"Kalian kok tadi bisa balik ke kelas secara bersamaan?" tanya Naomi pada Aliesha dan Bagas dengan nada curiga.
Pasalnya, jarak kedua orang itu pergi ke toilet hanya berselang beberapa menit, kemudian kembali ke kelas bersama-sama. Terlihat sekali bahwa keduanya sudah janjian untuk bertemu di suatu tempat.
Bagas nampak tersentak mendengar pertanyaan Naomi, sedangkan Aliesha nampak acuh tak acuh ketika menjawab, "Kebetulan aja kok, Nao."
Ketiga orang itu kini sudah berada di kantin dengan nampan di tangan masing-masing. Mereka sedang berjalan menuju meja yang biasa mereka duduki bersama tujuh pria lainnya.
"Beneran?" tanya Naomi lagi, masih tidak percaya dengan jawaban Aliesha.
Aliesha mengangguk. "Hm," gumamnya.
Melihat ketiga orang itu berjalan mendekat, David segera menggeser tubuhnya sedikit, mengosongkan tempat di sampingnya untuk Aliesha.
"Lo geser ke sana dikit, Ken." Liam melambaikan tangannya pada Kenzie, memintanya mengosongkan tempat di sebelahnya.
Kenzie mengangkat sebelah alisnya. "Kenapa harus gue? Kenapa gak lo aja yang geser ke sana?" balasnya seraya memberi isyarat pada Liam untuk geser ke kiri.
"Ck!" Liam berdecak. Pria itu dengan kesal menggeser tubuhnya ke kiri seperti ucapan Kenzie.
"Lis, duduk di samping gue sini!" panggil Liam sambil tersenyum lebar.
Aliesha melirik tempat kosong di tengah-tengah Liam dan Kenzie, kemudian mengalihkan pandangannya pada tempat kosong di sebelah David.
Melihat tempat di sebelah David lebih luas dan muat untuk dua orang, Aliesha memutuskan untuk duduk di tengah-tengah Liam dan Kenzie, membiarkan Naomi dan Bagas duduk di samping David.
Kenzie dan Liam memiliki senyum puas di wajah mereka, sedangkan David tersenyum kecut. Disaat mereka sedang menikmati makan siang mereka, tiba-tiba saja Abel muncul. Gadis itu dengan tidak tahu malunya mendorong Naomi agar ia bisa duduk di sebelah David.
Naomi memutar bola matanya malas. "Lo bisa gak sih, bilang permisi dulu kalau mau duduk?!" katanya sinis.
Abel memeletkan lidahnya pada Naomi, kemudian menatap David dengan wajah yang diimut-imutkan.
"David, kamu jangan terlalu sering makan bareng mereka dong. Aku kan jadi makan sendirian terus," ujarnya manja.
David membuang napas panjang, setelah itu menatap Abel datar. "Bel," ucapnya.
"Lo itu bukan anak kecil yang harus selalu ditemenin makan. Lo tuh udah gede, Bel! Sadar diri bisa gak?" lanjut David dengan nada tak suka.
Abel menatap David dengan mata berkaca-kaca. "Tapi, Vid. Udah lama banget lo gak pernah makan bareng gue. Terakhir kali kita makan bareng kan hampir dua minggu yang lalu," katanya dengan raut sedih.
"Belum juga sebulan, lo udah kek gini. Lebay banget lo jadi cewek," celetuk Naomi sembari menyeruput es teh manisnya.
Abel melirik Naomi dengan tatapan tajam. "Gak ada yang ngomong sama lo, ya! Jadi, mending lo diem!" ucapnya melalui gigi terkatup.
Aliesha melihat pertunjukan di depannya dengan senyum samar, terlihat tertarik dengan adegan selanjutnya. Menyadari emosi Abel mulai terpancing, sikap Naomi semakin menjadi-jadi. Gadis itu menutup mulutnya dan tertawa mengejek.
"Emang siapa juga yang ngomong sama lo. Dih, kepedean banget jadi orang," cibir Naomi.
âLo!!â Abel semakin berang melihat Naomi mengejeknya.
