Chapter 56: 55. Kuburan Kirana

Aliesha The ProtagonistWords: 9362

Kayla terbangun lagi. Gadis itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan, masih dalam kondisi berbaring. Ruangan yang ia tempati terlihat sangat rapi dan bersih, tidak seperti ruangan yang ia masuki bersama Dina sebelumnya.

Gadis itu menyadari tubuhnya tidak lagi terasa kaku, hanya saja ia merasa sangat lemas. Ia tidak kuat mengangkat tangannya ke atas saking lemasnya, namun ia bisa menggerakkan ujung jarinya walau sedikit.

Pada saat itu, ruang rawat inapnya terbuka. Kayla menoleh, gadis itu mendapati seorang suster masuk ke kamarnya. Suster itu terlihat terkejut, dia langsung berlari ke luar ruangan.

Tak berapa lama kemudian, suster tadi masuk lagi bersama dokter ke dalam, diikuti Dina di belakangnya. Kayla menatap Dina tajam. Ia tidak tahu apa yang telah gadis itu lakukan terhadapnya.

"Nona, perbannya sudah bisa dibuka. Apakah Anda mau saya membukanya untuk Anda?" tanya dokter itu setelah memeriksa kondisi Kayla.

Dina tersenyum lebar. "Tolong, Dokter."

Dokter itu mengangguk. Belum sempat dokter itu menggunting perban yang ada di wajah Kayla, gadis itu sudah menahan tangan dokter itu terlebih dahulu.

"Stop! Saya tidak mengizinkan Anda menyentuh wajah saya, Dokter." Kayla menatap dokter dengan tatapan datar.

Dokter itu menatap Dina. Perempuan itu dengan langkahnya yang angkuh berjalan mendekati brankar Kayla.

"Kay, lo gak mau lihat wajah baru lo?" tanya Dina dengan senyum tipis.

Kayla menggeleng. "Maksud lo apa, Din? Wajah baru apa? Gue gak ngerti," ucapnya dengan tatapan bingung.

Dina berdiri sambil bersedekap dada. "Lo percaya sama gue kan? Biarin Dokter buka perbannya, oke?" bujuk Dina.

Kayla ragu, namun gadis itu tetap mengangguk patuh. Setelah dokter selesai melepas perbannya, Dina meminta cermin dari suster untuk diberikan kepadanya.

Kayla menerima cermin itu dengan perasaan campur aduk. Entah kenapa ia memiliki firasat buruk tentang apa yang akan terjadi selanjutnya.

Dengan perlahan, Kayla mengarahkan cermin itu ke depan wajahnya. Saat melihat wajah yang sangat tidak asing di cermin, mata gadis itu membulat tak percaya.

"Apa yang lo lakuin sama gue, Din?!" tanya Kayla dengan ekspresi cemas dan takut.

Dina tertawa. Gadis itu memberikan isyarat pada dokter dan suster untuk pergi dari sana.

Setelah kedua orang itu pergi, Dina berkata, "Seperti yang lo lihat. Sekarang lo bukan lagi Kayla, melainkan Kirana Wijaya," ucap gadis itu tanpa perasaan bersalah sedikitpun.

Kayla menggeleng tak percaya. "Kenapa lo lakuin ini sama gue, Din? Gue sahabat lo kan? Kenapa lo tega?!" tanya gadis itu dengan air mata yang mulai bercucuran.

"Justru karena lo sahabat gue, Kay." Dina menatap Kayla penuh arti.

"Mulai sekarang gue bukan sahabat lo!" bentak Kayla sembari terisak.

Dina angkat bahu dengan ekspresi tak peduli. Gadis itu lalu duduk di kursi yang terletak di samping brankar.

"Kayla, lo gak bisa berbuat apa-apa sekarang. Lo harus nurutin apa kata gue kalau lo mau selamat," tutur Dina dengan ekspresi serius.

Gadis itu kemudian mencondongkan tubuhnya ke arah Kayla sambil menautkan kedua tangannya.

