Chapter 62: 61. Pembicaraan Penting

Aliesha The ProtagonistWords: 8135

Hari berganti begitu cepat. Tidak terasa, hampir satu bulan telah terlewat. Sejak kepindahan Naomi dan Bagas di SMA Kivandra, kehidupan sekolah Aliesha menjadi lebih berwarna. Ia sampai kesusahan mencuri waktu untuk mencari informasi tentang Dina, orang yang telah membunuhnya.

Raven yang turut membantu mencari informasi terkait wanita itu, belum juga mendapatkan pencerahan. Aliesha sampai tidak tahu harus berbuat apa lagi sekarang. Mereka kini tengah berada di jalan buntu.

Dina, di mana sebenarnya wanita itu berada? Apakah dia masih hidup, ataukah sudah mati?

Berpikir terlalu keras, membuat Aliesha tanpa sadar melukai tangannya sendiri. Gadis itu kini tengah duduk di bangkunya sembari ibu jari tangan kanannya menekan pena dengan sangat kuat. Alhasil, ibu jarinya berdarah saat ujung pena yang tajam itu tertancap di jarinya.

Gadis itu memekik pelan dengan mata membelalak. David yang jaraknya paling dekat dengan Aliesha segera menoleh dengan pandangan terkejut. Kelas sangat sepi karena murid lainnya sedang pergi ke kantin.

Di kelas itu, hanya ada Aliesha dan David. Oleh karena itu, pria itu dengan cepat mendekati Aliesha seraya meraih tangan gadis itu.

"Lis, lo kenapa? Kok bisa jari lo sampai berdarah gini?" tanya David cemas.

Merasakan rasa sakit di jarinya, membuat air mata Aliesha jatuh perlahan. Gadis itu hanya melihat ke arah jarinya tanpa menjawab pertanyaan David.

Naomi bersama Bagas yang baru saja kembali dari kantin bergegas mendekat saat melihat wajah Aliesha yang sudah berurai air mata.

"Woi, lo apain teman gue, hah!?" tanya Naomi ngegas. Gadis itu dengan cepat melihat ke tangan Aliesha yang berlumuran darah.

"Lis, darah lo banyak banget. Ini kenapa?" tanya Naomi khawatir.

Aliesha menatap Naomi dengan mata berkaca-kaca. "Gue gak sengaja ketusuk pena, Nao," jawab gadis itu lirih.

Naomi melotot. "Kok bisa?" tanyanya tak mengerti.

Aliesha menggeleng, gadis itu menolak untuk menjelaskan. Menarik napas panjang, Naomi akhirnya menggenggam tangan Aliesha untuk membawanya ke UKS.

"Gas, tolong ijin ke guru ya. Gue mau nganterin Aliesha ke UKS dulu," pinta gadis itu kepada Bagas yang berdiri di dekatnya.

Bagas mengangguk dan memberikan jempolnya pada Naomi. Saat kedua gadis itu akan melangkah pergi, David dengan cepat menahan tangan Aliesha.

"Gue ikut," ujar David.

Naomi memutar matanya malas. Dengan kasar gadis itu melepaskan tangan David yang memegang tangan Aliesha.

"Kalau mau ikut ya ikut aja. Gak usah lo nahan-nahan tangannya Aliesha," kesal Naomi.

David mengangguk pasrah. Pria itu sedang tidak ingin berdebat disaat kritis seperti ini. Begitulah, ketiga orang itu akhirnya pergi ke UKS bersama-sama. Saat melihat ketiganya, guru penjaga UKS mengerutkan dahi dengan mata memicing.

"Siapa lagi yang sakit kali ini?" tanya sang guru curiga.

Pasalnya, Naomi bersama Aliesha memang sering sekali ijin ke UKS meski diantara keduanya tidak ada yang sakit. Tentu saja, itu adalah ide gilanya Naomi agar bisa bolos dari mapel yang tidak ia sukai.

Mendengar nada tidak bersahabat dari sang guru, David selaku ketua kelas bergegas mendekat.

"Aliesha, Bu. Tangannya berdarah ketusuk pena," jelas David.

Guru itu melihat antara Naomi dan Aliesha bergantian. Tatapannya kemudian beralih ke tangan Aliesha yang berlumuran darah.

"Naomi, bantu Aliesha duduk di atas brankar. David, ambil kotak P3K di dalam lemari. Cepat!" titah guru itu.

Tanpa basa-basi lagi, Naomi dan David segera melakukan apa yang guru itu suruh. Guru penjaga UKS yang bernama Bu Rahma itu lalu mengambil alih kotak P3K yang ada di tangan David sebelum mendekati Aliesha.

Dilihatnya ibu jari Aliesha dengan seksama. Setelah itu, beliau mengangguk singkat. Dengan sangat cekatan, Bu Rahma membalut tangan Aliesha yang sudah dibersihkan dan diberi obat.

"Untung saja lukanya gak terlalu dalam. Lain kali hati-hati. Masa sama pena aja bisa bikin luka," ucap Bu Rahma dengan wajah datar.

Aliesha hanya tersenyum kecil menanggapi ocehan Bu Rahma. Naomi dan David yang berdiri di dekatnya menutup mulut mereka untuk menahan tawa yang hampir keluar.

