Chapter 67: 66. Menjelajahi Dunia Mimpi

Aliesha The ProtagonistWords: 8500

"Kamu sudah boleh membuka matamu, Kirana."

Mengikuti perintah Aliesha yang asli, Kirana pun membuka matanya yang tadi terpejam. Gadis itu melihat ke sekeliling dengan wajah kebingungan.

"Kita lagi di mana?" tanyanya pada sosok Aliesha yang asli.

Aliesha yang asli hanya mengarahkan telunjuknya ke arah depan. "Perhatikan baik-baik. Dengan begitu, kamu akan mengetahui semua jawaban yang kamu cari selama ini," tuturnya.

Tidak lagi bertanya, Kirana mulai memfokuskan pandangannya ke arah yang ditunjuk oleh Aliesha yang asli.

Ia bisa melihat ada sosok Kayla yang sedang melihat ke arah rooftop. Yap, Kirana dan Aliesha yang asli sedang berada di SMA Kivandra saat pembunuhan itu terjadi.

Posisi keduanya membentuk garis lurus ke arah Kayla sehingga mereka juga bisa melihat kejadian di rooftop. Kirana bisa melihat dengan jelas saat tubuhnya didorong oleh orang yang ia curigai sebagai Dina.

Setelah tubuhnya jatuh ke bawah, tidak ada kehebohan yang terjadi. Semua murid yang ada di ruangan kelas nampak fokus dengan pelajaran yang tengah diajarkan.

Hanya sosok Kayla yang Kirana lihat mendekati tubuhnya yang sudah bersimbah darah. Karena shock, gadis itu bahkan berjalan sambil tertatih-tatih, kemudian pergi sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

Kirana yang penasaran akhirnya mengikuti ke mana Kayla pergi. Pada saat itu, ia melihat orang yang mendorongnya secara tidak sengaja bertabrakan dengan Kayla.

Saat mendengar percakapan di antara mereka, Kirana kini yakin bahwa orang yang mendorongnya benar-benar Dina.

"Tutup matamu lagi, Kirana," suruh Aliesha yang asli sembari menggenggam tangan Kirana. Entah sejak kapan gadis itu sudah berdiri di sebelahnya.

Mengikuti perintahnya, Kirana lagi-lagi menutup matanya. Setelah merasa pusing sejenak, gadis itupun membuka matanya perlahan. Kini mereka sudah ada di dalam bangunan tua yang tampak gelap.

Hanya ada satu sumber penerangan, yaitu dari ruangan yang pintunya sedang terbuka. Di sana, Kirana melihat sosok Kayla sudah dibaringkan di atas brankar dan dikelilingi oleh banyaknya dokter serta Dina dan seorang pria yang tidak ia kenal.

"Siapa pria itu?" tanya Kirana spontan.

Aliesha yang asli pun menjawab, "Ayahnya David dan Bagas."

Kirana menoleh dengan tatapan terkejut. "Maksudnya?"

"Aku akan menjelaskannya nanti," balas Aliesha yang asli datar.

Kirana lanjut menonton dari jauh saat dokter-dokter itu mulai mengoperasi wajah Kayla dan menggantinya dengan wajahnya. Ia melihat kejadian itu dengan tatapan ngeri.

Ketika Aliesha yang asli memegang tangannya, Kirana langsung menutup matanya tanpa disuruh. Begitu ia membuka matanya, mereka sudah berada di rumah kakek Kirana.

Sepertinya itu adalah hari dimana Kayla dipulangkan dari rumah sakit setelah wajahnya dioperasi, sebab Kirana bisa melihat Kayla memasuki rumah kakeknya dari jendela di ruang kerja kakeknya.

Di ruangan itu, kakek Kirana terlihat sedang duduk di balik meja sambil memegang beberapa foto. Kirana berjalan mendekati pria tua itu, penasaran dengan foto yang sedang dilihat kakeknya.

Saat melihat gambar-gambar itu, mata Kirana membulat tak percaya. Ternyata, kakeknya sudah tahu bahwa dia sudah meninggal.

Foto itu jelas menampilkan Kirana yang sudah bersimbah darah setelah jatuh dari rooftop. Ada juga foto saat gadis itu didorong oleh Dina. Sebenarnya, foto-foto itu adalah bukti kejahatan yang Dina lakukan.

Tatapan Kirana beralih pada komputer kakeknya saat pria tua itu memutar sebuah video cctv yang ada di sekolah milik kakeknya.

Rupanya, ada juga bukti cctv yang menampilkan wajah Dina, Kayla, serta penjaga sekolah saat mereka membawa jenazah Kirana memasuki mobil.

"Kalau Kakek udah tahu, kenapa dia gak jeblosin Dina ke penjara?" lirih Kirana.

Aliesha yang asli kembali memegang tangan Kirana, membuat Kirana langsung menutup matanya.

"Ini dia jawabannya, Kirana."

Kirana segera membuka matanya lagi begitu mendengar suara Aliesha yang asli. Kini posisi mereka sudah berada di dapur. Ia mendapati Kayla tengah membuatkan kopi yang ia tebak untuk kakeknya.

Hanya saja, mata Kirana memicing saat melihat Kayla memasukkan bubuk berwarna putih ke dalam kopi itu.

Kirana mengikuti langkah Kayla saat gadis itu membawakan kopi ke ruang kerja kakeknya. Kirana hendak menghentikan kakeknya dari meminum kopi itu, hanya saja ia tidak bisa melakukannya.

