Pelajaran hari itu berakhir dengan sangat cepat. Aliesha tengah membereskan mejanya ketika Bagas, Naomi, dan David berjalan mendekatinya.
"Jari lo gimana, Lis?" tanya Bagas saat pria itu melihat ke arah ibu jari kanan Aliesha yang sudah diperban.
Aliesha mengangkat jempolnya untuk menunjukkannya pada Bagas. "Gak masalah. Cuma luka kecil aja," jawabnya kalem.
Gadis itu lalu memakai tas punggungnya sebelum berjalan ke luar kelas, diikuti tiga orang lainnya di belakangnya. Di depan pintu kelas, sudah ada Kenzie dan kawan-kawan serta Liam dan kawan-kawan.
Melihat ibu jari kanan Aliesha yang tertutupi perban, sontak saja memunculkan tanda tanya besar di wajah mereka. Keenam pria itu menatap Aliesha khawatir.
"Jari lo kenapa, Lis?" tanya Liam.
"Lo terluka?" timpal Kenzie.
"Kok bisa?" sambung Farrel.
Sebelum yang lainnya ikut bertanya, Aliesha sudah mengangkat tangannya untuk menghentikan mereka. Gadis itu lalu menunjukkan jempolnya di depan semua orang.
"Ini cuma luka kecil, oke? Gak usah lebay kalian! Gue gak apa-apa," ucap Aliesha cepat.
Sembilan orang yang mengelilingi Aliesha membeku mendengar ucapan Aliesha. Pada akhirnya, semuanya mengangguk mengerti. Dengan begitu, tidak ada lagi yang mencercanya dengan berbagai macam pertanyaan lagi.
Aliesha bersama yang lainnya berjalan bersama-sama menuju tempat parkir. Saat Aliesha akan menaiki mobilnya, Naomi sudah mengambil kunci mobil gadis itu dari tangannya.
"Nao!" seru Aliesha kaget.
Naomi menatap Aliesha tajam. "Biar gue aja yang nyetir, Lis. Gue takut lo kenapa-napa," tegasnya.
Aliesha melirik mobil Naomi yang diparkir bersebelahan dengan mobilnya.
"Trus, mobil lo gimana?" tanya Aliesha heran.
Sebagai jawaban, Naomi melemparkan kunci mobilnya pada Bagas. "Biar Bagas yang nyetirin mobil gue," ucapnya.
Kali ini, Aliesha melihat ke motor Bagas. "Motor Bagas gimana?"
Bagas dengan senyum lebar menjawab, "Tenang aja, Lis. Motor gue gak bakal hilang kok kalau diparkir di sini."
Mendengar jawaban Bagas, Aliesha hanya bisa pasrah dan masuk ke mobilnya di samping kemudi. Naomi pun mengendarai mobil Aliesha meninggalkan pekarangan sekolah, diikuti oleh Bagas yang mengendarai mobil Naomi, serta tujuh pria lainnya yang mengendarai motor mereka masing-masing.
"Mau langsung pulang atau ke rumah Kenzie dulu, Lis?" tanya Naomi di tengah perjalanan.
"Rumah Kenzie, Nao. Seperti biasa," jawab Aliesha tanpa mengalihkan perhatiannya dari pemandangan di luar jendela.
Akhir-akhir ini, mereka memang sering berkumpul di rumah Kenzie. Semuanya terjadi begitu saja. Kenzie dan Liam yang sering bertengkar saja kini terlihat semakin akrab.
Begitu sampai di rumah Kenzie, pemandangan para pelayan yang berdiri berjejer menyambut kedatangan mereka sudah tidak lagi mengagetkan.
Hampir setiap saat ketika mereka datang, pemandangan seperti itu selalu muncul. Aliesha sampai heran, apakah mereka tidak bosan selalu berdiri seperti itu setiap hari.
Naomi menyerahkan kunci mobil Aliesha pada salah seorang pelayan ketika ia dan Aliesha turun dari mobil. Teman-teman mereka juga melakukan hal yang sama, karena pelayan-pelayan itulah yang akan memarkir kendaraan mereka.
Dengan Kenzie yang memimpin, sepuluh muda-mudi itu berjalan beriringan melewati para pelayan menuju pintu utama yang sudah terbuka lebar. Kepala pelayan keluarga Kivandra telah berdiri dengan sikap hormat di depan pintu.
"Tuan muda, Nyonya besar sudah menunggu Anda di dalam. Begitu juga dengan Tuan muda David," ucap kepala pelayan pada Kenzie.
Kenzie dan David saling bertukar pandang lantaran nama David juga ikut disebut. Kedua pria itu lalu melihat ke arah teman-teman mereka yang tengah menatap mereka dengan tatapan bingung.
"Guys, kalian masuk lewat pintu samping aja ya. Tunggu gue sama David di ruang santai di lantai dua. Nanti biar Romi yang ngantarin kalian," kata Kenzie sembari melihat ke salah seorang pelayan pria yang sudah keluar dari barisan.
"Nyonya besar siapa, Ken? Nenek lo ya?" tanya Farrel dengan raut cemas.
"Lo gak bakal kenapa-kenapa kan, Ken?" Keenan ikut khawatir melihat wajah cemas Farrel.
Kenzie tersenyum tipis, namun senyum itu tidak sampai ke matanya. "Kalian tenang aja. Gue bakal baik-baik aja kok," hiburnya.
Kenzie lalu memberi isyarat pada pelayan yang bernama Romi itu untuk mengantarkan teman-temannya. Setelah mereka pergi, barulah Kenzie dan David berjalan memasuki pintu utama.
