Aliesha terbangun dari tidurnya dalam waktu setengah jam setelah dia dibawa ke UKS. Gadis itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling, hanya ada guru penjaga di ruangan itu selain dirinya.
Guru penjaga UKS melirik Aliesha saat mendengar bunyi yang gadis itu timbulkan. Menyadari bahwa Aliesha ternyata sudah bangun, guru itu bergegas mendekati gadis itu.
"Bagaimana keadaan kamu? Ada yang sakit?" tanya guru itu.
Aliesha menggeleng. "Gak ada, Bu."
Guru itu mengangguk. "Sekarang sedang jam istirahat. Mau saya pesankan sesuatu?" tanya guru itu menawarkan.
Aliesha menggeleng lagi, gadis itu menunjukkan senyum tipis. "Gak usah, Bu. Saya pergi ke kantin saja," jawabnya sopan.
Guru itu mengernyit. "Emang kamu kuat jalan ke kantin sendiri?"
Senyum Aliesha semakin lebar. "Saya gak sakit kok, Bu. Cuma kurang tidur aja," balasnya.
Guru itu manggut-manggut mengerti. Setelah memastikan Aliesha baik-baik saja, guru itu kembali duduk di kursinya. Aliesha memakai sepatu yang dilepas entah oleh siapa. Setelah itu, gadis itu segera pergi ke kantin.
Antrean hari itu cukup panjang, Aliesha sampai harus mengantre selama beberapa menit. Setelah mendapatkan makanannya, gadis itu mengedarkan pandangannya mencari meja kosong.
Orang pertama yang melihat gadis itu adalah Xander. Pria itu menepuk pundak Liam, memberi isyarat pada pria itu untuk melihat ke belakang.
Liam dengan cepat menoleh. Melihat Aliesha tengah berdiri dengan nampan di tangannya, pria itu bergegas menghampiri gadis itu. Gerakan Liam yang terburu-buru mengundang rasa penasaran dari mereka yang ada di sana.
"Aliesha, lo udah bangun?" tanya Liam.
Aliesha memutar matanya malas. "Gak! Gue masih tidur," ketusnya.
Liam garuk-garuk kepala. Ia tidak tahu mengapa Aliesha sangat ketus terhadapnya.
Kenzie, Keenan, dan Farrel menghentikan aktivitas makan mereka untuk melihat ke mana Liam pergi. Saat mereka melihat Aliesha, ketiga orang itu melesat cepat ke arah gadis itu.
"Lis," sapa mereka berbarengan.
Mata Aliesha membulat melihat kehadiran ketiga pria itu. Gadis itu melihat mereka bergantian dengan tatapan bingung.
"Kok kalian-" Aliesha tidak mampu melanjutkan ucapannya.
Farrel tersenyum manis. "Kita baru pindah hari ini, Lis. Berhubung sekolah ini milik keluarga Kenzie, jadi pengurusan kepindahan kita cepet banget," tutur pria itu menjelaskan.
Aliesha menatap Kenzie, "Ini ... beneran?" tanyanya memastikan.
Kenzie mengangguk dengan senyum tipis. "Kabar kamu gimana, Lis?"
Aliesha angkat bahu. "Gak buruk. Btw, guys. Ini nampannya berat loh," ucapnya memberi kode.
Keenan yang sejak tadi hanya melihat dengan cepat mengulurkan tangannya dan mengambil nampan itu dari tangan Aliesha. Farrel dan Kenzie berdiri di kedua sisi gadis itu untuk mengawalnya menuju meja mereka.
Liam mengikuti langkah mereka dari belakang. Saat Kenzie dan teman-temannya akan membawa gadis itu ke mejanya, Liam dengan cepat menahan tangan Aliesha.
"Lis, meja kita ada di sebelah," ucap Liam sembari menunjuk mejanya.
Farrel melototi Liam. "Aliesha duduk sama kita!" tegas pria itu.
Liam mendengus. "Lo siapanya Aliesha, hah?! Aliesha duduk bareng gue!" balas Liam tak kalah tegas.
Keenan tersenyum dingin. "Kamu mau duduk bareng siapa, Lis?" tanya pria itu.
"Terserah," jawab Aliesha cuek.
"Aliesha duduk bareng kita," putus Farrel.
Liam menggeleng. "Gak bisa! Aliesha harus duduk di meja gue, titik!"
David yang duduk di meja yang sama dengan Kenzie berdiri. Pria itu tersenyum lebar. "Lo mau gabung sama meja siapa nih, Aliesha?" tanyanya.
Keempat pria itu menatap Aliesha, menunggu jawaban dari gadis itu.
Aliesha memutar matanya malas. "Terserah!"
Kelima pria itu menghela napas panjang bersamaan. Xander dan Dhafin menonton perdebatan mereka seperti sedang menonton film di bioskop. Keduanya terlihat sangat serius melihat keenam orang itu.
Abel yang sedang duduk bersama dua anteknya membanting sendok di atas meja. Gadis itu merasa cemburu karena Aliesha dikelilingi oleh pria-pria tampan.
Apalagi salah seorang diantara pria-pria itu adalah tunangannya. Gadis itu mendekati mereka dengan tangan terkepal.
"David," panggilnya melalui gigi terkatup.
David bersama yang lainnya menoleh. Pria itu mendengus saat melihat Abel datang menghampirinya.
"Lo jangan lupa kalau lo udah punya tunangan," peringat Abel dengan tatapan tajam.
Kenzie menatap Abel dan David bergantian. "Vid, ini anak keluarga Maheswari?" tanya pria itu.
David mengangguk. Pria itu lalu menatap Abel. "Gue gak lupa, jadi lo tenang aja," balasnya malas.
