Chapter 66: 65. Mimpi Aneh

Aliesha The ProtagonistWords: 8728

Tidak sampai setengah jam, Bagas dan Aliesha sudah sampai di rumah pria itu. Bagas bergegas turun dari motor untuk membuka pintu pagar rumahnya, agar Aliesha bisa memarkirkan mobilnya di pekarangan rumah pria itu.

"Ayo, Lis," ajak Bagas.

Aliesha mengangguk. Ia lantas mengikuti langkah Bagas yang berjalan memasuki rumah.

"Nyokap gue pasti lagi di belakang rumah. Gue panggilin Nyokap gue dulu ya? Atau ... lo mau ikut bareng gue aja?" tawar Bagas.

Tidak mau ditinggal sendirian di ruang tamu, Aliesha lebih memilih mengikuti Bagas ke belakang rumahnya. Gadis itu berkata, "Gue ikut lo aja deh."

Bagas mengangguk. Keduanya pun berjalan beriringan menuju belakang rumah Bagas. Di sana, Aliesha bisa melihat dengan jelas sosok wanita paruh baya yang terlihat sedang menyiram bunga.

Bagas yang tadinya berdiri di samping Aliesha bergegas menghampiri ibunya. Pria itu berjalan mengendap-endap layaknya pencuri. Tiba di belakang ibunya, Bagas langsung berkata, "Bagas pulang, Ma."

Ibunya Bagas terlonjak kaget saat mendengar suara pria itu. Beliau lalu berbalik dan cemberut ke arah Bagas.

"Kamu nih! Kalau Mama kena serangan jantung gimana?" omelnya.

Bagas hanya cengengesan sebelum akhirnya mencium punggung tangan ibunya. "Bercanda aja, Ma," imbuhnya.

Ibu Bagas terlihat menghela napas panjang sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Ketika mata beliau tertuju pada Aliesha, dahi wanita itupun mengernyit.

"Bagas, perempuan yang berdiri di depan pintu itu teman kamu?" tanya wanita itu.

Bagas mengangguk. "Iya, Ma. Namanya Aliesha," jawabnya.

Bagas kemudian memberi isyarat pada Aliesha untuk mendekat. Saat berjalan menghampiri kedua orang itu, Aliesha menunjukkan senyum kecil di bibirnya.

"Siang, Tante. Saya Aliesha, temannya Bagas," ujar Aliesha memperkenalkan diri.

"Baru kali ini Bagas ajak temannya main ke rumah. Tante ibunya Bagas. Gak usah sungkan ya, anggap aja rumah sendiri," ucap Dina tersenyum ramah.

Aliesha mengangguk, "Iya, Tante."

Dina kembali menatap Bagas. "Gas, kamu ganti baju dulu gih. Biar Aliesha Mama yang temenin," katanya.

Bagas melirik Aliesha cukup lama. Tahu Bagas sedang menunggu reaksinya, Aliesha pun mengangguk dan tersenyum.

"Ya udah. Bagas ke kamar dulu ya, Ma. Lis, tunggu sebentar ya," pamitnya.

Setelah Bagas pergi, Dina kembali melanjutkan kegiatannya menyiram bunga. Aliesha tidak bisa melakukan apa-apa selain melihat dari samping.

"Duduk, Nak. Jangan berdiri saja," suruh Dina tiba-tiba.

Aliesha mengangguk pelan, ia lalu duduk di kursi yang ada di sana. Suasana di antara mereka terasa sangat canggung. Sembari menunggu kedatangan Bagas, gadis itupun memutuskan untuk memberanikan dirinya bertanya pada Dina.

"Tante, aku boleh tanya sesuatu gak?" tanya Aliesha.

Dina menghentikan kegiatannya sejenak dan menoleh pada Aliesha. "Mau tanya apa, Aliesha?" Dina balik bertanya.

"Tante ... kenal gak sama Tante Kirana, ibunya David?"

Mendengar nama Kirana disebut, gembor di tangan Dina langsung terjatuh begitu saja. Mata wanita itu membelalak kaget. Rasa terkejut yang ia rasakan jauh berkali-kali lipat daripada saat Bagas mengagetkannya tadi.

Melihat ke arah Aliesha lagi, Dina pun menutupi raut terkejutnya dengan senyum palsu.

"Kamu kenal sama Mamanya David?" tanya Dina dengan nada lembut, namun getaran dari suaranya tidak bisa ditutupi sepenuhnya.

Aliesha mengangguk. "Iya, Tante. Tante Kirana bilang, Tante sama beliau adalah teman baik. Benar ya, Tante?"

Tentu saja, ucapan Aliesha barusan tidak sepenuhnya bohong. Dina dan Kayla memang benar-benar bersahabat saat masih SMA dulu, entah bagaimana hubungan mereka sekarang.

Gadis itu sengaja menyebut nama Kirana, karena ia ingin melihat reaksi Dina saat namanya disebut. Dina terlihat mengerjapkan matanya berkali-kali, seperti sedang memikirkan sesuatu.

Ketika Bagas datang lagi setelah berganti baju, Dina langsung menghembuskan napas lega, sedangkan Aliesha nampak menggigit bibir bawahnya karena ia belum berhasil memojokkan Dina.

"Bagas!" seru Dina dengan raut wajah bahagia.

"Kamu ajak Aliesha main di kamar kamu aja ya. Mama mau istirahat dulu di kamar. Nak Aliesha, Tante tinggal dulu ya. Selamat bersenang-senang," lanjutnya. Ia lalu bergegas pergi tanpa menunggu jawaban dari Bagas ataupun Aliesha.

Bagas mengernyit saat melihat punggung ibunya yang berjalan terburu-buru. Pria itu kemudian tersenyum malu pada Aliesha.