Ruang tamu yang mereka lewati nampak kosong. Itu berarti, nenek mereka sedang menunggu di ruang keluarga. Dan benar saja, nenek mereka terlihat sedang menikmati teh di ruang keluarga, didampingi oleh ayah Kenzie dan orang tua David.
Melihat kehadiran dua cucu kesayangannya, Nyonya Ratih meletakkan cangkir tehnya ke atas meja dengan sikap elegan. Beliau lantas berdiri dan menghampiri Kenzie dan David.
***
Aliesha bersama yang lainnya kini sudah berada di ruang santai di lantai dua. Ada beberapa pelayan selain Romi yang ditugaskan untuk menemani mereka di sana.
Tidak seperti biasanya. Suasana di rumah keluarga Kivandra hari itu terasa sangat aneh. Apalagi dengan kecemasan yang ditunjukkan oleh Farrel dan Keenan, membuat perasaan yang lainnya juga menjadi tidak enak.
"Rel, Nan. Kok kalian keliatan cemas gitu sama Kenzie? Emang ada apa?" tanya Naomi bingung.
Pertanyaan Naomi membuat beberapa orang lainnya juga ikut melihat ke kedua pria itu. Keenan menarik napas panjang, kemudian bertukar pandang dengan Farrel.
"Lo aja yang cerita, Rel. Gue mau ke toilet dulu," ucap Keenan sebelum kabur ke toilet.
Farrel yang ditinggal sendirian juga ingin ikut kabur, namun ia tidak tahu harus beralasan seperti apa. Pada saat itu, datang seorang pelayan perempuan yang berjalan mendekat, membuat perhatian semua orang teralihkan kepadanya.
"Nona Aliesha, Tuan Raven menunggu Anda di ruang kerjanya," ujar pelayan itu.
Kali ini, semua orang memandang Aliesha dengan tatapan penasaran. Aliesha menunjukkan senyum kecil untuk menenangkan mereka.
"Lo ada urusan apa Lis, sama kakaknya Kenzie?" tanya Naomi curiga.
Senyum Aliesha semakin lebar. "Bukan urusan penting kok. Gue ke sana dulu ya," pamitnya.
Aliesha berjalan lebih dulu, diikuti oleh pelayan perempuan tadi dari belakang. Keduanya pun memasuki lift menuju lantai tiga. Tiba di ruangan Raven, pelayan yang tadi mengantarnya pamit undur diri.
Aliesha mengetuk pintu ruang kerja Raven hingga terdengar suara yang menyuruhnya masuk. Dengan perlahan, ia membuka pintu ruangan di depannya.
Raven yang tadinya sibuk dengan laptopnya menghentikan kegiatannya sejenak. Pria itu menatap Aliesha sekilas, kemudian berdiri dan berjalan menuju sofa.
Aliesha masuk dan duduk di dekat Raven. Pelayan yang ada di ruangan itu dengan tenang menuangkan secangkir teh untuk Aliesha dan juga Raven. Setelah itu, pelayan itu pergi ke luar, tidak lupa menutup pintu ruangan itu.
Aliesha mengambil cangkir tehnya, menghirup aroma teh itu dengan pandangan yang mengarah pada Raven.
"Aroma teh ini sangat enak. Apakah Anda memanggil saya ke sini hanya untuk menikmati citarasa teh ini bersama Anda?" ucap Aliesha setelah menyicip sedikit teh itu.
Raven terkekeh begitu mendengar ucapan sinis dari mulut gadis di depannya. Padahal baru beberapa hari mereka tidak bertemu, namun mulut gadis itu semakin pedas saja.
"Tentu saja tidak, Aliesha. Ada beberapa informasi yang ingin saya bagikan dengan kamu," balas Raven disertai senyum ramah.
Aliesha mengangkat sebelah alisnya. "Oh? Informasi apa itu, Tuan Raven?"
Raven mengulurkan tangannya ke meja di samping sofa. Mata Aliesha mengikuti pergerakan tangan pria itu dan melihatnya mengambil berkas yang ada di sana.
Dahi Aliesha mengernyit kala pria itu mengeluarkan beberapa lembar foto dari berkas itu.
"Apa kamu tahu seperti apa rupa Dina?" tanya Raven.
Aliesha menggeleng. "Saya tidak terlalu yakin. Foto apa itu?"
Raven meletakkan empat lembar foto ke atas meja di depan Aliesha.
"Itu adalah foto Dina saat masih SMA dan sekarang. Sangat sulit mencari wanita itu. Rupanya, selama ini dia hidup sebagai single parent untuk anaknya," jelas Raven.
Aliesha meraih salah satu foto yang menampilkan gambar Dina yang mengenakan pakaian seragam. Benar, ini adalah sosok Dina yang ia kenal. Perempuan yang selalu berdiri di samping Kayla.
Raven bilang dia adalah single parent. Jika wanita itu memiliki anak, mungkinkah anaknya seusia dengannya?
Aliesha menatap Raven lekat. "Apakah Anda tahu ... siapa nama anaknya?"
Raven membalas tatapan Aliesha dengan wajah tanpa ekspresi. "Tentu saja. Kamu juga kenal dengan anak dari Dina," jawabnya.
Kernyitan di dahi Aliesha semakin dalam. 'Benarkah ia mengenalnya? Siapa?' Pertanyaan itu hanya bisa ia tanyakan di dalam hatinya. Entah mengapa, ia takut mengetahui kebenarannya.