Chapter 58: 57. Saudara Sesungguhnya

Aliesha The ProtagonistWords: 9525

Arisha pergi ke toilet untuk membersihkan tangannya. Setelah selesai, gadis itu berniat kembali ke kelas, namun urung saat lehernya tiba-tiba terasa sakit dan pandangannya seketika menjadi gelap.

Bagas yang merupakan pelaku yang membuat Arisha pingsan, menggendong gadis itu seperti pengantin dan membawanya ke gudang sekolah. Seperti yang sudah diketahui, gudang adalah tempat tersepi di sekolah itu.

Jarang sekali ada orang yang berlalu lalang di sekitar situ, terutama para murid dan guru. Naomi yang juga berada di sana membuka pintu gudang agar Bagas bisa masuk dengan leluasa.

Kedua orang itu lalu mendudukkan Arisha yang tidak sadarkan diri ke sebuah kursi kosong yang ada di sana. Entah dapat dari mana, Naomi mengikat tubuh Arisha menggunakan tali tambang.

Bagas sudah menyiapkan sebuah lakban untuk ditempelkan ke mulut Arisha. Hanya dalam waktu lima belas menit, pekerjaan keduanya selesai.

"Lo beneran yakin bakal ninggalin dia sendirian di sini?" tanya Bagas saat Naomi menarik tangannya untuk keluar dari gudang.

Naomi mulai berkacak pinggang. "Kok lo mulai ragu sih. Kan kita udah sepakat tadi," kesal gadis itu.

Bagas menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Gini loh, Nao. Kalau semisal dia kenapa-kenapa gimana? Nanti kita juga yang repot," jelas pria itu.

Naomi menghela napas panjang sebelum mendelik ke arah Bagas.

"Kenapa kita mesti repot sih? Kan ntar juga kita ngirim pesan ke Farzan buat nyelamatin dia," gemas Naomi.

Bagas menatap Naomi lekat. "Kenapa lo mau ngelakuin hal ini sih, Nao?" tanya pria itu bingung.

Naomi menunduk. Tanpa sadar wajahnya kelihatan sangat suram.

"Gue mau ngeyakinin diri gue kalau mereka berdua pantas bahagia. Setelah itu, gue bakal minta orang tua gue mindahin gue ke sekolah Kivandra," tutur Naomi dengan pandangan kosong.

Bagas menepuk bahu Naomi pelan. "Gue ngerti," ucap pria itu diselingi senyuman tulus.

Keduanya lantas pergi ke kelas mereka dan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Ketika bel pulang berbunyi, Bagas dan Naomi bergegas kembali ke gudang. Keduanya langsung bersembunyi di belakang gudang untuk melihat pergerakan Arisha yang ada di dalam sana.

"Kok Arisha masih pingsan ya?" bisik Bagas mulai khawatir.

"Tenang aja, Gas. Tadi lo mukulnya gak terlalu kuat kan?" tanya Naomi yang juga ikut berbisik.

Bagas mengangguk. "Harusnya sih gak terlalu kuat," jawab pria itu.

Sembari menunggu, Naomi mengecek hpnya untuk melihat apakah pesan yang ia kirim untuk Farzan sudah dibaca atau belum. Setelah melihat centang dua berwarna biru yang menandakan pesan telah dibaca, ekspresi wajah Naomi kembali suram.

Di sisi lain, Farzan memegang hpnya dengan sangat erat saat melihat gambar yang dikirimkan nomor asing padanya. Gambar itu memperlihatkan seorang gadis yang sedang disekap di dalam gudang.

Begitu Farzan mengetahui ternyata perempuan yang ada di foto itu adalah Arisha, pria itu menjadi sangat cemas. Dengan langkah cepat, ia mulai berlari menuju kelas gadis itu.

Farzan mengedarkan pandangannya ke sekeliling kelas, tidak ada orang lagi di sana. Kelas sudah kosong, namun tas Arisha masih tergantung di samping mejanya.

Farzan masuk ke dalam kelas Arisha, kemudian mengambil tas gadis itu. Pria itu lantas berlari secepat mungkin menuju gudang. Sepertinya gambar iseng yang ia terima barusan benar adanya.

