Chapter 68: 67. Gak Mungkin!

Aliesha The ProtagonistWords: 8428

Suasana nampak canggung saat tidak ada satu orangpun di antara mereka yang bersuara. Mereka hanya saling menatap dalam diam. Tanpa aba-aba, Arisha langsung menghambur ke pelukan Aliesha.

"Gue bersyukur lo baik-baik aja, Lis," katanya dengan suara bergetar menahan tangis.

Tubuh Aliesha membeku sesaat setelah Arisha memeluknya secara tiba-tiba. Namun, senyum tipis segera muncul di bibir gadis itu.

"Gue juga bersyukur bisa diberi kesempatan untuk hidup, Ris," balasnya.

Arisha melepaskan pelukannya dan menatap Aliesha dengan alis berkerut, bertanya-tanya apa yang dimaksud dari ucapan gadis itu. Begitu melihat Aliesha hanya tersenyum sambil mengangkat kedua bahunya ke atas, Arisha pun mengurungkan niatnya untuk bertanya.

Tatapan Arisha dengan cepat beralih pada sosok Naomi dan Farzan. "Gue bisa minta waktu berdua bareng Aliesha aja gak?" pintanya.

Farzan mengangguk maklum. "Sure. Gue tunggu di luar ya," pamit pria itu.

Naomi masih tetap mematung di tempatnya berdiri saat Farzan sudah keluar dari kamar itu. Gadis itu menatap Aliesha dan Arisha bergantian, kemudian membuang napas pasrah.

"Okay. Tapi ... lo harus janji dulu ke gue kalau lo gak bakalan nyakitin Aliesha," ucap Naomi. Meski ia tahu bahwa hubungan Aliesha dan Arisha sudah tidak lagi seperti dulu, ia tetap merasa khawatir jika harus meninggalkan keduanya sendirian.

Arisha terkekeh sembari menggelengkan kepalanya pelan. "Lo tenang aja. Gue gak mungkin nyakitin saudari gue sendiri."

Naomi mengangkat kedua bahunya dengan acuh tak acuh. "Gue gak bakal keluar sampai lo bilang janji ke gue," katanya.

Arisha terlihat menarik napas panjang, ia kemudian mengangguk. "Gue janji, gue gak bakalan nyakitin Aliesha. Puas?"

Naomi mengangguk puas. Tanpa bicara apa-apa lagi, gadis itu lantas beranjak dari kamar itu. Arisha kemudian mengunci pintu kamar Aliesha dari dalam setelah kepergian Naomi.

"Ngapain dikunci?" tanya Aliesha heran.

Arisha berbalik dan menatap Aliesha dengan wajah tanpa ekspresi. Tanpa menjawab pertanyaan gadis itu, ia berjalan menuju meja belajar Aliesha. Ia kemudian mengeluarkan sebuah buku dari laci meja itu dan mengangkatnya ke atas, memudahkan Aliesha untuk melihat buku itu.

"Ada yang mau lo jelasin ke gue?" tanya Arisha seraya gadis itu mendudukkan bokongnya pada meja belajar Aliesha.

Mata Aliesha membulat melihat bukunya ada di tangan Arisha. Itu adalah buku yang terakhir kali ia pakai sebelum ia tertidur. Gadis itu bergegas berdiri, berniat merampas buku itu dari tangan Arisha. Sayangnya, Arisha dengan cepat menjauhkan buku itu dari jangkauan Aliesha.

"Gue bakal kasih buku ini ke lo, kalau lo mau jelasin semuanya ke gue," kata Arisha dengan mimik serius.

Arisha adalah orang yang pertama kali menyadari bahwa Aliesha pingsan, ketika ia datang ke kamar gadis itu dengan niat membangunkannya. Saat menemukan Aliesha tertidur di meja belajar, Arisha pikir gadis itu hanya kecapean setelah belajar semalaman.

Namun setelah setengah jam ia berusaha membangunkan gadis yang tak kunjung bangun itu, ia akhirnya menyadari adanya keanehan. Pagi itu, suasana di rumah mereka menjadi gaduh saat Arisha memanggil kedua orangtuanya untuk datang ke kamar Aliesha.

Papa Bimo bergegas menggendong Aliesha dan membaringkan tubuhnya di kasur, setelah itu barulah Mama Yanti menelepon dokter kenalannya. Disaat semua pandangan terfokus pada Aliesha, tatapan Arisha justru teralihkan pada buku yang ada di atas meja.

Buku itu masih terbuka dengan pena di atasnya. Arisha secara perlahan berdiri di sisi meja sambil membaca tulisan di buku itu. Ia pikir itu adalah buku tugas milik Aliesha, namun ternyata ia salah.

Tulisan di buku itu jelas membingungkan, seperti sedang menjabarkan sebuah peristiwa. Takut ada orang lain selain dirinya yang membuka buku itu, Arisha dengan cepat memasukkan buku itu ke dalam laci meja.

Gadis itu kembali membuka buku itu keesokan harinya, tepat sehari setelah Aliesha tidak sadarkan diri. Karena ia diminta Mama Yanti untuk menjaga Aliesha, ia akhirnya mempunyai kesempatan untuk membaca lagi isi di dalam buku itu.

Jujur saja, Arisha tidak begitu mengerti maksud dari tulisan-tulisan yang ada di sana. Ia bahkan tidak tahu nama-nama siapa saja yang disebut di dalam buku itu.

