Aliesha menatap wanita di depannya dengan seksama saat wanita itu menceritakan cerita yang sebenarnya.
Semuanya bermula dari Kayla yang tengah duduk memperhatikan pelajaran di depannya dengan pandangan tidak fokus. Hari itu adalah dua hari setelah kepergian sahabatnya, Salma. Ia merasa sangat sedih.
Ia tahu bahwa ia tidak akan bisa mencerna pelajaran yang sedang guru ajarkan dengan baik. Maka dari itu, Kayla mengangkat satu tangannya ke atas untuk meminta izin.
 "Ada apa, Kayla?" tanya guru yang mengajar ketika melihat Kayla mengangkat tangannya.
Gadis itu menjawab, "Saya mau izin ke toilet, Pak."
Setelah guru itu memberinya izin, Kayla dengan cepat pergi keluar dari kelas. Gadis itu melangkahkan kakinya gontai ke sembarang arah.Â
Kayla melihat ke atas langit kala matanya mulai terasa panas. Ia yakin, air matanya akan luruh sebentar lagi. Saat gadis itu akan mengalihkan perhatiannya ke tempat lain, ia tidak sengaja melihat pembully itu berdiri di rooftop.
Kirana, gadis yang telah membully sahabatnya itu terlihat sedang melihat ke kejauhan. Kayla menautkan alisnya saat melihat ada orang lain yang berdiri di belakang Kirana.
Gadis itu menutup mulutnya menggunakan kedua tangannya, matanya membelalak kaget saat melihat orang itu mendorong Kirana dari belakang. Tubuh Kayla membeku untuk sesaat.
Ia sangat takut. Dengan langkah kaku, Kayla berjalan menghampiri tubuh Kirana yang berlumuran darah segar. Gadis itu lalu pergi sambil menggeleng-gelengkan kepalanya kuat. Ia berusaha keras mengusir kejadian tadi dari pikirannya.
Saat gadis itu akan menaiki tangga menuju kelasnya di lantai dua, ia tidak sengaja bertabrakan dengan seseorang. Gadis itu menunduk dengan perkataan maaf yang keluar dari mulutnya.
Orang yang Kayla tabrak segera meraih tangan gadis itu sebelum ia pergi.Â
"Kayla!" panggil orang itu.
Kayla mengangkat kepalanya untuk melihat orang yang memanggilnya. Menyadari itu adalah Dina, salah seorang sahabatnya selain Salma, gadis itu bernapas lega.Â
Di detik berikutnya, napas Kayla tercekat saat melihat pakaian yang dipakai Dina sama dengan orang yang ia lihat mendorong Kirana dari rooftop.
"Din, lo habis dari mana?" tanya Kayla curiga.
Dina terlihat mengernyit, gadis itu kemudian terkekeh. "Jadi gue gak salah lihat. Ternyata lo yang mergokin gue bunuh tuh pembully," ucap gadis itu tanpa perasaan bersalah.
Kayla menutup mulutnya saat gadis itu menatap Dina dengan tatapan tak percaya.
"Kenapa lo ngelakuin itu, Dina? Lo gak takut masuk penjara?" tanya Kayla tak habis pikir.
Dian mengangkat bahunya dengan tatapan tak peduli. "Gue punya rencana. Karena lo udah mergokin gue, lo harus bantuin gue. Kalau nggak, gue bakal bilang ke semua orang bahwa lo yang dorong Kirana dari rooftop," ancamnya.
Tubuh Kayla bergetar ketakutan. Ia dengan terpaksa mengiyakan ajakan Dina untuk membantu gadis itu. Keduanya lantas kembali ke tempat dimana Kirana jatuh.
Kayla tertegun melihat penjaga sekolah mereka sudah berdiri di samping tubuh Kirana. Gadis itu mencengkeram lengan Dina karena merasa takut.Â
"Tenang aja, Kay. Gue udah bayar satpamnya buat bantuin kita," ujar Dina dengan seringai kejam.
Kayla menatap Dina tak percaya. Ia merasa seperti tidak lagi mengenal Dina, sahabatnya. Dina yang berada di sampingnya kini terlihat seperti orang lain.
"Cepetan, Pak! Sebelum ada yang lihat," suruh Dina pada penjaga sekolah.
Penjaga sekolah itu mengangguk patuh. "Siap, Non!"
Kayla, Dina, dan penjaga sekolah yang sedang menggendong tubuh Kirana berjalan menuju pintu gerbang dimana sudah ada mobil yang menunggu kedatangan mereka.
Penjaga sekolah dengan sigap memasukkan tubuh Kirana ke dalam bagasi mobil. Setelah itu, Dina memberikan segepok uang kertas berwarna merah kepada satpam itu.
Dina menatap satpam itu tajam. "Ingat ya, Pak! Ini rahasia diantara kita. Awas aja kalau Bapak bilang ke orang lain, anak istri Bapak gak akan selamat. Paham, Pak?"Â
Satpam itu mengangguk. "Tenang, Non. Saya gak akan bilang ke siapa-siapa."
