Chapter 70: 69. Perasaan Naomi

Aliesha The ProtagonistWords: 9011

Wajah Bagas terlihat sangat shock, beberapa orang lainnya pun terkejut bukan main. Mereka tidak bisa percaya dengan perkataan Aliesha barusan. Lebih tepatnya, mereka tidak mau memercayai ucapan gadis itu.

"Lo serius?" Naomi melotot tak percaya. Ia sungguh tidak bisa terima sahabatnya direbut oleh Bagas.

Kenzie, David, dan Liam langsung berdiri dari tempat duduk mereka. David berkata, "Lis, lo gak serius kan?"

Liam pun menambahkan, "Bilang ke kita, kalau lo cuma bercanda, Lis," pintanya.

Berbeda dengan David dan Liam, Kenzie hanya bisa menyebut nama gadis itu dengan suara yang sangat kecil. "Aliesha," lirihnya.

Keenan dan Farrel saling bertukar pandang, begitupun dengan Xander dan Dhafin. Sebagai tanggapan, Aliesha hanya mengangkat kedua bahunya ke atas dengan wajah acuh tak acuh.

Ia lalu menoleh ke arah Bagas. "Gimana, Gas? Hari ini kita pacaran gak?"

Bagas melongo tak percaya dengan mulut yang setengah terbuka. Pria itu tidak bisa membalas tepat waktu, dan hanya bisa menatap Aliesha dengan tatapan bingung.

Jujur saja, ada rasa senang yang membuncah di dalam dadanya ketika Aliesha berkata seperti itu. Namun, ada juga rasa takut dan khawatir yang bergemuruh di hatinya. Bagas takut itu akan menjadi hari terakhirnya jika saja ia mengangguk sekarang.

Memikirkan konsekuensi yang akan dia hadapi, Bagas dengan cepat menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Ia lalu menatap Aliesha dengan tatapan memelas.

"Lis, candaan lo hari ini benar-benar gak lucu. Lo mau gue mati sekarang apa gimana?" ucap Bagas yang kemudian tertawa hambar.

Aliesha tersenyum kecil dengan alis terangkat. "Kata siapa gue bercanda? Gue serius kok," balasnya.

Suasana di meja itu mulai terasa mencekam, khususnya bagi Bagas. Ingin rasanya ia kabur dari meja itu sekarang juga. Namun, tatapan yang diberikan oleh Naomi dan lima pria lainnya membuat tubuhnya membeku di tempat.

"Apa yang lo sukai dari Bagas, Lis?" tanya Farrel pada Aliesha saat pria itu menatap tajam ke arah Bagas.

"Apa yang udah dia lakuin sampai lo mau pacaran sama dia?" tambah Keenan yang juga menatap Bagas dengan tatapan tajam.

"Apa dia sekaya gue?" timpal Liam dan David secara bersamaan.

"Dia bahkan gak seganteng gue," imbuh Kenzie dengan suara rendah.

Aliesha menatap mereka satu per satu dengan wajah datar. Tentu saja, ia tidak benar-benar menyukai Bagas. Ia hanya menganggap Bagas sebagai teman, tidak lebih.

Alasan ia menjadi lebih dekat dengan Bagas adalah karena Dina. Ia berencana mencari bukti yang ditinggalkan kakeknya. Meski mungkin saja wanita itu telah menghilangkan buktinya, ia akan tetap mencari bukti lainnya sampai dapat.

Ia harus mengikat Bagas agar pria itu mau membantunya berurusan dengan Dina. Terkesan memanfaatkan memang, tapi tidak ada cara lain. Dina sangat menyayangi anaknya, dan Bagas adalah kelemahan Dina.

"Emang kenapa kalau gue pacaran sama Bagas? Apa ada yang salah kalau gue pacaran sama dia?" Aliesha memberikan pertanyaan itu sambil tersenyum palsu.

"Kalian gak punya hak buat ngatur-ngatur hidup gue. Mau gue pacaran sama siapapun, itu bukan urusan kalian," lanjutnya.