Abel berkacak pinggang. "Kalau gitu, kenapa lo ikut-ikutan mereka deketin nih cewek? Gue belum lupa ya masalah kita yang kemarin!"
Malas berdebat, David memilih duduk di kursinya dan lanjut memakan makanannya. Kenzie menatap prihatin pada pria itu.
Aliesha yang sudah lelah berdiri mengambil nampannya dari tangan Keenan. Gadis itu lalu pergi ke meja kosong yang lain.
"Lis!" kaget Keenan.
Liam, Kenzie, dan Farrel dengan cepat menoleh. Melihat Aliesha sudah memilih tempat duduknya sendiri, pria-pria itu mendesah pasrah. Namun, mereka tidak menyerah begitu saja.
Keempat pria itu mengambil nampan mereka dan ikut duduk di meja yang sama dengan gadis itu. Aliesha tidak menggubris kehadiran mereka, gadis itu dengan tenang memakan makanannya.
***
Farzan duduk di kantin sendirian. Tiga temannya sudah pindah ke sekolah Kivandra dimana Aliesha berada. Ia tidak ikut karena tujuannya sekarang bukan lagi gadis itu, melainkan Arisha. Hanya saja, gadis itu benar-benar menjauhinya sekarang.
Naomi yang duduk bersama Bagas tersenyum miring, merasa senang karena Farzan sudah mendapatkan ganjarannya.
Bagas yang melihat senyum gadis itu hanya bisa geleng-geleng kepala. "Lo beneran sesenang itu lihat si Farzan galau kek gitu?" tanya pria itu.
Naomi tersenyum lebar. "Yaps! Siapa suruh dia berani suka sama orang yang udah nyakitin Aliesha selama ini," katanya.
Bagas tersenyum kaku. Untung saja ia tidak melakukan hal buruk pada Aliesha. Kalau tidak, mungkin saja gadis yang sedang duduk bersamanya ini akan membuatnya menderita.
Naomi mendengus. "Gue pengen banget pindah ke sekolah yang sama kayak Aliesha. Sayangnya, gue harus terus ada di sekolah ini buat mantau mereka berdua," lanjutnya yang mengacu pada Farzan dan Arisha.
"Lo sadar gak sih, kalau sekarang lo yang jadi orang jahat di sini?" tanya Bagas.
Naomi terkekeh. "Gue gak peduli, Gas. Selama mereka ganggu Aliesha, gue gak akan tinggal diam," jawab gadis itu dengan nada kejam.
Bagas bergidik mendengar jawaban gadis itu. Pria itu meminum minumannya saat tenggorokannya terasa kering.
Di sisi lain, Arisha tengah duduk di rooftop seorang diri. Gadis itu sedang memikirkan banyak hal di kepalanya. Kebanyakan dari itu adalah wajah Farzan yang selalu muncul di kepalanya.
Ia sudah berusaha keras mengusir pria itu dari pikirannya, namun tidak berhasil. Disaat Arisha tengah merenung, seseorang datang ke rooftop. Gadis itu menoleh saat mendengar suara decitan pintu rooftop.
"Hai, Ris," sapa Farzan sendu. Pria itu sudah tidak tahan dijauhi oleh Arisha, itulah sebabnya ia menghampiri gadis itu disitu.
Arisha membelalakkan matanya melihat pria itu. Gadis itu melihat sekeliling, berencana untuk kabur namun Farzan dengan cepat memegang tangan gadis itu.
"Jangan lari lagi, Ris!" pinta pria itu.
Arisha menggeleng. "Kenapa lo masih deketin gue, Zan? Kenapa lo gak ikut teman-teman lo aja pindah ke SMA Kivandra?" tanya gadis itu dengan suara bergetar.
"Karena yang gue suka sekarang itu lo, Ris!" tegas pria itu.
Arisha menggeleng tak percaya. "Gak usah bohong, Zan. Gue tahu yang lo suka dari dulu sampai sekarang itu cuma Aliesha," balas gadis itu yakin.
Farzan mengacak rambutnya frustasi. "Gue harus apa biar lo percaya sama gue, Ris?" tanya pria itu.
Farzan melangkahkan kakinya mendekati pembatas rooftop. Pria itu lalu naik ke atasnya. "Kalau gue loncat, lo mau percaya sama gue?" lanjutnya.
Arisha tercengang. Tubuh gadis itu bergetar hebat. Perasaan takut menyerangnya. Gadis itu dengan cepat menggelengkan kepalanya kuat.
"Gak, Zan. Lo gila?!" teriak gadis itu.
Farzan menundukkan kepalanya dengan mata merah. "Gue harus gimana, Ris? Lo gak percaya sama gue. Cuma ini satu-satunya cara biar lo mau percaya sama gue, iya kan?"
Arisha menggeleng. "Jangan bodoh, Zan! Hidup lo itu penting. Akan ada banyak orang yang sedih kalau lo ngelakuin hal ini."
"Lo, Ris? Lo sedih gak kalah gue ngelakuin hal ini?" tanya Farzan.
Arisha mengepalkan tangannya erat. Tentu saja ia akan sangat sedih.
"Gue bakal loncat," ancam Farzan.
Arisha menjatuhkan lututnya ke dasar. "Jangan, Zan. Please!" ucapnya memohon.
Farzan langsung turun dari pembatas rooftop. Pria itu mendekati Arisha, menarik gadis itu ke pelukannya. "Gue minta maaf. Gue sayang sama lo, Ris."
Arisha menangis di pelukan Farzan. Tindakan pria itu tadi sangat menakutkan. Ia tidak bisa membayangkan seandainya Farzan beneran menjatuhkan dirinya ke bawah.
"Jangan ulangi lagi, Zan," pintanya.
Farzan mengangguk. "Gue janji, Ris. Gue gak bakal kayak tadi lagi," janji pria itu.