Chapter 57: 56. Nama Ibu Kenzie

Aliesha The ProtagonistWords: 9593

Aliesha sampai di sekolah setelah menempuh perjalanan kurang dari setengah jam. Karena takut ketahuan guru BK, gadis itu terpaksa memarkir mobilnya di luar gerbang sekolah.

Setelah keluar dari mobil, gadis itu berjalan menuju gerbang. Rupanya, Liam bersama enam orang lainnya sudah menunggunya di dalam pos satpam. Saat melihatnya, David meminta satpam membuka pintu gerbang untuk Aliesha.

"Mobil lo di mana, Lis?" tanya Liam saat ia celingak-celinguk mencari keberadaan mobil Aliesha.

Aliesha menoleh ke tempat mobilnya terparkir. "Tuh, di sana!" tunjuknya menggunakan dagu.

Liam mengikuti arahan Aliesha, pria itu lalu mengangguk. Setelah berterimakasih kepada pak satpam, mereka berdelapan segera pergi dari sana.

"Ini kita mau ke mana?" tanya Aliesha saat ketujuh pria itu berbelok ke arah gedung lapangan indoor.

"Ikut aja, Lis. Gak usah banyak nanya," jawab Liam.

Aliesha memutar matanya malas. Begitu mereka masuk ke dalam lift, Aliesha akhirnya bisa menebak kemana ketujuh pria itu akan membawanya.

Dan benar saja, David menuntun mereka menuju ruang rahasianya. Pria itu memasukkan password hingga terdengar bunyi klik yang menandakan pintu terbuka.

Aliesha bersama ketujuh pria itu masuk ke dalam. Gadis itu duduk di sofa dengan tangan terlipat. Tasnya sudah ia letakkan di atas meja.

"Kalian nyuruh gue ke sekolah cuma buat diajak nongkrong di sini?" tanya gadis itu sinis.

Keenan duduk di sebelah Aliesha. "Jangan marah, Lis. Nih, minum dulu," ucapnya sembari menyodorkan sebotol minuman dingin pada gadis itu.

Aliesha menerima botol itu dengan malas. Meski begitu, gadis itu tetap meminum minumannya karena ia memang sedang haus.

Liam ikutan duduk di sebelah Aliesha. "Btw, Lis. Lo kenapa gak mau masuk sekolah hari ini?" tanyanya.

Aliesha mendengus. "Ini kan sekarang gue udah ada di sekolah," ketusnya.

Liam menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Maksud gue ... tadi kan lo ada niatan mau bolos. Nah, kenapa lo mau bolos?"

Kenzie perlahan mendekat. "Sejak kapan kamu jadi sering bolos, Lis?" tanya pria itu dengan tatapan aneh.

Aliesha menatap Kenzie datar. "Bisa gak sih, gak usah ngomong pake aku-kamu. Bicaranya biasa aja," keluh gadis itu.

Kenzie sontak mengusap tengkuknya salah tingkah. Farrel yang berdiri tidak jauh dari posisinya melempar gelas plastik ke kepala pria itu.

"Wajah lo sampe merah gitu, Ken."

Kenzie menatap Farrel tajam saat pria itu meledeknya. David menghampiri Kenzie, dengan pelan menepuk pundak pria itu untuk menenangkannya.

Xander dan Dhafin tidak mau ikut campur dengan pembicaraan mereka. Kedua orang itu malah sibuk bermain biliar.

Setelah hening yang panjang, Aliesha akhirnya teringat sesuatu. Gadis itu menatap Kenzie lekat, membuat pria itu kembali salah tingkah.

"Kenapa, Lis? Kok liatin gue gitu banget?" tanya pria itu dengan wajah yang lagi-lagi memerah.

"Gue mau nanya sesuatu deh, Ken." Aliesha menatap Kenzie semakin lekat.

Liam langsung menutup mata Aliesha menggunakan kedua tangannya. "Jangan diliatin terus, Lis. Ntar lo malah jatuh cinta lagi sama dia," kata pria itu merasa cemburu.

Ucapan Liam barusan mendapatkan anggukan setuju dari beberapa orang, kecuali Kenzie yang mendelik pada pria itu.