Suara langkah kaki Farzan terdengar menggema di koridor sekolah yang mulai sepi. Pria itu dengan paksa mendobrak pintu gudang yang sepertinya terkunci.

Di dobrakan ketiga, pintu gudang akhirnya terbuka. Pria itu bergegas menghampiri Arisha yang masih tidak sadarkan diri. Farzan memindah rambut yang menutupi wajah Arisha ke samping.

Melihat wajah Arisha masih sama seperti terakhir kali ia melihatnya, Farzan akhirnya bisa bernapas lega. Tanpa pikir panjang, pria itu segera melepaskan tali yang mengikat tubuh gadis itu serta membuka lakban yang menempel di bibirnya.

"Ris, bangun Ris. Ini gue, Farzan," panggil Farzan dengan tangan yang ditepuk-tepukkan pelan ke wajah Arisha.

Arisha hanya bergumam tidak jelas sebagai balasan. Farzan yang terlalu khawatir mulai menggendong gadis itu dan membawanya ke UKS. Syukurlah dokter sekolah yang selalu berada di UKS masih belum pulang.

Setelah dokter itu memeriksa keadaan Arisha, beliau mengatakan, " Teman kamu baik-baik saja. Dia pingsan karena sepertinya tengkuknya dipukul terlalu keras."

"Kalau dia baik-baik aja, kok dia masih belum bangun, Dok?" tanya Farzan.

Dokter itu tersenyum. "Sebentar lagi juga dia akan bangun."

Selang lima detik setelah perkataan dokter, mata Arisha perlahan terbuka. Gadis itu menatap sekitar dengan linglung.

Melihat Arisha membuka matanya, Farzan segera mendekati gadis itu dengan perasaan lega.

"Gimana perasaan kamu, Ris? Ada yang sakit?" tanya Farzan dengan mimik khawatir.

Arisha mengangguk. "Leher gue rasanya sakit banget, Zan."

Farzan menunjukkan senyum menenangkan pada Arisha. Pria itu lalu kembali menatap dokter. "Makasih ya, Dok. Kami pulang dulu," pamit Farzan.

Setelah dokter itu mengangguk, Farzan menggendong Arisha lagi dan membawanya ke tempat parkir. Pria itu membawa masuk Arisha ke dalam mobil gadis itu.

Karena kondisi Arisha yang tidak memungkinkan gadis itu untuk menyetir, maka Farzan lah yang mengambil alih kemudi.

Pria itu mengendarai mobil Arisha dengan kecepatan sedang. Arisha yang duduk di sampingnya terlihat sangat kesakitan.

"Leher Lo sakit banget ya, Ris? Kita ke rumah sakit dulu ya?" ajak Farzan dengan tatapan cemas.

Arisha menggeleng. "Gak usah, Zan. Langsung ke rumah gue aja," jawab gadis itu.

Farzan hanya bisa mengangguk patuh. Saat mereka tiba di rumah gadis itu, Farzan bisa melihat mobil Aliesha juga memasuki pekarangan rumah itu.

Farzan keluar dari mobil terlebih dahulu. Ia lalu membuka pintu mobil untuk Arisha, kemudian menggendong gadis itu untuk dibawa masuk ke dalam rumah.

Aliesha yang masih berada di dalam mobil mengawasi keduanya dengan alis tertaut. Dalam hatinya, gadis itu bertanya-tanya, ada apa dengan Arisha sehingga membuat Farzan harus menggendongnya untuk dibawa masuk ke dalam rumah.

Mama Yanti yang kebetulan sedang duduk di ruang tamu bergegas menghampiri Farzan dan Arisha.

"Nak, Farzan. Arisha kenapa?" tanya mama Yanti cemas.

Belum sempat Farzan menjawab, Arisha sudah meminta pria itu untuk menurunkannya. Farzan dengan cepat menurunkan gadis itu.

Arisha menatap mama Yanti. "Aku baik-baik aja kok, Ma. Mama gak usah khawatir ya?" hibur Arisha dengan senyum terpaksa.

