Sudah bel masuk, namun Aliesha tidak segera kembali ke kelas. Gadis itu menunggu di toilet selama lima menit, setelah itu barulah ia keluar dari sana.
Aliesha melihat sekitar dengan tatapan waspada. Setelah ia yakin bahwa tidak ada lagi orang yang berkeliaran di koridor, ia dengan cepat melangkahkan kakinya menuju ruang rahasia di gedung lapangan indoor.
Dalam perjalanan ke sana, Aliesha mengingat kembali percakapannya dengan Raven saat pria itu menceritakan kejadian yang dialami ibunya di masa lalu.
"Lebih dari dua puluh tahun yang lalu, ibu saya memiliki usia yang sama seperti kamu sekarang, sekitar tujuh belas tahun. Beliau adalah orang yang ramah dan baik pada semua orang. Kirana palsu yang merupakan ibu dari David adalah sahabat karib ibu saya," tutur Raven waktu itu.
"Ibu saya mempunyai dua sahabat karib, yaitu Dina dan Salma. Dina adalah nama asli dari Kirana palsu, ibunya David. Kirana yang asli merupakan pembully paling kejam di sekolah. Dulu, Kirana yang asli sering membully sahabat ibu saya yang bernama Salma, sampai dia memutuskan untuk bunuh diri karena tidak sanggup dibully lagi," sambung Raven dengan wajah tanpa ekspresi.
Aliesha mendengarkan dengan seksama. Gadis itu terkesiap saat pria itu menyebut nama Salma, perempuan cupu yang merupakan korban terakhir yang ia bully sebelum kematiannya. Ia tidak menyangka bahwa ternyata Salma adalah sahabat karib dari ibu Raven.Â
"Sorry, siapa nama ibu lo?" tanya Aliesha ragu.
"Nama ibu saya adalah Kayla Rahmawati." Raven tersenyum kecil saat pria itu menjawab pertanyaan dari Aliesha.
Aliesha tersenyum dingin. Ternyata benar, ibu Raven adalah Kayla, perempuan yang suka ikut campur tiap kali ia membully seseorang.
"Boleh saya lanjut ceritanya?" tanya Raven.Â
Aliesha mengangguk. "Silahkan," jawabnya.
Raven pun melanjutkan, "Dua hari setelah Salma bunuh diri, Dina datang ke ibu saya. Perempuan itu meminta ibu saya pergi ke rooftop lima menit sebelum bel istirahat berbunyi. Ibu saya dengan polosnya pergi ke sana sesuai instruksi yang diberikan perempuan itu."
Raven terlihat mengepalkan tinjunya erat. "Saat ibu saya sampai di sana, Kirana yang asli sudah jatuh dari rooftop. Dina yang menyuruh ibu saya datang ke sana sudah tidak terlihat. Ibu saya yang pada saat itu tidak tahu apa-apa hanya bisa berdiri dengan tubuh bergetar ketakutan," lanjut pria itu lagi.
"Lalu, apa yang terjadi?" tanya Aliesha. Gadis itu juga mengepalkan tangannya, merasa geram mendengar cerita Raven. Ternyata, Dina adalah orang yang mendorongnya.
"Pada akhirnya, ibu saya dimasukkan ke penjara selama beberapa tahun," jawab Raven melalui gigi terkatup.
Aliesha membuang napas kasar. Ia tidak tahu apakah ia bisa mempercayai cerita Raven atau tidak. Pasalnya, banyak sekali celah dari cerita pria itu.
Jika benar ibunya Raven masuk penjara selama beberapa tahun, lantas di usia berapakah ibunya menikah dengan ayahnya? Raven saja sudah berusia sekitar dua puluh empat tahun sekarang.
Jika ibunya benar berumur tujuh belas tahun di tahun itu, seharusnya umurnya sekarang baru berusia empat puluh tahun. Perbedaan usia Raven dan ibunya adalah enam belas tahun.
Mungkinkah Raven lahir sebelum ibunya masuk penjara? Itu sangat tidak mungkin.
