Chapter 54: 53. Bicara Dengan Kirana

Aliesha The ProtagonistWords: 9806

Ketujuh pria itu berjalan mendekati Aliesha. Mereka mengerubungi gadis itu seperti baru saja melihat permata paling indah di dunia. David, Liam, dan Kenzie berjongkok di depan gadis itu.

Keenan, Dhafin, Xander, dan Farrel berdiri di belakang sofa. David mengulurkan tangannya menyentuh wajah gadis itu.

"Dia baru habis nangis," ucap David ketika pria itu merasakan sisa air mata di wajah Aliesha.

"Lo bilang ini ruang rahasia milik lo. Kenapa Aliesha bisa masuk ke sini?" tanya Liam curiga.

Pertanyaan Liam membuat semua orang yang ada di sana menatap lurus ke arah David, menunggu jawaban dari pria itu.

David menghela napas panjang. "Gue sempat bawa dia ke sini sebelumnya, makanya dia tahu tempat ini," jelasnya.

Semuanya manggut-manggut. David tidak tahu bahwa bahkan jika pria itu tidak memperkenalkan ruangan itu pada Aliesha, gadis itu sudah mengetahuinya duluan karena itu adalah ruang rahasia miliknya.

"Emangnya lo ngasih password ruangan ini ke Aliesha?" tanya Farrel heran.

David terdiam. Pria itu lalu mengangguk dengan ekspresi tak yakin. Tindakannya membuat keenam pria lainnya mengernyitkan alis, namun tidak ada yang bertanya lebih lanjut.

"Btw, ruangan ini bagus banget. Sabi nih kalau dijadiin markas," ucap Keenan sembari melihat sekeliling ruangan.

David menatap Keenan aneh. "Sorry, ini ruangan pribadi. Gue gak mau ruang pribadi gue dipake ngumpul sama orang asing," tolaknya cepat.

Keenan menatap Kenzie. "Ken, menurut lo gimana?" tanya pria itu.

Kenzie menoleh, pria itu lalu menatap Keenan datar. "Ini ruangan bukan punya gue," balasnya.

Keenan membuang napas pasrah. Pada saat itu, suara lenguhan terdengar. Mata Aliesha yang semula tertutup kini mulai membuka secara perlahan. Gadis itu menatap ketujuh pria itu dengan tatapan linglung.

"Kok kalian semua ada di sini?" tanyanya dengan suara parau khas bangun tidur.

David tersenyum lembut. "Gue yang bawa mereka ke sini. Lo gak apa-apa?"

Aliesha merubah posisinya menjadi duduk. "Gue baik-baik aja," jawabnya.

Aliesha berdehem saat merasakan tenggorokannya kering. David dengan sigap mengambil air untuk gadis itu. Selesai minum, Aliesha tersenyum tipis dengan mata sayu. Kelihatan sekali bahwa gadis itu masih ingin tidur.

"Ini jam berapa?" tanya Aliesha.

Ketujuh pria itu secara serempak melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan mereka.

Liam adalah orang pertama yang menjawab. "Jam lima sore, Lis."

Aliesha manggut-manggut, ternyata ia tidur cukup lama. Gadis itu dengan perlahan beranjak dari sofa menuju pintu. Ketujuh pria itu menatap lurus ke arah gadis itu.

"Mau ke mana, Lis?" tanya Farrel.

Aliesha berbalik. "Ngambil tas di kelas," jawabnya.

David dengan cepat menunjukkan tas gadis itu. "Ini tas lo, Lis. Gue udah bawa ke sini," ucap pria itu.

Aliesha menatap tas itu cukup lama. Gadis itu kemudian mengangguk, lalu mengambil tas itu dari tangan David.

"Thanks," kata gadis itu.

Setelah memakai tasnya, Aliesha langsung pergi dari sana. Ketujuh pria itu mengikuti langkah gadis itu dari belakang. Tiba di tempat parkir, ketujuh pria itu dengan cepat menghentikan Aliesha saat gadis itu akan masuk ke dalam mobil.

"Bentar, Lis!" seru mereka serempak.

Aliesha menghentikan tangannya yang akan membuka pintu mobil. Gadis itu mengangkat kedua alisnya pada ketujuh pria itu.