Tanpa ia sadari, air mata sudah jatuh membasahi pipinya saat Kirana melihat tubuh kakeknya mulai kejang-kejang setelah meminum kopi itu. Ia lalu melihat Kayla membongkar laci meja yang ada di ruangan itu.

Saat gadis itu menemukan map coklat berisi foto-foto yang sebelumnya Kirana lihat, ia dengan cepat berjalan ke luar kamar. Kirana lagi-lagi mengikuti Kayla dari belakang.

Pada saat itu, ia melihat Kayla bertemu dengan Dina dan pria yang sebelumnya Aliesha sebut sebagai ayah dari David dan Bagas. Gadis itu memberikan map itu pada Dina.

Kirana mengepalkan tangannya erat. "Kurang aj*r! Jadi kalian yang menghancurkan bukti-buktinya," ujarnya marah.

Aliesha yang asli menyentuh bahu Kirana lembut. "Tidak semuanya, Kirana. Mereka tidak sempat menghapus file yang ada di komputer kakekmu," jelasnya.

Sekeliling mereka tiba-tiba saja sudah berubah menjadi koridor sekolah lagi. Kirana melihat sekitarnya heran, kemudian berbalik dan menatap Aliesha yang asli lekat.

"Apakah ... komputer itu masih ada? Mereka pasti sudah membuang komputer itu," ucapnya dengan mata berkaca-kaca.

"Itu adalah tugasmu untuk mencari tahu, Kirana. Aku hanya bisa membantumu sampai di sini," balas Aliesha yang asli.

Bahu Kirana merosot ke bawah saat mendengar itu. Begitu mengingat pertanyaan yang selalu terngiang di kepalanya, Kirana mengangkat kepalanya lagi dan menatap Aliesha yang asli dengan tatapan penasaran.

"Kalau gitu ... lo harus jelasin ke gue kenapa lo bisa mati. Gue harus tahu tentang kematian lo," pinta Kirana.

"Baiklah. Sebenarnya, itu bukan salah siapa-siapa. Aku jatuh dari tangga karena kemauanku sendiri. Aku berniat bunuh diri, Kirana. Aku tidak sanggup menjalani hidupku sendiri," tutur Aliesha yang asli memulai ceritanya.

"Kenapa?" tanya Kirana bingung.

"Meskipun banyak orang yang menyayangiku, saudara yang aku butuhkan kehadirannya malah membenciku. Aku tidak bisa bahagia ketika Arisha menderita karena kehadiranku. Aku ingin mengakhiri semuanya, dan hanya itulah jalan satu-satunya. Aku ingin melihat Arisha bahagia, Kirana."

Kirana menggeleng. "Gak harus dengan cara itu, Aliesha. Lo itu berharga, banyak yang sayang sama lo."

Aliesha yang asli tersenyum. "Aku tahu, Kirana. Itulah sebabnya aku menuntun jiwamu memasuki ragaku. Mulai dari sekarang, kau bukan lagi Kirana Wijaya, melainkan Aliesha Azkadina. Kuserahkan tubuhku padamu. Hiduplah dengan baik, dan rasakanlah kebahagiaan yang kuberikan padamu."

Aliesha yang asli kemudian memeluk Kirana cukup lama, setelah itu menghilang begitu saja. Kirana yang kini sudah kembali ke tubuh Aliesha langsung tersentak bangun dari tidurnya.

Gadis itu menatap sekeliling dengan alis berkerut. Ia bingung saat melihat ada banyak sekali orang yang berkumpul di kamarnya.

"Syukurlah, Aliesha. Akhirnya kamu bangun juga. Hampir aja Mama sama Papa bawa kamu ke rumah sakit," ucap Mama Yanti dengan mata berkaca-kaca. Beliau langsung memeluk Aliesha erat.

"Nak, apa kamu merasa sakit di tubuh kamu?" tanya Papa Bimo khawatir.

Aliesha menggeleng. "Gak ada yang sakit tuh. Aku baik-baik aja kok, Ma, Pa," jawabnya.

"Lo tahu gak sih, kalau lo itu udah gak sadarkan diri selama dua hari?" celetuk Arisha tiba-tiba.

Farzan yang berdiri di samping Arisha terlihat mengusap bahu gadis itu. "Jangan marahin Aliesha dulu, Ris. Dia kan baru bangun," tegurnya.

Arisha hanya mengangguk dan tidak berkata apa-apa lagi. Aliesha menatap kosong ke depan. "Dua hari?" gumamnya.

Mama Yanti melepaskan pelukannya dan mengangguk. "Benar, Sayang. Kamu pingsan selama dua hari. Mama sempat panggil dokter ke rumah, tapi dokter bilang kamu baik-baik aja. Gak ada masalah sama kesehatan kamu."

"Lis, gue khawatir banget sama lo," rengek Naomi saat gadis itu mendekati Aliesha dan memeluk tubuhnya.

Aliesha terkekeh. "Gue baik-baik aja kok, Nao," hiburnya sembari menepuk-nepuk pelan punggung Naomi.

Mama Yanti dan Papa Bimo saling bertukar pandang. Keduanya kemudian mengangguk penuh arti.

"Aliesha, Mama sama Papa mau ke luar sebentar. Kamu sama teman-teman kamu dulu ya," ucap Mama Yanti sambil mengecup kening gadis itu.

Setelah Aliesha mengangguk, Mama Yanti dan Papa Bimo pun bergegas keluar dari kamar. Kini hanya tersisa Aliesha, Naomi, Farzan, dan Arisha di kamar gadis itu.