Aliesha mempercepat langkah kakinya saat keluar dari lift. Gadis itu memasukkan password, kemudian membuka pintu rahasia itu. Ia harus mencari buku diary milik Salma yang ia tinggalkan di ruangan itu.
Awal ia membaca buku diary itu, ia tidak terlalu peduli karena tidak mengetahui siapa penulisnya. Namun sekarang, ia harus memastikan apakah itu diary milik Salma atau bukan.
Setelah mencari cukup lama, Aliesha akhirnya menemukan diary itu tergeletak di bawah kolong meja. Aliesha mengambil diary itu dan membaca isinya.
Itu adalah ketiga kalinya ia membuka buku itu. Di halaman pertama, hanya ada curhatan penulis tanpa menyebutkan nama penulis.
Karena tidak sabar, Aliesha akhirnya membuka curhatan terakhir penulis. Akhirnya, di halaman itu penulis menyebutkan namanya.
Surat Untuk Bunda
Bunda, maafin Salma.
Salma harus ninggalin Bunda.
Tapi ... Salma beneran udah gak sanggup, Bun.
Selama ini Salma dibully di sekolah.
Salma gak punya siapa-siapa, hanya buku ini tempat Salma curhat.
Bunda terlalu sibuk sama pekerjaan Bunda, jadinya gak punya waktu buat dengerin cerita Salma.
Bunda jangan sedih ya kalau Salma pergi.
Salma sayang Bunda :)
Tangan Aliesha bergetar saat perasaan bersalah menggerogoti hatinya. Ia bertanya-tanya, mengapa dulu ia sekejam itu? Ia menjadi penyebab banyak orang bunuh diri hanya karena keegoisannya sendiri.
Aliesha terduduk lesu di lantai. Ia sadar bahwa mungkin ini adalah ganjaran untuknya karena sering membully orang lain. Ia tidak berhak menghakimi orang yang mendorongnya dari rooftop pada saat itu.
Aliesha mengangkat kepalanya ke atas. Saat gadis itu menundukkan kepalanya, air matanya mulai jatuh secara perlahan. Ia menyesal telah membully banyak orang hanya karena ingin menarik perhatian kakeknya.
Seandainya saja ia tidak membully orang lain, mungkin saja ia masih berada di tubuh lamanya sekarang. Ia masih bisa melihat kakeknya yang selalu berwajah datar setiap hari. Aliesha yang asli juga masih bisa menjalani kehidupannya yang bahagia.
Aliesha menangis di ruang rahasia selama satu jam lebih. Gadis itu sampai tertidur di sofa saking lelahnya ia menangis.
David yang berada di kelas yang sama dengan Aliesha terus-menerus melihat ke meja gadis itu yang kosong sejak tadi. Pria itu merasa penasaran ke mana perginya gadis itu.
***
Ketika bel pulang sekolah berbunyi, Liam bersama Dhafin dan juga Xander pergi ke kelas Aliesha untuk mengajaknya pulang bersama.
Saat mereka sedang menuruni tangga menuju lantai dua, secara tidak sengaja mereka berpapasan dengan Kenzie, Farrel, dan Keenan yang sepertinya juga akan pergi ke kelas gadis itu.
Liam memasukkan satu tangannya ke dalam saku celana dengan sikap cool. Pria itu menunjukkan senyum miring pada Kenzie dan kawan-kawan. Dhafin dan Xander juga melakukan hal yang sama.
Liam dengan sengaja menabrakkan bahunya pada bahu Kenzie saat pria itu berjalan melewatinya. Kenzie hanya menatap Liam datar.
Begitu mereka sampai di pintu kelas Aliesha, mereka tidak melihat gadis itu ada di dalam kelas. Hanya ada David yang terlihat sedang menenteng tas gadis itu di tangannya.
"Aliesha mana?" tanya Kenzie dan Liam bersamaan.
Kedua pria itu saling memberikan tatapan tajam pada satu sama lain.
David mendesah. "Gue gak tahu," jawab pria itu.
Kedua pria itu menautkan alis mendengar jawaban David.
"Kok lo gak tahu? Lo kan sekelas sama dia," gerutu Liam.
David mendengus. "Bukan berarti gue sekelas sama dia, trus gue bisa selalu ngikutin dia kemanapun dia pergi."