Aliesha menarik napas panjang. Gadis itu dengan tegas melepaskan tangan Liam yang menutupi matanya.

"Please, gue lagi gak mood bercanda," ucap gadis itu dengan ekspresi serius.

Liam langsung diam. Kenzie memberikan senyum mengejek pada pria itu, membuat Liam mengepalkan tinjunya erat.

Aliesha menatap Kenzie lagi. "Gue bisa bicara berdua sama lo gak?"

Kenzie membeku, jantung pria itu langsung berdebar kencang seketika. Dengan kaku, pria itu menganggukkan kepalanya.

Aliesha dengan cepat beranjak ke luar, setelah itu berjalan menuju kolam renang. Kenzie mengikutinya dari belakang. Tiba di sana, Aliesha melepaskan sepatu dan kaos kakinya sebelum melangkah ke tepi kolam, kemudian menjulurkan kakinya ke dalam air.

Gadis itu menepuk sisi kanannya, memberi isyarat agar Kenzie duduk di sampingnya. Kenzie menurut. Pria itu ikut melepas sepatu dan kaos kakinya, kemudian menghampiri Aliesha dan duduk di sebelahnya.

"Lo mau nanya apa, Lis?" tanya Kenzie setelah pria itu duduk.

Aliesha menoleh. "Sorry, gue gak ada maksud buat nyinggung lo. Tapi ... gue boleh tahu gak, nama Nyokap lo siapa?" balas gadis itu.

Kenzie mengernyit. "Kenapa lo nanya soal itu, Lis?"

Aliesha tersenyum tipis. "Gue perlu mastiin sesuatu, Ken."

"Mastiin apa?" tanya Kenzie penasaran.

Aliesha menggeleng. "Gue gak bisa bilang. Bisa lo jawab aja gak?" katanya tanpa ekspresi.

"Nama Nyokap gue ... Melinda," lirih Kenzie.

"Sorry, kalau gue bikin lo jadi ingat sama Nyokap lo," ucap Aliesha saat gadis itu melihat tatapan sendu di mata pria itu.

Kenzie menatap Aliesha kaget. "Lo ... tahu soal Nyokap gue?"

Aliesha menggeleng. "Gue gak tahu. Tapi dari tatapan lo ... gue bisa nyimpulin sesuatu," jawab gadis itu.

Kenzie mengangguk. "Nyokap gue emang udah gak ada. Tapi ... gue gak apa-apa kok," ucap pria itu dengan senyum terpaksa.

Aliesha hanya diam, gadis itu tidak merespon sama sekali. Ia malah membuang pandangannya ke tempat lain. Jujur saja, Aliesha bisa mengerti perasaan yang sedang Kenzie rasakan, karena ia juga pernah kehilangan orangtuanya.

Dari luar pintu, Liam bersama lima pria lainnya mengintip Kenzie dan Aliesha. Mereka takut kedua orang itu akan melakukan hal-hal aneh di dalam sana.

Ketika mereka melihat kedua orang itu hanya duduk di tepi kolam, keenam orang itu akhirnya bisa bernapas lega. Meski demikian, mereka tidak langsung pergi. Mereka memutuskan untuk menunggu kedua orang itu di sana.

Suasana diantara Aliesha dan Kenzie terasa canggung. Aliesha menunduk sambil memainkan kakinya di dalam air.

"Gue boleh nanya lagi gak?" tanya Aliesha setelah beberapa menit terlewat.

Kenzie mengangguk. "Boleh," jawabnya.

Aliesha menatap Kenzie tepat di manik mata pria itu. "Lo kenal sama Kayla Rahmawati?"

Kenzie menautkan kedua alisnya sembari berpikir. Setelah cukup lama, pria itu akhirnya menggeleng.

"Emang dia siapa?" tanya Kenzie balik.

Aliesha hanya tersenyum. "Bukan siapa-siapa," jawabnya.

"Ngomong-ngomong, Lis. Sikap lo jadi beda banget ya sejak pindah ke sini," tutur Kenzie.

Aliesha mengalihkan pandangannya ke dalam air. "Emang kenapa kalau sikap gue berubah? Gak boleh?"

Kenzie menggeleng. "Bukan gitu. Gue jadi ngerasa, lo sama Aliesha yang gue kenal itu seperti dua orang yang berbeda," jelasnya.