"Biar gue aja yang ngantarin lo pulang, ya?" pinta Liam cepat.

Aliesha mengernyit. "Kenapa lo mau ngantarin gue?"

Liam tersenyum lebar. "Ya ... kan lo temen gue, Lis."

"Biar aku aja yang ngantarin kamu, Lis." Kenzie menimpali.

Aliesha menatap Kenzie malas. "Gue bisa nyetir sendiri."

Kenzie, Farrel, dan Keenan membelalak kaget. Mereka cukup terkejut dengan cara bicara Aliesha yang sangat berbeda dari terakhir kali mereka bertemu.

"Cara ngomong kamu udah beda ya, Aliesha." Kenzie berucap kaku.

Aliesha tersenyum tipis. "Gak kok, biasa aja," balasnya cuek.

Gadis itu lalu membuka pintu mobil dan masuk ke dalam. Ia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Ketujuh pria yang ia tinggalkan dengan cepat naik ke kendaraan mereka masing-masing, kemudian mengikuti mobil gadis itu dari belakang.

Setelah memastikan Aliesha sampai di rumahnya dengan selamat, ketujuh pria yang sebelumnya mengantarnya bergegas pulang ke rumah mereka masing-masing.

***

Aliesha bolos sekolah, itu bukanlah pertama kali baginya. Gadis itu dengan seragam lengkap mengemudikan mobilnya menuju rumah kakeknya.

Ia yakin, David pasti sudah sampai di sekolah sekarang. Seharusnya hanya tersisa Kirana dan pelayan saja yang ada di rumah itu.

Begitu sampai, Aliesha mengklakson mobilnya untuk memberi tanda pada satpam yang berjaga. Melihat mobil yang familiar, satpam itu langsung membuka pagar yang tertutup.

"Selamat pagi, Dek. Ngapain ke sini?" sapa satpam itu.

Aliesha tersenyum lebar. "Saya ada perlu sama Tante Kirana, Pak. Saya boleh langsung masuk kan?" tanya gadis itu.

Satpam itu terlihat ragu, namun dengan cepat membiarkan Aliesha masuk ke rumah. Seorang pelayan mengantarkan Aliesha ke ruang tamu, sedangkan pelayan lainnya memanggil Kirana yang ada di kamarnya di lantai tiga.

"Siapa yang datang?" tanya Kirana memastikan.

Pelayan itu menunduk. "Dia bilang, namanya Aliesha Nyonya," jawabnya.

Kirana mengernyit. "Untuk apa lagi anak itu datang ke sini?" gumamnya lirih.

Wanita itu lantas turun ke lantai satu menggunakan lift. Dengan sikapnya yang angkuh, Kirana berjalan menghampiri Aliesha yang terlihat sangat tenang.

"Ada apa kamu mencari saya?" tanya Kirana tanpa basa-basi.

Alisha tersenyum tipis. "Selamat pagi, Tante. Apa kabar?" sapa Aliesha sopan.

Kirana mendengus saat wanita itu melipat tangannya. "Gak usah sok akrab kamu. Gara-gara kamu, anak saya David dipukul sama Papanya," marahnya.

"Kok gara-gara saya?" Aliesha memandang Kirana dengan senyum tertahan.

Kirana melotot. "Katakan! Apa yang membawamu ke sini?" tanya wanita itu mengalihkan pembicaraan. Ia tidak ingin mengatakan kalau David telah jatuh cinta pada gadis itu.

Aliesha berdiri, gadis itu mendekati Kirana yang perlahan mundur ke belakang. Wanita itu tidak menyadari ada sofa di belakangnya, dengan cepat ia tersandung dan terduduk di sofa.

Aliesha mendekatkan mulutnya ke telinga Kirana, membuat wanita itu bergidik.

""Saya sudah tahu siapa pembunuh dari kejadian pembunuhan lebih dari dua puluh tahun yang lalu di rooftop," bisik Aliesha.

Mata Kirana membulat tak percaya. Wanita itu mencengkeram lengan Aliesha kuat.

"Jangan bohong! Tidak ada seorangpun yang tahu kejadian itu," ujar Kirana panik.

Aliesha melepaskan cengkeraman wanita itu, lalu mundur ke belakang. Gadis itu meluruskan tubuhnya dengan tatapan meremehkan saat menatap Kirana.

