Chapter 59: 58. Kepindahan Naomi dan Bagas

Aliesha The ProtagonistWords: 8806

Seminggu kemudian, Naomi benar-benar pindah ke SMA Kivandra bersama Bagas. Ya, Bagas. Pria itu telah berjanji akan selalu menemani Naomi kemanapun gadis itu pergi.

Sesampainya mereka di sekolah itu, keduanya pergi ke ruang kepala sekolah bersama-sama. Naomi adalah orang yang mengetuk pintu. Setelah dipersilahkan masuk, barulah Bagas membukakan pintu untuk mereka berdua.

Bagas dan Naomi duduk di sofa yang ada di ruangan itu. Dari meja kerjanya, Pak Galih menanyakan identitas keduanya.

"Apakah kalian Bagas dan Naomi?" tanya pak Galih.

Naomi dan Bagas mengangguk kompak. Setelah melihat-lihat nilai mereka dari sekolah sebelumnya, pak Galih terlihat mengangguk-anggukkan kepalanya.

"Maaf, Pak. Saya mau request kelas, boleh gak?" tanya Naomi tiba-tiba.

Pak Galih menghentikan bacaannya sebentar. Pria paruh baya itu lalu menatap Naomi dengan alis yang terangkat sebelah.

"Oh? Boleh kok, boleh," ucap pak Galih.

Naomi tersenyum lebar. "Saya mau sekelas sama yang namanya Aliesha Azkadina ya, Pak."

Pak Galih meletakkan kertas yang berada di tangannya ke atas meja.

"Apa alasan kamu mau sekelas dengan murid itu?" tanya pak Galih datar.

Tanpa pikir panjang, Naomi menjawab, "Karena Aliesha sahabat saya, Pak."

Pak Galih manggut-manggut, setelah itu mengiyakan permintaan gadis itu. Kedua orang itu lantas disuruh mengikutinya ke kelas mereka.

"Nao! Kenapa lo minta sekelas sama Aliesha?" tanya Bagas dengan suara lirih.

Naomi mendelik. "Ya kalau gak sekelas, percuma dong gue pindah ke sekolah ini," ketusnya.

Pak Galih yang berjalan di depan berdehem untuk menghentikan percakapan keduanya. Tiba di depan kelas XI IPA 1, pak Galih meminta waktu sebentar pada guru yang mengajar untuk memperkenalkan dua murid baru.

Aliesha yang tengah memperhatikan guru yang mengajar refleks menoleh pada pak Galih, kemudian pada dua orang yang berdiri di belakang pria paruh baya itu.

Mata Aliesha dan Naomi bertemu. Naomi tersenyum lebar, sedangkan Aliesha memutar matanya malas. Gadis itu geleng-geleng kepala mengetahui Naomi benar-benar meminta kepala sekolah agar bisa sekelas dengannya.

Setelah pak Galih mengucapkan beberapa patah kata, beliau lalu meminta Bagas dan Naomi untuk memperkenalkan diri pada teman sekelas mereka yang baru.

"Halo. Nama gue, Naomi. Nama lengkap gue kepanjangan, jadi gak mau gue sebutin. Thank you," ucap Naomi dengan wajah yang sok abis, membuatnya disoraki oleh murid-murid yang ada di kelas itu.

Bagas menggeleng saat pria itu menghela napas panjang. Pria itu lalu menatap murid-murid yang ada di depannya.

"Gue, Bagas. Emang segitu nama gue. Btw, cewek di samping gue gak sombong kok. Emang sifatnya aja yang ngeselin," ujar pria itu sambil menatap ke arah Naomi.

Naomi menatap Bagas tajam. Kini, keduanya kembali mendapat sorakan dari murid-murid yang ada disitu. Kepala sekolah tidak mau ikut campur, jadi beliau segera pergi setelah kedua orang itu memperkenalkan diri.

Guru yang mengajar menyuruh Bagas dan Naomi duduk di bangku yang kosong. Untung saja kelas mereka masih bisa menampung kedua orang itu.

Tidak menghiraukan kata-kata guru, Naomi malah berjalan ke meja Aliesha. Gadis itu pergi ke meja yang berseberangan dengan meja Aliesha.

"Gue mau duduk di sini," ucapnya sembari meletakkan tasnya di atas meja.

David merasa terganggu karena tas gadis itu menutupi buku-bukunya. Pria itu mengangkat kepalanya, kemudian menatap Naomi dengan tatapan tajam.

"Tas lo nutupin buku-buku gue," kata pria itu tanpa ekspresi.

Naomi memutar matanya malas. "Gue gak peduli. Gue mau duduk di sini," ulang gadis itu.

David mengepalkan tangannya kesal. Guru yang melihat kejadian itu dari depan kelas mulai mengetuk papan tulis menggunakan penghapus dengan kuat.

"Murid baru! Apa yang sedang kamu lakukan? Saya menyuruh kamu untuk duduk di bangku kosong," teriak guru itu dengan suara keras.

Naomi berbalik, menatap guru itu dengan penuh keluhan di matanya.

"Tapi, Bu. Saya maunya duduk deketan sama Aliesha," balas gadis itu dengan wajah cemberut.

Guru itu menggeleng. "Gak bisa! Kamu mau diatur sama saya, atau saya keluarkan kamu dari kelas ini? Cepat pilih!" tegas guru itu.

Naomi terdiam. Gadis itu lalu melihat ke arah Aliesha. Melihat Aliesha menggelengkan kepalanya, Naomi hanya bisa pasrah. Tanpa berkata apa-apa, gadis itu melangkahkan kakinya menuju bangku kosong yang berada di seberang David.

