Aliesha menghela napas panjang dan membuangnya secara perlahan. Ia lalu menggeser tubuhnya ke belakang, kemudian menepuk sisi tempat tidur yang kosong sambil menatap Arisha.
"Lo duduk di sini aja, Ris. Gue akan menceritakan semuanya dari awal, biar lo gak bingung terkait ucapan gue sebelumnya," bujuk Aliesha dengan nada yang sangat lembut.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Arisha bergegas menuju tempat tidur dengan langkah lunglai. Setelah gadis itu duduk, barulah Aliesha memulai ceritanya lagi.
"Seperti yang udah gue katakan sebelumnya, nama asli gue adalah Kirana Wijaya. Gue adalah tukang bully di sekolah gue. Nama-nama yang lo lihat di buku yang ada di tangan lo sekarang merupakan nama dari orang-orang yang punya kaitan erat dengan masa lalu gue," jelas Aliesha.
Gadis itu lagi-lagi menghela napas panjang sebelum kembali melanjutkan ceritanya. "Salma, dia bunuh diri gara-gara gue ngebully dia. Salma punya dua orang teman, mereka adalah Kayla dan Dina. Dina yang marah sama gue karena gue adalah penyebab Salma bunuh diri, memutuskan untuk mendorong gue dari rooftop sekolah," katanya sambil tersenyum miris.
Aliesha menatap Arisha dengan senyum lebar. Namun, matanya yang berkaca-kaca memperjelas semuanya.
"Gue udah mati, Ris. Anehnya, gue gak benar-benar mati. Pas gue bangun, gue udah ada di tubuh ini," ucap Aliesha sembari tertawa kecil, setetes air mata mulai meluncur ke pipinya.
Arisha hanya bisa diam membisu menyaksikan wajah Aliesha yang jelas-jelas merasa terluka. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan untuk menghibur gadis di depannya.
Menyadari air matanya mulai jatuh, Aliesha pun dengan cepat menyekanya menggunakan lengan bajunya. Ia lalu terkekeh.
"Awalnya, gue kira gue masuk di dunia novel. Kisah lo sama Aliesha itu ada di dalam novel, Ris. Gue suka banget sama karakter lo yang selalu ngebully Aliesha. Dan gue benci banget sama karakter Aliesha yang lemah. Siapa sangka? Gue malah masuk ke tubuh karakter yang gue gak suka," katanya.
"Lo tahu gak, kenapa gue selalu ngebiarin lo ngebully gue disaat gue bisa aja ngelawan lo? Itu karena gue tahu, akan ada Farzan sama kawan-kawannya yang bakal nolongin gue."
"Dan lo tahu, kenapa gue bikin kesepakatan sama lo buat pindah sekolah? Itu karena lo adalah karakter kesukaan gue. Sejujurnya, gue juga kasihan sama lo, Ris. Lo gak pernah dapat kasih sayang dari siapapun setelah kedatangan Aliesha, sama seperti gue dulu."
"Tapi--" Arisha baru saja bersuara, namun sudah dipotong terlebih dahulu oleh Aliesha. Gadis itu meletakkan jari telunjuk ke bibirnya sendiri untuk menyuruh Arisha berhenti.
Aliesha berkata, "Gue belum selesai, Ris."
"Lo ingat gak kalau sebelumnya gue kira gue masuk ke dunia novel? Ternyata nggak, Ris. Ini tuh dunia nyata. Ternyata novel yang menceritakan tentang lo sama Aliesha itu cuma kebetulan semata," sambung Aliesha.
"Dan ... gue sempat ketemu sama Aliesha di dalam mimpi. Dia bilang, dia mau lihat lo hidup bahagia, Ris. Dia juga menyesal, karena gara-gara dia, lo jadi dimusuhi banyak orang. Alasan gue bisa ada di tubuh Aliesha ya ... karena itu. Aliesha sendiri yang nuntun jiwa gue untuk bersemayam di tubuh ini. Aliesha memilih mengakhiri hidupnya sendiri demi kebahagiaan lo, Ris."
Arisha duduk termenung dengan tatapan kosong, setelah Aliesha membeberkan semua fakta yang selama ini ia simpan rapat-rapat. Aliesha sendiri hanya bisa menghela napas panjang melihat sosok Arisha yang sepertinya sangat terguncang dengan apa yang baru saja dia dengar.
"Ini benar-benar gak masuk akal," lirih Arisha sambil menggeleng-gelengkan kepalanya kuat. Perasaannya mulai campur aduk. Bingung, cemas, kecewa, takut, semua perasaan itu bercampur menjadi satu. Perasaan yang paling dominan ia rasakan adalah perasaan bersalah.
Ia merasa bersalah, karena gara-gara dia, Aliesha yang asli telah tiada. Tidak tahan dengan semua perasaan itu, Arisha mulai memukul-mukul bagian dadanya, guna meredakan rasa sesak yang tengah ia rasakan.
Arisha menangis tanpa suara, tentu saja hal itu membuat dadanya semakin sesak. Melihat Arisha seperti itu, Aliesha refleks mengulurkan tangannya untuk memeluk gadis itu.
"Udah, Ris. Lo udah janji buat gak nyalahin diri lo sendiri. Semuanya udah terjadi. Itu juga keputusan Aliesha sendiri buat mengakhiri hidupnya, tanpa paksaan dari siapapun," hibur Aliesha.
"Ta-tapi ... G-ga-gara-gara gue A-aliesha jadi gak ada. Ha-harusnya, ha-harusnya gue b-berhenti bully dia s-sebelum d-dia ngelakuin h-hal itu," ujar Arisha terbata-bata dengan suara sesenggukan.