Dina dan Kayla lalu masuk ke dalam mobil. Kayla menatap Dina ragu.
"Din, jasad Kirana mau dibawa ke mana?" tanya Kayla saat melihat jalan yang dilalui mobil itu begitu terpencil.
Dina tersenyum lebar. "Nanti juga lo tahu," jawab gadis itu seadanya.
Pada akhirnya, Kayla berhenti bertanya. Beberapa saat kemudian, mobil itu berhenti di sebuah gedung yang terlihat seperti gedung rumah sakit. Hanya saja, gedung itu terlihat kosong dan tidak terawat.
Kayla mengikuti Dina turun dari mobil. Gadis itu terkejut saat melihat orang yang mengemudi ternyata memiliki usia yang sama dengan mereka. Walau ia tidak mengenal orang itu, Kayla yakin orang itu juga bersekolah di sekolah yang sama dengannya.
Orang yang tadi mengemudi membuka bagasi mobil, kemudian menggendong tubuh Kirana dan membawanya memasuki gedung. Dengan langkah ragu, Kayla berjalan di belakang Dina dan orang itu.
Kondisi di dalam gedung sangat berantakan dan juga gelap. Mereka sampai harus menggunakan cahaya senter di hp mereka agar tidak tersandung. Padahal keadaan di luar begitu terang, mengapa di dalam gedung itu begitu gelap?
Karena tidak ada lift, mereka harus menaiki tangga untuk pergi ke lantai atas. Tiba di lantai empat, mereka memasuki ruangan yang diterangi cahaya lampu.
Kayla mengernyitkan alis dengan tatapan curiga. Walau begitu, ia tidak berani mengungkapkan rasa curiganya.
Tanpa aba-aba, Dina meraih tangan Kayla dan memutarnya ke belakang. Kayla sangat terkejut, gadis itu sampai memberontak karena tindakan Dina yang begitu tiba-tiba.
"Tenang, Kay!" bentak Dina.
Kayla langsung terdiam. Gadis itu tidak lagi berontak seperti tadi. Masih dengan tangan yang berada di punggung, gadis itu berjalan mengikuti instruksi Dina. Di dalam ruangan itu, Kayla melihat ada banyak sekali dokter di sana.
Dokter itu berjumlah delapan orang, Kayla menghitungnya di dalam hati. Dengan perasaan was-was, Kayla dituntun menuju brankar rumah sakit.
Kayla bingung saat tubuhnya dibaringkan di brankar itu. Bukankah seharusnya Kirana yang dibaringkan di sana?
Kayla melihat ke arah Dina. "Din," panggil gadis itu dengan mata berkaca-kaca.
Dina tersenyum tipis. "Tenang aja, Kay. Gak bakal sakit kok."
Alis Kayla membentuk kerutan yang sangat dalam, ia tidak mengerti dengan perkataan Dina barusan. Belum sempat ia berpikir, gadis itu merasakan sebuah jarum suntik telah menembus tangannya.
Kurang dari satu menit, rasa kantuk telah menguasai dirinya. Kayla berusaha keras untuk menahan dirinya agar tetap sadar, namun tidak berhasil.Â
Entah sudah berapa lama Kayla tertidur, gadis itu bisa merasakan seluruh tubuhnya terasa sangat kaku. Ia tidak bisa mengangkat tangannya ke atas, menggerakkan sedikit tangannya saja terasa sangat sulit.
Gadis itu mengerjapkan matanya beberapa kali. Ia bisa melihat dengan jelas wajah orang-orang yang tidak ia kenal. Tapi, sepertinya ia pernah melihat wajah-wajah itu sebelumnya.
Setelah berpikir keras, Kayla akhirnya ingat kalau mereka adalah dokter yang ia lihat sebelumnya. Saat ingin bersuara, ia akhirnya sadar bahwa ternyata bukan hanya tubuhnya saja, bahkan wajahnya pun terasa kaku.
Ia tidak bisa mengeluarkan suara apapun. Meski demikian, mata dan telinganya masih bisa berfungsi dengan baik. Samar-samar, Kayla bisa mendengar percakapan yang terjadi diantara para dokter. Ia bahkan bisa mendengar suara Dina yang sangat ia kenal.
"Nona, pasien mulai sadar," lapor salah satu dokter.
"Biarkan saja. Masih butuh berapa lama lagi sampai operasinya selesai?" tanya Dina dengan nada malas.
Dokter lainnya menjawab, "Sebentar lagi, Nona. Sekitar sejam lagi."
"Baguslah. Pastikan kemiripan mereka mencapai seratus persen. Jangan sampai gagal!" perintah Dina.
Para dokter mengangguk serempak. "Baik, Nona."
Kayla tidak mengerti sebenarnya apa yang sedang orang-orang itu bicarakan. Karena terlalu lelah, mata gadis itu kembali tertutup. Sepertinya ia kembali tertidur seperti sebelumnya.