Aliesha mulai menopang dagunya sambil menatap lurus ke arah Kenzie, David, Liam, Farrel, dan juga Keenan. Gadis itu berkata, "Gue tahu kalian semua suka sama gue. Lantas? Gak mungkin kan gue pacaran sama kalian semua."

Tatapan Aliesha lalu berpindah pada Naomi yang matanya mulai berkaca-kaca. "Nao, kita sahabatan kan? Meskipun gue punya pacar, gue gak akan pernah mengabaikan kehadiran lo. Lo gak percaya sama gue?"

Naomi menggeleng. "Tapi, Lis. Kenapa harus sama Bagas?" tanyanya dengan suara bergetar.

Aliesha menghembuskan napas lelah. "Emang kenapa sama Bagas, Nao? Lo suka sama dia?"

Tanpa disangka-sangka, Naomi malah dengan kaku menganggukkan kepalanya seperti robot. Aliesha terdiam cukup lama. Ia bingung. Di satu sisi, ia harus menjalankan rencananya. Di sisi lain, ia tidak mungkin menyakiti perasaan sahabatnya.

Pada akhirnya, Aliesha hanya bisa menghela napas panjang dan menghembuskannya secara perlahan. Aliesha bangkit dari duduknya sembari meletakkan kedua tangannya di atas meja.

"Okay. Anggap aja pembicaraan kita tadi gak pernah terjadi. Bagas, lo harus baik-baik sama Naomi. Gue pergi dulu," ujar Aliesha sambil melangkah pergi.

Di langkah kakinya yang ketiga, gadis itu berhenti sejenak saraya menoleh lagi ke belakang. "Jangan ada seorangpun yang berani ngikutin gue. Gue lagi mau sendiri," peringatnya yang kemudian kembali melanjutkan langkahnya.

Naomi terduduk dengan tubuh lemas. Kenzie bersama Keenan dan Farrel memutuskan untuk pergi ke kelas mereka masing-masing, begitupula dengan Liam, Xander dan juga Dhafin. Sedangkan David, pria itu pergi entah ke mana.

Di meja itu kini hanya tersisa Bagas dan Naomi. Bagas secara perlahan mendekati Naomi. Pria itupun menepuk pelan punggung Naomi untuk menenangkan gadis itu.

"Lo boleh nangis di bahu gue, Naomi. Bahu gue selalu tersedia buat lo," ucap Bagas.

Di dalam benaknya, Bagas berkhayal Naomi akan bersikap malu-malu karena sudah ketahuan menyukainya. Hanya saja, ekspektasi sangat jauh berbeda dengan realita.

Bukannya bersikap malu-malu, Naomi malah dengan kasar mendorong tubuh Bagas untuk menjauhinya. Gadis itu menatap Bagas sinis.

"Gak usah mimpi lo, Gas. Gue gak mau lo pacaran sama Aliesha bukan karena gue benar-benar suka sama lo. Gue cuma gak mau lo rebut Aliesha dari gue," kata Naomi lugas.

Bagas mengernyit. "Maksud lo apa, Nao? Lo suka sama Aliesha? Kalian kan sama-sama cewek," balas pria itu.

Naomi membuang napas kasar sambil menatap Bagas marah. "Bukan itu maksud gue. Gue ... "

Naomi menghentikan ucapannya sembari berpikir keras. Alasan ia tidak mau Aliesha dan Bagas pacaran adalah murni karena ia tidak mau sahabatnya direbut.

Tapi ... ia akui bahwa sikapnya memang sudah berlebihan. Hanya saja, ia benar-benar tidak bisa melihat Aliesha lebih dekat dengan orang lain selain dirinya. Naomi ingin menguasai Aliesha sepenuhnya.

Bukan karena suka terhadap lawan jenis, tapi lebih ke arah Naomi tidak rela orang lain merebut perhatian Aliesha darinya.

