Chapter 64: 63. Ragu

Aliesha The ProtagonistWords: 8466

Aliesha kembali ke ruang santai dengan ekspresi kosong. Pembicaraannya dengan Raven barusan terus terngiang di kepalanya. Ia masih tidak menyangka bahwa ternyata anak dari Dina adalah teman terdekatnya.

"Lis!" panggil Naomi pelan, menyadarkan Aliesha dari lamunannya.

Aliesha menatap Naomi dengan raut terkejut. "Ya?" balasnya.

"Kok lo ngelamun aja Lis dari tadi?" tanya Kenzie yang rupanya sudah ada di sana.

"Loh, sejak kapan lo ada di sini?" tanya Aliesha bingung.

Semuanya menatap Aliesha dengan tatapan aneh. "Kita dari tadi udah ada di sini, Lis. Lo lagi mikirin apa sih sampe gak nyadar kita ada di sini?" ucap David disertai gelengan kepala.

Aliesha tidak menjawab, gadis itu hanya terdiam dengan tatapan yang mengarah ke lantai. Sikap anehnya membuat yang lain menjadi cemas. Naomi memegang bahu gadis itu untuk menyadarkannya lagi.

"Lo kenapa sih, Lis? Kalau ada masalah, mending lo cerita. Jangan lo pendam sendiri," bujuk Naomi.

Aliesha menunjukkan senyum simpul, gadis itu lalu menggeleng. "Gue gak kenapa-kenapa kok, gak usah khawatir. Btw, gue balik duluan ya," katanya.

Aliesha langsung pergi setelah memakai tasnya. Naomi dan lainnya bergegas bangkit untuk menghentikan gadis itu, namun segera dihentikan oleh Raven yang tiba-tiba muncul.

"Biar saya yang mengejar dia. Kalian lanjutkan saja obrolan kalian," ujar Raven dengan wajah datar.

Kenzie dan David menatap Raven dengan pandangan curiga, masih bertanya-tanya apa sebenarnya hubungan pria itu dengan Aliesha.

Di pekarangan rumah Kivandra, Aliesha sedang meminta kunci mobilnya pada pelayan yang tadi memarkir mobilnya. Baru saja gadis itu akan mengambil kunci mobilnya, kunci itu sudah berpindah ke tangan orang lain.

Aliesha berbalik, melihat ke orang yang mengambil kunci mobilnya. Gadis itu mengernyit saat menyadari orang yang mengambil kunci mobilnya adalah Raven.

"Apa yang sedang Anda lakukan, Tuan Raven?" tanya Aliesha dengan nada tak suka.

Raven tersenyum tipis. "Biarkan saya yang mengantarmu, Aliesha. Saya tahu tanganmu sedang terluka."

Aliesha memutar matanya malas. "Ini hanya luka kecil. Mengapa kalian semua begitu khawatir dengan luka sekecil ini?" dengusnya.

"Baiklah, ini adalah keputusanmu." Pada akhirnya, Raven menyerahkan kunci mobil itu pada Aliesha.

Aliesha mengambil kunci mobilnya, kemudian masuk ke dalam mobil. Gadis itu mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Langit mulai senja, namun Aliesha tidak terburu-buru untuk pulang.

Melihat minimarket di pinggir jalan, gadis itu dengan cepat menghentikan laju mobilnya. Setelah memarkir mobilnya, Aliesha masuk ke minimarket. Gadis itu pergi mengambil minuman dingin dan beberapa cemilan.

Setelah membayar, Aliesha kembali melajukan mobilnya menuju SMA Cempaka. Ia segera memarkir mobilnya di tempat parkir begitu menyadari pagar sekolah itu masih terbuka.

Dengan kresek di tangannya, Aliesha menaiki tangga menuju rooftop. Sudah lama rasanya ia tidak merasakan angin rooftop.

Aliesha duduk di bangku panjang sembari menikmati semilir angin yang menerpa tubuhnya. Ia lalu mengeluarkan sekaleng soda dan meminumnya.

Secara perlahan, langit mulai menggelap. Lampu kecil yang ada di sudut rooftop pun mulai menyala, memberikan sedikit cahaya untuk menerangi sekitar. Meski begitu, tidak ada tanda-tanda Aliesha akan pergi.

Gadis itu masih dengan tenang meminum soda dan memakan cemilan yang tadi ia beli. Tatapan gadis itu mengarah pada jalanan kota yang semakin padat. Bunyi suara klakson terus bergema sampai ke tempat ia duduk.

Aliesha duduk di rooftop selama tiga jam, barulah setelah itu gadis itu pulang ke rumah. Karena pulang terlambat, ia jadi melewatkan makan malam. Mama Yanti dan Papa Bimo sudah tidur ketika ia pulang, hanya Arisha yang terlihat sedang menonton tv di ruang tengah.

"Dari mana?" tanya Arisha saat Aliesha akan naik ke lantai dua.

Aliesha melihat ke arah Arisha sekilas, ia lalu pergi tanpa menjawab pertanyaan gadis itu. Keesokan harinya, Aliesha pergi ke sekolah seperti biasa. Sesampainya ia di kelas, sudah ada David dan beberapa murid lainnya.

"Pagi, Aliesha," sapa David saat Aliesha duduk di bangkunya.

Aliesha menoleh. "Pagi," balasnya tak bersemangat.

David menatap Aliesha lekat. Aliesha tidak peduli, ia dengan tenang membuang pandangannya ke luar jendela.