Setelah duduk, Naomi terus menatap David dengan tatapan tajam. Pelajaran dimulai kembali. Merasa bosan, Naomi mengeluarkan hp dari sakunya. Gadis itu memainkan hpnya secara diam-diam di bawah meja.

Bagas yang melihat itu hanya bisa diam. Meski begitu, pria itu terus mengawasi guru yang mengajar di depan, takut guru itu mengetahui apa yang sedang dilakukan Naomi.

Begitu bel pergantian mata pelajaran berbunyi, guru yang tengah mengajar menghentikan kegiatannya. Setelah guru itu pergi, Naomi bergegas mendekati meja Aliesha.

"Lis," panggil Naomi dengan wajah cemberut.

Aliesha menoleh. "Kenapa, Nao?"

"Bilangin ke dia dong. Gue mau duduk deketan sama lo," ucap gadis itu manja.

Aliesha tersenyum. "Vid, dengar sendiri kan?"

David menoleh. Pria itu menatap Naomi dingin. "Dia gak punya sopan santun, Lis. Gue gak mau," balas pria itu kejam.

Naomi melotot. "Maksud lo apa hah? Dan, kenapa juga lo manggil Aliesha kek udah akrab gitu? Lo siapa hah?!" katanya ngegas.

David tidak menghiraukan Naomi, pria itu malah melihat ke arah Aliesha. "Jelasin, Lis. Gue siapa bagi lo."

Aliesha terlihat berpikir sejenak. Gadis itu kemudian menggeleng. "Bukan siapa-siapa," sahutnya.

David memegang dadanya yang berdenyut dengan tatapan pahit. Naomi langsung tertawa dengan sangat puas.

"Makan tuh! Lo mau lawan gue? Gak bisa, say! Aliesha mah udah pasti bakal milih gue," ucap Naomi pede.

"Nyenyenye," ejek David.

Naomi mengangkat tangannya, bersiap menarik rambut David, namun terhenti saat seorang guru masuk ke dalam kelas. Gadis itu dengan cepat ngacir ke bangkunya.

***

Jam istirahat adalah surga bagi setiap anak sekolahan. Begitu guru yang mengajar keluar dari kelas, Naomi lagi-lagi mendekati meja Aliesha, berniat mengajaknya pergi ke kantin bareng.

Kelas XI IPA 1 kini mulai sepi karena kebanyakan murid sudah pada pergi ke kantin. Pada saat itu, Liam dan kawan-kawan serta Kenzie dan kawan-kawan masuk ke kelas itu.

Naomi yang baru setengah langkah menatap keenam pria itu dengan mata membulat. Apalagi saat keenam pria itu berjalan mendekati meja Aliesha, membuat gadis itu merasakan krisis.

Naomi segera berlari hingga ia adalah orang pertama yang sampai di meja Aliesha lebih dulu. Gadis itu lalu menatap keenam pria itu dengan tatapan waspada.

"Kalian! Jangan ada yang berani mendekat ya!" peringatnya.

Keenam pria itu mengernyit dengan tatapan heran. Bagas dengan cepat mendekati Naomi untuk melindungi gadis itu.

"Hai, Bro. Udah lama ya kita gak ketemu," sapanya pada Kenzie dan kawan-kawan.

Kenzie menatap Bagas datar. Keenan dan Farrel melotot saat melihat Bagas dan Naomi.

"Kalian kok ada di sini?" tanya Farrel.

"Jangan bilang, kalian juga pindah ke sini?" tebak Keenan.

Naomi mengangguk. "Emang kenapa kalau gue juga pindah ke sini? Gak boleh? Kalian pikir cuma kalian aja yang bisa?" sewotnya.

Bagas memijat bahu gadis itu untuk menenangkannya. "Tenang, Nao."

Naomi mendelik. "Gak bisa! Mereka semua bikin gue emosi," ketusnya.

Kemudian, Naomi duduk di bangku yang berada di depan meja Aliesha yang sudah kosong karena penghuninya sedang pergi.

"Lis, kenapa ya gue merasa lo itu seperti bunga. Dimana pun lo berada, pasti adaaaa aja lebah yang selalu deketin lo," tutur Naomi dengan ekspresi serius.

Aliesha tersenyum tipis. "Lo juga termasuk gak?" tanya gadis itu dengan nada bercanda.

Masih dengan ekspresi serius, Naomi mengangguk. Sontak saja Aliesha tertawa. Bagas hanya bisa geleng-geleng kepala, sedangkan tujuh pria lainnya menatap Naomi aneh.

"Ini siapa, Lis? Dari tadi ngoceh mulu," tanya Liam saat pria itu menatap tak suka pada Naomi.

Aliesha berdiri. Gadis itu menarik Naomi hingga berdiri, kemudian memposisikan gadis itu untuk berdiri di sampingnya.

"Kenalin, dia sahabat gue. Namanya Naomi," ucap Aliesha memperkenalkan Naomi pada mereka yang ada di sana.

Senyum Naomi mengembang mendengar ucapan Aliesha barusan. Gadis itu menatap Aliesha lekat. Tatapannya mengundang tatapan curiga dari beberapa pria yang ada di sana.

"Lo gak lesbi kan?" tanya Liam mengutarakan kecurigaannya.

Naomi memutar matanya malas. "Emang kalau gue lesbi, hubungannya sama lo apa ya?" katanya disertai senyum mengejek.

Liam mengepalkan tangannya. Dhafin dan Xander dengan cepat menahan Liam agar pria itu tidak berbuat sesuatu yang tidak-tidak.

"Udah, cukup! Ayo kita ke kantin. Gue udah laper banget," ujar Aliesha.

Perkataan gadis itu membuat perdebatan di antara mereka segera terhenti. Pada akhirnya, delapan pria bersama dua orang gadis berjalan bersama-sama menuju kantin.