"Siapa suruh lo mergokin gue saat gue lagi bunuh Kirana. Awalnya, gue mau bikin seolah-olah Kirana itu mati karena bunuh diri. Tapi, gue berubah pikiran. Jasad Kirana udah gue kirim ke rumah lo," lanjut gadis itu dengan seringai iblis.

Kayla tercengang. Tidak memedulikan tangannya yang sedang dipasangi selang infus, gadis itu menarik tangan Dina secara kasar.

"Bilang sama gue, kalau perkataan lo barusan itu bohong, Din!" pinta Kayla dengan mata melotot.

Dina terkekeh. "Gue serius, Kay. Keluarga lo percaya karena sebelum gue bawa jasadnya ke sana, gue udah nyuruh dokter buat nukar wajah kalian berdua."

"Lo jahat, Din!" teriak Kayla histeris.

"Lo gila! Kenapa lo lakuin ini sama gue? Kenapa, Din?!" Kayla kembali menangis sesenggukan.

"Gak usah nangis!" bentak Dina.

Gadis itu menarik rambut Kayla ke belakang. "Dengerin gue, Kay. Gue gak akan segan nyakitin keluarga lo kalau lo gak mau ikutin apa kata gue!" ancamnya.

Tubuh Kayla bergetar ketakutan kala gadis itu membayangkan keluarganya dalam bahaya. Dengan amat sangat terpaksa, Kayla akhirnya menganggukkan kepalanya.

Dina mengelus rambut Kayla lembur. "Good girl. Gue udah nelpon Kakek Wijaya. Mungkin sebentar lagi beliau tiba. Lo udah tahu kan apa yang harus lo lakuin?"

Kayla mengangguk. Setelah itu, Dina pergi entah ke mana. Tak lama kemudian, kakek Wijaya yang merupakan kakek dari Kirana Wijaya masuk ke ruang rawat inapnya.

Kayla dengan keringat dingin yang bercucuran berusaha keras bersikap senormal mungkin. Ia tidak menyangka ternyata kakek Kirana adalah orang yang dingin bahkan terhadap cucunya sendiri.

Mulai dari saat itu, Kayla Rahmawati sudah menjelma menjadi Kirana Wijaya. Menjalani kehidupan sebagai cucu dari pemilik sekolah ternyata tidak begitu menyenangkan seperti yang ia kira.

Kayla akhirnya mengerti mengapa Kirana selalu membully orang lain. Sepertinya gadis itu merasa kesepian. Ia pasti ingin menarik perhatian kakeknya meski menggunakan cara yang begitu ekstrim.

Bagaimana Kayla bisa tahu? Tentu saja ia tahu karena ia merasakan sendiri betapa tidak pedulinya kakek Wijaya terhadap cucu kandungnya.

Aliesha mendengarkan cerita Kirana dengan tangan terkepal. Rupanya, wajahnya telah ditukar dengan wajah Kayla oleh Dina.

"Di mana Dina?" tanya Aliesha melalui gigi terkatup.

Kirana menggeleng. "Saya juga gak tahu. Semenjak saya menikah dengan suami saya, Dina sudah tidak pernah lagi terlihat."

"Selain saya, pernahkah ada orang lain yang mendatangi Anda dan menanyakan identitas asli Anda?" tanya Aliesha lagi.

Kirana menggeleng. "Tidak ada. Kamu adalah orang pertama. Itulah mengapa saya sangat terkejut," jelas wanita itu.

"Saya minta maaf, Tante. Sebelum saya pergi, saya boleh bertanya di mana jasad Kirana yang asli dikuburkan?" kata Aliesha dengan wajah menyesal.

Kirana mengangguk. "Tentu saja," balasnya seraya tersenyum tulus.

Wanita itu mengambil buku serta pena dari dalam laci, kemudian menuliskan alamat dimana tubuh Kirana yang asli dikuburkan. Wanita itu menyobek kertas yang berisi alamat yang ia tulis tadi, kemudian menyerahkannya pada Aliesha.

"Saya masih bingung apa hubungan kamu dengan Kirana. Meski begitu, saya tidak akan bertanya," ucap wanita itu setelah Aliesha menerima kertas yang ia berikan.