Siapa itu Salma? Siapa Dina? Siapa lagi Kayla? Satu-satunya nama yang Arisha tahu hanyalah nama Aliesha.

Kalimat pertama di buku itu jelas tertulis, 'Gue bully Salma sampai dia bunuh diri.' Kata 'Gue' dalam kalimat itu merujuk pada siapa? Apakah Aliesha? Kapan Aliesha membully perempuan bernama Salma?

Jelas-jelas Aliesha adalah perempuan yang baik dan berhati lembut. Tidak mungkin rasanya perempuan lemah lembut seperti Aliesha tega membully orang lain.

Setelah Arisha membaca isi di dalam buku itu, kepala gadis itu sudah dipenuhi oleh banyak sekali pertanyaan yang tidak bisa ia jawab seorang diri. Ia membutuhkan jawaban dari orang yang bersangkutan secara langsung.

Dan ... disinilah ia berada sekarang, tentunya bersama si pemilik buku itu, Aliesha.

Aliesha mematung di tempatnya berdiri dengan wajah shock. Sepertinya Arisha sudah membaca isi di dalam buku itu, sehingga dia menjadi seperti ini.

Aliesha menelan ludah sambil menatap langit-langit kamarnya. Sedetik kemudian, sudut bibir gadis itu terangkat membentuk senyum simpul. Ia kemudian secara perlahan duduk di tepi kasur dengan tatapan kosong.

"Lis," panggil Arisha setelah cukup lama mereka terdiam.

Aliesha mengangkat pandangannya, membuat tatapan keduanya bertemu. Aliesha merenung sebentar, kemudian berkata, "Lo boleh tanya apapun ke gue, dan gue bakal jawab semua pertanyaan dari lo," pasrah gadis itu.

Melihat sikap Aliesha yang kelewat santai setelah tadi ia sempat terkejut dan terdiam, entah mengapa membuat Arisha merasa kesal. Gadis itu dengan cepat menarik napas panjang untuk meredakan emosinya.

"Gue mau lo jelasin maksud dari isi buku ini, Lis!" tegas Arisha.

Aliesha terkekeh. "Masalahnya ... gue gak tahu harus mulai jelasin darimana, Ris. Gue juga gak yakin lo bisa mencerna penjelasan dari gue," balasnya.

"Lo tinggal jelasin aja semuanya ke gue. Apa susahnya sih, Lis?" Arisha mulai memaksa.

Aliesha membuang napas kasar saat gadis itu mengangguk. "Okay, gue bakal jelasin semuanya ke lo. Tapi sebelum itu, lo harus janjiin tiga hal dulu ke gue."

Arisha mengernyitkan keningnya bingung. "Apa?" tanyanya.

Aliesha pun menaikkan jari telunjuknya ke atas saat gadis itu berkata, "Pertama, lo gak boleh bocorin pembicaraan kita hari ini ke siapapun. Bahkan ke orang tua kita sekalipun."

Arisha mengangguk setuju. "Okay."

Aliesha lalu menaikkan jari tengahnya yang berdiri berdampingan dengan jari telunjuknya. Ia pun melanjutkan, "Kedua, jangan salahkan siapapun atas apa yang sudah terjadi. Terutama ... jangan salahin diri lo sendiri."

Meski tidak mengerti maksud ucapan Aliesha barusan, Arisha tetap mengangguk setuju. "Ketiga, lo gak boleh potong ucapan gue, dan gak boleh teriak kalau kaget sama cerita gue. Kalau lo kaget, mending lo pingsan aja deh, biar gak ribet," sambung Aliesha lagi.

Arisha mengangguk malas. "Hm, gue janji gak bakal lakuin tiga hal yang tadi lo sebutin. Sekarang cepat lo jelasin ke gue, apa maksud dari tulisan-tulisan yang ada di dalam buku ini," tuntutnya.

Aliesha mengangguk. Ia lalu perlahan berdiri, kemudian berjalan mendekati Arisha. Gadis itu lantas mengambil alih buku miliknya dari tangan Arisha, setelah itu kembali lagi ke kasur.

"Sebenarnya, gue ini bukan Aliesha yang lo kenal. Aliesha yang dulu sering lo bully itu udah mati. Nama asli gue adalah Kirana Wijaya, dan gue dulunya adalah tukang bully di sekolah gue," ujar Aliesha memulai ceritanya.

Mendengar itu Arisha terdiam sejenak. Beberapa detik kemudian, gadis itu tertawa terbahak-bahak dengan suara keras.

"Bentar, Lis. Ini ... lo gak lagi halu kan ya? Kenapa lo jadi ngelantur gini sih?" ucap Arisha sambil menahan tawa.

Berbanding terbalik dengan ekspresi Arisha, raut wajah Aliesha kini datar tanpa ekspresi. Gadis itu menunggu sampai Arisha berhenti tertawa, barulah setelah itu dia kembali bersuara.

"Udah selesai ketawa? Perkataan gue yang barusan itu lucu ya, Ris." Aliesha berucap sinis.

Arisha terkekeh hambar. "Ucapan lo yang tadi itu cuma bercanda kan, Lis?" tanyanya.

Ekspresi serius yang Aliesha tunjukkan membuat perasaan Arisha menjadi tidak enak. Jantung gadis itu mulai berdetak kuat, rasanya seperti baru saja dipukul oleh benda keras. Tubuhnya mulai lemas disertai ekspresi ketakutan di wajahnya.

"Gak mungkin!" lirihnya.