Sesampainya mereka di kantin, semua orang yang ada di sana menatap mereka dengan berbagai macam tatapan. Dimulai dari tatapan kagum, iri, bingung, hingga tatapan biasa saja.
Abel bersama dua anteknya yang memiliki tatapan iri bergegas menghampiri mereka. Gadis itu berdiri berkacak pinggang sembari menatap David kesal.
"Vid! Udah berapa hari gue hubungin lo, tapi nomor lo gak pernah aktif. Lo sengaja ya? Lo blokir nomor gue?" tuduh Abel dengan tatapan kesal.
David menatap Abel datar. "Kalau lo udah tahu, gak usah ditanya lagi," balas pria itu malas.
Abel memberengut kesal. Naomi menepuk tangan Aliesha untuk mencuri perhatian gadis itu. Ketika Aliesha menoleh, Naomi bertanya, "Itu siapa?"
Aliesha melirik Abel sekilas, kemudian menjawab, "Anak Pak Galih."
Naomi manggut-manggut. Seringai jahat tiba-tiba muncul di bibir gadis itu.
"Hai, lo Abel ya? Gue Naomi," ucap gadis itu seraya mendekati Abel.
Abel mengangkat sebelah alisnya. "Naomi? Gue gak pernah denger tuh ada yang namanya Naomi di sekolah ini."
Naomi terkekeh. "Ya iyalah. Secara kan, gue masih murid baru di sekolah ini."
Abel mengangkat sebelah alisnya. "Murid baru? Masih baru aja tapi udah s*ngong banget ya lo. Gak beda jauh sama cewek di samping lo," ejeknya.
"Oh ya? Btw, lo sama yang namanya David ini dijodohin ya?" tanya Naomi tersenyum simpul.
Abel mengangguk. "Kenapa? Ada masalah?" tanyanya sewot.
Naomi mengusap dagunya sembari berpikir. "Keknya lo bukan anak kandung Pak Galih deh," ucap gadis itu disertai senyum mengejek.
"Apa maksud lo?!" bentak Abel.
Naomi berjalan memutari tubuh gadis itu. Ia lalu mengarahkan wajah Abel untuk menatap David.
"Kasihan banget sih lo. Kalau lo beneran anak kandungnya Pak Galih, gak mungkin lo dijodohin sama orang nyebelin kek dia," tutur Naomi sembari menjulurkan telunjuknya pada David.
Abel menatap Naomi jengkel. "Gak usah sok asik deh lo! Gue emang mau kok dijodohin sama David."
Gadis itu menatap David dengan tatapan penuh cinta, membuat tubuh pria itu merasa merinding seketika.
Naomi mengernyit. "Tapi kan, tuh cowok gak mau dijodohin sama lo," ledeknya.
Abel kesal. Gadis itu mengangkat sebelah tangannya, bersiap menampar Naomi. Sayangnya, Naomi bukanlah orang yang mudah ditindas. Gadis itu meraih tangan Abel, lalu memutarnya ke belakang.
"Lo mau nampar gue? Duh duh duh, gak bisa. Anak tikus kok mau lawan anak kucing," kata Naomi semakin mengejek Abel.
Abel menatap dua anteknya yang diam saja sejak tadi. "Kalian berdua kok gak guna banget sih? Kenapa kalian diam aja?!" marahnya.
Ara bersama seorang lainnya mulai gelagapan. Kedua gadis itu dengan cepat memegang kedua tangan Naomi, membuat gadis itu memutar matanya malas.
Tanpa aba-aba, Bagas segera melepaskan tangan kedua orang itu yang memegang tangan Naomi. Pria itu lalu berdiri seperti tameng untuk melindungi gadis di belakangnya.
Aliesha terkekeh. "Posesif banget sih, Gas."
Bagas menoleh. "Gue takut Naomi tercemar, Lis. Gue gak mau dia ketularan b*go kek mereka," ucap pria itu dengan ekspresi serius.
Tawa Aliesha semakin keras. Gadis itu geleng-geleng kepala melihat tingkah mereka. Ia lantas meraih tangan Naomi, mengajaknya mengambil makanan. Tujuh orang pria di belakangnya hendak mengikuti, namun terhenti saat Abel memanggil salah seorang diantara mereka.
"David!" pekik Abel dengan suara keras.
David menghela napas panjang. Pria itu dengan enggan menarik tangan Abel untuk mengajaknya mengikuti mereka.
Abel tidak menolak. Gadis itu malah dengan senang hati mengikuti langkah David. Setelah mendapatkan makan siang, mereka mencari tempat duduk. Kini mereka menyadari bahwa ternyata jumlah mereka terlalu banyak. Satu meja saja tidak cukup untuk ditempati semuanya.
Pada akhirnya, mereka memutuskan untuk menggunakan dua meja. Pembagian meja ini sangat sulit karena semua orang ingin berada di meja yang sama dengan Aliesha.
"Yahh ... satu meja cuma bisa ditempati enam orang," kata Naomi dengan ekspresi cemberut.
Aliesha mengangguk. "Kita harus pakai dua meja yang terpisah," sahut gadis itu.
"Berarti kita bagi jadi dua grup kan? Nah! Gue, Aliesha, Farrel, Kenzie, Bagas, sama Naomi satu meja. Sisanya di meja yang lain," ujar Keenan memberi usul.
Liam dengan tegas menolak. "Enak aja lo! Gak bisa! Aliesha di meja gue, Xander, sama Dhafin. Kalau dua temannya mau ikut juga boleh."
"Wah ... gak bisa gitu dong!" Farrel menatap Liam dengan mata melotot.
Liam melakukan hal yang sama. "Kenapa gak bisa? Bisa-bisa aja kok. Gimana, Lis?"