Aliesha dengan lembut menepuk-nepuk punggung Arisha untuk menenangkan gadis itu. "Semua ini gak sepenuhnya salah lo, Ris. Lo punya alasan tersendiri yang bikin lo pada akhirnya ngebully Aliesha. Semua orang turut punya andil dalam masalah ini. Entah itu orang tua lo, teman sekolah lo, ataupun Aliesha sendiri. Jadi ... jangan salahin diri lo lagi," pinta Aliesha.
Arisha hanya bergeming dalam pelukan Aliesha. Tidak ada sepatah-katapun yang terucap, hanya ada suara tangisan yang terdengar. Aliesha pun melepaskan pelukannya secara perlahan, ia lalu keluar dari kamar itu untuk memberi ruang pada Arisha.
Naomi dan Farzan yang sedari tadi menunggu di luar, bergegas menghampiri Aliesha saat pintu kamar gadis itu terbuka. Aliesha dengan cepat menutup pintu kamarnya, mencegah kedua orang itu agar tidak mengintip ke dalam.
"Kalian bicarain apa aja tadi?" tanya Naomi.
Aliesha tersenyum tipis. "Bukan apa-apa. Kita ke bawah, yuk! Gue haus nih," katanya mengalihkan pembicaraan.
Naomi mengangguk semangat. Tatapan Aliesha pun beralih ke arah Farzan yang tetap bergeming di tempatnya berdiri. Seolah tahu isi kepala Farzan, gadis itu lantas mengangguk kecil, memberi izin pada pria itu untuk masuk ke kamarnya.
Ketika Aliesha dan Naomi berjalan menuruni tangga, Farzan menatap pintu kamar sambil menarik napas panjang. Ia pun memberanikan diri untuk membuka pintu kamar itu. Tubuhnya mematung melihat tubuh Arisha yang meringkuk membelakangi pintu.
Farzan melangkah pelan menuju ranjang. Pria itu lalu mengambil kursi yang ada di sana tanpa suara, kemudian memposisikan kursi itu tepat di sisi ranjang.
Farzan duduk dengan tenang sembari menatap lurus ke arah Arisha. Melihat kondisi gadis itu, Farzan tahu bahwa Arisha membutuhkan waktu untuk sendiri. Maka dari itu, dia hanya duduk diam tanpa mengeluarkan bunyi sedikitpun.
***
Hari demi hari berlalu begitu saja. Sejak bangun dari mimpi yang terbilang cukup panjang itu, Aliesha semakin gencar mendekati Bagas. Hampir setiap hari ia berangkat ke sekolah bersama pria itu.
Karena kedekatan keduanya, Naomi bersama tujuh pria lainnya mulai memiliki kecurigaan. Tepat ketika mereka beramai-ramai pergi ke kantin untuk makan siang, Naomi adalah orang pertama yang mengutarakan kecurigaannya.
"Kalian berdua pacaran ya?" tuding Naomi saat sendok Aliesha sedang melayang ke mulutnya, refleks tangan Aliesha berhenti di udara.
Gadis itu mengangkat kepalanya untuk melihat ke arah Naomi. Ia mengerutkan kening dengan tatapan bertanya. Naomi pun melirik Bagas sekilas, kemudian menatap Aliesha lagi.
Mengerti isyarat yang Naomi berikan, Aliesha langsung meletakkan sendoknya sembari meluruskan punggungnya.
"Kok bisa lo mikir kek gitu?" tanya Aliesha dengan tangan terlipat.
Naomi memutar matanya dengan tatapan malas. "Wajar dong kalau gue mikir kek gitu. Lo selalu bareng Bagas beberapa hari ini. Lo juga gak mau kalau gue antar pulang, maunya sama Bagas aja," jawab gadis itu cemburu.
Sudut bibir Aliesha sedikit tertarik ke atas mendengar jawaban Naomi. "Lo cemburu?" tanyanya dengan tatapan geli.
Naomi terdiam sejenak. Kenzie, David, Liam, Bagas, bersama empat pria lainnya dengan cepat menatap ke arah lain, berusaha keras menutupi senyum di wajah mereka.
Tanpa mengatakan apa-apa, Naomi langsung saja menyeruput minumannya sampai habis. Melihat Aliesha makan dengan tenang, jantung Naomi mulai berdebar tidak karuan.
Tanpa aba-aba, ia memukul meja di depannya dengan kedua tangannya. Meski telapak tangannya merah dan sakit, gadis itu tidak peduli. Ia dengan lantang berkata, "Iya, gue cemburu! Gue kan teman lo, Lis. Harusnya lo ke mana-mana itu bareng gue aja. Kenapa harus sama Bagas mulu? Kalian pacaran kan? Jujur aja!"
Para pria yang ada di meja itu hanya bisa menatap Naomi dengan tatapan terkejut. Mereka lalu menatap ke arah Bagas yang menjadi pelaku utama. Bagas sendiri dengan cepat melambaikan kedua tangannya.
"Nggak, gue sama Aliesha gak pacaran kok," katanya membela diri. Ia takut menjadi santapan orang-orang yang menyukai Aliesha.
"Jangan bohong lo, Gas," ucap Farrel.
"Awas aja kalau lo bohong!" tambah Keenan mengancam.
Bagas bergegas mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya membentuk huruf V. Dia pun bersumpah, "Serius! Gue sama Aliesha cuma temenan kok."
Kini, semua tatapan beralih ke arah Aliesha, menanti tanggapan dari gadis itu. Wajah santai Aliesha entah mengapa membuat firasat yang lainnya memburuk.
Dan benar saja, ucapan gadis itu membuat tatapan semua orang membelalak tak percaya. Gadis itu berkata, "Yap. Mulai hari ini, gue sama Bagas pacaran."