Setelah menutup kotak P3K, Bu Rahma kemudian menatap Naomi dan David dengan wajah tegas. "Saya sudah selesai mengobati tangan teman kalian. Sekarang, kalian harus kembali ke kelas karena pelajaran sudah dimulai," katanya.

Naomi mulai memasang wajah memelas. "Bu, bisa gak kita istirahat dulu di sini?"

Gadis itu lalu melihat ke arah David. "Kalau gak, bilang David aja yang ke kelas, Bu. Biar saya yang nemenin Aliesha di sini," lanjutnya dengan senyum lebar.

Bu Rahma menggeleng. "Gak bisa!"

"Saya akan ikut mereka ke kelas, Bu." Aliesha berkata saat gadis itu bangkit dari posisi duduknya.

Bu Rahma menoleh. "Kamu yakin?" tanya guru itu ragu.

Aliesha tersenyum lembut. "Yakin, Bu. Luka saya juga gak parah kok, Bu."

"Lis!" seru Naomi dan David bersamaan.

"Gue gak apa-apa. Cuma luka kecil, kalian lebay deh," balas Aliesha dengan nada bercanda.

Melihat itu, Bu Rahma akhirnya mengizinkan Aliesha kembali ke kelas bersama dua orang temannya. Di koridor yang sepi, tiba-tiba saja Naomi menghentikan langkah kakinya, membuat Aliesha dan David juga menghentikan langkah mereka.

"Kenapa, Nao?" tanya Aliesha dengan wajah bingung.

Naomi tidak menjawab. Gadis itu malah melihat ke arah David dengan wajah datar. "Lo bisa duluan ke kelas. Gue mau bahas sesuatu yang penting sama Aliesha," katanya.

"Kalau gue gak mau?" tantang David.

Naomi menggigit bibir bawahnya dengan sangat kuat. Perasaan kesal dapat terlihat jelas dari raut wajahnya. Pada akhirnya, gadis itu menoleh ke arah Aliesha, karena dia tahu, hanya Aliesha yang bisa mengusir David.

Mengerti arti tatapan yang Naomi berikan padanya, Aliesha kemudian memberikan isyarat pada David untuk menyuruh pria itu pergi. Tanpa adanya drama lebih lanjut, David langsung pergi begitu saja.

Kini, tinggallah Aliesha dan Naomi berdua saja di lorong koridor yang sepi itu. Naomi menyandarkan tubuhnya pada dinding dengan tangan terlipat.

"Ada yang lo sembunyikan dari gue ya, Lis?" tanya Naomi menatap Aliesha curiga.

Aliesha mengangkat sebelah alisnya. "Maksud lo?" balas gadis itu.

"Jujur aja. Gue ngerasa aneh sama perilaku lo beberapa minggu ini, Lis. Gak! Mungkin sejak awal kepindahan lo yang begitu tiba-tiba ke sekolah ini, gue udah mulai curiga. Apa sih yang lagi lo sembunyiin dari gue?"

Naomi menatap Aliesha lekat. Gadis itu perlahan berjalan mendekati Aliesha.

"Lis, gue sahabat lo kan? Bukannya kita udah saling menganggap seperti saudara sendiri? Awalnya, gue pengen lo nyeritain sendiri ke gue. Tapi, gue udah nunggu terlalu lama, Lis. Gue juga pengen tahu masalah apa yang sedang lo hadapi sekarang," sambung Naomi saat gadis itu memegang kedua bahu Aliesha.

Aliesha membalas tatapan Naomi dengan tatapan kosong. Ia tidak tahu bagaimana harus bersikap. Naomi memang sahabatnya. Hanya saja, ia bukanlah Aliesha yang asli.

Ia tidak mungkin menceritakan segalanya kepada gadis itu. Naomi tidak mungkin percaya dengan ceritanya, yang bisa dibilang hanya terjadi di dalam film atau novel-novel fantasi. Yahh ... meskipun ia juga awalnya berpikir bahwa ia berada di dunia novel.

Melihat Aliesha hanya diam saja, Naomi mulai melepaskan tangannya dari bahu gadis itu. Ia dengan wajah penuh kekecewaan berpaling ke arah lain.

"Maaf, Nao. Gue belum bisa cerita sekarang," ujar Aliesha yang sukses menarik perhatian Naomi lagi.

"Jadi, gue hanya perlu ngasih lo waktu kan?" tanya Naomi dengan senyum tertahan.

Aliesha mengangguk. Naomi langsung memeluk Aliesha erat, membuat tubuh gadis itu berubah kaku. Setelah cukup lama, Aliesha akhirnya membalas pelukan Naomi dengan senyum pasrah yang muncul di bibirnya.

David yang bersembunyi di belokan koridor melihat kedua gadis itu dengan tatapan aneh. Ia memang tidak langsung kembali ke kelas karena penasaran dengan pembicaraan yang dilakukan kedua gadis itu.

Setelah melihat keduanya berpelukan dan tersenyum satu sama lain seperti itu, pikiran tentang Naomi yang menyukai Aliesha mulai terngiang-ngiang di kepalanya.

David yang merasa merinding dengan cepat pergi dari sana, sebab Aliesha dan Naomi sedang berjalan ke arahnya. Jangan sampai dia ketahuan sedang mengintip mereka dari jauh.