Aliesha angkat bahu disertai gelengan kepala. Naomi memandang dua meja kosong di belakang kantin, lalu mengalihkan pandangannya pada pria-pria yang sedang berdebat sejak tadi.
"Lo pada mau semeja sama Aliesha kan? Gue punya ide," kata Naomi.
Perkataan gadis itu sontak saja membuat pria-pria itu menoleh. "Ide apa?" tanya mereka serempak. Mereka sangat bersemangat mengetahui mereka bisa semeja dengan Aliesha.
Naomi mengarahkan jari telunjuknya pada dua meja kosong yang ada di belakang. "Kalian harus satuin dua meja itu. Kalau kalian gak mau sih-"
Belum juga Naomi menyelesaikan ucapannya, kedelapan pria itu bergegas menyatukan dua meja kosong yang tadi ditunjuk Naomi. Gadis itu bersama Aliesha tercengang melihat pria-pria itu sangat bersemangat.
Naomi menyenggol lengan Aliesha dengan tatapan menggoda. "Ciee, Aliesha. Banyak banget sih yang suka sama lo," ucapnya mengerlingkan matanya nakal.
Abel yang ada di dekat mereka berpura-pura muntah. "Dih ... sok cantik," katanya sinis.
Naomi melirik Abel melalui ekor matanya. "Gak usah didengerin, Lis. Biasalah ... orang iri," bisik gadis itu dengan suara yang masih bisa Abel dengar.
Abel mendengus, sedangkan Aliesha tersenyum. Tak lama kemudian, kedelapan pria tadi datang menghampiri mereka.
"Lis, mejanya udah siap. Ke sana, yuk!" ajak David.
Abel menggigit bibirnya kuat. "David, gue gak kelihatan apa gimana? Jelas-jelas gue juga ada di sini, kenapa yang lo ajak malah Aliesha, bukan gue?" tanya gadis itu kesal.
David membuang napas pasrah. "Lo tinggal ikut aja napa sih. Gak usah dibikin ribet," balas pria itu.
Aliesha menarik napas panjang. "Vid, gak usah gitu lah," katanya disertai gelengan kepala.
David mengangguk. Melihat pria itu begitu menurut pada kata-kata Aliesha, Abel langsung melotot.
"Gue gak butuh ya rasa kasihan dari lo!" tegas Abel.
Naomi mendelik. "Heh! Harusnya lo bersyukur ya Aliesha masih mau baikin lo," balasnya sewot.
Bagas dengan cepat mendekati Naomi. "Udah udah. Orang kek dia gak usah diladenin. Kita ke sana aja, yuk!" ajak pria itu.
Naomi mengangguk. Gadis itupun menyerahkan nampannya pada Bagas yang tangannya sudah kosong. Ia lalu mengambil nampan di tangan Aliesha untuk diberikan pada Kenzie.
Setelah itu, Naomi meraih tangan Aliesha untuk mengajaknya ke meja yang sudah disiapkan. Keduanya duduk bersebelahan sambil menunggu yang lainnya.
Kenzie meletakkan nampan Aliesha di depan meja gadis itu. Hal itu menimbulkan kecemburuan dari beberapa pria yang ada di sana. Setelah semuanya duduk di tempat masing-masing, mereka mulai menyantap makan siang mereka dalam diam.
Di sela-sela itu, hp Aliesha yang ia letakkan di atas meja bergetar. Refleks tatapan semua orang mengarah pada benda pipih itu. Aliesha melirik hpnya sekilas. Melihat nama Raven tertera di layar hpnya, gadis itu dengan cepat meraih hpnya dan pergi dari sana.
Kenzie dan David yang juga melihat nama itu saling bertukar pandang. Keduanya bertanya-tanya, dari mana dan sejak kapan Aliesha mengenal Raven?
Di sisi lain, Aliesha pergi ke koridor yang sepi untuk menerima panggilan itu. Ketika panggilan terhubung, suara Raven yang dingin dan datar pun terdengar.
"Kita perlu bicara," ucap Raven.
Aliesha mengangguk. "Kebetulan. Ada yang perlu saya bicarakan dengan Anda," balasnya tak kalah datar.
"Saya mengerti. Pulang sekolah nanti, saya akan jemput," kata Raven sebelum memutuskan sambungan.
Aliesha menatap hpnya dengan alis berkerut. Ada banyak sekali pertanyaan yang berputar di kepalanya. Tidak sabar rasanya ia ingin bertanya pada Raven tentang semua itu.
Saat Aliesha kembali ke kantin, gadis itu disuguhi tatapan penasaran dari beberapa orang yang ada disitu. Gadis itu duduk dengan tenang di tempatnya sebelumnya, setelah itu bersikap seperti biasa.
Naomi menyenggol bahu Aliesha pelan. "Lis," panggilnya.
Aliesha menoleh. "Hm," gumamnya.
Naomi tersenyum lebar. "Siapa yang nelpon? Pacar lo ya?" tebak Naomi asal.
Aliesha menggeleng. "Bukan," jawabnya singkat.
"Bohong," gerutu Naomi dengan tatapan tak percaya.
Aliesha angkat bahu. "Ya udah sih kalau gak percaya," balasnya cuek.
David menatap Aliesha ragu. "Sejak kapan lo kenal sama Raven, Lis?" tanya pria itu.
Aliesha mendongak, menatap David tanpa ekspresi. "Gak usah kepo."
"Raven yang tadi nelpon lo itu ... Raven Kakak gue ya, Lis?" tanya Kenzie.
Aliesha hanya mengangguk singkat. Ia tidak berniat menjelaskan apapun. David dan Kenzie semakin penasaran, tapi mereka tidak berani bertanya lagi. Apalagi, wajah Aliesha menjadi sangat datar sejak menerima panggilan dari Raven.