
David bergegas ke kantin dan membelikan susu kotak untuk Aliesha. Setelah itu, ia kembali ke kelas. Aliesha masih tertidur saat David mendekati meja gadis itu.
Pria itu lalu meletakkan susu kotak yang ia beli di meja gadis itu. Saat guru yang akan mengajar masuk, David dengan cepat mendekati guru itu dan berbisik di telinganya.
Guru itu melirik ke meja dimana Aliesha sedang tidur. Setelah beliau mengangguk, David segera kembali ke mejanya.
Pelajaran berlangsung selama dua jam, kemudian dilanjutkan dengan pelajaran berikutnya. Sepanjang pelajaran dimulai, Aliesha tidak membuka matanya sedikitpun. Gadis itu terlihat damai dalam tidurnya.
Begitu bel istirahat berbunyi, David menghampiri meja Aliesha untuk membangunkan gadis itu.
"Lis," panggil David seraya menepuk bahu gadis itu pelan.
Aliesha tidak menjawab. Ia hanya bergumam tidak jelas dalam tidurnya. Pada saat itu, Liam dan dua temannya datang ke kelas mereka. Ketiga orang itu menghampiri David yang sedang berdiri di depan meja Aliesha.
"Ngapain lo?" tanya Liam mendominasi.
David melirik Liam melalui ekor matanya, kemudian kembali mencoba membangunkan Aliesha.
"Lis," panggil David lagi. Kali ini pria itu menepuk wajah Aliesha untuk membangunkannya.
"Aliesha kenapa?" tanya Liam saat melihat wajah Aliesha yang kelihatan pucat.
"Dia sakit?" timpal Dhafin.
Liam menggeser David ke samping. Pria itu lalu menyingkirkan rambut Aliesha yang menutupi wajahnya, kemudian meletakkan punggung tangannya ke jidat gadis itu.
Merasakan suhu tubuh gadis itu yang hangat, Liam dengan cepat menggendong Aliesha dan membawanya ke UKS. Di tengah jalan, langkahnya terhenti karena dihadang oleh tiga orang yang tidak ia kenal.
"Siapa lo? Jangan halangi jalan gue, b*ngs*t! Cewek gue lagi sakit nih," marah Liam pada ketiga orang itu.
Ketiga orang itu menatap Liam geram. "Siapa lo ngaku-ngaku pacarnya Aliesha?" tanya salah seorang diantara mereka.
Liam melirik Dhafin. "Jelasin, Fin."
Dhafin maju selangkah. "Denger ya! Aliesha ini pacarnya teman gue, Liam Radyta. Siapa lo bertiga? Murid baru ya?" katanya.
"Kalau kita murid baru emang kenapa? Ada masalah?" tanya salah seorang yang lain dengan nada menantang.
Xander yang memiliki tubuh paling besar dari dua orang temannya maju. "Iya, masalah. Lo mau ngajak berantem?" tanyanya.
Aliesha yang berada di pelukan Liam meringis. Keenam pria itu menoleh dengan tatapan khawatir.
"Kalian minggir gak? Gue harus bawa dia ke UKS," ucap Liam tegas.
Tiga orang yang menghadang jalannya dengan cepat membiarkan Liam lewat. Mereka lalu mengikuti pria itu sampai ke UKS.
"Kalian lagi," kata guru yang berjaga dengan nada malas.
"Dia kenapa?" tanya guru itu saat melihat wajah Aliesha yang pucat.
"Sakit, Bu," jawab keenam orang itu serempak.
Guru itu geleng-geleng kepala melihat keenam orang itu yang begitu kompak. Setelah menyuruh Liam membaringkan Aliesha di atas ranjang, guru itu menyuruh mereka ke luar.
Liam menolak. "Bu, saya mau nemenin Aliesha Bu," rengek Liam dengan wajah memelas.
Guru itu menggeleng. "Gak bisa. Kalian pergi sana! Biar saya yang jagain dia di sini," balas guru itu.
Liam bersama lima orang lainnya membuang napas pasrah. Mereka melihat Aliesha untuk terakhir kalinya sebelum pergi dari sana.
Setelah jarak mereka dengan UKS cukup jauh, Liam menghentikan langkahnya. Pria itu menatap tiga orang yang tadi menghadangnya dengan tatapan tajam.
"Gue belum pernah lihat kalian di sekolah ini sebelumnya. Siapa kalian? Murid baru?" tanya pria itu.
Ketiga orang itu tidak menanggapi Liam. Mereka dengan cuek pergi meninggalkan Liam dan teman-temannya.
Dhafin mendengus. "Gila! Song*ng banget mereka," ucapnya disertai gelengan kepala.
Liam dan Xander mengangguk. "Kita kasih pelajaran gak nih?" tanya Xander mengusulkan.
Liam dan Dhafin mengangguk setuju. Ketiga orang itu menunjukkan senyum penuh arti sebelum melanjutkan langkah mereka menuju kantin.
Sesampainya mereka di sana, mata mereka membulat tak percaya saat melihat David tengah mengobrol dengan ketiga orang itu. Liam dengan cepat menghampiri David.
"Woi, Vid. Lo kenal sama mereka?" tanya Liam.
David menoleh, pria itu kemudian mengangguk. "Kenalin, ini sepupu gue. Namanya Kenzie," ucapnya memperkenalkan salah seorang dari tiga murid baru.
Liam mengangkat sebelah alisnya saat pria itu menatap Kenzie dari atas sampai bawah untuk menilai pria itu.
"Kalau mereka ini teman-temannya Kenzie, namanya Farrel dan juga Keenan. Mereka baru pindah hari ini," lanjut David memperkenalkan dua orang lainnya.
Tatapan Liam berpindah pada dua orang yang tadi berbicara dengannya. Pria itu tersenyum mengejek.
"Jadi ... kalian beneran murid baru? Pantas aja ya kalian berani ngomong gak sopan sama kita-kita," kata Liam.
Farrel menatap Liam malas. "Dih, emang lo siapa?"
"Anak kepsek kali," timpal Keenan asal.
Dua orang itu langsung tertawa. Kenzie menatap Liam datar.
"Vid, dia beneran pacaran sama Aliesha?" tanya Kenzie pada David, namun tatapannya menatap lurus ke arah Liam.
David mendengus. "Dia bohong. Aliesha gak pacaran sama siapapun," jawab pria itu.
Kenzie tersenyum miring. "Udah gue duga sih. Gak mungkin Aliesha suka sama cowok modelan begini," ucapnya meledek Liam.
Liam mengepalkan tinjunya erat. Dhafin menepuk bahu pria itu untuk menenangkannya, kemudian menatap Kenzie tajam.
"Emang lo pikir, lo yang paling oke apa?" ejek Dhafin.
Kenzie mengangguk. "Gue emang yang paling oke diantara kalian semua," balasnya pede.
David menatap Kenzie tak percaya. "Lo juga suka sama Aliesha?"
Kenzie menoleh dengan wajah tanpa ekspresi. "Bukan gue aja. Mereka juga suka sama Aliesha. Dan masih banyak lagi yang suka sama dia," ucapnya seraya menunjuk dua temannya menggunakan dagu.
Jawaban Kenzie membuat David, Liam, Dhafin, dan Xander terkejut. Dua di antara mereka mendesah pasrah, sepertinya saingan cinta mereka telah bertambah. Sedangkan dua lainnya bernapas lega, karena mereka tidak ikut-ikutan terobsesi dengan gadis itu.