"Makasih, Tante. Apakah saya boleh bertemu dengan Anda apabila ada sesuatu hal yang perlu saya tanyakan?"

Kirana terlihat berpikir sejenak, kemudian mengangguk. "Sejujurnya, saya merasa beban saya sedikit terangkat saat berbicara dengan kamu. Tentu saja, saya tidak akan menolak jika kamu mau datang lagi ke sini."

Aliesha hanya tersenyum. Setelah pamit, gadis itu mengendarai mobilnya menuju alamat yang diberikan Kirana. Gadis itu mencari-cari letak kuburannya yang bertuliskan nama Kayla Rahmawati.

Setelah menemukannya, gadis itu melihat ada orang lain yang berdiri di depan batu nisannya. Setelah dilihat lebih jelas, rupanya itu adalah Raven.

Ia tidak tahu apa yang sedang dibicarakan pria itu di depan batu nisannya, karena jarak diantara mereka cukup jauh. Setelah Raven pergi, Aliesha mendekati batu nisan berisi tubuh lamanya.

"Hai, tubuh lama gue. Gue gak tahu apakah jiwa Aliesha yang asli ada di dalam atau enggak. Ini konyol sih, tapi gue harap Aliesha mau maafin gue karena gue udah rebut kehidupan dia," monolog gadis itu dengan sangat lirih.

Cukup lama Aliesha berdiri di sana, gadis itu akhirnya pergi dari sana. Tanpa Aliesha sadari, rupanya Raven belum pergi. Pria itu menyadari kehadiran Aliesha, itulah sebabnya pria itu berpura-pura pergi.

Disaat Aliesha terfokus pada nisan di depannya, pria itu balik dan bersembunyi dibalik pohon besar yang jaraknya cukup dekat dengan nisan Kirana yang asli.

Raven tidak bisa mendengar apa yang Aliesha ucapkan. Namun dari gerakan bibir gadis itu, ia bisa menyimpulkan ada sesuatu yang tidak beres.

***

Jam telah menunjukkan pukul sebelas siang. Untuk menjernihkan pikirannya, Aliesha melajukan mobilnya menuju taman.

Baru saja Aliesha mengulurkan tangannya untuk membuka pintu, hp gadis itu yang ada di tangannya bergetar terus-menerus. Melihat nama Liam tertera di sana, gadis itu dengan malas mengangkatnya.

"Lis, lo gak sekolah?" tanya Liam begitu panggilan terhubung.

"Hm," gumam gadis itu.

"Kenapa?" tanya Liam lagi.

Aliesha mendengus. "Emang kenapa sih kalau gue bolos sehari aja?"

"Ini bukan sekali dua kali lo bolos ya, Lis."

Suara Liam kini telah berganti menjadi suara David. Sepertinya pria itu merebut hp Liam dari tangan pria itu.

"Emang Aliesha selalu bolos selama sekolah di sini?" Itu adalah suara Kenzie.

"Emang dia gak pernah bolos sebelumnya?" tanya David dengan nada tak percaya.

Sepertinya Kenzie mengangguk, karena ucapan David selanjutnya adalah, "Wah ... lo diskriminasi sekolah kita nih, Lis."

"Ya ... terus?" Aliesha mengangkat sebelah alisnya, meski tentu saja mereka tidak bisa melihatnya.

Terdengar suara helaan napas panjang dari seberang sana. "Lo di mana? Ke sekolah sekarang, cepat!" suruh David.

"Dih, lo siapa nyuruh-nyuruh gue? Lagian nih ya, udah telat banget tahu kalau ke sekolah sekarang," balas Aliesha sewot.

"Gue gak mau tahu. Lo harus ke sekolah sekarang. Kalau nggak, gue bakal laporin lo ke guru BK," ancam David.

Aliesha mengernyit. "Dih, ngancem. Iya iya, gue ke sana," ucapnya malas.

Tanpa basa-basi lagi, gadis itu memutuskan panggilan. Aliesha langsung melajukan mobilnya menuju sekolah.