"Ck. Gue gak nyangka kalau selama ini lo emang gak normal," celetuk Bagas dengan nada datar.

Naomi mengepalkan tangannya erat. "Gue gak belok!" tegasnya.

"Terus? Kenapa lo gak mau Aliesha pacaran sama gue, kalau pada kenyataannya lo emang gak suka sama gue?" tanya Bagas.

"Gue--" Naomi menutup wajahnya menggunakan dua telapak tangannya. Tubuh gadis itu mulai bergetar hebat.

Bagas menatap Naomi khawatir. Beberapa orang yang masih ada di kantin melihat keduanya sambil berbisik-bisik, membuat Bagas merasa risih. Pria itu akhirnya menarik Naomi dan membawanya ke koridor yang sepi.

Melihat Naomi menangis sesenggukan seperti itu, Bagas tidak tahu harus berbuat apa. Ia hanya bisa menarik Naomi ke dalam pelukannya sambil berharap gadis itu tidak akan memukulnya.

Menanti pukulan yang tak kunjung datang, Bagas pun memberanikan diri menepuk-nepuk pelan punggung Naomi. Tangisan Naomi semakin menjadi. Pada saat itu, bel masuk sudah berbunyi, namun tidak ada satupun dari keduanya yang berniat beranjak dari sana.

"Gue gak mau kehilangan kalian berdua," ujar Naomi tiba-tiba.

Bagas tidak bersuara. Ia ingin memberi waktu pada gadis itu untuk mengutarakan isi hatinya yang sebenarnya. Entah karena mungkin terbawa suasana, Naomi mulai melingkarkan tangannya di tubuh Bagas.

Ia lalu berkata, "Seperti yang lo tahu, Gas. Gue cuma punya lo sama Aliesha aja sekarang. Ortu sama adek gue lagi di luar negeri, gue gak punya siapa-siapa lagi selain kalian. Kalau kalian pacaran, gue sama siapa?"

"Gue minta maaf karena gara-gara gue lo gak bisa pacaran sama Aliesha. Gue juga tahu kok kalau lo juga suka sama Aliesha. Tapi, Gas. Lo mau kan berkorban buat gue? Gue gak mau kehilangan sahabat-sahabat gue," lanjut Naomi.

Bagas mengelus rambut Naomi lembut. Pria itu lalu melepas pelukannya dan menatap Naomi lekat. "Lo benar-benar gak ada perasaan sedikitpun buat gue?" tanyanya.

"Gak ada," balas Naomi sembari menatap ke arah lain.

Bagas geram, sehingga tanpa sadar pria itu memegang bahu Naomi cukup kuat. Saat wajah Naomi menunjukkan raut kesakitan, pria itupun mulai mengendurkan pegangannya.

"Jujur sama gue, Nao. Lo beneran gak ada rasa suka sedikitpun sama gue? Jawab sambil tatap mata gue," pinta Bagas.

Naomi menepis tangan Bagas dari bahunya. Ia lalu menjauhkan tubuhnya beberapa langkah dari pria itu. "Kita harus balik ke kelas," katanya mengalihkan pembicaraan.

Saat Naomi akan melangkah pergi, Bagas dengan cepat menahan tangan gadis itu untuk menghentikan langkahnya.

"Lo gak bisa pergi sebelum jawab pertanyaan gue. Lo beneran gak suka sama gue?" tanya pria itu lagi, kali ini dengan sedikit paksaan.

Tubuh Naomi kembali bergetar, Bagas bisa merasakannya melalui tangan gadis itu yang sedang ia genggam. Melihat mulut Naomi yang terbuka dan tertutup tanpa ada suara yang keluar, Bagas bisa menyimpulkan jawabannya.

Ia pun memutuskan untuk melepaskan tangan Naomi, membiarkan gadis itu berlari pergi meninggalkannya. Bagas yakin, Naomi hanya butuh waktu untuk mengerti perasaannya sendiri.

PreviousContents
Last Chapter
PreviousContents
Next