Beberapa menit kemudian, Naomi dan Bagas masuk ke kelas. Seperti biasa, Naomi menghampiri meja Aliesha dengan penuh semangat.

"Morning, Aliesha!" seru Naomi.

Aliesha hanya mengangguk tanpa memandang gadis itu. Naomi mengernyit dengan wajah tertekuk. Gadis itu meletakkan wajahnya di meja, menunjukkan raut memelas.

"Lis, kok lo gak lihat ke arah gue?" tanyanya dengan nada sedih.

Aliesha membuang napas pasrah. Dengan senyum paksa di wajahnya, gadis itu menatap Naomi.

"Udah kan?" kesalnya.

Naomi semakin cemberut. "Gak ikhlas banget sih senyum lo," cibirnya.

Senyum Aliesha semakin lebar. "Udah?"

Senyum Aliesha terlihat menyeramkan, membuat siapa saja yang melihat akan merinding sekujur tubuh.

"Udah-udah." Naomi melambaikan kedua tangannya di depan wajah Aliesha. Dengan wajah ketakutan, gadis itu langsung pergi ke tempat duduknya.

Wajah Aliesha kembali datar. Saat Bagas berjalan melewatinya, Aliesha melirik pria itu melalui ekor matanya. Bagas tidak berani menyapa Aliesha setelah melihat senyum menyeramkannya tadi.

***

Di tengah-tengah pelajaran sedang berlangsung, Aliesha mengangkat tangan kanannya ke atas, menarik perhatian seluruh penghuni kelas.

"Ada apa, Aliesha?" tanya guru yang sedang mengajar.

"Saya ijin ke toilet, Pak," jawab Aliesha.

Setelah mendapat persetujuan, gadis itu segera keluar dari kelas. Tidak seperti ucapannya, gadis itu tidak pergi ke toilet, melainkan ke perpustakaan.

Kondisi perpustakaan itu sunyi, tidak seperti biasanya. Aliesha mengeluarkan hpnya, kemudian mengetikkan beberapa pesan untuk dikirimkan pada Bagas.

Aliesha

Gue tunggu lo di perpustakaan

Datang sendiri, ada yang mau gue bicarain sama lo

Sembari menunggu kedatangan Bagas, Aliesha memutuskan untuk menelusuri buku-buku yang ada di sana. Setelah dilihat-lihat, tidak ada satu buku pun yang membuatnya tertarik. Maka dari itu, ia langsung duduk di kursi yang menghadap ke jendela.

Tak berapa lama kemudian, Bagas pun datang. Pria itu lantas mencari sosok Aliesha di perpustakaan, dan melihat gadis itu sedang duduk sembari bertopang dagu.

Bagas menghampiri Aliesha, ia lalu duduk di sebelah gadis itu. Menyadari pergerakan di dekatnya, Aliesha dengan cepat menoleh. Gadis itu menatap Bagas cukup lama.

Bagas membalas tatapan Aliesha dengan ekspresi bingung. Setelah cukup lama bertatapan, Bagas adalah orang pertama yang mengalihkan pandangannya. Pria itu merasa risih dipandangi seperti itu oleh Aliesha.

Bagas berdehem singkat. Pria itu lalu bertanya dengan suara pelan, "Mau ngomongin apa, Lis?"

Aliesha membuang muka dengan ekspresi rumit. Jujur saja, ia tidak tahu harus bersikap seperti apa dengan Bagas yang merupakan anak dari orang yang telah membunuhnya.

Ya, Bagas adalah anaknya Dina, perempuan yang sudah mendorongnya di atas rooftop. Sebenarnya, Aliesha masih ragu. Alasan ia meminta Bagas untuk bertemu di perpustakaan adalah untuk bertanya secara langsung pada pria itu.

Namun, ia tidak tahu harus mulai bertanya darimana. Apalagi, Bagas hanyalah anak yang tidak tahu apa-apa.

"Lis?" Bagas menjentikkan jarinya di depan wajah Aliesha, berusaha menyadarkan gadis itu dari lamunannya.

"Lo jadi sering ngelamun ya Lis akhir-akhir ini," komentarnya.

Aliesha dengan cepat mengontrol ekspresinya. Gadis itu menunjukkan senyum simpul yang tidak sampai ke matanya.

"Gas," panggil Aliesha lirih.

Bagas mengangguk. "Iya, Lis. Ada apa?" tanyanya lembut.

"Kita udah temenan berapa lama, Gas?"

Bagas mengernyit heran mendengar pertanyaan Aliesha, namun pria itu masih tetap menjawab pertanyaan itu.

"Gak tahu juga sih ... mungkin udah lebih dari lima bulan?" katanya ragu.

"Udah cukup lama ya, Gas." Aliesha manggut-manggut. Bagas mengangguk dan tersenyum.

"Kalau gitu, gue boleh main ke rumah lo gak?" Pertanyaan Aliesha sukses membuat Bagas melotot kaget.

"Mau ngapain, Lis?"

Aliesha tersenyum manis. "Mau main aja," balasnya.

Bagas mengusap tengkuknya canggung. "Gimana ya ..."

Aliesha menatap Bagas dengan tatapan polos. "Gak boleh ya?"

Melihat itu, hati Bagas langsung luluh. Pria itu dengan cepat menggeleng, kemudian mengangguk.

"Boleh kok, Lis. Boleh," ujarnya.

Aliesha tersenyum senang. Ia lega karena Bagas tidak menolaknya. Dengan begitu, ia bisa tahu apakah Bagas benar-benar anak Dina atau bukan.