Tidak senang, Abel memberi isyarat pada dua temannya untuk memegang Naomi. Rupanya, dua teman Abel sudah sejak tadi berada di sana, namun tidak ada yang menyadarinya lantaran kedua orang itu hanya diam sejak tadi.
Menuruti isyarat yang Abel berikan, kedua orang itu berjalan mendekati Naomi. Akan tetapi, Bagas dengan cepat menghadang kedua orang itu dengan tubuhnya.
"Kalau lo mau main keroyokan, lo harusnya lihat situasi dan kondisinya dulu dong. Gue di sini gak sendirian kali, ada teman gue juga di sini," ucap Naomi disertai senyum manis.
Abel mengepalkan tangannya kuat. Gadis itu berniat menarik rambut Naomi, namun dengan cepat dihentikan oleh David.
"Cukup, Bel! Kenapa sih lo selalu aja cari masalah dengan orang-orang yang ada di sekitar gue," marah David.
Abel ciut, gadis itu langsung menunduk dengan perasaan bersalah. Ia melirik ke kiri dan ke kanan. Menyadari orang-orang di sekitar mulai berbisik membicarakannya, Abel bergegas pergi dengan perasaan malu.
Aliesha menggeleng dan membuang napas panjang saat melihat punggung Abel yang terlihat rapuh, merasa kasihan pada gadis itu. Ia lalu melihat David dengan pandangan kecewa.
"Lo terlalu keras sama dia, Vid," ujar Aliesha.
Semua orang menatap Aliesha dengan tatapan tak percaya, terutama David dan Naomi.
"Kenapa lo bilang kek gitu, Lis?" tanya David bingung.
Naomi juga berkata, "Dia pantas digituin, Lis. Dia tuh suka jahatin orang lain, jadi lo gak perlu merasa kasihan sama dia."
Aliesha menggeleng. "Wajar Abel bersikap seperti itu, Nao. Secara, David adalah tunangannya. Tentang dia yang suka ngebully orang lain, itu emang salah dia. Tapi ... sikap David ke dia juga salah," tuturnya.
"Tapi, Lis. Gue gak pernah setuju sama pertunangan itu," balas David membela diri.
Aliesha dengan tak acuh mengangkat bahunya ke atas, setelah itu lanjut memakan makan siangnya. Meja itu menjadi hening seketika. Liam dan Kenzie yang duduk di sebelah Aliesha terkadang mencuri-curi pandang ke arah gadis itu.
Beberapa orang lainnya terlihat sangat tenang, bersikap seolah mereka tidak melihat atau mendengar apa-apa. Saat makanannya habis, Aliesha langsung pergi dari sana. Tidak ada seorangpun yang berani mengikutinya.
Setelah kepergian Aliesha, orang-orang yang berada di meja itu mulai ribut. Farrel adalah orang pertama yang membuka suara.
"Kalian lihat gak tadi? Aliesha kelihatan menyeramkan banget gak sih?" kata Farrel.
Semuanya mengangguk. "Tapi, kenapa ya dia belain Abel?" sahut Dhafin.
"Gue punya kecurigaan," ucap Keenan.
"Apa?" tanya semuanya serempak.
Keenan mengusap dagunya dengan pose berpikir. "Mungkin ... Aliesha pernah diancam sama Abel buat belain dia. Menurut kalian gimana?"
Naomi mengangguk setuju. "Bisa jadi sih. Secara kan ... gak biasanya Aliesha kek gini."
"Wait!" potong Liam. "Kalian gak bisa langsung simpulin gitu aja dong. Selama ini kan, Aliesha selalu sama kita-kita. Mana sempat dia ketemu sama Abel," sambungnya.
"Lo lagi belain sepupu lo nih ceritanya?" kata Naomi sinis.
Liam dengan tegas menggeleng. "Gak! Gue bicara sesuai fakta," tekannya.
"Cih, sesuai fakta!" Naomi memutar matanya malas.
"Ucapan Liam ada benarnya," timpal Kenzie tiba-tiba, menarik perhatian semua orang ke arahnya.
"Aliesha emang selalu ngumpul bareng kita. Gak pernah ada kesempatan pertemuan antara Aliesha dan Abel," lanjut Kenzie.