Pada saat itu, Aliesha sudah berada di ruang tamu. Ia berjalan mendekati Arisha dan menggandeng tangan gadis itu.

"Ma, aku sama Arisha ke atas dulu ya. Zan, lo tau arah pulang kan?" usir Aliesha secara halus.

Farzan hanya tersenyum tipis. Setelah pamit, pria itu langsung pergi dari rumah itu. Mama Yanti menatap Aliesha dengan mata melotot.

"Gak boleh gitu loh, Lis. Farzan kan tamu kita. Dia juga baik anaknya, ngantarin Arisha pulang. Iya kan, Ris?" tegur mama Yanti yang kemudian meminta pendapat Arisha.

Arisha mengangguk. "Iya, Ma."

Aliesha mendelik. "Masa Mama lebih belain Farzan daripada aku sih," keluh gadis itu.

Mama Yanti tersenyum lembut. "Bukan gitu, Sayang. Cuma kan, gak enak kalau dia mikirnya kita ngusir dia," kata mama Yanti sambil mengelus kepala Aliesha.

"Hm. Aku sama Arisha ke atas dulu ya, Ma." Aliesha melambaikan tangan pada mamanya. Ia lalu menyeret Arisha agar gadis itu mengikuti langkahnya.

Tiba di depan kamar mereka, Aliesha menatap Arisha datar.

"Lo gak apa-apa kan?" tanya Aliesha.

Arisha mengangguk. "Ya, gue gak apa-apa," balas gadis itu.

Aliesha menghirup napas panjang, lalu mengeluarkannya perlahan.

"Gue mau minta maaf sama lo, Ris. Kejadian yang Lo alami hari ini. Gak gak, bukan hari ini aja. Semua yang terjadi sama lo selama ini, berhubungan sama gue. Jadi, gue mau minta maaf," ujar Aliesha masih tanpa ekspresi.

Arisha mengernyit. "Semuanya bukan sepenuhnya kesalahan lo, Lis. Tapi, kenapa lo bilang apa yang terjadi sama gue hari ini juga salah lo?" tanya gadis itu dengan wajah bingung.

Aliesha berpikir sejenak. Gadis itu kemudian menceritakan apa yang diceritakan Naomi padanya. Saat pulang sekolah tadi, Naomi tiba-tiba meneleponnya.

Gadis itu mengatakan tentang apa yang terjadi di SMA Cempaka setelah kepindahan Aliesha. Walau begitu, Naomi tidak merasa menyesal. Ia malah merasa lega karena tidak ada dendam lagi yang ia rasakan untuk Arisha.

Setelah mendengar cerita Naomi, Aliesha tidak bisa mengatakan apa-apa. Gadis itu hanya bisa mengatakan 'good jobs', setelah itu memutuskan panggilan mereka.

Aliesha lantas mengemudikan mobilnya secepat kilat menuju rumah. Pas sekali mobilnya masuk pekarangan rumah setelah mobil Arisha.

"Jadi ... Naomi yang rencanain pembullyan gue di sekolah? Kejadian tadi juga ... dia yang lakuin?" tanya Arisha dengan ekspresi tak percaya.

Aliesha hanya mengangguk. Arisha mengepalkan tangannya, beberapa menit kemudian ia mengendurkan kepalan tangannya disertai tawa kecil yang keluar dari bibirnya.

"Gue ngerti. Harusnya gue yang minta maaf sama lo, Lis. Perlakuan yang gue dapat sekarang, itu adalah imbas dari kelakuan gue di masa lalu. Sorry, karena gue sering bully lo dulu," ucap Arisha tulus.

Aliesha mengangguk. "Udah gue maafin kok," balas gadis itu.

"Gue boleh peluk lo gak?" tanya Arisha meminta izin.

Aliesha menggeleng. "Gak usah! Geli," tolak gadis itu.

Tanpa persetujuan Aliesha, Arisha memeluk gadis itu dengan sangat erat.

"Mulai sekarang, lo adalah saudara gue yang sesungguhnya," lirih Arisha dengan senyum mengembang. Aliesha juga tersenyum dengan mata tertutup, menikmati momen yang baru pertama kali ia rasakan.