Aliesha menyeringai. "Saya bahkan tahu siapa yang mati saat insiden itu terjadi."

Kirana menatap Aliesha nyalang. "Kamu bohong! Kamu bohong kan?!" desaknya.

"Biar saya tebak." Aliesha menatap kukunya sebelum mengalihkan perhatiannya pada wanita itu. "Anda bukan Kirana yang asli kan? Karena, Kirana yang asli sudah mati," sambungnya dengan wajah tanpa ekspresi.

Tubuh Kirana mulai bergetar. Mata wanita itu memandang ke sana kemari, seolah melihat apakah ada orang lain yang mendengarkan percakapan mereka.

Wanita itu dengan paksa menarik tangan Aliesha dan menyeretnya memasuki lift. Begitu tiba di lantai tiga, wanita itu membawa Aliesha masuk ke kamarnya, kemudian mengunci pintu kamarnya dengan sangat rapat.

"Apa yang kamu inginkan?!" tanya Kirana dengan tatapan tajam.

Aliesha tersenyum dingin. "Saya hanya mau tahu kebenarannya."

Kirana menghela napas panjang. "Kalau saya menceritakan kejadian sebenarnya, apa kamu bersedia melepaskan saya?" tanya wanita itu dengan perasaan cemas.

Aliesha memicingkan matanya curiga. "Mengapa Anda terlihat sangat ketakutan, Nyonya Kirana Wijaya?" tanyanya.

"Jangan panggil saya seperti itu. Kamu sudah tahu kalau saya bukan dia," ujar wanita itu.

Aliesha mengangguk. "Oke. Tapi, saya ingin mendengar cerita yang sebenarnya. Bukan cerita yang Anda karang sesuka hati," peringatnya.

Kirana menatap Aliesha lekat. "Sebelum itu, saya ingin bertanya."

"Apa?" Aliesha mengangkat kedua alisnya.

"Kenapa kamu sangat ingin tahu tentang kejadian itu? Bukankah kejadian itu tidak ada hubungannya denganmu?" tanya wanita itu.

Aliesha terdiam. Gadis itu mengalihkan perhatiannya ke lantai saat gadis itu menjawab, "Tentu saja kejadian itu hubungannya dengan saya."

"Bagaimana bisa kejadian itu bisa berhubungan dengan kamu?" tanya Kirana kepo.

Aliesha memutar matanya malas. "Anda tidak perlu tahu. Sekarang ceritakan, cepat!" suruhnya.

Kirana mengangguk. Belum sempat wanita itu bersuara, Aliesha sudah bertanya lebih dulu.

"Tunggu! Siapa nama asli Anda?" tanya gadis itu.

"Nama asli saya adalah Kayla Rahmawati," jawab wanita itu.

Aliesha menautkan kedua alisnya dalam. "Bukankah Anda bernama ... Dina?" tanyanya ragu.

Kirana terlihat bingung. "Kata siapa?" tanya wanita itu.

Aliesha mendekat. "Sudah berapa lama Anda menikah dengan suami Anda?"

Kirana terlihat berpikir. Beberapa menit kemudian, wanita itu menjawab, "Sekitar delapan belas tahun. Ada apa?"

"Teman saya yang bernama Kenzie juga salah satu anggota keluarga Kivandra. Apakah Anda mengenal ibunya?" tanya gadis itu lagi.

Kirana mengangguk. "Tentu saja saya kenal. Dia adalah kakak yang baik serta perempuan yang hebat."

Aliesha mengernyit. "Kakak?"

'Bukankah Raven mengatakan bahwa ibunya seumuran denganku di kehidupan sebelumnya? Juga, mengapa wanita ini mengaku sebagai Kayla Rahmawati?' batin Aliesha bingung.

"Iya, Kakak." Kirana mengangguk. "Saat saya mengenal ibunya Kenzie, beliau sudah memiliki anak bernama Raven. Usia ibu Kenzie dengan saya terpaut lima tahun," tutur wanita itu.

Aliesha menggigit jempolnya ketika gadis itu berpikir keras, memikirkan perkataan wanita di depannya. Jika dipikirkan kembali, perkataan wanita itu masuk akal.

Tapi, mengapa Raven berbohong padanya? Apa yang sedang direncanakan pria itu?