"Gak setiap saat kita selalu ngumpul, Ken." Naomi menatap lurus ke mata Kenzie.
"Guys, bel masuk udah bunyi tuh," peringat Xander begitu terdengar bunyi suara bel, membuat perdebatan yang terjadi diantara mereka segera terhenti.
Tanpa banyak kata, Naomi menarik tangan Bagas untuk mengajaknya kembali ke kelas. David mengikuti di belakang mereka dengan pandangan kosong, memikirkan ucapan Aliesha tadi padanya.
***
Aliesha
Kita jadi ke rumah lo kan?
Bagas membaca pesan dari Aliesha dengan senyum kecil. Padahal, pelajaran masih berlangsung, namun gadis itu sudah mengirim pesan padanya. Pria itupun dengan cepat membalas pesan gadis itu.
Bagas
Jadi dong
Ajak yang lain juga gak?
Aliesha
Jangan, kita berdua aja
Bagas mengernyit kala membaca pesan yang Aliesha kirimkan. Bertanya-tanya, mengapa hanya mereka berdua saja yang pergi ke rumahnya.
Bagas
Kenapa gak ajak yang lain?
Aliesha
Gue mau kenalan sama nyokap lo
Blush, wajah Bagas langsung memerah setelah membaca pesan itu. Ada apa ini? Mungkinkah Aliesha menyukainya?
Bagas melirik ke arah Aliesha yang terlihat serius menatap ke papan tulis. Tanpa ia sadari, wajahnya nampak berseri dengan senyum bahagia yang terpantri di bibirnya.
Bagas
Okay
Setelah itu, Aliesha tidak lagi membalas pesannya. Ketika bel pulang berbunyi, Naomi bergegas menghampiri meja Aliesha seperti biasa.
"Ayo pulang, Lis!" ajak Naomi.
Aliesha mengangkat kepalanya sembari tersenyum tipis. "Gue gak bisa ngumpul bareng kalian ya. Gue ada janji."
Naomi mengernyitkan dahinya bingung. "Sama siapa?" tanyanya.
"Rahasia," balas Aliesha tanpa ragu-ragu.
Naomi dengan cemberut mengikuti langkah Aliesha saat gadis itu keluar dari kelas. Seperti biasa, di depan pintu kelas, sudah ada Kenzie dan kawan-kawan serta Liam dan kawan-kawan.
Mereka semua mengikuti langkah Aliesha menuju tempat parkir. Masuk ke dalam mobil, Aliesha langsung tancap gas tanpa aba-aba.
Semuanya memiliki tatapan bingung di mata mereka. Secara serempak, mereka menoleh ke arah Naomi dengan tatapan bertanya. Naomi hanya bisa angkat bahu sambil menggelengkan kepalanya.
"Kita gak bisa ngumpul bareng Aliesha hari ini. Dia lagi ada janji," kata Naomi kalem.
Semuanya manggut-manggut mengerti. "So, kita mau langsung pulang atau ke rumah Kenzie dulu?" tanya Dhafin.
Semuanya dengan kompak menggeleng. "Gak asik kalau gak ada Aliesha," ucap Keenan yang disetujui semua orang.
Semuanya lantas naik ke kendaraan mereka masing-masing. Naomi refleks melempar kunci mobilnya pada Bagas.
"Lo yang nyetir dong, Gas."
Bagas menatap Naomi dengan perasaan bersalah. "Sorry, Nao. Nyokap gue nyuruh gue pulang cepet barusan," tolaknya.
Naomi mengangguk. "Ya udah deh. Bye, Gas!"
Naomi mengambil alih kunci mobilnya dari tangan Bagas, kemudian mengendarai mobilnya menuju rumah. Saat hanya tersisa Bagas di tempat parkir, pria itu mengeluarkan hpnya dan mengirim pesan pada Aliesha.
Bagas
Lo di mana?
Aliesha
Keluar aja
Gue bakal ngikutin motor lo dari belakang
Benar saja. Saat motor Bagas melewati gerbang sekolah, pria itu melihat mobil Aliesha mengikuti motornya melalui kaca spion.