Liam mengangguk. "Iya juga ya," balas pria itu.
"Lagipula ... Aliesha udah gak ada di kelas sejak pelajaran terakhir dimulai," ucap David lagi. Pernyataannya membuat keenam pria itu terkejut.
"Hah?!" seru mereka kompak.
David mengusap dagunya dengan pandangan ke atas saat pria itu sedang berpikir. "Kayaknya gue tahu dia ada di mana," ujarnya tiba-tiba.
"Di mana?" serbu Liam dan Kenzie yang lagi-lagi secara bersamaan.
"Kalau kalian mau tahu, ikut gue!" kata David.
Pria itu lalu menuntun enam orang lainnya menuju gedung lapangan indoor. Saat mereka berbelok ke pintu samping, Liam menghentikan langkah kakinya.
"Woi, Vid! Kok kita lewat situ?" tanya Liam heran.
David memutar matanya malas. "Gak usah banyak tanya. Mending lo ikut aja. Kalau gak, lo gak usah ikut."
Liam dengan cepat menutup mulutnya, kemudian mengikuti langkah David lagi.
"Gila! Gue baru tahu ternyata ada lift di sini," komentar Dhafin saat mereka memasuki lift.
Xander mengangguk setuju. "Padahal kita udah tiga tahun sekolah di sini. Gak nyangka gue ternyata ada lift buat naik ke lantai atas."
"Lahh ... masa kalian gak tahu kalau ternyata di sini ada lift?" kata Farrel seraya memberikan tatapan aneh pada Xander dan Dhafin.
"Iya nih. Percuma lo berdua sekolah di sini selama tiga tahun," timpal Keenan disertai senyum mengejek.
Dhafin dan Xander menatap Keenan dan Farrel kesal. Namun mereka tidak berani memulai pertengkaran di dalam lift yang sempit itu.
Liam menatap David curiga. "Kok lo tahu kalau di sini ada lift, Vid?" tanya pria itu.
David mengangkat bahunya tak acuh. "Ini sekolah milik keluarga gue. Wajar dong kalau gue tahu."
Kenzie mengernyit. "Gue juga bagian dari keluarga Kivandra, kok gue gak tahu?" tanya pria itu.
"Ya ... kan lo sebelumnya gak sekolah di sini b*go!" David menatap Kenzie malas.
Kenzie mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. Ketujuh pria itu keluar dari lift saat pintu lift terbuka. David tidak membawa mereka ke ruang rahasianya. Sebaliknya, pria itu berjalan menuju kolam renang.
Melihat kolam renang itu kosong, David menjadi yakin kalau Aliesha ada di ruang rahasianya. Tapi, darimana gadis itu tahu password ruang rahasianya? Berpikir positif, mungkin saja gadis itu mengetahuinya saat melihatnya memasukkan password ketika ia mengajak gadis itu ke sana.
"Aliesha mana? Katanya lo tahu dia ada dimana," tanya Liam saat pria itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling kolam renang.
David menggeleng. "Kayaknya dia gak ada di sini. Kita harus ke tempat lain."
"Ck! Jadi sebenarnya, lo tahu Aliesha ada dimana atau nggak?" decak Liam.
David angkat bahu. "Kalau gak dicek kan gak bakal tahu."
David bersama enam orang lainnya lalu keluar dari sana. Pria itu kembali menuntun mereka menuju ruang rahasianya. Takut mereka akan tahu password ruang rahasianya, pria itu dengan hati-hati memasukkan password-nya.
Setelah pintu terbuka, enam orang yang ada di belakang memandang takjub ruangan di dalamnya.
"Ini ruangan apa, Vid?" tanya Liam dengan mata berbinar.
"Ruang rahasia milik gue," jawab David seadanya.
Ketujuh pria itu masuk ke dalam. Awalnya semua orang menatap takjub sekeliling ruangan, namun pandangan mereka terhenti pada satu objek di atas sofa.
Itu adalah Aliesha. Gadis itu terlihat tertidur nyenyak dengan wajah sembab. Walau begitu, gadis itu masih terlihat begitu cantik.