"Sorry ya, Lis. Nyokap gue lagi gak enak badan kayaknya. Kita ke ruang tamu aja yuk," ajaknya.

Aliesha menggeleng. "Gak usah, Gas. Gue langsung balik aja," tolaknya.

Bagas menatap Aliesha heran. "Kenapa? Kok balik?" tanya pria itu tak mengerti.

Aliesha berpura-pura melirik ke arah jam yang melingkar di tangannya. "Sebenarnya Nyokap gue sempat telfon tadi, nyuruh gue pulang," bohongnya.

"Beneran?"

Aliesha mengangguk. "Iya. Gue pulang ya, Gas. Nanti lain kali gue mampir lagi."

Bagas membuang napas pasrah ketika pria itu mengangguk mengerti. "Okay. Mau gue antar gak?"

Aliesha menggeleng lagi. "Gue bisa pulang sendiri kok."

Bagas akhirnya hanya mengantar Aliesha sampai gadis itu memasuki mobil. Setelah mobil Aliesha keluar dari pekarangan rumahnya, ia pun melambai pelan ke arah mobil gadis itu yang sudah melaju pergi.

***

Waktu sudah menunjukkan pukul tengah malam, namun Aliesha tidak bisa tidur lantaran ada banyak hal yang mengusik pikirannya.

Aliesha segera beranjak dari tempat tidur menuju meja belajar. Ia lalu meletakkan sebuah buku kosong serta pena di atas meja.

Ia memutuskan untuk menjabarkan informasi yang sudah ia dapatkan ke dalam buku. Pertama, Salma bunuh diri karena dibully olehnya lebih dari dua puluh tahun yang lalu, tepatnya saat ia masih di tubuh lamanya.

Kedua, selang dua hari setelah Salma meninggal, Dina membunuhnya dengan cara mendorongnya dari rooftop. Karena tubuh lamanya mati, ia pun berpindah ke tubuh Aliesha. Ketiga, Dina menukar wajah Kayla dan wajah lamanya, sehingga Kayla dinyatakan meninggal, sedangkan Kayla melanjutkan hidupnya sebagai Kirana.

Keempat, Kirana yang ternyata adalah Kayla merupakan ibu dari David, sedangkan Dina adalah ibunya Bagas.

Kelima, Raven adalah keponakan Salma, sebab Salma adalah adik dari ibunya Raven.

Untuk menjebloskan Dina ke penjara, mereka membutuhkan bukti kuat yang menunjukkan bahwa Dina benar-benar telah membunuh Kirana. Hanya saja, mereka tidak memiliki bukti itu.

Untuk meminta kesaksian dari Kayla, Aliesha yakin bahwa wanita itu pasti tidak akan mau melakukannya. Apalagi beliau memiliki trauma tentang masa lalu.

Tentu saja, Aliesha juga akan trauma jika berada di posisi Kayla. Bagaimana tidak? Sahabatnya sendiri dengan tega berani menukar wajahnya dengan wajah tukang bully dan memalsukan kematiannya.

Aliesha mengacak-acak rambutnya gusar seraya menghela napas panjang. Gadis itu menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi sambil menatap kosong pada buku yang sudah tidak lagi kosong.

"Sekarang gue harus apa?" gumamnya merasa putus asa.

Secara perlahan, rasa kantuk mulai menghampiri Aliesha. Takut ia tidak bisa tidur jika sudah berada di atas kasur, gadis itu memutuskan untuk menidurkan kepalanya sementara di atas meja.

Malam itu, Aliesha bermimpi aneh. Ia berada di atas rooftop seperti biasa. Bedanya, ia tidak lagi berada di tubuh Aliesha, melainkan di tubuh lamanya.

Gadis itu melihat sekeliling dengan tatapan bingung. Suasananya sama persis seperti sebelum ia jatuh dari rooftop. Saat pintu rooftop berdecit terbuka, gadis itu dengan cepat menoleh.

Mata gadis itu membelalak mendapati sosok Aliesha yang asli berjalan mendekatinya.

"Hai, Kirana," sapa Aliesha yang asli saat gadis itu tersenyum lembut.

Kirana ... sudah lama rasanya ia tidak pernah dipanggil lagi seperti itu. Nama itu menjadi asing sejak ia masuk ke tubuh Aliesha.

Kirana tidak membalas, ia hanya terdiam sembari menatap lekat Aliesha yang asli.

"Kamu pasti terkejut. Mau jalan-jalan sebentar gak?" Aliesha yang asli kembali bersuara.

Tanpa sepatah katapun, Kirana mengikuti langkah Aliesha yang berjalan memasuki gedung sekolah. Keduanya berjalan ringan di koridor sekolah yang nampak sepi tidak berpenghuni.

"Kita mau ke mana?" tanya Kirana pada akhirnya.

Aliesha yang asli menoleh dan tersenyum lebar. "Kamu mau kita pergi ke mana?"

Kirana mengerutkan alisnya tak mengerti. Tanpa pikir panjang, gadis itu menjawab, "Gue gak mau ke mana-mana. Gue cuma mau tahu kebenaran dari semua ini."

Senyum Aliesha yang asli berubah sendu. "Kamu yakin?" tanyanya.

Kirana mengangguk. Aliesha yang asli juga ikut mengangguk. "Baiklah," katanya.

"Pegang tanganku, lalu pejamkan matamu. Aku akan membawamu melihat semuanya," sambungnya.

Meski ragu, Kirana akhirnya meraih tangan Aliesha yang asli sambil memejamkan kedua matanya. Selang beberapa detik, gadis itu merasakan tubuhnya melayang dengan cepat dan berhenti seperti semula.