Aliesha menatap Kenzie dengan tatapan penuh arti. "Anggap aja Aliesha yang dulu Lo kenal emang udah mati," katanya.

Meski hanya candaan, Kenzie menatap Aliesha marah. "Jangan ngomong kek gitu, Lis."

Aliesha mengangkat kedua bahunya dengan tatapan acuh tak acuh. Padahal ia mengatakan kebenarannya, sayang sekali pria yang duduk di sebelahnya tidak mempercayai ucapannya.

Enam pria yang menunggu di luar menjadi tidak sabar. Melihat keduanya hanya duduk diam-diaman di dalam sana, keenam orang itu masuk menghampiri mereka berdua.

"Udah selesai belum ngomongnya?" tanya Liam dengan ekspresi kesal.

Aliesha mengangguk. Liam bersama David dan Keenan tersenyum lebar. Farrel bersama dua orang lainnya berjalan menuju ruang ganti cowok.

"Berhubung udah ada di sini, mending kita berenang. Iya gak?" kata Farrel seraya menatap Xander dan Dhafin.

Kedua pria itu mengangguk setuju. Melihat ketiganya masuk ke sana, empat pria lainnya bergegas mengikuti mereka. Kini, hanya tersisa Aliesha sendirian di tepi kolam.

Setelah beberapa saat, ketujuh pria itu datang lagi. Seragam yang sebelumnya mereka pakai kini telah berganti menjadi pakaian renang. Ketujuh orang itu dengan penuh semangat meloncat ke dalam air. Aliesha hanya menggeleng melihat ketujuh pria itu.

***

Farzan dan Arisha kini telah resmi pacaran. Naomi yang awalnya sudah senang karena melihat hubungan kedua sejoli itu memburuk, kini mulai geregetan kembali. Matanya menatap tajam dua orang itu yang sedang duduk bercengkrama di kantin.

Seperti biasa, Bagas akan selalu menemani Naomi ke manapun gadis itu pergi. Melihat tatapan yang Naomi arahkan pada Farzan dan Arisha, Bagas hanya bisa menghela napas panjang.

"Gas," panggil Naomi tiba-tiba.

Bagas mengangkat sebelah alisnya. "Napa, Nao?" tanya pria itu.

Naomi mengaduk minumannya menggunakan sedotan. "Lo ... mau bantuin gue gak?" tanya Naomi dengan tatapan misterius.

Bagas mengernyit. "Bantuin apa nih? Kalau tindak kejahatan, gue gak berani," balas pria itu.

Naomi meminum seteguk minumannya. Gadis itu menoleh pada meja Farzan dan Arisha.

"Lo yakin gak mau bantuin gue?" tanyanya pada Bagas.

"Ya ... tergantung," jawab Bagas bijak.

Naomi menggeser minumannya ke samping. Gadis itu lalu mendekatkan wajahnya di depan wajah Bagas.

"Gak jahat-jahat amat kok," ujar gadis itu disertai senyum manis.

Bagas menggeleng. "Gue gak yakin."

Naomi mendengus, ia lalu menjauhkan wajahnya perlahan. Naomi mulai bertopang dagu saat gadis itu menatap Bagas malas.

"Ya udah sih kalau lo emang gak mau bantuin gue. Lagian juga, gue bisa kok ngelakuin semuanya sendiri," ucap gadis itu.

Bagas mendesah pasrah. "Oke, bantuin apa?" tanya pria itu akhirnya.

Naomi tersenyum lebar. "Gue mau ngasih pelajaran ke Arisha, tapi jangan sampai si Farzan tahu," bisiknya.

Bagas mengernyit. "Gimana?" tanya pria itu.

Naomi menyeringai. Gadis itu lalu membisikkan rencananya ke telinga Bagas. Pria itu menatap Naomi ragu, namun gadis itu mengangguk dengan tatapan meyakinkan.

Setelah cukup lama, Bagas pun mengangguk. Pria itu kemudian pergi entah ke mana. Naomi menatap kepergian Bagas dengan seringai lebar, kemudian tatapannya berpindah ke arah Farzan dan Arisha dengan tatapan licik. Gadis itu mendengus sebelum menyeruput minumannya lagi.